Jumat, 27 Mei 2011

Menghadiri Undangan Resepsi Pernikahan

Setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Setiap muslim memiliki hak bagi saudaranya yang lain. Hak sesama muslim ini sangatlah banyak sebagaimana terdapat dalam banyak hadits. Di antaranya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Hak muslim pada muslim yang lain ada enam yaitu: (1) Apabila engkau bertemu, berilah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu mengucapkan ’alhamdulillah’, doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’, pen), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

Syariat Islam yang indah sangat memperhatikan terciptanya hubungan yang harmonis antara sesama muslim, Hukum Memenuhi Undangan Walimah (resepsi pernikahan) adalah Wajib.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk menghadiri walimatul ’ursy (resepsi pernikahan), penuhilah.” (HR. Muslim) dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya, ”Barang siapa yang tidak menghadiri undangan walimah/pernikahan, sungguh dia telah durhaka pada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim).

Dari dua hadits ini terlihat jelas bahwasanya hukum memenuhi undangan walimah adalah wajib, jika memenuhi 3 syarat di atas. Undangan tersebut juga wajib dipenuhi jika undangan tersebut adalah undangan pertama dan pada hari pertama (jika walimahnya lebih dari sehari, yang wajib dipenuhi hanya hari pertama saja).

Bukan sekedar memenuhi undangan, syariat kita juga mengatur tentang adab seputar menghadiri pernikahan. Jika agenda resepsi pernikahan senantiasa berulang setiap saat, maka penting bagi kita untuk memperhatikan beberapa adab yang ada, agar kehadiran kita menjadi lebih berkah dan bernilai amal kebaikan. Berikut sebagian kecil adab menghadiri resepsi pernikahan :

Pertama : Meniatkan Kebaikan dalam menghadiri Resepsi

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Setiap amal bergantung dari niatnya” ( HR Bukhori Muslim). Karenanya mari kita niatkan menghadiri resepsi untuk membahagiakan hati saudara kita yang mengundang, sekaligus memenuhi kewajiban ukhuwah dalam Islam. Jangan sampai ada sebersit keterpaksaan dalam hati kita saat melangkah menghadiri sebuah undangan. Jangan pula terkotori dengan keinginan pamer kesombongan dan lain sebagainya.

Bayangkan saja jika kita adalah tuan rumah yang punya hajat, tentu kedatangan para tamu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri sekaligus kesempurnaan jalannya acara. Karenanya, Islam sangat menekankan kita untuk menghadiri undangan . Bahkan pada saat berpuasa pun, kita tetap dianjurkan untuk datang. Rasulullah SAW bersabda : “ Jika salah seorang dari kalian diundang, maka hadirilah. Jika ia berpuasa maka hendaknya ia (datang dan) mendoakan, kalau tidak maka makanlah “ (HR Muslim). Para ulama menyebutkan, sekiranya kita menyadari bahwa kalau kita makan itu akan membahagiakan tuan rumah, maka hendaknya kita membatalkan puasa kita. Bahkan dalam sebuah riwayat pun disebutkan, suatu ketika ada sahabat yang mengundang jamuan Rasulullah dan para sahabat, tapi ternyata ada salah seorang yang menyendiri terpisah dari tamu lainnya. Saat ditanya ia mengatakan : “saya sedang berpuasa”. Maka Rasulullah SAW pun menyindir secara tegas : “ Saudaramu telah berkorban untukmu (dengan menyiapkan makanan), lalu engkau mengatakan : “ saya sedang puasa “ ?. (HR Darimi)

Kedua : Menjaga Adab Islami dalam Pakaian dan Pergaulan

Salah satu yang menjadi ciri dalam kebanyakan resepsi pernikahan hari ini adalah cara berpakaian yang berlebihan dan agenda acara yang memungkinkan pencampuran antara laki-laki dan perempuan. Bahkan dalam beberapa komunitas, ada yang mengharuskan dirinya ke salon terlebih dahulu satu dua jam sebelum berangkat ke resepsi pernikahan. Kiranya dua hadits berikut ini bisa memberikan kita gambaran yang lebih jelas, bagaimana seharusnya kita menata tampilan kita saat pernikahan :

Di riwayatkan dari Aisyah RA, katanya ketika Rasulullah S.A.W sedang duduk beristirahat di masjid, tiba tiba ada seorang perempuan golongan muzainah terlihat memamerkan dandanannya di masjid sambil menyeret nyeret busana panjangnya Rasulullah S.A.W bersabda:"Hai sekalian manusia, laranglah istri istrimu (termasuk anak anak remaja perempuan yang mereka miliki) mengenakan dandanan seraya berjalan angkuh di dalam masjid. Sesungguhnya Bani Israil tidak akan dilaknati sehingga kaum perempuan mereka dandanan menyolok (berlebihan) dan berjalan di dalam masjid. (HR Ibnu majah)

Rasulullah S.A.W bersabda : " perempuan mana saja yang mengenakan wewangian, kemudian keluar rumah lalu melewati orang banyak dengan maksud agar mereka mencium bau harumnya, maka perempuan itu termasuk golongan perempuan yang berzian dan setiap mata yang memandang itu melakukan zina (HR Al Hakim)

Karena itulah, hendaknya kita memakai pakaian yang baik dan wajar, tidak berlebihan apalagi mengumbar aurat. Begitu pula dalam acara resepsi, hendaknya kita menghindari pencampuran total antara tamu pria dan wanita sebagaimana syariat Islam yang indah mengajarkan. Ini semua agar pandangan kita lebih terjaga dan hatipun tidak ternoda. Allah SWT berfirman : “ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya" (QS An-Nuur: 30)

Ketiga : Tidak Makan Berlebihan atau mencela Makanan

Kata walimah sendiri identik dengan jamuan, karenanya Rasulullah SAW memerintahkan kepada Abdurrahman bin Auf : “ Adakanlah walimah, meski hanya dengan seekor kambing “(HR Abu Daud). Maka saat ini pun hidangan resepsi pernikahan menjadi bagian terpenting dari keseluruhan rangkaian acara resepsi, bahkan bisa jadi menjadi sesuatu yang dinanti-nanti tamu yang hadir. Namun, meskipun makanan yang hidangan begitu rupa ada di hadapan, marilah kita tetap menahan diri untuk tidak berlebihan menikmatinya. Allah SWT telah mengingatkan dalam firmannya : “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguh Allah tdk menyukai orang-orang yg berlebih-lebihan (QS Al-A’raaf : 31).

Begitu pula, terkadang juga kita para tamu mendapati makanan yang kurang disuka atau terasa tidak enak di lidah, maka marilah kita menahan diri untuk mencela makanan tersebut sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan. Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat : Mendoakan Kedua Mempelai

Yang terakhir hendaklah kita menyempatkan untuk mengucapkan doa keberkahan kepada kedua mempelai secara khusus, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Apabila salah seorang dari saudaramu menikah, ucapkanlah “ baarakallahu laka, wa baaraka’alaika wa jama’a bainakuma fii khair” (semoga Allah mencurahkan berkah atasmu, dan atas kalian berdua, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan) (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Doa sepenuh keikhlasan, akan lebih lengkap ditambah satu dua kalimat nasehat dan harapan agar menjadi pasangan yang hebat dalam ibadah dan dakwah.

Selain doa, sebuah hal yang baik jika kita bisa memberikan hadiah sesederhanan apapun, sepanjang diikuti ketulusan hati dan kecintaan, sebagaimana Ummu Sulaim juga pernah menghadiahkan kepada Rasulullah SAW berupa makanan sejenis bubur, saat pernikahan beliau dengan Zainab.

Akhirnya, marilah kita jadikan momentum resepsi pernikahan sebagai sarana penguat ukhuwah, menyambung silaturahmi, dan juga kesempatan untuk bertukar nasehat dalam kebaikan dan kesabaran. Semoga Allah SWT memudahkan. Wallahu a’lam bisshowab.

