Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.
Jakarta, 10 Agustus 2010
Dunia pendidikan sering mendapatkan tuduhan tidak menghadirkan realitas kehidupan, sehingga para lulusannya menjadi ‘mati gaya’ ketika saatnya turun gunung. Perguruan tinggi sering pula mendapatkan label ‘menara gading’. Kalimat ini menggambarkan jauhnya realitas di kampus dengan realitas kehidupan di luar kampus. Pengalaman sebagai pengajar di dua kampus swasta Jakarta memberi saya pemahaman yang sedikit ‘berbeda’ dan memperlihatkan hal lain dari label di atas. Label yang kemudian terasa menjadi ‘excuse’ masyarakat Indonesia, menguak isu kebiasaan kalau bukan disebut ‘budaya’ kita yang lebih krusial.
‘Apa ada yang kita pelajari di kelas yang digunakan sehari-hari?’ Apakah mempelajari filsafat ada manfaatnya di pekerjaan? Apakah dalam interview kerja akan ditanyakan pemikiran Socrates? Apakah teori dan jurnal sains itu dapat digunakan kelak ketika bernegosiasi dengan klien atau menarik konsumen? Masih banyak gurauan dan pernyataan sinis sekaligus miris yang akrab di percakapan sehari-hari. Kita bisa menemui di kantin kampus hingga perkantoran. Jawabannya tentu : TIDAK ADA.
Kampus adalah realitas
Lebih dari sekali – dua kali saya mendapatkan pertanyaan dengan wajah ‘memelas’, “Haruskah menggunakan textbook?” Mereka nampak kecewa mengetahui ‘pelarangan’ Om Google sebagai ‘handbook’ mata kuliah. Banyak mahasiswa juga yang masih keliru menganggap mesin pencari ini sebagai ‘referensi’. Padahal telah banyak penerbit Indonesia yang menerjemahkan textbook sehingga jauh lebih terjangkau dan lebih mudah ditemukan dibandingkan sepuluh tahun yang lalu.
Menggunakan di sini juga bermakna variatif, mulai dari membeli, mengkopi beberapa bagian hingga meminjam di perpustakaan atau teman (kakak tingkat). Hingga saya pernah mengajak mahasiswa untuk mengingat scene-scene dalam film Hollywood yang terkesan ‘hura-hura’. Dalam adegan sekolah atau kampus, mahasiswa atau siswa dengan warna-warni penampilan (dari funky – sexy) tetap menenteng bertumpuk buku di tangannya.
Jika melukiskan ekspresi mahasiswa dengan kartun, ada satu bubble sama di atas kepala mereka, “Kuliah tidak sama dengan kerja kelak”; “Ini hanya teori”, dsb. Citra ini yang sedikit banyak menjadi dorongan negatif untuk kurang atau tidak bersungguh-sungguh menjalani kehidupan kampus. Padahal, kampus bagi mahasiswa adalah dunia riil, sangat riil yang bisa menempati porsi utama pada masa perkembangan kognitif mereka saat itu.
Kampus adalah miniatur kehidupan yang memberikan kesempatan mahasiswa untuk mengasah ketrampilan akademik, interaksi sosial bahkan entrepreneurship. Soft skill utama seorang lulusan perguruan tinggi adalah ketrampilan menganalisa, menyusun logika, komunikasi aktif, kerjasama, bahkan kepemimpinan. ‘Berdialog’ dengan para ilmuan dari penjuru dunia melalui teori-teori mereka adalah salah satu media mengasah mind. Membaca textbook, membahas isu praktis dengan analisa teoretik adalah hal riil untuk membentuk ketrampilan analisa logika.
Apresiasi terhadap nilai tinggi adalah apresiasi pada usaha selama kehidupan riil di tahap tersebut, yakni belajar. Dalam proses seleksi seperti metode assessment center, pewawancara akan melakukan pendalaman konfirmatif – klarifikatif terhadap nilai-nilai tersebut. Bagian ini yang sering luput dari pelamar kerja fresh-graduate sehingga tidak sedikit yang terkaget apalagi mereka yang sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh menjalani pendidikan. Sebagian besar masyarakat (mahasiswa yang lulus beserta keluarganya) dengan cepat menyimpulkan untuk ucap ‘perpisahan’ tegas dengan dunia pendidikan. Layaknya memutus jembatan di belakang dan menatap kehidupan baru yang sama sekali tidak ada hubungannya.
Mindset Pendidik & Kampus
Ada excuse lain yang saya tangkap baik kampus secara institusi maupun para pendidik. Beberapa pemakluman yang sepertinya tampak ‘baik’ untuk mahasiswa yang secara implisit terkandung dalam pandangan; “Mahasiswa semester awal, yah.. masih seperti SMA lah, maunya disuapi, masih susah untuk membaca, terlebih textbook.” Atau, “Ini kan bukan mahasiswa psikologi (untuk mahasiswa non-psikologi), jadi tidak wajib memiliki textbook lah..” Saya yakin, hal ini juga ditemui oleh dosen lain ketika mengajar di kelas non disiplin utamanya.
Pandangan ini sebenarnya konsisten dengan keluhan rendahnya kemampuan membaca di Indonesia. Sebagian pendidik pun memperlakukan sumber ilmu secara praktis, hanya karena bukan disiplin utamanya, maka tidak perlu membaca handbook-nya. Pada sisi lain, mahasiswa menjadi melihat ‘kurang signifikannya’ sumber bacaan dalam mata kuliah tersebut. Makna lainnya, adalah dosen masih diminta untuk menjadi audiobook. Pada saat yang sama, pembelajaran mandiri sedang digalakkan di mana posisi dosen lebih untuk pengantar dan berdiskusi. Seharusnya pendidik memberikan kepercayaan pada mahasiswa tingkat bawah untuk membedah isi buku dan berdiskusi lebih lanjut di kelas maupun luar kelas. Implementasi dari memberi kepercayaan di sini adalah ‘mendorong’ bahkan ‘memaksa’ mereka untuk mempelajari buku-buku utama, bukan sekedar copy-paste untuk tugas essay.
Ada hal lain yang masih perlu dikaji, namun memberikan satu pertanyaan di benak saya tentang hebohnya ujian nasional di negeri ini. Selain ketrampilan membaca di atas, ada strategi belajar lain yang nampaknya masih asing bagi mahasiswa yakni teamwork. Ketika diminta membentuk kelompok-kelompok kecil di kelas untuk menjawab sekian soal menggunakan textbook, sebagian besar nampak panik melihat banyaknya soal dan waktu yang tersedia. Tugas ini menjadi sangat menekan dan tidak realistis. Pada akhirnya mereka perlu diingatkan bahwa mereka adalah tim yang terdiri dari beberapa orang. Pola kerjasama satu soal dikeroyok lima orang tentu akan memakan waktu satu hari untuk menyelesaikan lima soal, bukan 25 menit. Kecuali mereka semua telah membaca materi kuliah sebelum masuk kelas.
Pola kerjasama tim dengan pembagian tugas dan delegasi yang tampaknya ‘asing’ ini menjadi paradoks dengan budaya kolektif kita. Tidak heran jika siswa dan sekolah menjadi sangat tertekan dengan materi ujian nasional, jika strategi belajarnya masih konvensional. Saya tidak berani menggeneralisir semua sekolah di Indonesia, namun kecurigaan ini yang perlu dikaji kembali. Pertanyaan yang lebih dalam, apa pemahaman kerja tim di kalangan siswa – mahasiswa kita? Apakah satu pemimpin dan sisanya pengikut pasif? Apakah ini yang membuat mahasiswa enggan menjadi pemimpin atau koordinator kelas karena ia lah yang harus bekerja keras, sementara yang lain tinggal terima beres?
Pendelegasian materi untuk kemudian masing-masing memberikan presentasi menjadi salah satu alternatif belajar yang efektif. Salah satu kompetensi dasar dalam seleksi kerja pada freshgraduate adalah problem solving dan planning organizing. Bagaimana individu mampu mengidentifikasi masalah, membuat prioritas dan mengoptimalkan sumber daya yang ada (rekan kerja – materi kerja). Ini seharusnya menjadi kompetensi dasar yang dimiliki mereka yang menyandang title sarjana.
Ketrampilan lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah menulis dan presentasi. Hampir semua pekerjaan menuntut adanya laporan tertulis, komunikasi tertulis baik yang terkonsep atau langsung seperti membalas e-mail rekanan/ klien dalam kerjasama proyek yang intensif. Hanya penguasaan materi lah yang membuat seorang mahasiswa bisa lebih mengembangkan ketrampilan presentasinya di kelas. Materi kuliah adalah realitas, se-realitas- proposal kerjasama sebuah perusahaan kelak di dunia kerja.
Berbagai mozaik ini seluruhnya berseru “Kampus adalah realitas, bukan mimpi atau hotel singgah.”
Rabu, 04 Mei 2011
DEMI WAKTU
Demi waktu. Demikian Alquran menegaskan pentingnya waktu. Isyarat tertulis seperti tercantum pada surah al-Ashr (QS 103) ini mengingatkan manusia untuk selalu menghitung dan mempertimbangkan waktu. Bahkan, setelah bersumpah demi waktu, Allah kemudian menyatakan bahwa manusia akan rugi, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh. Lebih dari itu, surah ini juga menggarisbawahi posisi orang-orang yang senantiasa saling mengingatkan dalam kebajikan dan kesabaran. Mereka adalah orang-orang yang suka memperhatikan waktu.
Tanpa membuat prioritas atas pilihan amal yang ditempuh, manusia akan merugi. Amal-amal produktif merupakan representasi kecerdasan manusia dalam memanfaatkan waktu. Setiap jengkal langkah manusia adalah wujud pemanfaatan waktu secara produktif dan bermakna. Jika tidak, kerugian yang akan melilit kehidupan manusia.
Agar tidak merugi, perlu difasilitasi. Saat ini banyak orang yang merugi karena fasilitas hidup yang serbaterbatas. Buruknya infrastruktur jalan yang menghambat proses transportasi, merupakan salah satu faktor yang dapat membuat pengguna jalan mengalami kerugian. Rendahnya mutu sarana belajar siswa, dapat membuang waktu pembelajaran. Dan, banyak lagi kerugian yang diderita masyarakat dan bangsa ini, bila tidak memperhatikan dimensi waktu.
Mari kita menghitung kerugian yang kita lalui setiap hari. Contoh sederhana, berapa ribu jam negeri ini dibuat rugi setiap hari. Misalnya, di satu permukiman terdapat 2.000 rumah dengan penghuni produktif rata-rata satu orang setiap rumah. Masing-masing setiap hari menempuh perjalanan 10 menit lebih lama karena jalan yang dilaluinya rusak berat. Kita harus menerima kerugian waktu sebesar 20 ribu menit pada saat berangkat, ditambah 20 ribu menit pada saat kembali, sehingga sekitar 40 ribu menit hilang setiap hari atau sekitar sejuta menit selama 25 hari kerja dalam sebulan.
Kita akan rugi sekitar 17 ribu jam produktif setiap bulan, atau sekitar 204 ribu jam setiap tahun. Ini baru dari satu permukiman dengan penduduk sekitar 2000 KK. Bayangkan di dua, tiga, empat, atau sepuluh permukiman di suatu kota. Kita akan mengalami kerugian yang berlipat ganda hanya karena infrastruktur jalan rusak berat. Jadi, jika jalan-jalan di kota tidak diperbaiki, kita akan terus-menerus menuai kerugian yang besar setiap hari, bulan, dan tahun. Jadi, dalam konteks seperti ini, siapa sesungguhnya yang menjadi sumber penyebab kerugian bangsa dan negara ini?
Untuk menghindari kerugian yang berlipat setiap hari, perbaikan berbagai sarana dan prasarana kerja seharusnya menjadi prioritas. Jika seorang pemimpin amanah, prioritas program untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat akan menjadi misi penting yang diembannya. Dengan demikian, kerugian akan bisa dihindari.
"Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan orang-orang yang senantiasa saling mengingatkan akan kebajikan dan kesabaran."
Oleh Prof Dr Asep S Muhtadi
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/04/23/lk37c2-demi-waktu
Tanpa membuat prioritas atas pilihan amal yang ditempuh, manusia akan merugi. Amal-amal produktif merupakan representasi kecerdasan manusia dalam memanfaatkan waktu. Setiap jengkal langkah manusia adalah wujud pemanfaatan waktu secara produktif dan bermakna. Jika tidak, kerugian yang akan melilit kehidupan manusia.
Agar tidak merugi, perlu difasilitasi. Saat ini banyak orang yang merugi karena fasilitas hidup yang serbaterbatas. Buruknya infrastruktur jalan yang menghambat proses transportasi, merupakan salah satu faktor yang dapat membuat pengguna jalan mengalami kerugian. Rendahnya mutu sarana belajar siswa, dapat membuang waktu pembelajaran. Dan, banyak lagi kerugian yang diderita masyarakat dan bangsa ini, bila tidak memperhatikan dimensi waktu.
Mari kita menghitung kerugian yang kita lalui setiap hari. Contoh sederhana, berapa ribu jam negeri ini dibuat rugi setiap hari. Misalnya, di satu permukiman terdapat 2.000 rumah dengan penghuni produktif rata-rata satu orang setiap rumah. Masing-masing setiap hari menempuh perjalanan 10 menit lebih lama karena jalan yang dilaluinya rusak berat. Kita harus menerima kerugian waktu sebesar 20 ribu menit pada saat berangkat, ditambah 20 ribu menit pada saat kembali, sehingga sekitar 40 ribu menit hilang setiap hari atau sekitar sejuta menit selama 25 hari kerja dalam sebulan.
Kita akan rugi sekitar 17 ribu jam produktif setiap bulan, atau sekitar 204 ribu jam setiap tahun. Ini baru dari satu permukiman dengan penduduk sekitar 2000 KK. Bayangkan di dua, tiga, empat, atau sepuluh permukiman di suatu kota. Kita akan mengalami kerugian yang berlipat ganda hanya karena infrastruktur jalan rusak berat. Jadi, jika jalan-jalan di kota tidak diperbaiki, kita akan terus-menerus menuai kerugian yang besar setiap hari, bulan, dan tahun. Jadi, dalam konteks seperti ini, siapa sesungguhnya yang menjadi sumber penyebab kerugian bangsa dan negara ini?
Untuk menghindari kerugian yang berlipat setiap hari, perbaikan berbagai sarana dan prasarana kerja seharusnya menjadi prioritas. Jika seorang pemimpin amanah, prioritas program untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat akan menjadi misi penting yang diembannya. Dengan demikian, kerugian akan bisa dihindari.
"Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan orang-orang yang senantiasa saling mengingatkan akan kebajikan dan kesabaran."
Oleh Prof Dr Asep S Muhtadi
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/04/23/lk37c2-demi-waktu
MENGOPTIMALKAN MASA KEEMASAN
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 31 Maret 2009
Bagai Mengukir Di Atas Batu
Kita mungkin sudah akrab dengan istilah Masa Keemasan atau Golden Age itu dalam perkembangan manusia. Sudah sering ada produk makanan atau minuman suplemen yang pakai istilah ini untuk mendukung pemasaran atau iklan di televisi. Di redaksi iklan itu, orangtua sepertinya "diperingatkan" agar berperan seoptimal mungkin di Masa Keemasan yang terjadi hanya sekali seumur hidup si anak.
Apa itu Masa Keemasan? Di literatur psikologi sepertinya istilah ini jarang dimunculkan. Meski demikian, tak sedikit penjelasan dari berbagai sumber yang mengungkap adanya bukti-bukti yang bisa ditangkap pengertiannya sebagai Masa Emas itu. Bahkan di zaman orangtua kita dulu sudah ada ungkapan yang juga bisa disebandingkan pengertiannya dengan Masa Keemasan itu.
Para orangtua kita punya pemahaman bahwa belajar di waktu kecil itu diibaratkan seperti orang mengukir di atas batu. Kalau melihat ungkapan itu dari berbagai ide yang berkembang saat ini, akan kita temukan perspektif yang mendasar dalam pengasuhan. Istilah yang dipakai di situ adalah belajar. Yang disebut belajar adalah memunculkan kemauan dan kesiapan untuk mengubah diri (readiness dan willingness to change).
Darimana perubahan diri itu harus diawali? Rumusnya, perubahan itu selalu diawali dari mengubah isi pikiran dengan mengisi pengetahuan, mengubah sikap dan perilaku dengan pengalaman, dan mengubah pencapaian (hasil) dengan keahlian. Jika pengetahuan, pengalaman, dan keahlian ini terus digunakan dan memberikan hasil yang bisa diprediksikan secara relatif konstan, maka disebutnya kompetensi.
Dengan mengacu ke ide yang sekarang berkembang, belajar yang dikatakan bagai mengukir di atas batu itu mengandung sedikitnya dua pengertian:
Pertama, tradisi mengubah diri, dalam pengertian yang luas, yang diajarkan orangtua pada saat anak masih kecil itu akan menjadi tradisi yang sulit ditinggalkan. Sudah tak kurang bukti yang membenarkan penjelasan ini. Anak yang diajari tradisi membaca akan sulit meninggalkan tradisi itu.
Kedua, materi yang kita masukkan ke pikiran si anak pada saat usianya masih kecil itu akan sulit terlupakan. Buktinya pun sudah tak kurang. Anak yang sejak kecil sudah diajari bahasa daerah tertentu akan sulit melupakan kosa katanya.
Jadi, tradisi belajar (kesadaran untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik) yang kita tanamkan di waktu kecil atau materi pengetahuan yang kita masukkan ke otak anak kecil bisa digambarkan seperti ukiran di atas batu. Belajar di waktu kecil akan menyatu dengan bawaan, motif, sikap, nilai-nilai, dan konsep-diri. Menurut Spencer (1993), ini semua adalah core personality atau bagian diri kita yang sulit diubah / sulit dihilangkan.
Bagaiman dengan belajar di waktu besar? Jika belajarnya itu diartikan menerima materi dari luar dengan cara dimasukkan (bukan diserap), maka yang sering terjadi, proses belajar di waktu dewasa sebatas ditangkap sebagai pengetahuan (knowledge). Oleh Spencer disebutnya dengan surface personality (kepribadian yang mudah diubah / mudah hilang).
Rangkuman hasil survey yang diolah Bizmanualz, Inc (2007), memaparkan prosentasi yang diingat dan yang dilupakan orang dewasa setelah diajari pengetahuan, mau itu training atau kuliah. Setelah 1 hari, yang kita ingat sebanyak 54% dan yang terlupakan 46%. Setelah 63 hari, yang kita ingat menjadi 17% sementara yang kita lupakan sudah 83%. Mengapa demikian ?
Belajar Menghafal vs Belajar Berproses
Jika mengacu pada proses belajar menghafal, maka yang keluar adalah angka-angka di atas; dan sehebat apapun kita menghafal materi kuliah atau training, sejauh yang kita andalkan hanya ingatan otak, mungkin 3 bulan setelah diwisuda atau disertifikasi, sudah banyak materi yang hilang. Lain soal kalau belajar berproses, artinya, materi itu menjadi bagian dari perjuangan hidup, profesi, atau pekerjaan. Mungkin kasusnya akan beda.
Kesuburan & Kehebatan
Kembali ke soal Masa Emas, dari berbagai penjelasan yang muncul saat ini, ada sedikitnya dua pokok pikiran yang bisa kita pakai rujukan. Untuk lebih mudah diingat, saya menggunakan istilah kesuburan dan kehebatan. Istilah kesuburan terkait dengan kondisi otak yang sedang subur-suburnya berkembang, membentuk jalur belajar, atau membentuk koneksi (dendrit).
Temuan para ahli, seperti dirangkum Benjamin S. Bloom (1964), menyimpulkan bahwa 50% kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya. 30% lain dikembangkan menjelang ulang tahun kedelapan. Sesudah umur sepuluh tahun, cabang-cabang yang tidak berhubungan akan mati.
Kalau mengacu ke sini berarti anak yang sejak usia 0 sampai 10 tahun-an yang kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan cabang-cabang di dalam otak, maka cabang di dalam otaknya akan sedikit dan di samping itu dia kesulitan menghidupkan cabang-cabang otak yang telah mati setalah usianya menjelang remaja sampai tua nanti.
Ada lagi yang mengatakan, usia 0 sampai 6 tahunan disebutnya sebagai Masa Emas Pertama. Masa Emas Kedua terjadi ketika anak masuk usia 7 tahunan sampai masuk remaja awal, usia belasan. Seorang pakar neorologi, Eric H. Lennenberg, menyimpulkan bahwa sebelum masa pubertas, otak anak lebih lentur. Makanya, ia lebih mudah belajar bahasa.
Sedangkan istilah kehebatan itu terpaut dengan kondisi otak yang sedang hebat-hebatnya menangkap pengajaran dari luar. Ini sudah dibuktikan melalui pengajaran bahasa. Tony Buzan, psikolog dari Inggris (1990) mengatakan, hanya dalam 2 tahun pertama dia hidup, daya serap bahasanya jauh lebih baik dari seorang doktor di bidang apapun di dunia. Ini kemudian sempurna pada usia 3 atau 4 tahun.
Apa Berarti Pintu Sudah Tertutup?
Sering ada pertanyaan begini: apa berarti setalah Masa Emas itu berlalu otak manusia sudah tak lagi memiliki kehebatan dan kesuburan? Dari sisi kondisi otak, secara umum mungkin ya, seperti yang kita rasakan. Tapi tidak berarti kinerjanya anjlok. Soal kinerja otak lebih ditentukan oleh faktor manusianya. Buktinya sudah banyak kita jumpai.
Baik ajaran agama dan temuan pengetahuan sama-sama menjamin bahwa otak manusia tetap bisa ber-kinerja asalkan terus menemukan cara-cara kreatif yang pas dengan dirinya dan memiliki api kemauan yang terus menyala. Makanya, belajar itu dikatakan sebagai perintah yang mutlak, tanpa batas waktu, dari lahir sampai mau mati.
Secara umum, orang dewasa punya keunikan belajar yang berbeda dengan anak. Orang dewasa cara belajarnya harus lebih banyak dari praktek atau untuk dipraktekkan, sesuai keadaan dirinya. Konon, Rumi yang kita kenal hebat di puisi spiritual itu baru mulai belajar serius setelah usianya 40 tahun. Mungkin karena otaknya cerdas, emosinya tinggi, atau perhatiannya tinggi terhadap isu yang diangkat di puisinya itu. Artinya, Rumi memang concern ingin mempraktekkan atau dari praktek hidupnya.
Ada ungkapan yang pas untuk orang dewasa tentang hal ini dari Edward Bolles. Katanya, kita akan punya ingatan bagus terhadap materi yang kita pelajari kalau kita mengerti (understand). Kita akan mengerti kalau kita punya perhatian (concern) terhadap materi itu. Kita akan punya perhatian yang besar kalau kita benar-benar punya keinginan terhadap materi itu.
Tapi ada bukti lain yang perlu kita lihat juga. Orang dewasa atau remaja akhir yang tetap bisa belajar dengan mudah itu umumnya adalah mereka yang dari sejak kecil terbiasa menggunakan otaknya untuk belajar, entah secara internal atau eksternal. Karena itulah banyak ahli yang mengatakan bahwa Masa Emas itu penting karena kapasitas belajar anak yang terbentuk dalam masa ini akan menjadi landasan bagi semua proses belajar di masa depan.
