Sabtu, 11 Juni 2011

Mengenal Cara Belajar Individu

Oleh : Zainun Mutadin, SPsi. MSi.
Jakarta, 26 September 2002

Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.

Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi "pintar". Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.

Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.

Otak Sebagai Pusat Belajar

Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.

Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain (dalam DePorter & Hernacki, 2001). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan yang ketiga adalah neokorteks.

Batang otak memiliki kesamaan struktur dengan otak reptil, bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motorik-sensorik-pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Perilaku yang dikembangkan bagian ini adalah perilaku untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies.

Disekeliling batang otak terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistem ini berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Sistem limbik adalah panel kontrol dalam penggunaan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan ke pemikir dalam otak yaitu neokorteks.

Neokorteks terbungkus di sekitar sisi sistem limbik, yang merupkan 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia. Bagian inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir intelektual, pembuatan keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasan non verbal. Dalam neokorteks ini pula kecerdasan yang lebih tinggi berada, diantaranya adalah : kecerdasan linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal dan intuisi.

Karakteristik Cara Belajar

Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual

Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
rapi dan teratur
*
berbicara dengan cepat
*
mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik
*
teliti dan rinci
*
mementingkan penampilan
*
lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar
*
mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual
*
memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik
*
biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar
*
sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)
*
merupakan pembaca yang cepat dan tekun
*
lebih suka membaca daripada dibacakan
*
dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.
*
jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara
*
lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
*
sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak'
*
lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah
*
lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik
*
seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata

2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial

Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja
*
mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik
*
lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca
*
jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras
*
dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara
*
mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita
*
berbicara dalam irama yang terpola dengan baik
*
berbicara dengan sangat fasih
*
lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya
*
belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat
*
senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar
*
mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi
*
lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya
*
lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik

3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik

Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
berbicara dengan perlahan
*
menanggapi perhatian fisik
*
menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka
*
berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain
*
banyak gerak fisik
*
memiliki perkembangan otot yang baik
*
belajar melalui praktek langsung atau manipulasi
*
menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung
*
menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca
*
banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)
*
tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama
*
sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut
*
menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
*
pada umumnya tulisannya jelek
*
menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)
*
ingin melakukan segala sesuatu

Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat

Jumat, 27 Mei 2011

Wudhu Batin

Isam bin Yusuf adalah seorang ahli ibadah yang terkenal wara' (hati-hati), tawadhu' (rendah hati), taat beribadah, dan senantiasa khusyuk dalam shalatnya. Karena kehati-hatiannya, ia selalu khawatir bila ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Karenanya, Isam senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal yang menyebabkan ibadahnya tertolak. Sebab, akan sia-sialah apa yang dikerjakannya, bila ibadahnya tidak diterima Allah SWT.

Suatu hari, Isam menghadiri pengajian yang diajarkan sufi ternama, Hatim al-Asham. Kesempatan ini digunakannya untuk menggali ilmu dari Hatim. "Wahai Abu Abdurrahman, bagaimanakah cara Anda shalat?"

Hatim menjawab, "Apabila waktu shalat telah tiba, maka aku berwudhu secara lahir dan batin." Isam bertanya lagi. "Bagaimanakah wudhu batin itu?"
"Wudhu lahir adalah membersihkan anggota wudhu sebagaimana yang diajarkan Alquran dan hadis Nabi SAW."

Sedangkan wudhu batin itu, kata Hatim, membasuh anggota badan dengan tujuh cara, yakni
(1) senantiasa bertobat kepada Allah atas segala dosa;
(2) kemudian menyesali segala dosa-dosa yang dikerjakan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
(3) Membersihkan diri dari cinta dunia (hubbuddunya);
(4) menghindarkan diri dari segala pujian manusia;
(5) meninggalkan sifat bermegah-megahan;
(6) tidak berkhianat dan menipu;
(7) serta menjauhi perbuatan iri dengki.

"Kemudian, aku pergi ke masjid, lalu kuhadapkan wajahku ke arah kiblat dan hatiku kepada Allah. Selanjutnya, aku berdiri dengan penuh rasa malu di hadapan Allah. Aku bayangkan bahwa Allah ada di hadapanku dan sedang mengawasiku. Sementara surga ada di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut di belakangku. Dan aku membayangkan pula, seolah-olah aku berada di atas jembatan Shirat al-Mustaqim. Dan aku anggap shalat yang akan aku kerjakan adalah shalat terakhir bagiku."

"Kemudian aku bertakbir, dan setiap bacaan dalam shalat, senantiasa aku pahami maknanya. Aku juga rukuk dan sujud dengan menganggap diriku sebagai makhluk yang paling kecil dan tak punya kemampuan apa pun di hadapan Allah. Selanjutnya aku akhiri dengan tasyahud (tahiyat) dengan penuh penghambaan dan pengharapan kepada Allah, lalu aku memberi salam. Demikianlah shalatku selama 30 tahun terakhir ini," ujar Hatim.

Mendengar penjelasan Hatim ini, Isam bin Yusuf pun tertunduk lesu dan menangis. Ia membayangkan bahwa ibadahnya selama ini masih belum seberapa dibandingkan dengan ibadah yang dikerjakan Hatim al-Asham. Segala sesuatunya dilaksanakan dengan penuh pengharapan dan ridha Allah, serta selalu diawali dengan kesucian lahir batin.

Wudhu merupakan pintu masuk menuju ibadah yang terbaik, yakni shalat dan berdialog dengan Allah SWT. Sebab, wudhu merupakan bentuk kesucian lahir. Tanpa kesucian lahir, mustahil pula akan tercapai kesucian batin. "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS al-Kahfi [18]: 110). Wallahu a'lam.