Sumber :
Hatta Syamsuddin : Dosen Mahad Abu Bakar UMS Solo, dan Trainer Motivasi Keislaman dan Keluarga Romantis

Menghadiri Undangan Resepsi Pernikahan

Setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Setiap muslim memiliki hak bagi saudaranya yang lain. Hak sesama muslim ini sangatlah banyak sebagaimana terdapat dalam banyak hadits. Di antaranya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Hak muslim pada muslim yang lain ada enam yaitu: (1) Apabila engkau bertemu, berilah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu mengucapkan ’alhamdulillah’, doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’, pen), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

Syariat Islam yang indah sangat memperhatikan terciptanya hubungan yang harmonis antara sesama muslim, Hukum Memenuhi Undangan Walimah (resepsi pernikahan) adalah Wajib.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk menghadiri walimatul ’ursy (resepsi pernikahan), penuhilah.” (HR. Muslim) dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya, ”Barang siapa yang tidak menghadiri undangan walimah/pernikahan, sungguh dia telah durhaka pada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim).

Dari dua hadits ini terlihat jelas bahwasanya hukum memenuhi undangan walimah adalah wajib, jika memenuhi 3 syarat di atas. Undangan tersebut juga wajib dipenuhi jika undangan tersebut adalah undangan pertama dan pada hari pertama (jika walimahnya lebih dari sehari, yang wajib dipenuhi hanya hari pertama saja).

Bukan sekedar memenuhi undangan, syariat kita juga mengatur tentang adab seputar menghadiri pernikahan. Jika agenda resepsi pernikahan senantiasa berulang setiap saat, maka penting bagi kita untuk memperhatikan beberapa adab yang ada, agar kehadiran kita menjadi lebih berkah dan bernilai amal kebaikan. Berikut sebagian kecil adab menghadiri resepsi pernikahan :

Pertama : Meniatkan Kebaikan dalam menghadiri Resepsi

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Setiap amal bergantung dari niatnya” ( HR Bukhori Muslim). Karenanya mari kita niatkan menghadiri resepsi untuk membahagiakan hati saudara kita yang mengundang, sekaligus memenuhi kewajiban ukhuwah dalam Islam. Jangan sampai ada sebersit keterpaksaan dalam hati kita saat melangkah menghadiri sebuah undangan. Jangan pula terkotori dengan keinginan pamer kesombongan dan lain sebagainya.

Bayangkan saja jika kita adalah tuan rumah yang punya hajat, tentu kedatangan para tamu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri sekaligus kesempurnaan jalannya acara. Karenanya, Islam sangat menekankan kita untuk menghadiri undangan . Bahkan pada saat berpuasa pun, kita tetap dianjurkan untuk datang. Rasulullah SAW bersabda : “ Jika salah seorang dari kalian diundang, maka hadirilah. Jika ia berpuasa maka hendaknya ia (datang dan) mendoakan, kalau tidak maka makanlah “ (HR Muslim). Para ulama menyebutkan, sekiranya kita menyadari bahwa kalau kita makan itu akan membahagiakan tuan rumah, maka hendaknya kita membatalkan puasa kita. Bahkan dalam sebuah riwayat pun disebutkan, suatu ketika ada sahabat yang mengundang jamuan Rasulullah dan para sahabat, tapi ternyata ada salah seorang yang menyendiri terpisah dari tamu lainnya. Saat ditanya ia mengatakan : “saya sedang berpuasa”. Maka Rasulullah SAW pun menyindir secara tegas : “ Saudaramu telah berkorban untukmu (dengan menyiapkan makanan), lalu engkau mengatakan : “ saya sedang puasa “ ?. (HR Darimi)

Kedua : Menjaga Adab Islami dalam Pakaian dan Pergaulan

Salah satu yang menjadi ciri dalam kebanyakan resepsi pernikahan hari ini adalah cara berpakaian yang berlebihan dan agenda acara yang memungkinkan pencampuran antara laki-laki dan perempuan. Bahkan dalam beberapa komunitas, ada yang mengharuskan dirinya ke salon terlebih dahulu satu dua jam sebelum berangkat ke resepsi pernikahan. Kiranya dua hadits berikut ini bisa memberikan kita gambaran yang lebih jelas, bagaimana seharusnya kita menata tampilan kita saat pernikahan :

Di riwayatkan dari Aisyah RA, katanya ketika Rasulullah S.A.W sedang duduk beristirahat di masjid, tiba tiba ada seorang perempuan golongan muzainah terlihat memamerkan dandanannya di masjid sambil menyeret nyeret busana panjangnya Rasulullah S.A.W bersabda:"Hai sekalian manusia, laranglah istri istrimu (termasuk anak anak remaja perempuan yang mereka miliki) mengenakan dandanan seraya berjalan angkuh di dalam masjid. Sesungguhnya Bani Israil tidak akan dilaknati sehingga kaum perempuan mereka dandanan menyolok (berlebihan) dan berjalan di dalam masjid. (HR Ibnu majah)

Rasulullah S.A.W bersabda : " perempuan mana saja yang mengenakan wewangian, kemudian keluar rumah lalu melewati orang banyak dengan maksud agar mereka mencium bau harumnya, maka perempuan itu termasuk golongan perempuan yang berzian dan setiap mata yang memandang itu melakukan zina (HR Al Hakim)

Karena itulah, hendaknya kita memakai pakaian yang baik dan wajar, tidak berlebihan apalagi mengumbar aurat. Begitu pula dalam acara resepsi, hendaknya kita menghindari pencampuran total antara tamu pria dan wanita sebagaimana syariat Islam yang indah mengajarkan. Ini semua agar pandangan kita lebih terjaga dan hatipun tidak ternoda. Allah SWT berfirman : “ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya" (QS An-Nuur: 30)

Ketiga : Tidak Makan Berlebihan atau mencela Makanan

Kata walimah sendiri identik dengan jamuan, karenanya Rasulullah SAW memerintahkan kepada Abdurrahman bin Auf : “ Adakanlah walimah, meski hanya dengan seekor kambing “(HR Abu Daud). Maka saat ini pun hidangan resepsi pernikahan menjadi bagian terpenting dari keseluruhan rangkaian acara resepsi, bahkan bisa jadi menjadi sesuatu yang dinanti-nanti tamu yang hadir. Namun, meskipun makanan yang hidangan begitu rupa ada di hadapan, marilah kita tetap menahan diri untuk tidak berlebihan menikmatinya. Allah SWT telah mengingatkan dalam firmannya : “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguh Allah tdk menyukai orang-orang yg berlebih-lebihan (QS Al-A’raaf : 31).

Begitu pula, terkadang juga kita para tamu mendapati makanan yang kurang disuka atau terasa tidak enak di lidah, maka marilah kita menahan diri untuk mencela makanan tersebut sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan. Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat : Mendoakan Kedua Mempelai

Yang terakhir hendaklah kita menyempatkan untuk mengucapkan doa keberkahan kepada kedua mempelai secara khusus, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Apabila salah seorang dari saudaramu menikah, ucapkanlah “ baarakallahu laka, wa baaraka’alaika wa jama’a bainakuma fii khair” (semoga Allah mencurahkan berkah atasmu, dan atas kalian berdua, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan) (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Doa sepenuh keikhlasan, akan lebih lengkap ditambah satu dua kalimat nasehat dan harapan agar menjadi pasangan yang hebat dalam ibadah dan dakwah.

Selain doa, sebuah hal yang baik jika kita bisa memberikan hadiah sesederhanan apapun, sepanjang diikuti ketulusan hati dan kecintaan, sebagaimana Ummu Sulaim juga pernah menghadiahkan kepada Rasulullah SAW berupa makanan sejenis bubur, saat pernikahan beliau dengan Zainab.

Akhirnya, marilah kita jadikan momentum resepsi pernikahan sebagai sarana penguat ukhuwah, menyambung silaturahmi, dan juga kesempatan untuk bertukar nasehat dalam kebaikan dan kesabaran. Semoga Allah SWT memudahkan. Wallahu a’lam bisshowab.

Sumber :
Hatta Syamsuddin : Dosen Mahad Abu Bakar UMS Solo, dan Trainer Motivasi Keislaman dan Keluarga Romantis

Hakikat Takut kepada Allah

Kalau dinasihati untuk jangan melakukan kejahatan, karena semua perbuatan dicatat malaikat, tetap saja kejahatan demi kejahatan dilakukan. Akan tetapi kalau ada tanda peringatan bahwa kamera CCTV memantau Anda, barulah takut untuk berbuat salah.