Dari pengalaman pribadi yang masih relatif sedikit, ada indikasi yang saya peroleh bahwa remaja yang cabang-cabang otaknya lebih banyak karena sering dipakai belajar sewaktu kecil, ternyata punya respon yang lebih bagus, punya inisiatif yang lebih cepat, punya daya tangkap dan ketelitian yang lebih bagus. Selain itu, motivasinya untuk maju juga beda.
Stimulasi & Tradisi
Sikap kita terhadap kenyataan yang menuntut untuk lebih mengoptimalkan pengasuhan terhadap anak, akan jauh lebih penting ketimbang mempersoalkan perbedaan pendapat apakah Masa Emas itu ada atau sampai tahun berapa. Kecuali jika ini kita angkat sebagai materi untuk skripsi dan kepentingan keilmuan murni.
Pertanyaannya adalah, apanya yang perlu dioptimalkan? Ada trend yang mengemuka seolah-olah yang perlu dioptimalkan itu hanya merek susu atau kenyamanan fisik si anak atau enforcement dari luar atas interest orangtua. Harus diakui ini memang penting, tetapi yang juga penting adalah memperbanyak stimulasi dan tradisi yang berbasikan pengasuhan.
Kenapa stimulasi dan apa saja bentuknya? Stimulasi adalah berbagai rangsangan, entah itu kesempatan bermain, fasilitas belajar, atau materi (misalnya cerita atau bacaan), yang dapat memicu anak untuk belajar atau mengolah pengajaran. Para ahli menyarankan pentingnya aktivitas bermain yang dapat mencerdaskan motorik untuk usia anak-anak, mungkin 0-4 tahun-an.
Rangsangan juga bisa berbentuk sentuhan yang abstrak, misalnya dukungan dan keterlibatan kita dalam proses belajar anak, entah itu belajar di sekolah atau belajar hidup. Riset mengungkap bahwa keterlibatan orangtua dalam belajar anak sangat punya peranan dan kontribusi (Family Involvement in Education, U.S. Department of Education: 2002) atau akan dimaknai sebagai motivasi oleh si anak.
Rangsangan akan membentuk cabang-cabang otak sebanding dengan yang kita berikan. Selain itu, pengetahuan dan pengalaman si anak juga semakin kaya. Selain rangsangan adalah membentuk tradisi belajar atau tradisi berprestasi dalam keluarga. Tradisi di sini adalah berbagai bentuk pembiasaan positif, misalnya membaca, perhatian dan tanggung jawab terhadap tugas, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, dan berbagai sifat-sifat positif lain.
Untuk membangun tradisi itu mau tidak mau dibutuhkan disiplin. Kata Richard L. Munger dalam booklet-nya Rules For Unruly Children (2007), jangan mengira anak kita lebih bahagia dengan tidak kita berikan disiplin. Anak membutuhkan behavior limits untuk bisa lebih bahagia. Hanya saja, ada beberapa catatan yang perlu kita ingat, antara lain:
Tujuan berdisiplin bukan untuk disiplin, melainkan untuk memfasilitasi agar anak bisa belajar mengontrol hidupnya. Semakin bagus kemampuan anak mengontrol, maka disiplin harus segera dilembekkan / dikurangi / difleksibelkan
Materi disiplin itu perlu dirancang sejelas mungkin sehingga anak tidak merasa semua serba diatur. Disiplinkan untuk hal-hal yang fundamental saja dan sesuai perkembangannya. Akan lebih bagus jika materinya sudah disepakati.
Penegakannya akan lebih bagus dengan pendekatan friendly, bukan forcefully
Disiplin bukan dikeluarkan karena amarah yang sesaat lalu ditegakkan secara tidak konsisten.
Berikan berbagai reward yang unik dan memotivasi. Pilihlah rewards yang cara mendapatkannya bukan dengan menangis atau usaha-usaha rendahan lainnya, melainkan dengan to do their best.
"JANGAN MENGIRA ANAK KITA LEBIH BAHAGIA
DENGAN TIDAK KITA BERIKAN DISIPLIN."
Jakarta, 31 Maret 2009
Bagai Mengukir Di Atas Batu
Kita mungkin sudah akrab dengan istilah Masa Keemasan atau Golden Age itu dalam perkembangan manusia. Sudah sering ada produk makanan atau minuman suplemen yang pakai istilah ini untuk mendukung pemasaran atau iklan di televisi. Di redaksi iklan itu, orangtua sepertinya "diperingatkan" agar berperan seoptimal mungkin di Masa Keemasan yang terjadi hanya sekali seumur hidup si anak.
Apa itu Masa Keemasan? Di literatur psikologi sepertinya istilah ini jarang dimunculkan. Meski demikian, tak sedikit penjelasan dari berbagai sumber yang mengungkap adanya bukti-bukti yang bisa ditangkap pengertiannya sebagai Masa Emas itu. Bahkan di zaman orangtua kita dulu sudah ada ungkapan yang juga bisa disebandingkan pengertiannya dengan Masa Keemasan itu.
Para orangtua kita punya pemahaman bahwa belajar di waktu kecil itu diibaratkan seperti orang mengukir di atas batu. Kalau melihat ungkapan itu dari berbagai ide yang berkembang saat ini, akan kita temukan perspektif yang mendasar dalam pengasuhan. Istilah yang dipakai di situ adalah belajar. Yang disebut belajar adalah memunculkan kemauan dan kesiapan untuk mengubah diri (readiness dan willingness to change).
Darimana perubahan diri itu harus diawali? Rumusnya, perubahan itu selalu diawali dari mengubah isi pikiran dengan mengisi pengetahuan, mengubah sikap dan perilaku dengan pengalaman, dan mengubah pencapaian (hasil) dengan keahlian. Jika pengetahuan, pengalaman, dan keahlian ini terus digunakan dan memberikan hasil yang bisa diprediksikan secara relatif konstan, maka disebutnya kompetensi.
Dengan mengacu ke ide yang sekarang berkembang, belajar yang dikatakan bagai mengukir di atas batu itu mengandung sedikitnya dua pengertian:
Pertama, tradisi mengubah diri, dalam pengertian yang luas, yang diajarkan orangtua pada saat anak masih kecil itu akan menjadi tradisi yang sulit ditinggalkan. Sudah tak kurang bukti yang membenarkan penjelasan ini. Anak yang diajari tradisi membaca akan sulit meninggalkan tradisi itu.
Kedua, materi yang kita masukkan ke pikiran si anak pada saat usianya masih kecil itu akan sulit terlupakan. Buktinya pun sudah tak kurang. Anak yang sejak kecil sudah diajari bahasa daerah tertentu akan sulit melupakan kosa katanya.
Jadi, tradisi belajar (kesadaran untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik) yang kita tanamkan di waktu kecil atau materi pengetahuan yang kita masukkan ke otak anak kecil bisa digambarkan seperti ukiran di atas batu. Belajar di waktu kecil akan menyatu dengan bawaan, motif, sikap, nilai-nilai, dan konsep-diri. Menurut Spencer (1993), ini semua adalah core personality atau bagian diri kita yang sulit diubah / sulit dihilangkan.
Bagaiman dengan belajar di waktu besar? Jika belajarnya itu diartikan menerima materi dari luar dengan cara dimasukkan (bukan diserap), maka yang sering terjadi, proses belajar di waktu dewasa sebatas ditangkap sebagai pengetahuan (knowledge). Oleh Spencer disebutnya dengan surface personality (kepribadian yang mudah diubah / mudah hilang).
Rangkuman hasil survey yang diolah Bizmanualz, Inc (2007), memaparkan prosentasi yang diingat dan yang dilupakan orang dewasa setelah diajari pengetahuan, mau itu training atau kuliah. Setelah 1 hari, yang kita ingat sebanyak 54% dan yang terlupakan 46%. Setelah 63 hari, yang kita ingat menjadi 17% sementara yang kita lupakan sudah 83%. Mengapa demikian ?
Belajar Menghafal vs Belajar Berproses
Jika mengacu pada proses belajar menghafal, maka yang keluar adalah angka-angka di atas; dan sehebat apapun kita menghafal materi kuliah atau training, sejauh yang kita andalkan hanya ingatan otak, mungkin 3 bulan setelah diwisuda atau disertifikasi, sudah banyak materi yang hilang. Lain soal kalau belajar berproses, artinya, materi itu menjadi bagian dari perjuangan hidup, profesi, atau pekerjaan. Mungkin kasusnya akan beda.
Kesuburan & Kehebatan
Kembali ke soal Masa Emas, dari berbagai penjelasan yang muncul saat ini, ada sedikitnya dua pokok pikiran yang bisa kita pakai rujukan. Untuk lebih mudah diingat, saya menggunakan istilah kesuburan dan kehebatan. Istilah kesuburan terkait dengan kondisi otak yang sedang subur-suburnya berkembang, membentuk jalur belajar, atau membentuk koneksi (dendrit).
Temuan para ahli, seperti dirangkum Benjamin S. Bloom (1964), menyimpulkan bahwa 50% kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya. 30% lain dikembangkan menjelang ulang tahun kedelapan. Sesudah umur sepuluh tahun, cabang-cabang yang tidak berhubungan akan mati.
Kalau mengacu ke sini berarti anak yang sejak usia 0 sampai 10 tahun-an yang kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan cabang-cabang di dalam otak, maka cabang di dalam otaknya akan sedikit dan di samping itu dia kesulitan menghidupkan cabang-cabang otak yang telah mati setalah usianya menjelang remaja sampai tua nanti.
Ada lagi yang mengatakan, usia 0 sampai 6 tahunan disebutnya sebagai Masa Emas Pertama. Masa Emas Kedua terjadi ketika anak masuk usia 7 tahunan sampai masuk remaja awal, usia belasan. Seorang pakar neorologi, Eric H. Lennenberg, menyimpulkan bahwa sebelum masa pubertas, otak anak lebih lentur. Makanya, ia lebih mudah belajar bahasa.
Sedangkan istilah kehebatan itu terpaut dengan kondisi otak yang sedang hebat-hebatnya menangkap pengajaran dari luar. Ini sudah dibuktikan melalui pengajaran bahasa. Tony Buzan, psikolog dari Inggris (1990) mengatakan, hanya dalam 2 tahun pertama dia hidup, daya serap bahasanya jauh lebih baik dari seorang doktor di bidang apapun di dunia. Ini kemudian sempurna pada usia 3 atau 4 tahun.
Apa Berarti Pintu Sudah Tertutup?
Sering ada pertanyaan begini: apa berarti setalah Masa Emas itu berlalu otak manusia sudah tak lagi memiliki kehebatan dan kesuburan? Dari sisi kondisi otak, secara umum mungkin ya, seperti yang kita rasakan. Tapi tidak berarti kinerjanya anjlok. Soal kinerja otak lebih ditentukan oleh faktor manusianya. Buktinya sudah banyak kita jumpai.
Baik ajaran agama dan temuan pengetahuan sama-sama menjamin bahwa otak manusia tetap bisa ber-kinerja asalkan terus menemukan cara-cara kreatif yang pas dengan dirinya dan memiliki api kemauan yang terus menyala. Makanya, belajar itu dikatakan sebagai perintah yang mutlak, tanpa batas waktu, dari lahir sampai mau mati.
Secara umum, orang dewasa punya keunikan belajar yang berbeda dengan anak. Orang dewasa cara belajarnya harus lebih banyak dari praktek atau untuk dipraktekkan, sesuai keadaan dirinya. Konon, Rumi yang kita kenal hebat di puisi spiritual itu baru mulai belajar serius setelah usianya 40 tahun. Mungkin karena otaknya cerdas, emosinya tinggi, atau perhatiannya tinggi terhadap isu yang diangkat di puisinya itu. Artinya, Rumi memang concern ingin mempraktekkan atau dari praktek hidupnya.
Ada ungkapan yang pas untuk orang dewasa tentang hal ini dari Edward Bolles. Katanya, kita akan punya ingatan bagus terhadap materi yang kita pelajari kalau kita mengerti (understand). Kita akan mengerti kalau kita punya perhatian (concern) terhadap materi itu. Kita akan punya perhatian yang besar kalau kita benar-benar punya keinginan terhadap materi itu.