Oleh Syahruddin El-Fikri
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/03/lklrsl-wudhu-batin

Berbicara Di Depan Umum

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 20 Februari 2007

JAM TERBANG

Konon, selain kematian, beberapa hal yang kerap ditakuti orang salah satunya adalah berbicara di depan umum. Benar nggak begitu? Banyak orang yang merasa dak-dik-duk, gemetar, bingung setengah mati ketika diminta atau punya tugas harus berbicara di depan umum. Pertanyaannya adalah, apakah perasaan demikian itu wajar? Untuk membahas ini mari kita perhatikan hal-hal di bawah ini:



Pertama, siapa pun orangnya, mau dia pembicara publik sekelas Hermawan Kertajaya, Rheinald Khasali, Andi Wongso, atau pak ketua RT di tempat kita, memiliki perasaan yang bisa disebut dengan bahasa dak-dik-duk ketika hendak berbicara di depan umum. Hanya memang kadar dan durasinya berbeda. Selain itu, jam terbang juga ikut andil besar di sini.



Orang seperti Hermawan Kertajaya dan lain-lain tetap merasa dak-dik-duk tapi kadarnya mungkin sedikit, durasinya hanya berlangsung beberapa detik. Dengan pengalamannya dalam menghadapi publik selama ini (jam terbang), rasa dak-dik-duk itu segera bisa dialihkan menjadi hal-hal yang dapat menghangatkan suasana.



Kedua, penguasaan materi. Kalau kita tiba-tiba ditodong untuk berbicara tanpa persiapan, ini akan berpotensi membuat kita gelagapan. Bedanya, kalau kita sudah punya jam terbang tinggi, situasi dan kondisi demikian bisa kita cairkan dengan cepat. Tapi bila tidak, ini bisa membuat kita stress yang ditandai dengan keinginan untuk ke toilet, sakit perut, jantung berdetak terlalu cepat dan lain-lain.



Begitu juga kalau kita dimintai berbicara tentang hal-hal yang kita sendiri tidak menguasainya. Meski kita sudah diberi waktu agak cukup untuk menyusun persiapan, tetapi kalau memang itu bukan bidang kita, mau tidak mau ini kerap membikin kita bingung. Untuk orang yang sudah punya jam terbang tinggi, kebingungan ini biasanya bisa diatasi dengan penyiasatan-penyiasatan kreatif.



Ketiga, audien dan suasana. Banyak orang yang merasa minder, dak-dik-duk atau bingung ketika harus berbicara di depan orang yang misalnya saja: lebih senior, lebih tua, lebih pintar, atau lebih segala-galanya. Persepsi kita tentang audien juga ikut mempengaruhi. Kalau kita mempersepsikan audien sebagai seperti macan, sementara kita mempersepsikan diri sendiri sebagai seperti kucing, ya mana mungkin ada kucing yang tidak minder menghadapi macan. Jadi, baik fakta dan persepsi juga ikut berperan.



Begitu juga dengan suasana. Setiap suasana baru membutuhkan adaptasi baru. Ini berlaku untuk semua manusia. Orang yang biasa menghadapi massa dalam jumlah kecil, butuh adaptasi baru ketika diminta untuk berbicara di depan massa yang jumlahnya banyak. Orang yang biasa mengajar di depan siswa atau mahasiswa, tetap butuh adaptasi baru ketika diminta untuk berbicara di depan masyarakat yang tidak ada segmentasinya. Orang yang biasa berbicara dalam suasana yang alami, tetap butuh adaptasi baru ketika diminta berbicara dalam suasana yang benar-benar sophisticated, misalnya disorot kamera, direkam, ditayangkan melalui jaringan teve, dan lain-lain.



Jadi, merasa dak-dik-duk saat baru sekali atau dua kali berbicara di depan umum, saat menghadapi audien dengan segmentasi baru atau saat menghadapi suasana baru, itu semua wajar. Persiapan, penguasaan materi dan pengalaman menjadi kata kunci yang membedakan apakah kewajaran itu mengganggu atau tidak.



Perlu disadari bahwa sebagian besar kita punya kepentingan untuk meningkatkan kemampuan dalam hal berbicara ini. Ini terlepas apakah kita menjadikan kemampuan ini sebagai profesi (public speaker) atau tidak. Kenapa? Ini karena banyak proses pekerjaan yang menuntut kita harus berbicara di depan umum (orang banyak), misalnya presentasi, mengajar, mengarahkan, melaporkan, mendiskusikan, dan lain-lain. Karena itu, kalau membaca hasil survei CCL (Researh Summary Report, 2003), ada 45 % responden yang menyatakan ingin atau sangat ingin mendapatkan pengembangan di sejumlah area, termasuk salah satunya adalah public speaking atau presentasi.





PRINSIP, GAYA & ETIKA

Ada sedikitnya tiga hal yang perlu kita bedakan saat hendak berbicara di depan umum. Ketiga hal itu adalah: a) prinsip, b) gaya dan c) etika. Ketika disebut prinsip, maka yang dimasudkan adalah serangkaian kaidah yang harus kita jalankan atau taati. Kalau tidak, ini bakal menciptakan konsekuensi salah-benar. Beberapa prinsip umum yang perlu kita taati antara lain:



Pertama, visualisasi. Ini masuk dalam persiapan. Visualisasi adalah membayangkan materi yang kita sampaikan, sistematika penyampaian, respon yang mungkin timbul dari audien, suasana yang kita harapkan untuk terjadi, dan lain-lain. Untuk orang yang sudah punya jam terbang tinggi, visualisasi ini barangkali cukup dilakukan dengan mengandalkan naluri atau alam bawah sadarnya. Pikirannya sudah terprogram untuk melakukan visualisasi secara otomatik (reflek).



Tapi, untuk pemula atau yang belum punya jam terbang tinggi, visualisasi ini perlu dilakukan dengan cara yang khusus. Banyak yang menyarankan agar ditulis, dihafalkan, dipraktekkan, dan dilakukan gladi kotor sampai gladi resik di tempat tertentu, misalnya kamar mandi, ruangan sepi atau kamar tidur. Terserah cara apapun yang pas buat anda, tetapi prinsipnya visualisasi ini harus dilakukan.