Masih banyaknya manusia yang melakukan kejahatan dan kemaksiatan adalah disebabkan oleh tingkatan imannya yang masih rendah dan belum mencapai kepada tahap keyakinan total kepada perkara-perkara yang gaib. Seseorang lebih takut kepada CCTV yang memantaunya secara temporer dan kondisional daripada takut kepada malaikat pencatat amal yang memantaunya setiap saat, tanpa batas waktu, dan tempat; malaikat.

Orang lebih menjaga dari perilaku kejahatan atau perbuatan dosa yang apabila diketahui oleh publik akan menimbulkan efek yang tidak menguntungkan bagi pelakunya. Seseorang akan merasa lebih takut apabila dosa dan kejahatannya itu diketahui oleh orang lain, daripada takut diketahui oleh Allah.

Namun, adanya rasa malu pada jiwa seseorang disebabkan perbuatan dosanya diketahui oleh orang lain masih lebih baik daripada melakukan dosa atau kejahatan secara terang-terangan, tanpa rasa malu. Karena perasaan malu mengindikasikan adanya keimanan pada diri orang tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, "Malu itu adalah cabang daripada iman." (HR Bukhari).

Hakikatnya, iman yang kuat akan mendorong seseorang untuk lebih bertaqwa atau takut kepada Allah, sehingga segala godaan untuk melakukan laranganNya dan godaan untuk meninggalkan perintahNya dapat dikalahkan. Sebaliknya iman yang lemah akan menjadikan seseorang lebih liar, dan bahkan rasa takutnya kepada Allah dapat dilumpuhkan oleh selainNya, sehingga segala rayuan Syaitan yang datang kepadanya tidak dapat dihindarkan. Perintah agama diabaikan sedangkan larangannya dikerjakan.

Semua kenyataan ini kembali kepada kata kunci atau muaranya, yaitu kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT.

Orang-orang yang takut kepada Allah ialah golongan yang selamat dari keinginan untuk melakukan aksi jahat dan berbuat maksiat. Alquran sudah menegaskan, bahwa orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya tidak lain adalah orang-orang yang berilmu. (QSFathir:28)

Diriwayatkan dari Abu Hayyan At-Taimy, bahwa dia berkata, "Orang-orang yang berilmu terdiri dari tiga golongan: Pertama, orang yang mengetahui Allah namun tidak mengenal perintah Allah. Kedua, orang yang mengetahui perintah Allah namun tidak mengenal Allah. Ketiga, orang yang mengetahui Allah dan juga mengetahui perintah Allah." (Kitabul Iman, Imam Ibn Taimiyah).

Sedangkan Imam Ibn Taimiyah menegaskan, "Selagi seseorang melakukan sesuatu, sementara dia juga mengetahui bahwa sesuatu itu mendatangkan mudharat kepadanya, maka orang seperti ini layaknya orang yang tidak berakal. Sebab, ketakutan kepada Allah mengharuskan ilmu tentang Allah, maka ilmu tentang Allah juga mengharuskan ketakutan kepadaNya. Dan takut kepada Allah harus melahirkan ketaatan kepadaNya. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang mengerjakan perintah-perintahNya serta menghindari segala bentuk larangan-Nya." Wallahu'alam bisshowab.

Oleh: Imron Baehaqi Lc, adalah Ketua Bidang Dakwah & Tarjih Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur

Selasa, 24 Mei 2011

Mengorek Akar Kecemburuan

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 05 Maret 2010
Happen-to Dan Happen-in
Cemburu, atau yang sering kita kenal dengan istilah jeles (jealous), adalah sikap emosi kita terhadap orang yang kita anggap sebagai rival atau ancaman. Cemburu juga merupakan keadaan takut atau was-was atas hilangnya seseorang yang kita anggap penting. Reaksinya bisa aversif (tak mau didekati) atau protektif (menjadi seperti polisi).
Cemburu bisa terjadi pada urusan cinta asmara remaja, hubungan suami-istri, atau keinginan yang memiliki nilai tertentu, seperti jabatan atau penghasilan. Ketika kita cemburu, luapan emosi yang muncul antara lain adalah:

§ Takut kehilangan
§ Was-was terhadap munculnya penghianatan
§ Merasa kurang berguna atau sedih
§ Hidup terasa seperti tidak jelas dan merasa sendiri
§ Tidak percaya
§ Jengkel, marah atau gregetan

Dalam prakteknya, kecemburuan itu sedikitnya bisa memainkan dua fungsi. Fungsi pertama bisa dibaca sebagai tanda adanya rasa cinta. Laki-laki atau perempuan yang malu mengatakan cintanya secara langsung, terkadang menggunakan sikap atau pernyataan cemburu sebagai utusan.

Sedangkan fungsi yang kedua, kecemburuan bisa dirasakan sebagai perusak cinta. Kecemburuan seperti inilah yang diebut cemburu buta atau cemburu yang oleh para ahli disebut pathological jealousy (cemburu tidak sehat). Orang yang menjadi sasaran cemburu seperti ini, biasanya malah ingin mengganggalkan harapan si pencemburu, misalnya malah ingin jauh, risih, atau jengkel.

Beberapa tanda yang bisa kita rasakan adanya kecemburuan yang tidak sehat itu antara lain adalah: ketika sebab-sebabnya tidak faktual atau tidak ada petunjuk untuk cemburu, dirundung ketakutan dan kegelisahan yang lama, intensitas kecermburuannya sudah menganggu aktivitas lain karena pikiran kita terancam oleh “jangan-jangan”, memunculkan perasaan putus asa atau minder.

Pada cemburu yang sehat, masalahnya secara umum bersumber dari orang lain yang kita anggap kurang menaati kode etik, kurang membaca rasa, atau kurang mengindahkan hubungan. Tetapi, pada cemburu yang sudah tidak sehat, kemungkinan besar masalahnya ada di dalam diri kita. “It’s not about what happen to you, but about what is happening in you”

Rasa Takut
Apa yang menyebabkan seseorang cemburu secara pathologis? Dilihat dari sumber motifnya, banyak kajian yang berhasil mengungkap bahwa sebab penentunya (determinant) adalah rasa takut dan resah (feeling of fear and feeling of inadequacy). Rasa takut yang sudah menjadi motif hidup berbeda dengan rasa takut yang tidak / belum menjadi motif.

Bila kita takut ke luar rumah karena petir dan angin sedang mengamuk, maka takut seperti ini tidak menjadi motif. Kita takut karena ada sesuatu yang pantas untuk ditakuti. Takut seperti ini sehat dan kita butukan supaya tidak terlalu nekat, konyol atau sembrono. Bayangkan jika kita tak takut bahaya atau kerugian, apa akibatnya?

Takut yang sudah menjadi motif hidup terkait dengan kecemasan, kecurigaan, dan rasa terancam oleh “jangan-jangan” yang tak terkendalikan oleh kita (obsesif-kompulsif) sehingga mengganggu “kenormalan” kita, termasuk yang terkait dengan hubungan kita dengan pasangan atau dengan yang lain.

Sumbernya yang paling fundamental adalah kita merasa tidak punya pegangan, baik itu nilai-nilai, pemikiran, keyakinan, penilaian atau skill tertentu yang membuat kita punya alasan kuat bahwa kita “pede” atau mampu menguasai keadaan, terutama keadaan internal di dalam diri kita.

Sebagai reaksi atas perasaan itu, kita memunculkan mekanisme untuk menciptakan rasa aman. Salah satu mekanisme yang kita pilih adalah cemburu secara tidak sehat atau menolak mengambil inisiatif yang sehat untuk menyelesaikan problem, misalnya mengajak diskusi atau sharing dengan pasangan atau calon. Kita uring-uringan sendiri, was-was sendiri, beku sendiri.

Jika sudah menjadi motif, sumber itu tidak muncul secara tiba-tiba. Secara umum, ada rentetan panjang yang menjadi latar belakangnya. Mungkin dari pola pengasuhan waktu kecil yang terlalu memberi batasan atau kekhawatiran (rigid parenting) sehingga kesempatan kita untuk menjajal berbagai pengalaman dan ketrampilan sangat minim (mental construction).

Atau bisa juga muncul dari interpretasi kita atas kejadian masa lalu yang traumatik, baik yang menimpa kita langsung atau tidak langsung, misalnya menimpa sang kakak, adik, orangtua atau keluarga. Trauma yang gagal kita netralisir, dapat membuat kita terkuasai sehingga obsesif-kompulsif, alias tersiksa oleh rasa dan terbelenggu oleh cemburu.