Tapi ada bukti lain yang perlu kita lihat juga. Orang dewasa atau remaja akhir yang tetap bisa belajar dengan mudah itu umumnya adalah mereka yang dari sejak kecil terbiasa menggunakan otaknya untuk belajar, entah secara internal atau eksternal. Karena itulah banyak ahli yang mengatakan bahwa Masa Emas itu penting karena kapasitas belajar anak yang terbentuk dalam masa ini akan menjadi landasan bagi semua proses belajar di masa depan.
Dari pengalaman pribadi yang masih relatif sedikit, ada indikasi yang saya peroleh bahwa remaja yang cabang-cabang otaknya lebih banyak karena sering dipakai belajar sewaktu kecil, ternyata punya respon yang lebih bagus, punya inisiatif yang lebih cepat, punya daya tangkap dan ketelitian yang lebih bagus. Selain itu, motivasinya untuk maju juga beda.
Stimulasi & Tradisi
Sikap kita terhadap kenyataan yang menuntut untuk lebih mengoptimalkan pengasuhan terhadap anak, akan jauh lebih penting ketimbang mempersoalkan perbedaan pendapat apakah Masa Emas itu ada atau sampai tahun berapa. Kecuali jika ini kita angkat sebagai materi untuk skripsi dan kepentingan keilmuan murni.
Pertanyaannya adalah, apanya yang perlu dioptimalkan? Ada trend yang mengemuka seolah-olah yang perlu dioptimalkan itu hanya merek susu atau kenyamanan fisik si anak atau enforcement dari luar atas interest orangtua. Harus diakui ini memang penting, tetapi yang juga penting adalah memperbanyak stimulasi dan tradisi yang berbasikan pengasuhan.
Kenapa stimulasi dan apa saja bentuknya? Stimulasi adalah berbagai rangsangan, entah itu kesempatan bermain, fasilitas belajar, atau materi (misalnya cerita atau bacaan), yang dapat memicu anak untuk belajar atau mengolah pengajaran. Para ahli menyarankan pentingnya aktivitas bermain yang dapat mencerdaskan motorik untuk usia anak-anak, mungkin 0-4 tahun-an.
Rangsangan juga bisa berbentuk sentuhan yang abstrak, misalnya dukungan dan keterlibatan kita dalam proses belajar anak, entah itu belajar di sekolah atau belajar hidup. Riset mengungkap bahwa keterlibatan orangtua dalam belajar anak sangat punya peranan dan kontribusi (Family Involvement in Education, U.S. Department of Education: 2002) atau akan dimaknai sebagai motivasi oleh si anak.
Rangsangan akan membentuk cabang-cabang otak sebanding dengan yang kita berikan. Selain itu, pengetahuan dan pengalaman si anak juga semakin kaya. Selain rangsangan adalah membentuk tradisi belajar atau tradisi berprestasi dalam keluarga. Tradisi di sini adalah berbagai bentuk pembiasaan positif, misalnya membaca, perhatian dan tanggung jawab terhadap tugas, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, dan berbagai sifat-sifat positif lain.
Untuk membangun tradisi itu mau tidak mau dibutuhkan disiplin. Kata Richard L. Munger dalam booklet-nya Rules For Unruly Children (2007), jangan mengira anak kita lebih bahagia dengan tidak kita berikan disiplin. Anak membutuhkan behavior limits untuk bisa lebih bahagia. Hanya saja, ada beberapa catatan yang perlu kita ingat, antara lain:
Tujuan berdisiplin bukan untuk disiplin, melainkan untuk memfasilitasi agar anak bisa belajar mengontrol hidupnya. Semakin bagus kemampuan anak mengontrol, maka disiplin harus segera dilembekkan / dikurangi / difleksibelkan
Materi disiplin itu perlu dirancang sejelas mungkin sehingga anak tidak merasa semua serba diatur. Disiplinkan untuk hal-hal yang fundamental saja dan sesuai perkembangannya. Akan lebih bagus jika materinya sudah disepakati.
Penegakannya akan lebih bagus dengan pendekatan friendly, bukan forcefully
Disiplin bukan dikeluarkan karena amarah yang sesaat lalu ditegakkan secara tidak konsisten.
Berikan berbagai reward yang unik dan memotivasi. Pilihlah rewards yang cara mendapatkannya bukan dengan menangis atau usaha-usaha rendahan lainnya, melainkan dengan to do their best.
"JANGAN MENGIRA ANAK KITA LEBIH BAHAGIA
DENGAN TIDAK KITA BERIKAN DISIPLIN."
KETERLAMBATAN BICARA PADA ANAK
Oleh : Jacinta F. Rini
Jakarta, 04 September 2001
Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya kok ketinggalan jauh. Kenyataan tersebut pada akhirnya sering mengundang pertanyaan yang diajukan kepada e-psikologi. Untuk itu lah kami akan mengulas persoalan keterlambatan bicara pada balita.
Gangguan kemampuan bicara atau keterlambatan bicara dan berbahasa ini haruslah dideteksi dan ditangani sejak dini dan dengan metode yang tepat. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya. Bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustrasi. Mungkin pula ia akan merasa frustrasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya jadi bahan tertawaan. Jika tidak ada yang bisa mengerti apa sih yang jadi keinginannya atau apa yang dimaksudkannya, maka tidak heran jika lama kelamaan ia akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. Padahal, belajar melalui proses interaksi adalah proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya.
Untuk memahami lebih lanjut tentang keterlambatan bicara, maka Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak perlu mengetahui beberapa hal sebagai berikut:
Bila Anak Terlambat Bicara
Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan. Pada kasus-kasus tertentu, hambatan berbicara dan berbahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis.
Adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti:
1. Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
3. Masalah keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.
5. Faktor Televisi
Anak batita yang banyak nonton TV cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.
EVALUASI PEMERIKSAAN
Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek:
1. Fisiologis dan Neurologis
Dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.
2. Psikologis
Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.
Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.
Sebenarnya hal ini masih bisa didiagnosa dan dilakukan penanganan yang tepat supaya kemampuan tersebut akhirnya berkembang seperti anak-anak lain seusianya. Jika sejak awal hambatan bicara ini sudah didiagnosa secara tepat, dan jika pihak keluarga mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memberikan dukungan bagi program pemulihan si anak, maka akan besar kemungkinan bagi si anak untuk kembali memiliki kemampuan yang normal. Meski pada proses awal akan terkesan lamban, namun kemungkinan besar masalah keterlambatan bicara akan teratasi ketika anak mulai memasuki sekolah dasar.
Jakarta, 04 September 2001
Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya kok ketinggalan jauh. Kenyataan tersebut pada akhirnya sering mengundang pertanyaan yang diajukan kepada e-psikologi. Untuk itu lah kami akan mengulas persoalan keterlambatan bicara pada balita.
Gangguan kemampuan bicara atau keterlambatan bicara dan berbahasa ini haruslah dideteksi dan ditangani sejak dini dan dengan metode yang tepat. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya. Bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustrasi. Mungkin pula ia akan merasa frustrasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya jadi bahan tertawaan. Jika tidak ada yang bisa mengerti apa sih yang jadi keinginannya atau apa yang dimaksudkannya, maka tidak heran jika lama kelamaan ia akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. Padahal, belajar melalui proses interaksi adalah proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya.
Untuk memahami lebih lanjut tentang keterlambatan bicara, maka Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak perlu mengetahui beberapa hal sebagai berikut:
Bila Anak Terlambat Bicara
Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan. Pada kasus-kasus tertentu, hambatan berbicara dan berbahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis.
Adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti:
1. Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
3. Masalah keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.
5. Faktor Televisi
Anak batita yang banyak nonton TV cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.
EVALUASI PEMERIKSAAN
Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek:
1. Fisiologis dan Neurologis
Dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.
2. Psikologis
Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.
Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.
Sebenarnya hal ini masih bisa didiagnosa dan dilakukan penanganan yang tepat supaya kemampuan tersebut akhirnya berkembang seperti anak-anak lain seusianya. Jika sejak awal hambatan bicara ini sudah didiagnosa secara tepat, dan jika pihak keluarga mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memberikan dukungan bagi program pemulihan si anak, maka akan besar kemungkinan bagi si anak untuk kembali memiliki kemampuan yang normal. Meski pada proses awal akan terkesan lamban, namun kemungkinan besar masalah keterlambatan bicara akan teratasi ketika anak mulai memasuki sekolah dasar.
KEDAHSYATAN BISMILLAH
KEAJAIBAN BISMILLAH
بسم الله الرحمن الرحيم
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama dan tidak mau berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali berbicara dan setiap kali dia hendak memulai suatu pekerjaan. Sementara, suaminya tidak suka dengan sikap isterinya, dan dia sentiasa memperolok-olokkan isterinya dengan berkata: "Dikit-dikit Bismillah, Dikit-dikit Bismillah." Namun, isterinya justru berdo'a supaya Allah S.W.T. memberikan hidayah kepada suaminya. Dengan nada jengkel suaminya bergumam: "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk menjerat isterinya tersebut, dia memberikan uang yang banyak dan berkata, "Simpan uang ini." Isterinya mengambil uang itu dan menyimpannya di tempat yang aman. Kemudian dengan sembunyi-sembunyi suaminya itu mengambil uang tersebut dan membuangnya ke dalam sumur di belakang rumahnya.
Beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku uang yang aku berikan kepadamu dulu."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan uang itu dan diikuti oleh suaminya, dengan berhati-hati dia menghampiri tempat penyimpanan uang itu dan dia buka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan uang ketempat semula, lalu istrinya tersebut menyerahkannya kepada suaminya kembali.
Alangkah terperanjat suaminya, dia merasa bersalah dan ketika itu juga dia bertaubat, mulai saat itu ia mau mengerjakan perintah Allah, dan dia juga selalu membaca Bismillah
بسم الله الرحمن الرحيم
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama dan tidak mau berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali berbicara dan setiap kali dia hendak memulai suatu pekerjaan. Sementara, suaminya tidak suka dengan sikap isterinya, dan dia sentiasa memperolok-olokkan isterinya dengan berkata: "Dikit-dikit Bismillah, Dikit-dikit Bismillah." Namun, isterinya justru berdo'a supaya Allah S.W.T. memberikan hidayah kepada suaminya. Dengan nada jengkel suaminya bergumam: "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk menjerat isterinya tersebut, dia memberikan uang yang banyak dan berkata, "Simpan uang ini." Isterinya mengambil uang itu dan menyimpannya di tempat yang aman. Kemudian dengan sembunyi-sembunyi suaminya itu mengambil uang tersebut dan membuangnya ke dalam sumur di belakang rumahnya.
Beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku uang yang aku berikan kepadamu dulu."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan uang itu dan diikuti oleh suaminya, dengan berhati-hati dia menghampiri tempat penyimpanan uang itu dan dia buka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan uang ketempat semula, lalu istrinya tersebut menyerahkannya kepada suaminya kembali.
Alangkah terperanjat suaminya, dia merasa bersalah dan ketika itu juga dia bertaubat, mulai saat itu ia mau mengerjakan perintah Allah, dan dia juga selalu membaca Bismillah
PERSELINGKUHAN
SELINGKUH, gejolaknya memang menyesatkan, namun masih begitu asik dinikmati. Kini, tak lagi sekedar pelarian sesaat dari rasa tak puas, nampaknya selingkuh sudah menjadi tren yang membudaya. Kehadirannya merambah ke semua kalangan, dari publik figur hingga orang biasa.
Tak heran, National Opinion Research Center pernah melaporkan mengenai perilaku seksual di tahun 2006, dimana hampir seperempat dari pria menikah dan 13 persen perempuan menikah pernah berselingkuh.