Bahkan ada pengalaman saya yang mungkin bisa dijadikan pelajaran. Dalam sebuah acara, saya kebetulan duduk di samping pembicara utama. Semua orang yang hadir si situ tahu kalau pembicara ini sudah punya jam terbang tinggi. Tapi, lima-sepuluh menit sebelum naik podium, beliau tetap membutuhkan waktu untuk melakukan visualisasi ulang. Ini yang sudah punya jam terbang tinggi, apalagi yang belum.



Kedua, tahu audien. Ini juga prinsip. Kenapa? Tahu audien akan membuat kita tahu materi yang bermanfaat untuk mereka. Tidak tahu audien akan membuat kita hanya berpikir untuk diri kita sendiri, padahal kita harus berbicara di depan umum. Secara prinsip dapat dikatakan bahwa orang akan tertarik pada hal-hal yang memang bermanfaat untuk dirinya. Kalau kita hanya berbicara tentang hal-hal yang hanya menarik untuk kita tetapi tidak menarik buat mereka, 'wah' ini bisa gawat.



Tahu audien akan membuat kita tahu strategi yang pas buat kita. Ada strategi yang berbeda antara kita harus berbicara di depan orang yang lebih atas, yang sama / selevel dan yang lebih bawah. Strategi ini akan kita temukan kalau kita tahu siapa audien kita, kelompok mana audien kita, orang seperti apa audien kita, dan seterusnya.



Ketiga, kualitas diri. Kualitas diri ini tentu luas pengertiannya. Saya ingin menggambarkan misalnya saja tingkat kepercayaan-diri. Agar kita bisa bicara lantang di depan orang (audien), tentu saja dibutuhkan tingkat kepercayaan-diri yang bagus. Darimana ini bisa digali? Kepercayaan diri ini tidak bisa dibuat-buat. Seperti yang sudah kita bahas di sini, kepercayaan diri ini terkait dengan bagaimana kita merasakan, menilai diri sendiri dan bukti prestasi yang kita miliki. Artinya, semakin bagus kualitas diri kita (dalam pengertian yang seluas-luasnya), akan semakin bagus pula kualitas kita dalam berbicara di depan umum: lebih pede, lebih jelas, lebih kokoh, lebih siap, dan seterusnya.



Lalu bagaimana dengan gaya? Gaya adalah seni bagaimana kita mendeliverikan, mempresentasikan atau mengekspresikan materi. Gaya ini biasanya terkait dengan konsekuensi enak dan tidak enak. Bagi kita yang tidak memilih profesi sebagai public speaker, gaya ini mungkin bisa penting dan bisa tidak. Gaya ini biasanya selalu berubah, tergantung pengalaman, selera, jam terbang, penguasaan, kepribadian, karakter personal, dan lain-lain.



Meski gaya ini variatif dan "suka-suka" kita memilihnya, tetapi ada semacam rambu-rambu umum yang perlu kita perhatikan. Ini antara lain:



Pertama, berbicara ngelantur kemana-mana. Ibarat masakan, terkadang kita butuh bumbu-bumbu yang ikut menambah kenikmatan dan kelezatan. Tapi bila bumbunya ini terlalu banyak, nasib menunya bisa lain. Begitu juga dengan berbicara. Terkadang kita butuh bumbu-bumbu, misalnya contoh, data, dalil, humor dan lain-lain. Tapi bila itu kebanyakan, ini akan mengalahkan materi utama yang ingin kita sampaikan. Apalagi misalnya sampai ngelanturnya itu mengkorupsi waktu orang lain. Silahkan bergaya apa saja tetapi jangan sampai ngelantur.



Kedua, berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat dapat membuat audien tidak mengerti dan tidak bisa mengikuti jalan pikiran dan materi yang kita paparkan. Jika ini menyangkut angka atau data penting, ini bisa gawat. Begitu juga kalau terlalu lambat. Ini bisa membuat orang ngelamun atau kurang semangat mengikuti kita. Idealnya, kita perlu memperkirakan antara 80-100 kata dalam satu menit.



Ketiga, suara terlalu tinggi atau terlalu rendah. Jangan meninggikan suara sampai dapat menganggu audien tetapi juga jangan terlalu merendahkan suara sampai tidak jelas didengar. Sebisa mungkin, kita perlu mengatur nada, irama dan tekanan. Artinya, ada beberapa hal yang perlu kita keraskan, datarkan dan rendahkan. Untuk yang sudah punya jam terbang tinggi, ini biasanya terjadi secara otomatik. Tetapi untuk pemula, ini perlu kita latih dalam visualisasi.



Keempat, terlalu banyak gerak atau terlalu diam. Gaya apapun yang kita pilih, itu suka-suka kita. Tetapi, hendaknya kita perlu menghindari praktek "overacting" atau "underacting" (terlalu diam) sehingga terkesan seolah-olah tidak ada interaksi antara kita dengan audien. Karena itu ada saran agar kita bisa menatap satu persatu dalam hitungan detik supaya muncul interaksi.



Kelima, terlalu rumit atau terlalu banyak poin yang penting. Gaya apapun yang kita pilih hendaknya perlu kita desain agar dapat membantu menyederhanakan persoalan yang kita sampaikan. Jika ada istilah-istilah asing yang tidak umum, kita pun perlu menjelaskannya dengan bahasa yang kira-kira bisa dipahami oleh audien. Ini bisa kita lakukan dengan contoh, analogi, penjelasan dari kita, dan lain-lain.



Begitu juga dengan poin-poin yang kita anggap penting itu. Belum tentu apa yang kita anggap penting itu akan penting juga bagi audien. Belum tentu apa yang penting bagi kita dan audien akan dianggap penting oleh mereka. Karena itu perlu ada pengarahan dan penyiasatan yang didukung oleh gaya bicara. Jika kita harus menjelaskan persoalan yang banyak sekali poin-poin yang penting, ini butuh metode yang kira-kira bisa diikuti, misalnya dengan nomor: pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya atau dengan istilah seperti judul, sub judul, sub-sub judul, dan lain-lain.