Keresahan
Resah pun demikian. Ada keresahan yang memang masih pantas untuk diresahkan atau yang biasa disebut duka, sedih atau kecewa. Misalnya kita kehilangan pekerjaan, kehilangan orang tercinta, kegagalan mengikuti tes PNS padahal sudah membayar sana-sini. Sebagai reaksi sesaat, kesedihan dan kedukaan itu normal, alias manusiawi.

Tapi, ada resah yang memang sudah menjadi motif atau sudah menjadi virus yang menyerang sistem di dalam jiwa kita. Resah seperti ini muncul dari kebingungan yang tak terselesaikan (depresi) sehingga memunculkan keputusasaan dan patah harapan yang merupakan konsekuensi logis dari melemahnya kreativitas dalam menghadapi masalah.

Seperti apa yang pernah ditulis Abraham Maslow, jika alat yang engkau miliki hanya palu, maka engkau akan menganggap semua benda bagai paku. Karena kita melihat persoalan hanya satu perspektif, maka cara yang akan kita tempuh untuk menghadapinya juga satu. Biasanya, jika kreativitas kita rendah atau dalam keadaan depresi, kita akan cenderung memilih cara yang tak perlu berpikir panjang, seperti cemburu secara tidak sehat.

Laporan hasil studi APA (American Psychological Association: 2010) mengungkap bahwa kerentanan seseorang terhadap kecemburuan itu terkait dengan self-worth (pede, bahagia, optimisme, dst). Artinya, semakin rendah sef-worth seseorang, akan semakin rentan dia untuk cemburu. Kecemburuan itu bisa agresif, seperti marah dengan penyerangan. Atau juga bisa pasif, seperti ngambek dan menarik diri di kamar.

Darimana Mulai Bekerja?
Semua orang berhak untuk cemburu karena memang ada porsi yang dibutuhkan untuk menandai hubungan kita dengan orang tertentu yang menurut kita penting, seperti pasangan atau pacar. Hal lain lagi yang perlu kita sadari juga bahwa semua orang pada dasarnya memiliki kerentanan untuk cemburu secara patologis, seperti juga kita rentan terhadap penyakit.

Alasannya adalah, siapa yang tak punya potensi ketakutan dan keresahan? Hanya memang ketika porsinya sudah kebabalsan (akut) dan dampaknya sudah merugikan, maka tindakan kuratifnya (pengobatan) harus segera kita lakukan. Tindakan kuratif ini perlu ada yang didasarkan pada outcome (hasil) yang nyata di depan mata dan ada yang perlu didasarkan pada outcome yang tidak nyata.

Bentuk tindakan yang outcome-nya nyata itu antara lain misalnya saja:

§ Melakukan aktivitas yang hasilnya dapat membuat kita feeling good, seperti merapikan perabot rumah, persiapan kerja atau sekolah, care terhadap orang lain, dll
§ Menjalankan agenda pengembangan-diri sesuai keadaan dan kebutuhan, misalnya menambah skill, ketrampilan tertentu, atau kebisaan tertentu sampai membuat kita meyakini punya pegangan
§ Menempuh berbagai cara dengan motivasi yang tinggi untuk mewujudkan agenda pengembangan-diri itu.
§ Berdiskusi dengan pasangan mengenai hal-hal yang perlu kita capai agar pikiran tidak beku
§ Bergaul atau berkumpul dengan orang-orang yang membuat pikiran kita terus dinamis

Intinya, tindakan yang nyata itu adalah berbagai tindakan yang hasilnya nantii dapat mengurangi ketakutan yang ada di dalam diri kita karena merasa kurang (feeling of lack) atau merasa tidak punya pegangan (feeling of empty). Atau juga tindakan yang melatih pikiran kita untuk kreatif dalam menghadapi masalah supaya tidak gampang resah (feeling of contented).

Supaya tindakan itu memiliki pondasi yang kuat, maka perlu ada aksi-aksi batin (spiritualitas) untuk menggali vitalitas hidup. Banyak orang yang sudah tahu dan sangat ingin melakukan tindakan kuratif mengatasi masalahnya. Tetapi prakteknya, keinginan dan pengatahuan itu kurang berguna karena dikalahkan oleh kemalasan dan kesulitan.

Ini pun dapat terjadi pada kita jika pondasi spiritualnya (keimanan) tidak ada atau tidak kuat. Untuk membangun pondasi itu, hal-hal yang penting untuk kita lakukan antara lain:

§ Temukan pemikiran yang membuat Anda lebih “pede”, lebih kuat atau lebih bahagia dalam menghadapi hidup, dari bacaan, ajaran atau orang lain
§ Temukan keyakinan yang membuat Anda lebih tegar, dari orang lain, bacaan, atau ajaran
§ Hentikan atau alihkan semua pemikiran yang membuat Anda makin merasa tidak pede, merasa ringkih atau hancur
§ Bangun kedekatan dengan Tuhan melalui jalan keimanan

Iman adalah sebuah kesimpulan batin yang membimbing kita untuk meyakini (hati, lisan dan tindakan) adanya Tuhan atau kekuatan yang di luar lingkaran kita dan orang-orang yang kita cemburui itu. Kesimpulan itu idealnya dibangun dari pembelajaran, pengetahuan dan pengalaman, supaya dapat mengurangi rasa takut dan rasa gelisah (laa khoufun alaihim walaa hum yahzanuun).

Misalnya, kita tersiksa oleh kecemburuan terhadap seseorang yang keberadaannya di luar kontrol kita, katakanlah bekerja di luar negeri atau di luar kota. Apa yang akan kita jadikan pegangan? Akal? Tehnologi? Atau perasaan? Itu semua dibutuhkan, tetapi tak sanggup mengalahkan ketakutan dan kegelisahan sehingga perlu pegangan lain yang sifatnya spiritual.

Sama juga misalnya kita dikhianati orang secara nyata. Jika hanya berpedoman pada akal, mungkin kita akan terlibat dalam saling menuntut, saling membalas, saling menghukum. Terkadang ini diperlukan asalkan proporsional. Kalau kebablasan, ini akan merusak kita. Begitu juga dengan perasaan. Jika kita jadikan pedoman tunggal, maka akan melibatkan kita pada merasa hancur atau kecewa.

Supaya tidak sampai kebablasan, maka larinya harus ke pegangan hidup yang sifatnya spiritual atau nilai-nilai abstrak yang membuat hidup kita tetap punya ketahanan (keimanan). Oleh Napolen Hill, iman itu disebutnya dengan istilah The Infinitive Intelligence atau kecerdasan yang sanggup membuat kita melihat kenyataan di balik kenyataan.

Intinya, untuk mengatasi kecemburuan yang patologis itu perlu melibatkan empat kapasitas inti dalam diri, yaitu tindakan nyata (pengembangan-diri), nalar (kalkulasi), perasaan (membedakan sensitivitas), dan keimanan (keyakinan yang membebaskan kita dari rasa takut dan gelisah).

Jangan Mau Dilemahkan Dan Dimanfaatkan
Dalam keadaan kreativitas lagi turun atau diliputi ketakutan, mungkin kita butuh orang lain untuk membantu. Mungkin guru, psikolog, ustadz, spiritualis, trainer, atau orang tertentu yang menurut kita berwibawa dan pas untuk dijadikan tempat curhat.

Sejauh kita melihat apa yang dilakukannya itu adalah memacu kita menggunakan 4 kapasitas di atas dan relatif bebas saran-sarannya dari self-interest (hawa nafsu), itu semua sangat OK. Kita dibantu menjadi orang yang lebih kuat menghadapi hidup. Berterima kasihlah. Soal itu bayar atau tidak, ini lain urusan.

Tapi, jika hanya membuat kita makin lama makin tergantung (lemah), makin takut atau makin jauh dari kenyataan, lebih-lebih cara yang digunakannya aneh-aneh, di sini biasanya rawan pelanggaran atau penyimpangan. Kita telah menyediakan diri untuk dilemahkan atau dimanfaatkan.

Semoga bermanfaat.

Facebook dan Gejala Autisme Sosial Remaja

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 05 Maret 2010
Dimanakah Bahayanya FB?
Di awal tahun 2010 ini, kita dikejutkan oleh pemberitaan miring seputar penyimpangan sejumlah remaja yang gara-garanya Facebook (FB). Seorang remaja putri di Jawa Timur, nekat lari ke Jakarta, meninggalkan orangtuanya, setelah berkenalan dengan teman baru dari Tangerang melalui FB. Kata polisi, mereka telah melakukan perbuatan yang jauh belum saatnya.