Realitanya, selingkuh bisa saja dilakukan orang-orang terdekat, tak terkecuali keluarga atau pasangan kita sekalipun. Agar tak terjebak pada kebenaran semu tentang fakta perselingkuhan ini, sebaiknya kenali dulu mitos-mitos salah tentang selingkuh berikut ini:
Hormon pengaruhi kesetiaan
Ya, wanita dengan hormon oestradiol (hormon seks, terkait juga dengan kesuburan) yang cenderung tinggi dipercaya gemar berselingkuh, demikian menurut sebuah studi yang dilakukan para peneliti di The University of Texas di Austin. Hormon itu membuat mereka merasa lebih menarik dan cederung suka menggoda, mencium dan melakukan skandal serius dengan pasangan selingkuhnya.
Selain itu, kadar oestradiol secara negatif terkait dengan kepuasan seorang wanita dengan mitra utamanya. Peneliti mengungkapkan, wanita yang sangat subur sulit terpuaskan dengan pasangan jangka panjangnya, dan selalu terdorong mencari pria yang lebih menarik. Namun, mereka cenderung tetap memilih menjalani hubungan monogamis.
Selingkuh identik dengan seks
Ini jelas keliru, karena selingkuh tak selalu terkait seks, ungkap Scott Haltzman, MD, profesor klinis dari Brown University, dan penulis buku "The Secrets of Happy Married Men". Kecurangan bisa saja terjadi melibatkan perasaan, tanpa kontak seksual. "Persahabatan berubah menjadi perselingkuhan ketika kedekatan emosional itu hadir dan berkembang menjadi ketegangan seksual yang dirahasiakan di luar perkawinan, ungkap Dr Haltzman. Justru perselingkuhan emosional inilah yang ditakuti banyak kaum wanita.
Selingkuh = kehilangan cinta
Ditegaskan Dr Haltzman, perselingkuhan terjadi bukan karena sudah tak ada lagi cinta, "Mereka mungkin tidak bahagia saat ini tapi bukan berarti cinta itu sudah mati," ungkapnya. Alasan yang berkembang seiring perselingkuhan terjadi biasanya merujuk pada masalah internal rumah tangga, misalnya suami membutuhkan dorongan ego dari seseorang yang bukan istrinya, atau istri ingin mencari perhatian dari yang tidak didapatkan di rumah.
Pria selingkuh dengan wanita lebih muda dan cantik
Ini tak selalu benar, buktinya Pangeran Charles dan Ray Sahetapy menikahi wanita selingkuhannya yang lebih tua dari mereka setelah bercerai dari pasangannya masing-masing. Perselingkuhan kerap dikaitkan dengan cinta pada "daun muda" yang lebih cantik dan segar, namun realitanya tak selalu begitu, bukan?
Sebuah skandal terjadi sering kali berakar dari masalah dalam hubungan seseorang saat ini, ungkap Matt Titus, pakar hubungan dan penulis buku "Why Hasn't He Called?". "Selingkuh bisa terjadi karena ingin mencari sesuatu yang hilang atau tidak dimiliki suami atau pasangannya," jelas Titus. Sebagai contoh, beberapa orang selingkuh karena pasangan selingkuhnya lebih pintar atau lebih kaya.
Sekali selingkuh, selamanya selingkuh
"Ketika seseorang melakukan kesalahan, ia akan melihat dampak atas tindakannya dan belajar dari kejatuhannya tersebut," ungkap Titus. Ya, seorang pria yang pernah berselingkuh dan akhirnya bercerai akan merasakan konsekuensi dari ketidaksetiaanya dulu dan menjadi dewasa secara emosional. Ketika akhirnya menikah lagi, ia seperti diberi kesempatan kedua, "Aku tak akan pernah berselingkuh dari istriku". Jadi, stigma 'sekali selingkuh, selamanya selingkuh', itu tidak selalu benar.
Pernikahan bubar setelah perselingkuhan terbongkar
"Affair tidak selalu menghancurkan bahtera pernikahan, affair justru bisa menjadi alarm pembangun ketika mulai ada yang tidak beres dalam pernikahan Anda" ujar Dr Haltzman. Jika Anda mampu mengambil hikmahnya, affair yang dilakukan pasangan bisa menjadi batu loncatan untuk membuka dialog bersamanya dari hati ke hati, atau melalui sesi konseling untuk membahas masalah-masalah yang terjadi dalam rumah tangga Anda.
Sekali selingkuh = suatu "affair"
Saat melakukan affair atau one night stand, artinya sudah tidak ada lagi rasa menghargai pasangan dan janji pernikahan. "Namun keduanya berbeda," tegas Rhonda Fine PhD, pakar seksologi klinis. "Sekali selingkuh memang bisa merusak ikatan kepercayaan dalam hubungan perkawainan Anda, namun selingkuh yang melibatkan perasaan jauh lebih terasa dalam daripada sekedar kencan semalam," jelas duta The American Academy of Clinical Sexologists ini.
Wanita tidak selingkuh
Jangan salah, mereka juga melakukannya, kata Rhonda. "Ketika wanita terlibat di dunia kerja, dan sering melakukan perjalanan bisnis, mereka akan menghadapi situasi yang membuat mereka rentan tergoda untuk berbuat curang alias selingkuh." Hal ini disebabkan karena wanita lebih mudah melakukan bonding daripada pria. "Ketika mereka bekerjasama secara intens dengan rekan kerja pria, mereka seperti merasa terikat secara emosional," ujar Rhonda.
Pria selingkuh karena haus kasih sayang
Ada banyak alasan mengapa orang berselingkuh, dan itu tidak selalu terkait seks. Rhonda mengatakan, "Orang-orang berselingkuh karena mereka egois, tidak dewasa, dan narsis. Mereka menikmati sensasi selingkuh, dan drama atau gejolak asmara yang mungkin tercipta." Biasanya mereka cenderung jarang menyalahkan diri sendiri bila perselingkuhan terjadi.
Krisis paruh baya penyebab perselingkuhan
Dalam suatu poling online yang dilakukan oleh Wisconsin Public Radio, lebih dari separuh responden mengatakan, krisis paruh baya adalah pengalaman nyata yang menimbulkan depresi dan merenggut kepercayaan diri. Beberapa pria usia baya ini mengaku pernah memiliki affair sesudahnya. Sedang yang lain, mengatasi krisis tersebut dengan minum alkohol terlalu banyak atau menjadi depersi secara klinis. Inilah saatnya mereka menjalani konseling.
Orang selingkuh tak ingin kepergok
Justru sebaliknya, catat Dr Haltzman. "Ada pula yang dengan sengaja mengatur sedemikian rupa agar pasangannya memergoki kecurangannya," ujar Haltzman. Mulai dari meninggalkan bekas lipstik di kerah kemeja atau membiarkan e-mail mesra terbuka pada komputer di rumah. Intinya, sengaja meninggalkan jejak dimana-mana.
Seringkali itu terjadi sebagai sinyal meminta bantuan. "Beberapa orang melakukannya secara jelas dan terang-terangan karena mereka ingin berhenti dan keluar dari jerat perangkap perselingkuhan itu namun tidak tahu bagaimana caranya," tutur Haltzman.
Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2011/03/09/1073/Mengenal-Mitos-Selingkuh-2-Tamat
Perselingkuhan, Perlukah Dimaafkan?
Memaafkan sebuah perselingkuhan yang dilakukan pasangan adalah pekerjaan maha berat, tapi bukan tidak mungkin jika Anda memiliki hati seluas samudera. Berdamai dengan masa lalu, bersedia memaafkan, dan sama-sama bangkit memperbaiki yang pernah retak.
Karena, "kemarahanmu boleh saja bersemayam di hati, namun tak boleh berlama-lama kau biarkan menggerogoti jiwamu. Endapkan marah itu, dan biarkan ia mati disana, tak perlu lagi kau bangkitkan, karena hanya akan menambah bebanmu saja.."
Begitulah seorang kawan bijak memberi advice-nya untuk seorang sahabat yang merasa hancur, karena baru saja mengetahui pengkhianatan yang dilakukan pasangannya. Dalam sejarahnya, wanita yang mampu memaafkan peselingkuhan, biasanya memiliki alasan lain di luar cinta yang terkhianati pasangannya.
Ia tak boleh sekedar memanjakan ego, karena kehormatan di mata masyarakat baginya haruslah tetap dijunjung tinggi. Hingga ia bersedia merelakan pasangannya berbagi tubuh dengan yang lain, karena ia merasa tak mampu memenuhi hasrat prianya yang tak mampu ia penuhi. Pun, dalam kodratnya semata sebagai "konco wingking", ia tak berani maju ke depan, dan lebih memilih tegar dalam diamnya, bersedia dimadu dan ikhlas melepaskan miliknya menjadi milik wanita lain.
Bercermin pada skandal Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Skandal yang sempat menggemparkan Amerika dan bahkan menjadi konsumsi warga dunia itu akhirnya mereda. Bukan karena pengakuan Bill Clinton atau Monica Lewinsky, tapi lebih pada kerendahan hati seorang Hillary Clinton yang bersedia memberi maafnya untuk sang suami.
Ya, memaafkan perselingkuhan demi menyelamatkan bahtera "penikahan" yang hampir karam adalah sebuah pembuktian bagi siapapun yang mengalaminya, bahwa ia telah berhasil menyingkirkan ego, merasionalisasikan amarah, sakit hati juga perasaan negatif yang menyertai langkah hidupnya.
Namun, semuanya kembali pada masing-masing individu, sebatas mana ketahanan, kesabaran dan toleransi yang mereka miliki dalam menghadapi suatu masalah. Karena tidaklah sama antar individu dan tidak bisa disamakan ataupun menyamakan satu dengan yang lainnya.
Larry A. Bugen Ph.D, penulis "Stuck On Me", mengungkapkan,"Jika Anda telah memutuskan untuk tetap bersama dengan pasangan meski ia telah berselingkuh, sebaiknya Anda harus benar-benar telah memaafkannya. Tak perlu hidup Anda dipenuhi kecurigaan, amarah dan juga kepahitan hidup,".
Untuk menemukan kembali cinta yang hilang paska perselingkuhan, Larry menawarkan nasehat bijaknya bagi Anda yang masih ingin "move on" setelah pengkhianatan menyakitkan itu terjadi.
1. Pengampunan
Perselingkuhan apapun itu, entah sekedar "cinta satu malam" tanpa melibatkan emosi dan perasaan (no hard feeling), atau telah jauh melibatkan fisik dan emosi yang terkuras untuk seseorang berstatus "pacar gelap", semuanya tentu terasa menyakitkan untuk diingat dan dimaafkan.
Namun, tak ada yang tidak bisa dimaafkan ketika Anda bersedia membuka hati, berbicara dari hati ke hati dengannya. Saat itulah Anda berkesempatan menguak tabirnya, bahwa benar, kekurangan dan ketidaksempurnaan selalu menjadi penyebab berjangkitnya penyakit selingkuh. Hanya karena seseorang lain di luar sana dirasa lebih mampu menutupi "cacat" itu, kekurangan itu.
"Matikan saja rasa sakit yang mengendap di dasar hati," seperti nasehat seorang kawan bijak, toh ia telah bersedia mengambil risiko atas tindakan menyakiti hati Anda, mau mengakui dan jantan meminta maaf. Pun, ia kembali tersadar dan mau belajar dari kesalahannya. Bahkan ia ingin memberikan waktunya untuk membuktikan diri, ia masih layak dipercaya.
Dan seiring kata maaf yang bergulir dari bibirnya, sejatinya Anda telah memberikan pengampunan itu, obat terampuh untuk menyembuhkan luka hati.
2. Empati
Kesediaan Anda memaafkan pengkhianatan yang dilakukannya, sejatinya adalah penunjukan sikap bijak Anda yang mencoba berempati kepadanya. Sebuah usaha menempatkan diri Anda pada posisinya, memahami juga perasaannya, bahwa benar tak ada manusia yang sempurna.