Selanjutnya adalah etika. Etika ini terkait dengan kepantasan dan ketidakpantasan; kesopanan dan ketidaksopanan. Beberapa hal yang sering dianggap etika umum dalam berbicara di depan publik itu antara lain:



Pertama, salah menyebut orang atau menyebut orang dengan sebutan / sapaan yang berpotensi dirasakan tidak enak, misalnya: ibu yang gendut itu, mas yang kurus, bapak yang berkacamata, mbak yang berkulit hitam, dan seterusnya. Akan lebih safe kalau kita menyebut namanya saja ditambah dengan kata-kata yang memuliakan, seperti: pak, bu, mas, dan seterusnya.



Kedua, memberikan contoh yang menyinggung atau menyakiti orang, terutama dari audien. Pilihlah contoh, anekdot atau kiasan yang kira-kira dapat membantu penjelasan kita, tetapi juga perlu kita pikirkan efeknya bagi orang lain.



Ketiga, menganggap audien sebagai orang yang bodoh dan menganggap kita lebih jago. Ini biasanya tidak kita ucapkan lewat mulut, tetapi kita praktekkan melalui tanggapan atau penjelasan. Di depan orang banyak, pertanyaan seperti apapun perlu kita tanggapi secara bijak dan dengan logika-logika yang positif. Untuk menekan perasaan demikian, hindari motif-motif untuk menonjolkan diri, misalnya ingin dianggap orang hebat, orang pintar, dan lain-lain. Batasi pikiran untuk hanya berkesimpulan bahwa di situ kita hanya menjelaskan sesuatu dan bila ada yang kurang kita perbiki. Titik.



Keempat, tidak "melek sponsor". Ini biasanya digunakan untuk menyebut artis, penyanyi, mc, atau pembicara yang tidak menyebut atau mempromosikan sponsor yang menyelenggarakan acara. Meski kita bukan artis atau penyanyi tetapi akan lebih etis kalau kita mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang menurut kita telah memberikan kontribusi.



Kelima, jauhi mannerisms, seperti garuk-garuk kepala, merapikan baju, mengusap muka, hidung, telinga, melihat dasi atau sepatu, dan lain-lain. Intinya, kita perlu mengkondisikan diri se-informal mungkin tetapi perlu menghindari hal-hal kecil yang berpotensi dianggap sebagai ketabuan atau ketidakpantasan.



Terakhir, kata sejumlah pembicara yang saya simpulkan: "Jangan menanyakan honor di depan!" Honor itu kita butuhkan. Ini tentu anda juga sepakat. Tetapi masalahnya, ketika honor itu kita dahulukan, di sini muncul masalah etika.





TIP PERBAIKAN

Ada sejumlah tip yang perlu kita terapkan sebelum naik bicara. Itu antara lain:



Pertama, apakah materi yang akan kita jelaskan itu akurat atau belum. Lebih-lebih jika menyangkut soal angka atau uang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah diprotes berhari-hari karena (catatan : menurut versi pemrotes) beliau membacakan data kemiskinan yang tidak akurat.



Kedua, apakah materi yang akan kita sampaikan itu sudah jelas atau belum. Jelas di sini artinya menutup celah kesalahpahaman (misunderstanding) atau salah tafsir (misinterpretation).



Ketiga, apakah materi yang kita sampaikan itu mengena atau tidak. Mengena di sini sesuai dengan tujuan. Kalau yang kita maksudkan itu tindakan, ya perlu diarahkan pada tindakan. Begitu juga kalau yang kita inginkan adalah penjelasan, pemahaman, pemikiran atau keadaan. Ini perlu kita cek agar bisa mengena sasaran.



Keempat, apakah cocok dengan keadaan atau tidak. Protes, penolakan dan reaksi emosional memang kerap kali muncul tetapi hendaknya kita perlu menyusun materi yang dapat menghindarkan kita dari situasi demikian. Perlu menyusun materi yang sesuai dengan keadaan. Kalau perkiraan kita masih fifty-fifty, ya kita perlu persiapan menghadapi kejutan itu.



Kelima, apakah materi kita sudah relevan atau belum. Relevan di sini adalah bermanfaat untuk orang lain. Bermanfaat ini pengertiannya luas tetapi hendaknya kita perlu mendesain materi setelah mempertimbangkan kepentingan orang lain, audien.



Keenam, apakah materi kita sudah simpel atau belum. Kalau masih ruwet, kita perlu cari akal untuk membuatnya menjadi materi yang mudah dipahami orang lain. Kata Einstein, sebelum anda menyampaikan teori baru, jelaskan dulu di depan anak-anak. Kalau mereka tidak paham, teori anda masih ruwet.



Ketujuh, apakah bahan kita masih mengandung "hidden context" atau tidak. Hidden context di sini artinya beberapa hal yang masih tersembunyi (tidak diketahui oleh orang lain) dan bila ini tidak dijelaskan, akan berpotensi melahirkan pemahaman yang kurang, entah kurang utuh atau kurang kuat. Mudah-mudahan ini bermanfaat.

Bagaimana Agar Bisa Konsisten Meraih Sukses

Banyak yang mengatakan, konsisten adalah sesuatu yang paling berat. Tetapi kita tidak punya pilihan lain, jika Kita ingin sukses dalam jangka panjang, konsisten harus menjadi bagian hidup Kita. Tidak bisa tidak.

Konsisten menjadi kata yang paling ditakuti. Banyak orang yang menghindari kata ini, mereka ingin sukses secara instan tanpa harus melewati kata konsisten. Sayangnya itu tidak ada.