Kasus yang sama menimpa remaja A di Jawa Tengah. Setelah sering menggunakan seluler untuk FB-an, remaja itu menghilang entah kemana. Ada semakin banyak orangtua yang menggelisahakan aktivitas putra-putrinya sehabis sekolah. Mereka tidak pulang. Mereka mampir di warnet untuk FB-an.

Bahkan, di jam-jam yang mestinya mereka masuk kelas pun, mereka kedapatan nongkrong di warnet, seperti yang terjadi di Depok. Setelah dilihat apa yang mereka lakukan, ternyata isinya balik lagi ke YM dan FB. Di Lampung, 4 pelajar remaja diberhentikan dari sekolahnya karena dinilai telah menghina guru mereka melalui FB.

Berdasarkan kasus-kasus itu, muncul pro-kontra dalam masyarakat. Ada yang berpendapat, FB harus diharamkan karena madhorot-nya. Tapi, kenyataan di lapangan sepertinya kurang bisa menerima secara plong pendapat ini. Alasannya, menurut pendapat yang tidak setuju, “ Kan bukan FB-nya yang salah. Yang salah kan otak manusianya?”, begitu kira-kira.

Alasan lainnya, FB tidak otomatik memberikan madhorot. Bahkan sempat terbukti memberikan maslahat, minimalnya untuk kelompok atau orang tertentu. Katakanlah di sini dukungan untuk Pak Bibit-Chanda, dukungan untuk pulau Komodo, dan lain-lain. Malah sekarang ini, FB telah dijadikan tren menggalang dukungan.

Terlepas pro-kontra itu, tetapi faktanya FB itu sudah ada di depan mata dan nyata. Sebagai produk tehnologi, dia hanya enabler (perangkat yang membuat kita mampu), bukan creator (perangkat yang berinisiatif sendiri). Karena enabler, dia bisa berbahaya dan juga bisa bermafaat, tergantung di tangan siapa. Man behind the gun.

Autisme Sosial Remaja
Sebut saja di sini keluarga Pak Djodi yang secara ekonomi masuk di kelas menengah. Karena ayah dan ibu bekerja di luar rumah, keluarga ini punya agenda memanfaatkan waktu liburnya untuk kumpul keluarga: ayah, ibu, dan kedua anaknya yang remaja.

Tapi apa yang terjadi selama di kendaraan dan di restoran? Kedua anaknya sibuk memainkan hape untuk sms-an atau FB-an dengan temannya yang entah di mana. Walhasil, hanya kelihatannya saja itu acara keluarga. Batin anaknya tidak involve 100% di proses acara keluarga itu. Malah terkesan buru-buru ingin meninggalkan acara karena ada urusan di luar lewat hape.

Ilustrasi di atas rasa-ranya sudah bukan fiktif lagi saat ini. Itu sudah menjadi fakta. Anak-anak remaja saat ini menghadapi banyaknya pilihan dan godaan yang ditawarkan layar kaca dan dunia maya, dari mulai hape, internet, game, dan lain-lain. Mungkin, orangtuanya dulu menghadapi tantangan berupa sedikitnya pilihan dan banyaknya keterbatasan.

Pertanyaannya, tantangan manakah yang sebetulnya lebih berat? Tantangan yang kita hadapi dulu atau tantangan yang dihadapi anak-anak kita sekarang ini? Namanya tantangan, pasti sama-sama berat. Karena itu, terkadang tidak seluruhnya tepat kalau kita mengatakan kepada anak, misalnya begini: “Kan hidupmu sudah enak, tidak seperti ayah-ibu dulu?”

Layar kaca dan dunia maya adalah tantangan generasi sekarang. Jika sikap mentalnya tidak tepat, misalnya berlebihan atau disalahgunakan, akan memberikan bahaya yang ekstrimnya seperti pada kasus-kasus di atas. Bahaya lain yang kelihatannya tidak ekstrim, tetapi tidak bisa dianggap remeh adalah melumpuhnya ketrampilan sosial (autisme sosial).

Padahal itu sangat dibutuhkan bagi kehidupannya di alam nyata, di sekolah, di tempat kerja, di keluarga, di masyarakat, dan seterusnya. Beberapa gejala kelumpuhan sosial yang perlu kita amati itu antara lain:

§ Rendahnya kemampuan bertatakrama, tatasusila dan etika dalam berkomunikasi.
§ Rendahnya kemampuan membaca bahasa batin dalam berkomunikasi
§ Melemahnya kepekaan terhadap kenyataan sehingga tidak mampu menyelami “What is happening” dan “What to do”
§ Membudayanya berpikir yang serba tehnik dalam menghadapi hidup karena terbiasa menghadapi tehnologi sehingga kurang bisa “soft” atau bijak
§ Rendahnya kemampuan menyelesaikan konflik dalam interaksi
Itu semua akan terjadi apabila penggunaan layar kaca dan dunia maya berlebihan atau tidak berkonsep, misalnya hanya untuk hahak-huhuk atau hanya karena desakan tren dan distraksi (gangguan pengembangan-diri) yang jauh dari sesuatu yang important (penting) atau priority (sangat penting).

Lain soal kalau digunakan untuk menjalankan konsep, seperti mahasiswa di Malang yang berhasil menciptakan game kelas internasional karena sering di warnet dekat rumahnya. Atau juga untuk mengkaji dan menambah pengetahuan, seperti yang dilakukan anak MAN di Bandung yang ilmunya lebih bagus dari gurunya gara-gara internet.

Pentingnya Interaksi Langsung
Sejak zaman dulu, peradaban manusia telah menawarkan berbagai cara untuk berkomunikasi, tidak selalu langsung berhadapan dan bergesekan. Misalnya saja surat-menyurat yang sudah dikenal sejak dula kala. Kemudian muncul tehnologi dengan menggunakan telepon. Dan kini muncul yang lebih canggih, chating atau FB.

Ada fakta menarik yang kerap luput dari kesadaran kita bahwa meski kemajuan zaman itu menawarkan sekian cara berkomunikasi, tetapi untuk kepentingan learning (mendewasakan manusia), belum ada yang bisa menggantikan atau mengungguli peranan komunikasi langsung (interaksi).

Malah kalau menurut laporan riset mengenai social learning (belajar dengan melihat orang lain), ternyata pengaruh interaksi melebihi pengajaran di kelas, seminar, atau belajar dari internet, terutama untuk pembelajaran perilaku. Adapun untuk menambah pengetahuan (pembelajaran intelektual) memang sekolah tidak ada duanya.

Kalau logika ini kita kaitkan dengan masalah yang mengancam kemampuan sosial remaja di atas, maka beberapa poin penting yang perlu kita sadari adalah:

§ Semakin berlebihan dia berinteraksi dengan kaca dan maya, akan semakin berkurang kesempatannya untuk belajar bertatakrama, tatasusila dan beretika. Dunia maya hanya mengajarkan apa yang ditulis. Soal tatakrama, tentu sangat minim. Seorang mahasiswa yang kebetulan asyik sms-an lalu menabrak dosennya, mungkin hanya akan bilang sori, dengan muka yang biasa-biasa. Padahal, secara tatakramanya mestinya tidak begitu.
§ Semakin berlebihan dia berinteraksi dengan kaca dan maya, akan semakin sedikit kesempatannya membaca suara batin orang lain. Kemampuan membaca suara yang tidak terdengar dalam komunikasi hanya bisa digali dari interaksi langsung. Menurut Peter Drucker dan juga praktek hidup yang kita alami, kemampuan membaca menjadi kunci dan tertinggi kualitasnya.
§ Semakin berlebihan dia berinteraksi dengan kaca dan maya, akan semakin kecil kesempatannya untuk merasakan dan menangkap apa yang terjadi nyata di sekelilingnya, seperti pada kasus ilustrasi keluarga Pak Djodi di atas. Atau juga bisa menjadikan FB sebagai pelampiasan mengatasi rasa malu dengan cara melarikan diri dari realitas, bukan work on reality.
§ Semakin berlebihan dia berinteraksi dengan kaca dan maya, akan semakin kecil kesempatannya untuk menggunakan pikirannya bagaimana berkreasi secara kreatif menghadapi konflik dalam praktek hubungan. Di dunia maya, begitu kita tidak cocok dengan seseorang, tulis aja atau delete aja. Tapi, dalam praktek hidup, itu tidak bisa.