Nobody is perfect, seperti sebuah ungkapan lama, Ia, atau Anda adalah pribadi-pribadi yang pasti sarat dengan kekurangan. Ia atau Anda pernah khilaf dan lalu tersadar lantas menemukan jalan pulang, kembali menjadi pribadi yang lebih baik.
3. Pemulihan
Seberapa cepat Anda pulih dari rasa sakit hati karena dikhianati sangat tergantung dari kesediaan Anda untuk bangkit dari keterpurukan, menatap masa depan dan berdamai dengan masa lalu. Jadi, pastikan Anda meninggalkan dulu semua sakit itu di belakang dan berilah jeda untuk pulih dan membangun kembali kepercayaan diri terhadapnya. Niscaya, pemulihan itu akan membawa Anda pada perubahan ke arah yang lebih baik.
So, are you ready to move on after betrayal?
Oleh Er Maya Nugroho
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2011/04/20/1094/Perselingkuhan-Perlukah-Dimaafkan
Diposkan oleh hilman
di 21:03
Tak heran, National Opinion Research Center pernah melaporkan mengenai perilaku seksual di tahun 2006, dimana hampir seperempat dari pria menikah dan 13 persen perempuan menikah pernah berselingkuh.
Realitanya, selingkuh bisa saja dilakukan orang-orang terdekat, tak terkecuali keluarga atau pasangan kita sekalipun. Agar tak terjebak pada kebenaran semu tentang fakta perselingkuhan ini, sebaiknya kenali dulu mitos-mitos salah tentang selingkuh berikut ini:
Hormon pengaruhi kesetiaan
Ya, wanita dengan hormon oestradiol (hormon seks, terkait juga dengan kesuburan) yang cenderung tinggi dipercaya gemar berselingkuh, demikian menurut sebuah studi yang dilakukan para peneliti di The University of Texas di Austin. Hormon itu membuat mereka merasa lebih menarik dan cederung suka menggoda, mencium dan melakukan skandal serius dengan pasangan selingkuhnya.
Selain itu, kadar oestradiol secara negatif terkait dengan kepuasan seorang wanita dengan mitra utamanya. Peneliti mengungkapkan, wanita yang sangat subur sulit terpuaskan dengan pasangan jangka panjangnya, dan selalu terdorong mencari pria yang lebih menarik. Namun, mereka cenderung tetap memilih menjalani hubungan monogamis.
Selingkuh identik dengan seks
Ini jelas keliru, karena selingkuh tak selalu terkait seks, ungkap Scott Haltzman, MD, profesor klinis dari Brown University, dan penulis buku "The Secrets of Happy Married Men". Kecurangan bisa saja terjadi melibatkan perasaan, tanpa kontak seksual. "Persahabatan berubah menjadi perselingkuhan ketika kedekatan emosional itu hadir dan berkembang menjadi ketegangan seksual yang dirahasiakan di luar perkawinan, ungkap Dr Haltzman. Justru perselingkuhan emosional inilah yang ditakuti banyak kaum wanita.
Selingkuh = kehilangan cinta
Ditegaskan Dr Haltzman, perselingkuhan terjadi bukan karena sudah tak ada lagi cinta, "Mereka mungkin tidak bahagia saat ini tapi bukan berarti cinta itu sudah mati," ungkapnya. Alasan yang berkembang seiring perselingkuhan terjadi biasanya merujuk pada masalah internal rumah tangga, misalnya suami membutuhkan dorongan ego dari seseorang yang bukan istrinya, atau istri ingin mencari perhatian dari yang tidak didapatkan di rumah.
Pria selingkuh dengan wanita lebih muda dan cantik
Ini tak selalu benar, buktinya Pangeran Charles dan Ray Sahetapy menikahi wanita selingkuhannya yang lebih tua dari mereka setelah bercerai dari pasangannya masing-masing. Perselingkuhan kerap dikaitkan dengan cinta pada "daun muda" yang lebih cantik dan segar, namun realitanya tak selalu begitu, bukan?
Sebuah skandal terjadi sering kali berakar dari masalah dalam hubungan seseorang saat ini, ungkap Matt Titus, pakar hubungan dan penulis buku "Why Hasn't He Called?". "Selingkuh bisa terjadi karena ingin mencari sesuatu yang hilang atau tidak dimiliki suami atau pasangannya," jelas Titus. Sebagai contoh, beberapa orang selingkuh karena pasangan selingkuhnya lebih pintar atau lebih kaya.
Sekali selingkuh, selamanya selingkuh
"Ketika seseorang melakukan kesalahan, ia akan melihat dampak atas tindakannya dan belajar dari kejatuhannya tersebut," ungkap Titus. Ya, seorang pria yang pernah berselingkuh dan akhirnya bercerai akan merasakan konsekuensi dari ketidaksetiaanya dulu dan menjadi dewasa secara emosional. Ketika akhirnya menikah lagi, ia seperti diberi kesempatan kedua, "Aku tak akan pernah berselingkuh dari istriku". Jadi, stigma 'sekali selingkuh, selamanya selingkuh', itu tidak selalu benar.
Pernikahan bubar setelah perselingkuhan terbongkar
"Affair tidak selalu menghancurkan bahtera pernikahan, affair justru bisa menjadi alarm pembangun ketika mulai ada yang tidak beres dalam pernikahan Anda" ujar Dr Haltzman. Jika Anda mampu mengambil hikmahnya, affair yang dilakukan pasangan bisa menjadi batu loncatan untuk membuka dialog bersamanya dari hati ke hati, atau melalui sesi konseling untuk membahas masalah-masalah yang terjadi dalam rumah tangga Anda.
Sekali selingkuh = suatu "affair"
Saat melakukan affair atau one night stand, artinya sudah tidak ada lagi rasa menghargai pasangan dan janji pernikahan. "Namun keduanya berbeda," tegas Rhonda Fine PhD, pakar seksologi klinis. "Sekali selingkuh memang bisa merusak ikatan kepercayaan dalam hubungan perkawainan Anda, namun selingkuh yang melibatkan perasaan jauh lebih terasa dalam daripada sekedar kencan semalam," jelas duta The American Academy of Clinical Sexologists ini.
Wanita tidak selingkuh
Jangan salah, mereka juga melakukannya, kata Rhonda. "Ketika wanita terlibat di dunia kerja, dan sering melakukan perjalanan bisnis, mereka akan menghadapi situasi yang membuat mereka rentan tergoda untuk berbuat curang alias selingkuh." Hal ini disebabkan karena wanita lebih mudah melakukan bonding daripada pria. "Ketika mereka bekerjasama secara intens dengan rekan kerja pria, mereka seperti merasa terikat secara emosional," ujar Rhonda.
Pria selingkuh karena haus kasih sayang
Ada banyak alasan mengapa orang berselingkuh, dan itu tidak selalu terkait seks. Rhonda mengatakan, "Orang-orang berselingkuh karena mereka egois, tidak dewasa, dan narsis. Mereka menikmati sensasi selingkuh, dan drama atau gejolak asmara yang mungkin tercipta." Biasanya mereka cenderung jarang menyalahkan diri sendiri bila perselingkuhan terjadi.
Krisis paruh baya penyebab perselingkuhan
Dalam suatu poling online yang dilakukan oleh Wisconsin Public Radio, lebih dari separuh responden mengatakan, krisis paruh baya adalah pengalaman nyata yang menimbulkan depresi dan merenggut kepercayaan diri. Beberapa pria usia baya ini mengaku pernah memiliki affair sesudahnya. Sedang yang lain, mengatasi krisis tersebut dengan minum alkohol terlalu banyak atau menjadi depersi secara klinis. Inilah saatnya mereka menjalani konseling.
Orang selingkuh tak ingin kepergok
Justru sebaliknya, catat Dr Haltzman. "Ada pula yang dengan sengaja mengatur sedemikian rupa agar pasangannya memergoki kecurangannya," ujar Haltzman. Mulai dari meninggalkan bekas lipstik di kerah kemeja atau membiarkan e-mail mesra terbuka pada komputer di rumah. Intinya, sengaja meninggalkan jejak dimana-mana.
Seringkali itu terjadi sebagai sinyal meminta bantuan. "Beberapa orang melakukannya secara jelas dan terang-terangan karena mereka ingin berhenti dan keluar dari jerat perangkap perselingkuhan itu namun tidak tahu bagaimana caranya," tutur Haltzman.
Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2011/03/09/1073/Mengenal-Mitos-Selingkuh-2-Tamat
Perselingkuhan, Perlukah Dimaafkan?
Memaafkan sebuah perselingkuhan yang dilakukan pasangan adalah pekerjaan maha berat, tapi bukan tidak mungkin jika Anda memiliki hati seluas samudera. Berdamai dengan masa lalu, bersedia memaafkan, dan sama-sama bangkit memperbaiki yang pernah retak.
Karena, "kemarahanmu boleh saja bersemayam di hati, namun tak boleh berlama-lama kau biarkan menggerogoti jiwamu. Endapkan marah itu, dan biarkan ia mati disana, tak perlu lagi kau bangkitkan, karena hanya akan menambah bebanmu saja.."
Begitulah seorang kawan bijak memberi advice-nya untuk seorang sahabat yang merasa hancur, karena baru saja mengetahui pengkhianatan yang dilakukan pasangannya. Dalam sejarahnya, wanita yang mampu memaafkan peselingkuhan, biasanya memiliki alasan lain di luar cinta yang terkhianati pasangannya.
Ia tak boleh sekedar memanjakan ego, karena kehormatan di mata masyarakat baginya haruslah tetap dijunjung tinggi. Hingga ia bersedia merelakan pasangannya berbagi tubuh dengan yang lain, karena ia merasa tak mampu memenuhi hasrat prianya yang tak mampu ia penuhi. Pun, dalam kodratnya semata sebagai "konco wingking", ia tak berani maju ke depan, dan lebih memilih tegar dalam diamnya, bersedia dimadu dan ikhlas melepaskan miliknya menjadi milik wanita lain.
Bercermin pada skandal Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Skandal yang sempat menggemparkan Amerika dan bahkan menjadi konsumsi warga dunia itu akhirnya mereda. Bukan karena pengakuan Bill Clinton atau Monica Lewinsky, tapi lebih pada kerendahan hati seorang Hillary Clinton yang bersedia memberi maafnya untuk sang suami.
Ya, memaafkan perselingkuhan demi menyelamatkan bahtera "penikahan" yang hampir karam adalah sebuah pembuktian bagi siapapun yang mengalaminya, bahwa ia telah berhasil menyingkirkan ego, merasionalisasikan amarah, sakit hati juga perasaan negatif yang menyertai langkah hidupnya.
Namun, semuanya kembali pada masing-masing individu, sebatas mana ketahanan, kesabaran dan toleransi yang mereka miliki dalam menghadapi suatu masalah. Karena tidaklah sama antar individu dan tidak bisa disamakan ataupun menyamakan satu dengan yang lainnya.
Larry A. Bugen Ph.D, penulis "Stuck On Me", mengungkapkan,"Jika Anda telah memutuskan untuk tetap bersama dengan pasangan meski ia telah berselingkuh, sebaiknya Anda harus benar-benar telah memaafkannya. Tak perlu hidup Anda dipenuhi kecurigaan, amarah dan juga kepahitan hidup,".
Untuk menemukan kembali cinta yang hilang paska perselingkuhan, Larry menawarkan nasehat bijaknya bagi Anda yang masih ingin "move on" setelah pengkhianatan menyakitkan itu terjadi.
1. Pengampunan
Perselingkuhan apapun itu, entah sekedar "cinta satu malam" tanpa melibatkan emosi dan perasaan (no hard feeling), atau telah jauh melibatkan fisik dan emosi yang terkuras untuk seseorang berstatus "pacar gelap", semuanya tentu terasa menyakitkan untuk diingat dan dimaafkan.