Kosistensi juga sering menjadi penghambat sukses. Banyak orang yang memiliki ilmu banyak, namun dia tetap tidak berhasil karena dia tidak konsisten mengamalkan ilmunya. Lalu, bagaimana agar bisa konsisten meraih sukses?

Mulailah Konsisten Dari Yang Kecil

Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Jangan disalahartikan, kata sedikit disini bukan berarti menyuruh sedikit. Kata ustadz, hadist ini menekankan pada berkesinambungannya. Artinya amal yang dilakukan secara lestari itu disukai Allah. Tentu saja, apa lagi jika kita melakukan amal yang banyak dan berkesinambungan.

Tetapi untuk langsung menjalankan amal yang banyak dan kontinyu akan sulit sekali. Utamakan dulu keberlangsungannya meski sedikit. Setelah terbiasa dengan yang sedikit, insya Allah akan lebih mudah untuk melakukan amal yang lebih banyak.

Begitu juga untuk mencapai keberhasilan. Kita bisa memulai melakukan sesuatu yang kecil dulu, tetapi lakukanlah dengan konsisten. Jika Kita ingin sukses ngeblog misalnya, mulailah dengan melakukan komentar pada blog orang lain sepatah dua patah kata secara konsisten. Suatu saat, Kita akan menjadi seorang blogger besar.

Jika Kita ingin menjadi pebisnis, mulailah melakukan hal kecil dulu secara konsisten. Misalnya baca artikel tentang bisnis. Atau bisa juga mulai menjual produk, meski sedikit tetapi Kita konsisten menjual. Lama kelamaan, kemampuan dan mental Kita akan terbentuk menjadi pebisnis yang hKital.

Jadi, agar Kita bisa konsisten, mulailah dengan yang kecil dulu.
Ingatlah Nilai Tindakan Kita Sekecil Apa Pun

Saat Kita membaca Al Quran, setiap huruf akan mendapatkan balasan dari Allah. Ya, setiap huruf. Artinya sekecil apa pun ibadah itu akan bernilai. Agama mengajarkan agar kita merasakan dan mengingat nilai amal kita sekecil apa pun. Manfaatnya, sampai sekarang lantunan ayat suci Al Quran tidak pernah berhenti. Banyak orang yang secara konsisten membaca Al Quran.

Begitu juga untuk meraih sukses lainnya. Jika Kita melakukan sesuatu yang akan membawa kepada keberhasilan, maka ingatlah setiap langkah Kita akan mendekatkan kepada sukses. Jika Kita sedang berkerja, ingatlah setiap ketikan Kita di komputer akan membawa hasil. Jika Kita menabung untuk menunaikan ibadah haji, setiap setoran akan mendekatkan Kita ke tanah suci.

Jika Kita seorang penjual, setiap Kita menawarkan produk, artinya Kita akan semakin dekat ke pembeli. Meski pun Kita mendapatkan penolakan, artinya Kita akan semakin dekat dengan orang yang membutuhkan produk Kita. Jika Kita seorang pebisnis, ingatlah setiap usaha pemasaran akan menumbuhkan bisnis Kita.

Setiap langkah, setiap tindakan, dan setiap ucapan yang benar adalah bernilai dan akan mengantarkan Kita kepada keberhasilan. Jika Kita mengingat itu, maka sekecil apa pun manfaatnya, bahkan tidak dirasakan secara langsung, Kita akan tetap konsisten melakukannya.

Agar Konsisten, Pengawasan Sering Diperlukan

Jika Kita masih sulit untuk konsisten, mungkin Kita perlu bantuan orang lain untuk mengawasi Kita. Jika Kita seorang pekerja, Kita tentu diawasi oleh atasan Kita. Jika kurang diawasi, Kita bisa meminta untuk diawasinya. Aneh memang, banyak orang yang menghindar dari pengawasan atasan, tetapi jika Kita ingin sukses, mintalah diawasi.

Bisa juga pasangan hidup, istri atau suami Kita. Mintalah pasangan Kita untuk mengingatkan jika Kita tidak konsisten melakukan sesuatu. Bahkan, anak pun bisa mengawasi kita. Jika masih punya orang tua, orang tua pun bisa mengawasi konsistensi Kita.

Jika perlu, milikilah seorang mentor. Kita bisa mendapatkan pengawasan dari seorang mentor. Bahkan, jika perlu Kita bisa mencari seorang “komKitan” yang mengawasi tindakan Kita dan mampu memberikan hukuman bagi Kita. Kenapa tidak?

Jadi ada tiga Hal agar Kita bisa konsisten, yaitu mulailah dari yang kecil, mengingat nilai dari setiap tindakan sekecil apa pun, dan jika perlu mintalah seseorang untuk mengawasi Kita.

http://www.motivasi-islami.com/bagaimana-agar-bisa-konsisten-meraih-sukses/

Kisah Empat Lilin

Ada empat lilin menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi hingga terdengarlan suara mereka.

Lilin pertama berkata:
“Aku adalah damai
Namun manusia tak mampu menjagaku
Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikian sedikit demi sedikit lilin padam.

Lilin kedua berkata:
“Aku adalah Iman
Sayang aku tak berguna lagi
Manusia tak mau mengenaliku lagi
Untuk itulah tak ada gunanya aku mnyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih lilin ketiga bicara:
“Aku adalah Cinta
Tak mampu lagi aku tetap menyala
Manusia tak lagi memandang dan menganggapku berguna.
Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.

Tanpa terduga, seorang anak masuk kedalam kamar dan melihat ketiga lilin telah padam.
Karena tekut akan kegelapan, ia berkata:
“Ekh apa yang terjadi?!! kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan”
Lalu ia menangis tersedu-sedu.

Lalu dengan haru lilin keempat berkata:
“Jangan takut…Jangan menangis…
Selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya.
Akulah HARAPAN…”

Dengan mata bersinar, sang anak mengmbil LILIN HARAPAN, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya. Apalah yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita


Sumber: http://kisahkita-tiarmaulidia.blogspot.com/

Hikmah : Teologi Ujian

Dua firman Allah berikut, sungguh relevan bagi orang-orang yang diuji.