Kalau dilihat dari konsep pendidikannya, dunia maya dan layar kaca pun dibutuhkan dalam mendewasakan manusia. Tetapi, jangan sampai itu menggantikan interaksi langsung, kecuali untuk ruang dan jarak yang tak bisa ditembus. Kenapa?

Dunia maya dan layar kaca hanya sampai pada memberi sumbangan dalam bentuk data, informasi, dan pengetahuan. Untuk praktek hidup, ini perlu ditambah lagi dengan wisdom. Darimana ini digali? Wisdom digali dari praktek, dari interaksi, dari konflik, dari gesekan, dan dari pemaknaan.

“DATA – INFORMATION – KNOWLEDGE – WISDOM”

Manajemen Layak Kaca & Maya Di Sekolah Dan Rumah
Akhirnya, mau tidak mau, kita harus berurusan dengan manajemen (pengaturan dan pengelolaan) untuk anak-anak kita yang sedang gandrung-gandrungnya FB dan Hape. Cara yang paling simpel, namun biasanya kurang ngefek itu adalah yang ekstrim, misalnya melarang atau membiarkan.

Ini karena pada setiap perkembangan manusia itu memunculkan watak ganda. Pada remaja, satu sisi dia harus tahu perkembangan zaman dan terlibat di dalamnya agar dia bisa bersikap. Kalau kita memaksa dia harus seperti kita, mungkin dia akan manjadi manusia terkuno di zamannya nanti.

Tetapi di sisi lain, konsistensi dia dalam memegangi ajaran moral dan mental itu masih labil, belum terkonstruksi secara kuat, layaknya orang dewasa. Karena itu, memberi cek kosong kepercayaan pada remaja, seringkali membuahkan penyesalan di kemudian hari.

Nah, manajemen di sini berguna untuk bagaimana kita tetap memberi kesempatan kepada mereka terlibat dalam perkembangan zaman, namun tidak sampai termakan oleh asumsi bahwa anak kita pasti sudah bisa menjaga dirinya sehingga kita terlalu membiarkan.

Agar manajemen ini bekerja, tentu dibutuhkan aksi, entah itu sosialisasi pemahaman, regulasi penggunaan, atau antisipasi penyalahgunaan. Untuk tehniknya, pasti kita punya cara sendiri yang lebih membumi. Hanya, secara umum, tehnik yang bisa kita acu itu antara lain:

§ Memberi bekal pengetahuan dan penyadaran mengenai hebatnya tehnologi dan potensi bahaya yang bisa ditimbulkannya. Anak kita sudah tahu itu, tetapi ucapan kita tetap diperlukan
§ Mengorek sikap anak terhadap kasus-kasus remaja terutama yang ditudingkan ke FB untuk memperkuat konstruksi sikapnya dalam menghadapi hidup
§ Beradu kompetisi untuk menemukan data, informasi, dan pengetahuan melalui internet dengan anak atau minimalnya belajar dari anak atau belajar bersama dia.
§ Perlu memonitor apa yang dilakukan anak selama berinteraksi dengan hape atau FB untuk memberikan ide-ide evaluasi konstruktif (membangun).

§ Perlu untuk tidak memberikan privacy yang berlebihan pada anak, misalnya kamarnya dikunci, di lantai II, bebas main internet tanpa pantauan, sms-an sampai tengah malam, pulang sekolah seenaknya, dan seterusnya.
§ Tetap memberi ruang untuk berinteraksi dengan kita secara nyata, face-to-face, dan real life agar terjadi gesekan, social learning, dan dinamika.

Yang Baik Pun Kalau Berlebihan Menjadi Kurang
Sampai pun kita tahu bahwa anak kita menggunakan internet itu untuk kebaikan, namun kalau berlebihan, misalnya berjam-jam di depan komputer, itu bisa menjadi kekurangan buat dia. Membaca buku itu sangat bagus, tetapi kalau berlebihan, terkadang menciptakan kekurangan, misalnya tidak bisa ngomong secara flow (mengalir), kurang tahan menghadapi kenyataan, atau keseimbangan fisiknya kurang.

Selama masih usia remaja, akan lebih bagus kalau dia merasakan berbagai pengalaman hidup, lebih-lebih pengalaman yang sedang ngetren di zamannya, namun tetap kita arahkan untuk memfokusi beberapa bidang yang nantinya berguna untuk dia, sambil bekerjasama untuk memantangkan mental dan moralnya.

Semoga bermanfaat.

Indahnya Kesepian

Oleh : Jacinta F. Rini
Jakarta, 12 Mei 2011
Setiap orang dalam hidupnya pasti pernah merasa kesepian. Yang membuat perbedaan adalah kadarnya, lamanya, penyebabnya dan tentu saja penanganannya. Kebanyakan orang menghindari kesepian karena kesepian berkonotasi negatif, atau paling tidak menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.

Kini, banyak orang mempunyai account facebook dan twitter, untuk tetap terhubung satu sama lain, untuk bisa tahu apa yang tengah dilakukan temannya atau komunitasnya. BbM, YM, intant messenger menjadi sarana penghubung yang tak kenal cuaca, waktu (waktu kerja, waktu keluarga maupun waktu berdoa, bahkan - waktu tidur sekali pun). Memang tidak semua orang ber - account twitter dan facebook maupun melakukan online chat adalah orang-orang kesepian. Premisnya tidaklah demikian. Namun faktanya, hampir semua orang sepertinya ingin menyapa dan disapa, berkomentar dan dikomentari; ingin menjadi bagian dari komunitas. Mall, cafe dan resto makin ramai dikunjungi bukan sekedar untuk mengenyangkan perut, namun sebagai kesempatan untuk networking, reuni dan menyambung rasa. Keinginan untuk keep in touch menjadi kebutuhan yang tidak ada hentinya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, namun persoalannya, ternyata banyak orang yang tetap merasa kesepian di tengah kongkow-kongkow, di tengah keramaian maupun di tengah tingginya frekuensi lalu lintas komunikasi via chatting online. Kesepian tidak dialami orang yang tinggal di puncak gunung atau desa terpencil, karena mereka yang hidup di kota besar yang padat penduduk dan hingar bingar hiburan pun ternyata lebih banyak yang merasa kesepian.


Perasaan Kesepian
Menurut definisi wikipedia, "Loneliness is an unpleasant feeling in which a person experiences a strong sense of emptiness and solitude resulting from inadequate levels of social relationships. However, it is a subjective experience.[1] Loneliness has also been described as social pain - a psychological mechanism meant to alert an individual of undesired isolation and motivate her/him to seek social connections.[2]

Perasaan kesepian memang sering di korelasikan dengan tiadanya teman dan kurangnya kasih sayang. Menurut James Park, seorang filsuf beraliran eksistensialis mengatakan bahwa perasaan kesepian tidak selalu disebabkan oleh kurangnya cinta dan teman, namun karena sering disalahartikan dan tidak dipahami, maka segala jenis kesepian lantas diatasi dengan cara bersosialisasi, pacaran, menikah, dsb yang semua berkaitan dengan interpersonal relationship. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ada uraian singkat mengenai penyebab kesepian yang ternyata bukan melulu urusan cinta.


Penyebab Kesepian
Anak-anak, remaja, orang muda hingga manula, pernah mengalami rasa kesepian. Anak-anak merasa kesepian ketika ditinggal pergi orangtua mereka. Istri/suami yang kesepian karena kehilangan pasangan, akibat kematian atau perpisahan. Seorang gadis atau pemuda kesepian setelah putus dari pacar. Ibu yang kesepian karena anak-anaknya tinggal di luar kota. Atau seseorang yang karena sakit harus tinggal di rumah atau di rumah sakit, terisolasi dari teman-teman dan keluarga. Pindah rumah atau pindah sekolah bisa juga menyebabkan kesepian karena tercabut dari komunitasnya dan harus menghadapi komunitas baru.