Namun, tak ada yang tidak bisa dimaafkan ketika Anda bersedia membuka hati, berbicara dari hati ke hati dengannya. Saat itulah Anda berkesempatan menguak tabirnya, bahwa benar, kekurangan dan ketidaksempurnaan selalu menjadi penyebab berjangkitnya penyakit selingkuh. Hanya karena seseorang lain di luar sana dirasa lebih mampu menutupi "cacat" itu, kekurangan itu.
"Matikan saja rasa sakit yang mengendap di dasar hati," seperti nasehat seorang kawan bijak, toh ia telah bersedia mengambil risiko atas tindakan menyakiti hati Anda, mau mengakui dan jantan meminta maaf. Pun, ia kembali tersadar dan mau belajar dari kesalahannya. Bahkan ia ingin memberikan waktunya untuk membuktikan diri, ia masih layak dipercaya.
Dan seiring kata maaf yang bergulir dari bibirnya, sejatinya Anda telah memberikan pengampunan itu, obat terampuh untuk menyembuhkan luka hati.
2. Empati
Kesediaan Anda memaafkan pengkhianatan yang dilakukannya, sejatinya adalah penunjukan sikap bijak Anda yang mencoba berempati kepadanya. Sebuah usaha menempatkan diri Anda pada posisinya, memahami juga perasaannya, bahwa benar tak ada manusia yang sempurna.
Nobody is perfect, seperti sebuah ungkapan lama, Ia, atau Anda adalah pribadi-pribadi yang pasti sarat dengan kekurangan. Ia atau Anda pernah khilaf dan lalu tersadar lantas menemukan jalan pulang, kembali menjadi pribadi yang lebih baik.
3. Pemulihan
Seberapa cepat Anda pulih dari rasa sakit hati karena dikhianati sangat tergantung dari kesediaan Anda untuk bangkit dari keterpurukan, menatap masa depan dan berdamai dengan masa lalu. Jadi, pastikan Anda meninggalkan dulu semua sakit itu di belakang dan berilah jeda untuk pulih dan membangun kembali kepercayaan diri terhadapnya. Niscaya, pemulihan itu akan membawa Anda pada perubahan ke arah yang lebih baik.
So, are you ready to move on after betrayal?
Oleh Er Maya Nugroho
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2011/04/20/1094/Perselingkuhan-Perlukah-Dimaafkan
Diposkan oleh hilman
di 21:03
CV OTENTIK
CV Otentik
Oleh : Jacinta F. Rini
Jakarta, 18 Juni 2010
The master was never impressed by diplomas or degrees.
He scrutinized the person, not the sertificate.
He once heard to say : "when you have ears to hear a bird in song,
you don't need to look at its credentials"
(Antony de Mello)
Saat ini, catatan riwayat hidup sepertinya masih merupakan hal penting dalam berbagai keperluan, seperti urusan melamar pekerjaan, menjadi anggota DPR, calon birokrat, anggota panita ini itu, ikut tender, menjadi pembicara maupun menjadi trainer, melamar beasiswa dan sekolah, hingga urusan gaul.
Isi daftar riwayat hidup menjadi referensi yang menentukan bagaimana nilai orang itu di mata yang lain. Semenjak jaman internet, lebih mudah menemukan latar belakang seseorang, baik orang awam, maupun tokoh atau minimal pernah menduduki peran penting. Facebook, Twitter atau jejaring sosial lain juga menjadi sarana efektif memperkenalkan dan me-marketing-kan diri sendiri.
Keterbukaan dan kemudahan informasi dalam mencari dan mengakses riwayat seseorang lewat internet membawa implikasi positif dan negatif. Positif, karena akan dibaca oleh masyarakat luas dan diantara mereka ada yang pernah sharing the same journey atau bertemu dalam sebuah moment. Kesan yang timbul saat itu menjadi acuan penilaian. Negatif, karena kita bisa menulis banyak tentang diri yang ternyata hanya punya sedikit.Terlepas dari bagaimana riwayat hidup itu di expose, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar kemasan & cara mengemas, yakni isi dan kualitas isinya.
Fungsi Daftar Riwayat Hidup
1. The way we fight our lives
Riwayat hidup semestinya menjadi record, catatan sejarah yang memuat informasi riil mengenai apa saja yang sudah kita alami, pengalaman dan kemampuan yang dimiliki. Dari situ banyak yg bisa terbaca, apakah kita termasuk orang yang hanya mementingkan kuantitas tanpa kualitas, atau miskin kuantitas dan kualitas. Jangan salah, CV yg panjang lebar berlembar-lembar belum tentu menimbulkan kekaguman, bahkan bisa dipertanyakan: "Kalau sering-sering training dan seminar seperti ini, kapan dia kerjanya?" Atau "Sudahkah ilmunya dia praktekkan dan sumbangkan pada perusahaan?"
Darimana bisa terlihat 'how we fight our live'?
Memang yang kelihatan, bukanlah yang final, melainkan proses yang sudah dan sedang terjadi. Orang yang paham membaca CV, akan paham menganalisa proses kehidupan yang tercermin dalam usia kelulusan, lama kerja, scope tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan, variasi pekerjaan dalam satu jabatan, variasi tanggung jawab dalam satu peran, dsb. Bagi pembaca CV yang biasa bermain dengan kualitas, hal-hal semacam itu punya makna lebih penting dari sekedar template yang indah, jabatan atau kedudukan tinggi - apalagi jika diperoleh lewat cara-cara politis. Karena, 'cara dan gaya bekerja' seseorang akan menunjukkan falsafah hidup yang ia yakini dan amini serta nilai-nilai yg melandasi setiap motivasi dan gerakan hidupnya.
2. The way we grow
Tidak kalah pentingnya adalah informasi mengenai latar belakang pendidikan, darimana asal sekolah, sampai jenjang pendidikan apa, atau jika mungkin beberapa penelitian signifikan, bidang studi yang dipilih dan lama belajarnya, dsb. Pembaca CV yang budiman, cenderung tidak menangkap informasi di permukaan dan menggunakannya sebagai referensi tunggal. Nilai bagus belum jaminan kualitas seseorang, sebaliknya, nilai rendah belum tentu langsung didiskualifikasi. Tapi bagaimana orang itu memanfaatkan peluang pendidikan sebagai sarana pengembangan kapasitas intelektual dan kepribadian; bagaimana menggabungkan keilmuan dengan kenyataan sehingga kolaborasi keduanya menghasilkan pertumbuhan dalam diri orang itu.
Contoh, ada orang yang terus menerus belajar supaya dirinya sendiri yang jadi pintar; ada orang yang belajar dengan mengajari orang lain sehingga ilmunya lebih dipahami dan nancep berakar. Ada orang yang belajar sambil bekerja, dan ada yang belajar sambil meneliti ini dan itu. Yang paling ajaib, ada orang begitu yakin sukses tanpa harus bersusah payah belajar. Entah karena kaya raya, jaminan harta tujuh turunan atau karena proteksi orang tua yang menutupi kemampuan melihat realita hidup saat ini dan di masa depan.
Memang, hal-hal ini lebih mudah diverifikasi ketika pertemuan tatap muka dengan owner atau pun interviewer. Bahkan, bisa menjadi ajang verifikasi sejauh mana perkembangan kualiatas intelektual orang itu. Disini peribahasa tong kosong nyaring bunyinya atau bagai pungguk merindukan bulan, bisa diterapkan. Bisa dilihat dari hasilnya. Ada yang kemasan pendidikannya kelihatan canggih, tapi kosong dalamnya. Ada yang memang kosong melompong karena belajar tidak serius, hidup juga tidak serius. Ada yang super percaya diri dengan gelar berderet namun kosong ilmunya. Intinya, riwayat pendidikan sebenarnya bisa banyak bicara tentang kualitas dan kuantitas diri seseorang - dan itu manifestasi the way we grow.
3. The way we give ourselves
Banyak orang punya CV panjang lantaran catatan pelatihan berderet-deret dan berseri-seri seperti film serial. Banyak pula yang merasa bangga karena status jabatan tinggi serta fasilitas yang lengkap. Pertanyaannya, berapa banyak orang yang bertanya pada diri sendiri 'apa yang sudah saya berikan bagi sesama saya?' Atau 'apa yang sudah saya lakukan,utk mengatasi persoalan yg terjadi di sekitar saya' dan 'apa yang sudah saya berikan bagi perusahaan tempat saya bekerja?' Jujur saja, kebanyakan bertanya apa yang layak saya peroleh? Bagaimana cara mendapatkannya?
Apa hubungan semua ini dengan CV? Jelas dan sederhana, tinggal kalkulasi saja antara banyaknya yang diterima dengan yang dihasilkan, antara belajar dan karyanya, antara status jabatan dengan kontribusinya, antara pengalaman yang dialami & dikejar dengan kematangan karakter. hasil akhir semua itu akan memperlihatkan apakah kualitas pribadi dan kemampuan orang itu selaras dengan CV-nya serta status jabatan seperti yang tertera di kartu nama.
Darimana bisa terlihat? Interviewer atau user yang jeli dan sensitif melakukan eksplorasi dengan banyak cara, untuk menemukan apakah kandidat punya concern terhadap orang lain, atau hanya pada diri sendiri, apakah ada kontribusi nyata pada tempat ia belajar dan bekerja, dan apakah pengalaman kerja telah menghasilkan pertumbuhan karakter yang semakin baik serta kematangan pengalaman & ketrampilan
Langkah Aman
Banyak pertanyaan diajukan, bagaimana supaya kita bisa memberikan impresi yang positif dan menarik? Jawabannya bukan terletak pada 'teknik atau cara', tapi pada 'apa'; bukan bagaimana mengimpresi, namun apakah yang dijadikan modal? Banyak orang silau oleh impresi yang kinclong, seperti CV yang keren, bicara kebarat-baratan, dan baru terbukti setahun kemudian ketika masa honeymoon sudah berlalu. Atasan mulai bertanya-tanya mengapa dia belum juga memberikan energi baru dan kreativitas segar yang menggenjot inovasi dan produktivitas team-nya, malahan tenggelam menjadi sewarna dan senada dengan yang lain.
Sebenarnya, tidak perlu punya kehebatan untuk bisa menjadi hebat, sama halnya dengan burung pasti bisa terbang tinggi jika ia mau rajin-rajin mengepakkan sayapnya. Manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi dengan persoalan dan kendala-kendala, mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Kunci keberhasilan seseorang, ada pada kemauannya untuk terus melangkah, menghadapi setiap persoalan, menyelesaikannya dan melanjutkan perjalanan. Masa lalu, tidak hilang melainkan sudah "berfotosintesis" dengan kepribadian melahirkan satu lagi ciri khas karakter kita. Hasil fotosintesis itulah yg menjadi "chlorophyl" karakter. Disitu letak pentingnya pengalaman pribadi.
Maka dari itu, sebagaimana hijau daun tidak dapat disembunyikan,maka karakter asli juga akan terpancar; mau itu baik atau kurang baik, dsb. Keindahan dan kekuatan seseorang akan terlihat dan terbaca dari output-nya, yakni : pola pikirnya, analisanya, perspektifnya, nilai-nilai dan opini, sikap dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya, dsb. Itu semua yang akan kelihatan oleh orang lain, meskipun seandainya tidak ada CV yang lengkap untuk memperlihatkan kekuatan seseorang. Kalau isi-nya kita sedikit, atau kurang berkualitas, maka yang dibahas atau yang jadi fokus perhatian juga persoalan remeh temeh dan kurang berbobot, tidak esensial, yang dianggap sumber masalah justru persoalan periferal.
Tidak ada kata terlambat
Setiap manusia diberi kesempatan dan sarana untuk maju dan menjadi semakin baik. Di situlah letaknya kebesaran Tuhan. Perjalanan hidup manusia yang sarat dan padat dengan peristiwa, kesempatan dan perjumpaan dengan manusia lain, merupakan training ground and learning sessions untuk menambah dan menumbuhkan skills baru dan kekuatan pribadi. Tentu saja, kita bisa dengan sengaja mempelajari berbagai bidang khusus yang ingin diperdalam. Hal itu biasanya dilakukan jika kita sudah punya arah tujuan yang lebih jelas. Tapi bagi yang belum bisa menggambarkan apa sih yang jadi tujuan dan cita-cita, maka sensitivitas diri menjadi faktor penting.