Pertama, firman Allah di dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 155: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. "

Kedua, firman Allah yang terdapat di dalam QS An-Naml [27] ayat 40: "Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".

Di dua ayat itu, Allah SWT menanamkan pemahaman di alam bawah sadar manusia, bahwa istilah bala’ (ujian/cobaan) yang dipakai-Nya di dalam Alquran ternyata mempunyai dua sisi makna, yaitu musibah dan nikmat.

Sungguh, akidah atau teologi mengenai bala’ yang terdapat di dalam Alquran ini di luar dugaan kita sebelumnya yang mengaitkan bala’ pada musibah saja. Untuk bala’ yang berarti musibah, di ayat 155 surat Al-Baqarah itu, Allah menyatakan dengan tegas bahwa Dia akan memberikan cobaan kepada kita semua, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.

Sementara bala’ yang bermakna nikmat, Anda bisa melihatnya di dalam QS. An-Naml: 40. Ayat ini semacam penegasan dari ayat-ayat sebelumnya yang dimulai sejak ayat 15, di mana rangkaian firman Allah itu menceritakan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, yaitu ilmu, bala tentara dari jin-manusia-burung, kemampuan mendengarkan bahasa semut, dan yang paling fantastik ialah tatkala Sulaiman melihat singgasana Ratu Balqis sekejap mata sudah terletak di hadapannya.

Nah, di ayat 40 itulah, Sulaiman menyadari melalui ungkapan tauhid rububiyahnya, bahwa semua kenikmatan yang diterimanya itu semata-mata merupakan anugerah Rabb (Tuhan)-nya, sekaligus ’ujian’ (bala’) baginya: apakah dia bersyukur atau kufur. Coba, para pembaca, Anda perhatikan, ayat ini menyebut kenikmatan sebagai bala’ juga!

Apa yang kita dapatkan dari teologi bala’ (ujian) tersebut? Ya, para pembaca, kehidupan ini memang berisi dua hal itu, musibah dan nikmat. Tidak ada yang lain. Kalau tidak tertimpa musibah, seseorang itu dalam hidupnya menerima nikmat. Keduanya datang silih berganti seperti silih bergantinya malam dan siang (QS Ali Imran [3]: 190). Karena itu, manusia harus menyadari bahwa keduanya merupakan ujian.

Allah sendiri pun sejak awal telah menyadarkan kita akan dua macam bala’ (ujian) itu: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 35).

Musibah disebut ujian, karena memang banyak manusia yang tidak sabar ketika musibah mulai menimpa dirinya. Ketidaksabaran itu karena saking tidak kuatnya menanggung musibah. Ada yang mengeluh dan ada pula yang sampai nekad bunuh diri.

Sementara itu, kenikmatan yang dirasakan oleh sebagian manusia juga bisa disebut ujian, alasannya sama dengan musibah tadi, yaitu semata-mata karena sikap manusia yang menerima kenikmatan itu. Jika dalam menghadapi musibah banyak orang yang tidak sabar, maka dalam menghadapi kenikmatan banyak orang yang tidak bisa bersyukur. Tandanya bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang serba cukup banyak yang jatuh dalam dosa atau kemaksiatan kepada Allah, Sang Pemberi nikmat (al-Mun’im) itu sendiri. Wallahu a’lam.

Oleh: Achmad Sjamsudin
Sumber: http://www.republika.co.id/

Jangan Katakan YA jika ingin berkata TIDAK

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 30 September 2009

Format Komunikasi Ideal

Kalau kita mengikuti kursus atau membaca buku komunikasi, biasanya kita akan didoktrin untuk belajar mengatakan TIDAK pada hal-hal yang memang tidak kita kehendaki. Slogan yang kerap dipakai adalah: "jangan mengatakan YA jika Anda ingin mengatakan TIDAK". Secara teori, ini memang format komunikasi yang ideal. Kenapa?



Kalau kita mengatakan YA, padahal hati kita sebetulnya ingin mengatakan TIDAK, maka YA yang kita ucapkan itu menyisakan ganjalan di hati. Bentuknya antara lain: menggerutu, merasa diri sebagai korban, atau akan menyimpan kenangan negatif terhadap orang yang memaksa kita itu. Perasaan seperti ini akan menjadi perampok kebahagiaan.



Bahkan jika itu sudah menjadi kebiasaan / sifat, maka ungkapan YA di situ akan menjadi titik lemah. Ini karena ucapan YA di situ, lebih-lebih jika kita seorang pemimpin, pembuat kebijakan atau orang yang diserahi tanggung jawab, akan membawa konsekuensi yang panjang dan luas, misalnya konsekuensi waktu, biaya, tenaga, dan lainnya. Ya-nya kita akan menjadi incaran pemanfaatan.



Pada tingkat pribadi, kalau kita terlalu sering sudah terlanjur mengatakan YA, padahal kita menginginkan TIDAK, itu bisa menimbulkan gangguan internal atau bahkan bisa sampai taraf penyimpangan. Hal itu sudah mencabut fokus dari sesuatu yang semestinya kita tekuni, hanya karena adanya tuntutan untuk melayani. Ini karena, ungkapan YA itu bisa mengundang konsekuensi dalam bentuk “tyranny of oughts” (tuntutan yang mengharuskan kita) atau menghilangkan self-connectedness (keterkaitan dengan diri) yang dapat melemahkan kekuatan dan kemampuan.





Sesuaikah Dengan Kultur Kita?

Meski secara teori sangat mudah dipahami dan diamini, tapi dalam prakteknya kerap memunculkan pertanyaan. Misalnya, apa bisa itu kita terapkan di kantor? Apa ada atasan atau organisasi yang mau mendengarkan kata TIDAK dari kita? Apa bisa itu kita terapkan pada orang yang tingkat hubungannya dengan kita sudah memasuki level intimasi personal (semacam sahabat karib, teman dekat, mitra yang sudah seperti saudara, dll) dan apakah kejujuran selalu harus di nomerduakan.