Kesepian yang disebabkan perubahan sosial atau pun perubahan kondisi eksternal dikatakan bersifat temporer dan relatif lebih mudah diatasi. Sementara itu ada jenis kesepian lain yang disebutkan di atas, yakni merasa kesepian di tengah keramaian, berada di pesta, sedang berkumpul dengan teman, berada di tengah keluarga. Jadi dalam situasi dan lingkupan apapun, perasaan kesepian itu tetap ada. Inilah yang dikatakan existential loneliness. Seseorang yang mengalami eksistensial loneliness, tidak peduli sebanyak dan setinggi apapun frekuensi outing, dating dan chatting-nya, akan tetap merasa kesepian. Menurut artikel dari Associate Press, "quantity of contact does not translate into quality of contact".[3]


Existential Loneliness/kesepian eksistensial
Kesepian eksistensial kerap menjadi sesuatu yang bersifat kronis karena sudah terjadi dalam jangka waktu lama tanpa disadari atau memang sengaja diabaikan. Artinya, perasaan kesepian itu disadari namun tidak ditindaklanjuti karena berpikir perasaan itu disebabkan karena faktor lingkungan.

Kesepian yang bersifat kronis ini menimbulkan perasaan hampa yang menyedihkan, sehingga banyak yang tidak tahan dan mengalami depresi. Kehampaan yang bersumber dari dalam jiwa ini terjadi karena sebab yang bermacam-macam, bisa karena hidup tanpa arah dan tujuan, sehingga dari hari ke hari seperti robot, hanya mengikuti irama rutinitas. Ada yang belum menemukan makna, karena hidupnya sangat terbatas, bukan miskin - tapi terlalu steril, flat, datar karena terlalu takut mengambil resiko sehingga tidak berani mengarungi kesempatan dan kemungkinan. Ada pula yang merasa kosong, karena tidak menemukan hal baik dan positif dari dirinya, sehingga tidak tahu apa gunanya dia dilahirkan, apa gunanya kehidupan ini dan apa gunanya ia bagi orang lain.

Ada yang berusaha menghilangkan rasa sepi, hampa dan kosong dengan bergaul sebanyak dan sesering mungkin. Ada pula yang mencari cinta, karena dipikirnya, cinta seseorang akan melengkapi kekosongan jiwa. Seperti kata Tom Cruise dalam film Jerry McGuire, yang berkata "you complete me". Secara filosofis dan psikologis, kehampaan jiwa tidak mungkin diatasi dengan menanam cinta/import cinta dari luar, dan hal ini menurut para filsuf adalah tindakan ilusi yang "tidak nyambung". Maka, ganti pasangan, mencari cinta baru yang dianggap dan diharapkan bisa mengatasi kekosongan - adalah tindakan mustahil. Karena solusinya tidak bisa dengan menambal kehampaan dari luar. Pertumbuhan itu harus dari dalam.


Dampak dari kesepian
Perasaan kesepian jika berkepanjangan bisa menimbulkan berbagai persoalan lanjutan. Problem adaptasi sosial, sulit berteman, suka menyendiri bahkan hambatan akademik yang membuat prestasinya jauh dari optimal, merupakan dampak dari perasaan kesepian panjang yang dialami oleh anak-anak. Bahkan, menurut Marano, anak-anak kesepian karena social rejection, diabaikan dan disingkirkan dari lingkungan sosial (ataupun keluarga), merupakan salah satu penyebab putus sekolah; karena dalam kesehariannya, mereka cenderung menunjukkan perilaku agresif, dan apa yang diistilahkan sebagai kenakalan, serta bentuk perilaku antisosial lainnya. Di kalangan dewasa, kesepian dikatakan sebagai penyebab depresi serta adiksi, baik itu adiksi terhadap relationship (co-dependent), sex, belanja (shopaholic), kerja (workaholic), alkohol /minuman keras, maupun obat-obatan terlarang (substant abuse).

Secara medis juga memperlihatkan dampak kesepian terhadap kesehatan. John Cacioppo dari University of Chicago meneliti dampak kesepian ini dan secara mengejutkan menemukan bahwa:
Orang yang kesepian dilaporkan mempunyai tingkat stress yang lebih tinggi, bahkan di saat rileks dibandingkan dengan orang-orang yang tidak kesepian.
Kesepian meningkatkan sirkulasi hormon stress dan meningkatkan tekanan darah. Pengaruhnya kepada sistem sirkulasi jantung yang bekerja lebih keras dan menghadapi potensi kerusakan akibat tekanan yang tidak stabil.
Kesepian mengganggu kualitas dan efektivitas tidur sehingga menghambat proses restorasi fisik maupun psikologis yang diperlukan tubuh. Orang-orang yang mengalami kesepian lebih sering terbangun malam hari dan tidur lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak kesepian.

Indahnya kesepian
Kesepian tidak selalu berdampak buruk. Kesepian eksistensial, yakni kesepian yang tidak disebabkan persoalan interpersonal merupakan alarm dari situasi yang harus segera di hadapi atau diselesaikan.

A person enters the state of loneliness when some compelling, essential aspect of life is suddenly challenged, realized, threatened, altered, or denied; the individual is confronted with the awareness of choice and the possibility of meaning or its lack. When positively embraced and confronted, loneliness has a salutary role: the integration and deepening of self. Through loneliness, the individual "discovers life, who he is, what he really wants, the meaning of his existence, [and] the true nature of his relation with others. (Moustakas, 1961)

Dengan demikian, perasaan kesepian yang dialami perlu di pertanyakan. Tidak semua bisa di obati dengan cara bersosialisasi atau pun mencari cinta yang baru. Perasaan kesepian bisa jadi pertanda bahwa ada kebutuhan mendesak yang harus kita tanggapi dalam diri sendiri, entah itu untuk menyelesaikan persoalan yang tertunda, menanggapi tantangan hidup, harus mengembangkan potensi diri, membuat keputusan akan masa depan dan menjalaninya dengan berani, atau untuk menginggalkan pola hidup selama ini yang tidak produktif, dsb. Intinya, perasaan kesepian adalah awal dari pertumbuhan. Maka, adalah keliru jika orang berusaha menghindari kesepian karena dalam sepi lah kita bisa bertemu dengan diri sendiri dan berdialog secara jujur untuk menemukan apa yang terbaik dan harus kita lakukan saat ini dan di masa mendatang. Persoalan berikutnya adalah, bagaimana menjalankan apa yang sudah seharusnya dan sudah saatnya untuk kita laksanakan. Semakin ditunda, semakin jauh kita dari perjalanan menemukan diri dan menumbuhkan kepribadian yang sesuai dengan tujuan & panggilan hidup kita.


Bibiliography
1. Peplau, L.A. & Perlman, D. (1982). Perspectives on loneliness. In L. A. Peplau & D. Perlman (Eds.), Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy. (pp. 1-18). New York: John Wiley and Sons.
2. Cacioppo, John; Patrick, William, Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection, New York : W.W. Norton & Co., 2008. ISBN 978-0-393-06170-3. Science of Loneliness.com
3. Lonely Nation: Americans Try to Connect in a Country Where Isolation Is Common. Associated Press. 2006-08-06. Retrieved 2009-05-03

Rabu, 04 Mei 2011

Mengajak Orang Lain Berubah

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 07 Mei 2007

Dua Diri Di Dalam Diri

Disadari atau tidak, seringkali kita terlibat ke dalam urusan untuk ingin mengubah orang lain. Keinginan itu ada yang kita sampaikan melalui harapan, saran, atau bahkan tindakan yang bentuknya mungkin bisa "the must do" atau "the must not do". Terkadang juga keinginan itu ada yang didasari pertimbangan / kepentingan rasional, tapi ada juga yang didasari oleh hasrat-subyektivitas kita.



Kalau melihat ke literaturnya, memang ada banyak penjelasan terkait dengan topik kita ini. Ada yang mengatakan bahwa seseorang itu tidak bisa diubah oleh siapapun, kecuali oleh dirinya. Setiap orang, dalam kondisi apapun, ia punya kebebasan untuk menentukan dirinya. Sampai ada yang bilang, biarpun kita menodongkan postol di kepala orang itu, ia tetap saja punya kebebasan menolak atau menerima ajakan kita. Ibarat kuda, bisa saja kita memaksanya untuk sampai ke pinggir sungai, tapi untuk memaksanya minum air sungai, nanti dulu.