Kalau kita sensitif, kita bisa mengenali kebutuhan sekitar kita dan mengenali apa saja kebutuhan kita sendiri untuk bisa merespon kebutuhan di lingkungan atau sekeliling kita (kebutuhan kerja, perusahaan, masyarakat, keluarga). Dari situ, kita bisa tahu skill apa yang harus dikembangkan, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dilatih dan apa yang perlu dikurangi supaya tidak jadi kendala dalam menempuh kehidupan yang sedang dijalani ini.
Setiap usaha positif yang kita lakukan dengan konsisten, akan membentuk karakter dan kekuatan yang mendorong rasa percaya diri sejati - yang betul-betul ada sumbernya dan bukan sekedar ilusi diri atau pun iklan. Kita bisa hidup otentik - selaras, antara di dalam dengan di luar. Semoga bermanfaat!
Oleh : Jacinta F. Rini
Jakarta, 18 Juni 2010
The master was never impressed by diplomas or degrees.
He scrutinized the person, not the sertificate.
He once heard to say : "when you have ears to hear a bird in song,
you don't need to look at its credentials"
(Antony de Mello)
Saat ini, catatan riwayat hidup sepertinya masih merupakan hal penting dalam berbagai keperluan, seperti urusan melamar pekerjaan, menjadi anggota DPR, calon birokrat, anggota panita ini itu, ikut tender, menjadi pembicara maupun menjadi trainer, melamar beasiswa dan sekolah, hingga urusan gaul.
Isi daftar riwayat hidup menjadi referensi yang menentukan bagaimana nilai orang itu di mata yang lain. Semenjak jaman internet, lebih mudah menemukan latar belakang seseorang, baik orang awam, maupun tokoh atau minimal pernah menduduki peran penting. Facebook, Twitter atau jejaring sosial lain juga menjadi sarana efektif memperkenalkan dan me-marketing-kan diri sendiri.
Keterbukaan dan kemudahan informasi dalam mencari dan mengakses riwayat seseorang lewat internet membawa implikasi positif dan negatif. Positif, karena akan dibaca oleh masyarakat luas dan diantara mereka ada yang pernah sharing the same journey atau bertemu dalam sebuah moment. Kesan yang timbul saat itu menjadi acuan penilaian. Negatif, karena kita bisa menulis banyak tentang diri yang ternyata hanya punya sedikit.Terlepas dari bagaimana riwayat hidup itu di expose, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar kemasan & cara mengemas, yakni isi dan kualitas isinya.
Fungsi Daftar Riwayat Hidup
1. The way we fight our lives
Riwayat hidup semestinya menjadi record, catatan sejarah yang memuat informasi riil mengenai apa saja yang sudah kita alami, pengalaman dan kemampuan yang dimiliki. Dari situ banyak yg bisa terbaca, apakah kita termasuk orang yang hanya mementingkan kuantitas tanpa kualitas, atau miskin kuantitas dan kualitas. Jangan salah, CV yg panjang lebar berlembar-lembar belum tentu menimbulkan kekaguman, bahkan bisa dipertanyakan: "Kalau sering-sering training dan seminar seperti ini, kapan dia kerjanya?" Atau "Sudahkah ilmunya dia praktekkan dan sumbangkan pada perusahaan?"
Darimana bisa terlihat 'how we fight our live'?
Memang yang kelihatan, bukanlah yang final, melainkan proses yang sudah dan sedang terjadi. Orang yang paham membaca CV, akan paham menganalisa proses kehidupan yang tercermin dalam usia kelulusan, lama kerja, scope tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan, variasi pekerjaan dalam satu jabatan, variasi tanggung jawab dalam satu peran, dsb. Bagi pembaca CV yang biasa bermain dengan kualitas, hal-hal semacam itu punya makna lebih penting dari sekedar template yang indah, jabatan atau kedudukan tinggi - apalagi jika diperoleh lewat cara-cara politis. Karena, 'cara dan gaya bekerja' seseorang akan menunjukkan falsafah hidup yang ia yakini dan amini serta nilai-nilai yg melandasi setiap motivasi dan gerakan hidupnya.
2. The way we grow
Tidak kalah pentingnya adalah informasi mengenai latar belakang pendidikan, darimana asal sekolah, sampai jenjang pendidikan apa, atau jika mungkin beberapa penelitian signifikan, bidang studi yang dipilih dan lama belajarnya, dsb. Pembaca CV yang budiman, cenderung tidak menangkap informasi di permukaan dan menggunakannya sebagai referensi tunggal. Nilai bagus belum jaminan kualitas seseorang, sebaliknya, nilai rendah belum tentu langsung didiskualifikasi. Tapi bagaimana orang itu memanfaatkan peluang pendidikan sebagai sarana pengembangan kapasitas intelektual dan kepribadian; bagaimana menggabungkan keilmuan dengan kenyataan sehingga kolaborasi keduanya menghasilkan pertumbuhan dalam diri orang itu.
Contoh, ada orang yang terus menerus belajar supaya dirinya sendiri yang jadi pintar; ada orang yang belajar dengan mengajari orang lain sehingga ilmunya lebih dipahami dan nancep berakar. Ada orang yang belajar sambil bekerja, dan ada yang belajar sambil meneliti ini dan itu. Yang paling ajaib, ada orang begitu yakin sukses tanpa harus bersusah payah belajar. Entah karena kaya raya, jaminan harta tujuh turunan atau karena proteksi orang tua yang menutupi kemampuan melihat realita hidup saat ini dan di masa depan.
Memang, hal-hal ini lebih mudah diverifikasi ketika pertemuan tatap muka dengan owner atau pun interviewer. Bahkan, bisa menjadi ajang verifikasi sejauh mana perkembangan kualiatas intelektual orang itu. Disini peribahasa tong kosong nyaring bunyinya atau bagai pungguk merindukan bulan, bisa diterapkan. Bisa dilihat dari hasilnya. Ada yang kemasan pendidikannya kelihatan canggih, tapi kosong dalamnya. Ada yang memang kosong melompong karena belajar tidak serius, hidup juga tidak serius. Ada yang super percaya diri dengan gelar berderet namun kosong ilmunya. Intinya, riwayat pendidikan sebenarnya bisa banyak bicara tentang kualitas dan kuantitas diri seseorang - dan itu manifestasi the way we grow.
3. The way we give ourselves
Banyak orang punya CV panjang lantaran catatan pelatihan berderet-deret dan berseri-seri seperti film serial. Banyak pula yang merasa bangga karena status jabatan tinggi serta fasilitas yang lengkap. Pertanyaannya, berapa banyak orang yang bertanya pada diri sendiri 'apa yang sudah saya berikan bagi sesama saya?' Atau 'apa yang sudah saya lakukan,utk mengatasi persoalan yg terjadi di sekitar saya' dan 'apa yang sudah saya berikan bagi perusahaan tempat saya bekerja?' Jujur saja, kebanyakan bertanya apa yang layak saya peroleh? Bagaimana cara mendapatkannya?
Apa hubungan semua ini dengan CV? Jelas dan sederhana, tinggal kalkulasi saja antara banyaknya yang diterima dengan yang dihasilkan, antara belajar dan karyanya, antara status jabatan dengan kontribusinya, antara pengalaman yang dialami & dikejar dengan kematangan karakter. hasil akhir semua itu akan memperlihatkan apakah kualitas pribadi dan kemampuan orang itu selaras dengan CV-nya serta status jabatan seperti yang tertera di kartu nama.
Darimana bisa terlihat? Interviewer atau user yang jeli dan sensitif melakukan eksplorasi dengan banyak cara, untuk menemukan apakah kandidat punya concern terhadap orang lain, atau hanya pada diri sendiri, apakah ada kontribusi nyata pada tempat ia belajar dan bekerja, dan apakah pengalaman kerja telah menghasilkan pertumbuhan karakter yang semakin baik serta kematangan pengalaman & ketrampilan
Langkah Aman
Banyak pertanyaan diajukan, bagaimana supaya kita bisa memberikan impresi yang positif dan menarik? Jawabannya bukan terletak pada 'teknik atau cara', tapi pada 'apa'; bukan bagaimana mengimpresi, namun apakah yang dijadikan modal? Banyak orang silau oleh impresi yang kinclong, seperti CV yang keren, bicara kebarat-baratan, dan baru terbukti setahun kemudian ketika masa honeymoon sudah berlalu. Atasan mulai bertanya-tanya mengapa dia belum juga memberikan energi baru dan kreativitas segar yang menggenjot inovasi dan produktivitas team-nya, malahan tenggelam menjadi sewarna dan senada dengan yang lain.
Sebenarnya, tidak perlu punya kehebatan untuk bisa menjadi hebat, sama halnya dengan burung pasti bisa terbang tinggi jika ia mau rajin-rajin mengepakkan sayapnya. Manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi dengan persoalan dan kendala-kendala, mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Kunci keberhasilan seseorang, ada pada kemauannya untuk terus melangkah, menghadapi setiap persoalan, menyelesaikannya dan melanjutkan perjalanan. Masa lalu, tidak hilang melainkan sudah "berfotosintesis" dengan kepribadian melahirkan satu lagi ciri khas karakter kita. Hasil fotosintesis itulah yg menjadi "chlorophyl" karakter. Disitu letak pentingnya pengalaman pribadi.
Maka dari itu, sebagaimana hijau daun tidak dapat disembunyikan,maka karakter asli juga akan terpancar; mau itu baik atau kurang baik, dsb. Keindahan dan kekuatan seseorang akan terlihat dan terbaca dari output-nya, yakni : pola pikirnya, analisanya, perspektifnya, nilai-nilai dan opini, sikap dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya, dsb. Itu semua yang akan kelihatan oleh orang lain, meskipun seandainya tidak ada CV yang lengkap untuk memperlihatkan kekuatan seseorang. Kalau isi-nya kita sedikit, atau kurang berkualitas, maka yang dibahas atau yang jadi fokus perhatian juga persoalan remeh temeh dan kurang berbobot, tidak esensial, yang dianggap sumber masalah justru persoalan periferal.
Tidak ada kata terlambat
Setiap manusia diberi kesempatan dan sarana untuk maju dan menjadi semakin baik. Di situlah letaknya kebesaran Tuhan. Perjalanan hidup manusia yang sarat dan padat dengan peristiwa, kesempatan dan perjumpaan dengan manusia lain, merupakan training ground and learning sessions untuk menambah dan menumbuhkan skills baru dan kekuatan pribadi. Tentu saja, kita bisa dengan sengaja mempelajari berbagai bidang khusus yang ingin diperdalam. Hal itu biasanya dilakukan jika kita sudah punya arah tujuan yang lebih jelas. Tapi bagi yang belum bisa menggambarkan apa sih yang jadi tujuan dan cita-cita, maka sensitivitas diri menjadi faktor penting.
Kalau kita sensitif, kita bisa mengenali kebutuhan sekitar kita dan mengenali apa saja kebutuhan kita sendiri untuk bisa merespon kebutuhan di lingkungan atau sekeliling kita (kebutuhan kerja, perusahaan, masyarakat, keluarga). Dari situ, kita bisa tahu skill apa yang harus dikembangkan, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dilatih dan apa yang perlu dikurangi supaya tidak jadi kendala dalam menempuh kehidupan yang sedang dijalani ini.
Setiap usaha positif yang kita lakukan dengan konsisten, akan membentuk karakter dan kekuatan yang mendorong rasa percaya diri sejati - yang betul-betul ada sumbernya dan bukan sekedar ilusi diri atau pun iklan. Kita bisa hidup otentik - selaras, antara di dalam dengan di luar. Semoga bermanfaat!
Langganan:
Postingan (Atom)