Seorang kenalan saya yang sudah merasakan betapa slogan di atas tak bisa dipraktekkan sembarangan di kantor langsung menyimpulkan bahwa ”Don’t say YES if you want to say NO” itu adalah budaya Barat yang tidak bisa begitu saja di praktekkan di Timur. Teman saya ini membeberkan sejumlah contoh. Misalnya, kata You di Barat itu digunakan juga untuk seorang anak kepada ayahnya. Coba kalau itu diterapkan di Timur, apa kata orang?



Dipikir-pikir, kenalan saya ini ada benarnya juga. Terlalu frontal berterus terang dengan kata TIDAK di tempat kerja atau dalam hubungan pertemanan bisa mengundang pelabelan eksplisit atau implisit yang dapat berdampak kurang sehat pada hubungan kita. Ini misalnya antara lain:



Pertama, kita akan dicap sebagai orang yang resistant (keras kepala / maunya sendiri / sulit didekati). Tempat kerja membutuhkan orang yang fleksibel dan supportive terhadap perubahan agar bisa berperan optimal. Kalau kita resisten dengan sikap yang serba-TIDAK, tentu akan ada dampak tersendiri. Lebih-lebih itu kita nyatakan tanpa memandang orang dan kebutuhan.



Ki Hajar Dewantoro menawarkan panduan yang fleksibel dan supportive yang bisa di terapkan dalam kehidupan, baik di tempat kerja maupun di lingkungan keluarga. Apa panduannya? Ki Hajar merumuskan, kalau kita depan, kita harus menjadi contoh / teladan. Kalau kita di tengah, kita harus menjadi orang yang memunculkan inisiatif-inisiatif positif. Tapi kalau kita di belakang, kita harus menjadi orang yang menyemangati. Jadi, di kultur Indonesia, mengatakan TIDAK juga butuh kebijaksanaan, kedewasaan serta kepekaan roso; tahu kapan, dimana, bagaimana mengatakan TIDAK dan apa implikasinya. Sebaliknya, TIDAK yang dinyatakan membabi buta, justru mencerminkan ketidakmatangan pribadi kita.



Kedua, kita akan dicap sebagai orang yang konfrontatif (tidak bersahabat, atau sulit diajak kerjasama). Cap ini mungkin akan menjadi ganjalan bagi karier kita. Kenapa? Dalam prakteknya, tempat kerja itu tak hanya butuh kompetensi kita semata. Selain kompetensi, mereka juga membutuhkan semangat kooperasi atau teamwork. Ini pasti tak hanya butuh YA dan TIDAK secara hitam putih. Tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, atau menolak informasi yang bertentangan dengan pengalaman kita, bisa jadi berbahaya karena bisa berarti kita menutup pintu perubahan buat diri sendiri. Banyak orang jadi radikal karena begitu yakin dan percaya diri bahwa YA atau TIDAK miliknya, sudah di dasari oleh logika yang dilandasi nilai universal.



Teamwork sangat dinamis. Adakalanya butuh kooperasi, butuh konsensus, butuh konsesi, dan butuh kompromi. Bahkan dalam transaksi bisnis pun leluhur kita melarang secara gegabah mengatakan TIDAK terhadap transaksi yang tidak menguntungkan. Adakalanya kita hanya untung di relasi meskipun kita tidak untung di transaksi, untung ing konco meski tak untung ing bondo.



Ketiga, sudah banyak cerita dari kisah nyata betapa sikap saklek mempersulit karir. Apalagi, jika kita masuk dalam organisasi yang iklim politiknya sangat kental. Meski dunia kerja itu dikenal sangat mendewakan kompetensi, tapi dalam prakteknya di beberapa hal, tak sedikit keputusan yang dilandasi oleh kalkulasi personal yang bukan lagi kompetensi.



Jika sudah bicara kalkulasi personal ini, maka rumus yang akan dipakai secara alam bawah sadar adalah: orang akan lebih cenderung melibatkan orang lain yang menurut pengetahuannya lebih loyal, lebih mendukung, atau lebih siap untuk mengatakan YA. Kalau kita terlalu sering mengatakan TIDAK secara sembarangan, bisa-bisa akan membahayakan karier kita. Sebaliknya, mengatakan YA tapi sebenarnya TIDAK, tidak bisa dianggap sebagai pengejawantahan pepatah jawa, ”wani ngalah luhur wekasane”, yang artinya, berani mengalah mulia budi pekertinya, mulia di kemudian hari.



Lebih Pada Keahlian

Ternyata, untuk bisa mengatakan TIDAK yang baik itu bukan soal kita produk budaya Barat atau Timur, suku Jawa, Sunda atau Sumatra, tetapi lebih karena keahlian. Karena itu, dalam literaturnya, kata TIDAK itu dibedakan menjadi berbagai macam, antara lain:



Kata TIDAK yang asertif. Ini adalah kata TIDAK yang kita ucapkan dengan bahasa / ungkapan yang tidak menganggu hubungan, dengan cara yang baik (sesuai kultur / ma’ruuf), dan didukung dengan alasan yang kuat. Alasan ini mungkin berupa pertimbangan pribadi, kebaikan atau kemaslahatan. Kata TIDAK yang asertif ini bisa saja tidak harus ternyatakan dalam kalimat secara vulgar, tergantung dengan siapa kita berbicara.



Kata TIDAK yang asertif inilah yang merupakan produk dari keahlian sehingga dinilai paling baik. Keahlian di sini merujuk pada pengertian bahwa tidak ada orangtua, suku, atau bangsa yang mampu melahirkan bayi dengan bawaan langsung asertif secara otomatik. Orang menjadi asertif karena belajar, entah dengan belajar dari buku, belajar dari kesalahan, atau belajar dengan melihat orang lain.