Pendapat lain mengatakan yang sebaliknya. Manusia itu adalah makhluk yang rentan perubahan. Teori pendidikan, teori motivasi, teori pembentukan karakter dan lain-lain berangkat dari pemikiran ini. Banyak riset dan kajian ilmu pengetahuan yang berkesimpulan, manusia itu adalah bentukan dari dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal, faktor gen dan faktor lingkungan, faktor individual dan faktor sosial. Menurut George Herbert Mead, setiap orang itu punya "dua diri". Yang satu hasil bentukan dirinya dan yang satu lagi hasil bentukan dari luar (impulsive dan restrained).



Ada pendapat lain yang mencoba mencairkan kedua ekstrimitas di atas. Menurut pendapat ini, di dalam diri manusia itu ada bagian yang bisa diubah dengan mudah, tapi ada juga yang sulit diubah. Kata “sulit diubah� ini mengarah pada dua pengertian, yaitu: a) sulit dalam arti harus dilakukan berkali-kali atau yang di dalam teori pendidikannya disebut pembiasaan atau paksaan, dan b) sulit dalam arti harus melibatkan kesadaran atau inisiatif yang bersangkutan.



Pendapat di atas bisa kita lihat di teori kompetensi atau konsep pengembangan SDM. Contoh yang mudah diubah itu misalnya skill, pengetahuan, pandangan, dan semisalnya. Kalau kita ingin mengubah orang dari yang semula tidak tahu ke manjadi tahu, ini lebih mudah. Cukup dikasih buku atau diajari. Sedangkan contoh yang sulit diubah itu misalnya adalah sifat-sifat bawaan, bakat bawaan, sikap mental, konsep-diri, operant trait, kebiasaan, karakter, dan semisalnya. Lembaga pendidikan yang mahal sekali pun terkadang belum sepenuhnya membuktikan kesanggupannya dalam mengubah karakter atau sikap mental seseorang.



Menurut teori kompetensi, yang sulit diubah itu disebut "core personality", yang letaknya di layar paling dalam dari diri kita. Ada lagi yang menyebut dengan istilah "trait" untuk hal-hal yang sulit diubah dan "state" untuk hal-hal yang mudah diubah. Trait adalah karakteristik bawaan yang melekat pada kita (operant trait), sedangkan state adalah karakteristik tertentu yang muncul akibat kondisi tertentu dari luar (respondent trait)



Intinya, masih ada peluang bagi kita untuk mengajak orang lain berubah. Hanya saja memang di sana ada bagian yang langsung bisa diubah dengan mudah dan ada yang butuh waktu, tidak langsung dan sulit. Karana itu, dulu, ada petuah pendidikan yang mengatakan, mendidik manusia itu sama seperti menaman kelapa. Kalau kita mananam sekarang, hasilnya baru ketahuan duapuluh tahun kemudian. Petuah ini terkait dengan sesuatu di dalam diri manusia yang sulit diubah dalam waktu singkat.



Terlepas dari itu, kalau melihat penjelasan dalam konsep kompetensi, ternyata keinginan kita untuk mengajak orang lain berubah itu termasuk dalam kompetensi di tempat kerja. Karena merupakan kompetensi, maka di sana ada semacam peringkatan (skala). Skala yang paling rendah adalah ketika kita menunjukkan sikap arogansi lalu menuntut orang lain harus berubah sesuai kita dengan cara yang kasar. Skala menengahnya adalah ketika kita melakukan langkah persuasi yang langsung. Sedangkan skala yang paling tinggi adalah ketika kita sudah bisa menerapkan "strategi-halus" dimana seseorang akhirnya berubah tanpa merasa diubah oleh kita (Competence At Work, 1993)



Kenapa berubah & kenapa menolak berubah?

Hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada penjelasan yang mengarah adanya single factor tentang kenapa orang itu berubah dan kenapa seseorang menolak berubah. Kalau mengacu pada beberapa pendapat di atas, di bawah ini ada beberapa hal yang bisa kita jadikan acuan untuk memahami alasan-alasan itu. Secara garis besar, alasan itu bisa kita bagi menjadi dua, yaitu:



- Alasan internal.

- Alasan eksternal



Yang termasuk alasan internal itu adalah, antara lain:



Pertama, manfaat. Orang akan berubah kalau tahu / merasakan manfaatnya (result knowledge). Sebaliknya, orang akan masa bodoh kalau manfaatnya tidak jelas. Karena itu, dalam manajemen dikenal sebuah istilah What-Is-In-It-For-Me. Istilah ini perlu dijadikan pegangan untuk mengajak orang lain berubah. Manfaat ini tentunya banyak: mungkin finansial, mungkin emosional, mungkin intelektual, dan seterusnya.



Kedua, kesadaran. Ini bisa berbentuk sebuah momen internal yang menjadi titik balik di dalam diri seseorang. Orang akan berubah kalau dirinya mengalami proses yang disebut "altered state of consciousness", punya kesadaran baru untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh misalnya ada seseorang yang diberhentikan dari tempat kerja karena punya temparemen yang tidak terkontrol. Sejauh orang itu sadar akan kekurangan yang dimiliki dan bahaya yang nyata, orang itu dipastikan akan menempuh proses perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Tapi kalau kesadaran itu tidak muncul, perubahan pun sulit terjadi.



Ketiga, harapan. Orang akan berubah kalau punya harapan baru atau punya harapan yang lebih jelas. Karena itu ada yang mengatakan, orang akan tetap "hidup" selama harapannya masih hidup. Harapan baru bisa mengubah orang menjadi kreatif, semangat, inovatif dan seterusnya. "Ketika anda mengubah harapan, maka sikap anda akan berubah", begitu kata Jhon Maxwell.



Keempat, keberanian. Orang juga akan berubah begitu punya keberanian untuk melawan ketakutannya selama ini. Keberanian di sini mungkin ada yang berasaskan pada moral, mental atau alasan-alasan lain yang mendukung. Keputusan orang untuk menikah umumnya terkait dengan soal keberanian ini.



Kelima, sasaran. Sasaran di sini adalah sesuatu yang benar-benar ingin diraih seseorang. Bentuknya mungkin bisa goal, target, objective, vision, dan lain-lain. Orang akan berubah ke arah yang lebih baik kalau sasarannya diperbaiki, diperjelas, dikoreksi, diriilkan, dan seterusnya. Perubahan itu biasanya berupa langkah yang lebih fokus, lebih giat, lebih berdisiplin, lebih matang dan lain-lain.



Itulah sebagian dari sekian yang bisa kita paparkan di sini. Intinya, ada sekian alasan internal yang melatarbelakangi perubahan seseorang. Alasan-alasan itulah yang berfungsi untuk mendorong (to drive), menyeleksi (to select) dan mempertahankan (to defend).



Sedangkan yang termasuk alasan eksternal itu pada umumnya terkait dengan orang (people) dan keadaan (condition). Aristotle mengatakan, di antara yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu itu adalah: perubahan, keadaan alam, paksaan, kebiasaan, visi (alasan mendasar), dorongan dari dalam (semangat atau motivasi, keinginan atau kemauan). Contoh yang dari manusia itu misalnya, pengarahan, kebijakan, paksaan, pendidikan, pemrograman dan lain-lain. Sedangkan contoh yang dari realitas itu misalnya adalah perubahan keadaan atau perubahan alam.



Pendeknya, manusia itu berubah karena realitas di dalam dirinya berubah atau karena realitas di luar dirinya berubah. Riset keilmuan lebih banyak menyimpulkan bahwa perubahan yang datangnya dari dalam diri itu jauh lebih permanen dibanding dengan perubahan yang datangnya dari luar (people and condition). Perubahan dari dalam disebut penentu (determinant), sedangkan yang dari luar disebut pemicu (trigger).



Beberapa Pendekatan

Seperti yang sudah kita singgung, memang agak sulit menemukan adanya single factor yang menjadi alasan kenapa seseorang itu berubah. Karena itu, cara yang perlu kita gunakan untuk mengajak pun perlu di-variatif-kan. Dari sekian pendekatan yang ada di dunia ini, sebagiannya kira-kira di bawah ini:



Pertama, power hubungan. Untuk mengajak orang lain berubah, kita perlu bertanya apakah kita punya power dalam hubungan itu atau tidak. Power di sini bentuknya bisa bermacam-macam: mungkin senioritas, kharisma, atoritas, jabatan, kematangan moral, kematangan mental, dan lain-lain.



Kenapa ini penting? Pengetahuan kita tentang power