Kata TIDAK yang agresif-egoistik. Kata TIDAK seperti ini terlontarkan secara agresif (menyerang, menyalahkan, atau menguasai) dan itu dilandasi motif untuk memenangkan kepentingan pribadi yang egois, tanpa mempertimbangkan suasana batin orang lain. Kata TIDAK seperti ini tidak seluruhnya jelek. Dalam beberapa hal tertentu dan terhadap orang tertentu, terkadang ini dibutuhkan. Cuma, secara umum, kata TIDAK seperti ini kurang cocok digunakan untuk / terhadap orang yang punya kedekatan tertentu dengan kita, entah itu kedekatan personal atau profesional, lebih-lebih kedekatan istimewa.



Ada juga yang disebut kata TIDAK yang pasif-manipulatif. Kata ini mungkin kita ucapkan dengan kata TIDAK atau YA, tetapi tujuan kita mungkin hanya untuk memanipulasi, atau terungkapkan dengan cara yang politis dan manipulatif. Secara umum, lebih-lebih kepada orang yang punya kedekatan tertentu dengan kita, YA atau TIDAK yang manipulatif dan politis itu jelas tidak baik untuk hubungan jangka panjang. Cepat atau lambat, pertentangan di batin akan muncul dalam sikap; ketidaksinkronan antara hati – pikiran menyebabkan ketidaksinkronan antara apa yang diucapkan dengan tindakan.



Mengasah Keahlian

Dengan kata lain, kesesuaian slogan komunikasi itu bukan tergantung pada kebenaran slogannya. Kenapa? Kalau soal kebenarannya sudah tak perlu diperdebatkan lagi. Cuma, supaya kebenaran itu membawa kebaikan dan kemaslahatan saat dipraktekkan, maka dibutuhkanlah keahlian. Beberapa proses yang penting untuk mengasah keahlian itu antara lain:



Pertama, kita perlu belajar melihat konteks dan kepentingan. Hubungan kita dengan orang lain, lebih-lebih di tempat kerja, tak akan cukup diakomodasi oleh YA dan TIDAK. Ada kalanya kita harus mengatakan YA (padahal mestinya TIDAK), tapi itu untuk kebaikan jangan panjang. Adakalanya kita harus mengatakan TIDAK (padahal mestinya YA), tapi itu untuk kemaslahatan yang lebih besar. Intinya, kita perlu belajar melihat konteks dan kemaslahatannya, tidak main asal TIDAK atau asal YA.



Kedua, kita perlu belajar menggunakan cara-cara mengungkapkan isi hati menurut orang yang kita ajak bicara. Di sini, kemampuan empati sangat penting untuk bisa menakar situasi. Secara umum, ada beberapa petunjuk yang bisa kita pilih untuk mengungkapkan isi hati itu:


Ungkapan yang jelas YA dan TIDAK-nya. Biasanya ini pas untuk orang yang lebih yunior dari kita
Ungkapan yang lemah lembut, baik itu YA atau TIDAK. Biasanya ini pas untuk atasan atau senior, lebih berkuasa
Ungkapan yang mudah dimengerti antara YA dan TIDAK-nya. Biasanya ini untuk orang yang menurut kita awam tentang urusan yang kita bicarakan.
Ungkapan dengan sikap menghargai, baik YA atau TIDAK-nya. Biasanya ini untuk orang yang lebih tua, secara pengalaman atau usia
Ungkapan yang tegas, antara YA dan TIDAK-nya. Biasanya ini cocok untuk transaksi jangka pendek dengan orang yang kepentingannya dengan kita sekedar transaksi.
Ungkapan yang baik, antara YA dan TIDAK-nya. Biasanya ini pas untuk orang yang sedang susah dan sangat berharap bantuan dari kita.



Ketiga, kita perlu belajar menggunakan ”Ilmu Titen” (observasi dan menyimpulkan) dari efek kata YA dan TIDAK terhadap orang lain. Nenek moyang kita dulu mengetahui watak alam bukan dari teori, tetapi dari mengamatinya secara intensif dan intim. Cara belajar seperti inipun perlu kita terapkan untuk melatih keahlian dalam mengatakan TIDAK yang baik dengan meniteni pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain.



Tapi, hasil Ilmu Titen itu jangan sampai kita pedomani sebagai kebenaran mutlak yang sudah final. Ini malah bisa membatasi diri dengan pengalaman pribadi. Jadikan hasilnya itu sebagai petunjuk yang mengandung sebagian kebenaran saja, namun tetap membuka diri terhadap pengalaman dan perubahan baru. Ini agar kita tetap waspada dan juga tetap dinamis.



”Belajarlah menjadi kuat tetapi jangan keras. Belajarlah menjadi baik

tetapi jangan lemah. Belajarlah menjadi tegas tetapi jangan menggunakan gertakan.

Belajarlah menjadi rendah hati tetapi jangan jadi penakut.

Belajarlah menjadi percaya-diri, tetapi jangan sombong.”

(Jim Rohn)



Memahami Batasan

Jadi jelas bahwa slogan di atas tak bisa kita praktekkan secara sembarangan kalau tidak ingin hasil yang sembarangan. Perlu memperhatikan konteks kultur, suasana batin orang, dan keadaan, atau tetap butuh batasan. Leluhur kita mengajari batasan itu dengan ungkapan yang sangat bagus: ”Begitu ya begitu, tapi jangan begitu”.


”Silahkan Anda mengatakan YA atau TIDAK menurut Anda dan demi kepentingan Anda, tapi jangan terlalu / selalu menurut Anda”, kira-kira begitu kalau dijabarkan. Mengetahui batasan inilah yang merupakan kebijaksanaan paling tinggi. Semua orang akan bisa belajar mengetahui batasan itu asalkan bisa mengontrol musuhnya, yaitu: AMBISI pribadi yang berlebihan, IRI DENGKI yang salah, dan AMARAH yang tak terkontrol. Semoga bermanfaat