Kamis, 16 Juni 2011

IMAN KEPADA ALLAH SWT

A. Sifat-Sifat Allah SWT
1. Allah Bersifat Wujud (Ada), Mustahil Adam (Tidak Ada)
Allah SWT bersifat wujud atau ada, lawannya tidak ada (Adam). Adanya Allah SWT dapat dibuktikan dengan akal, yaitu dengan melihat dan memikirkan semua yang ada atau yang terjadi di alam semesta ini. bila kita perhatikan kejadian dan kerja dari organ-organ tubuh manusia, maka pasti terpikir bahwa semua itu pasti ada yang mengatur atau menjadikannya. Demikian pula halnya dengan alam semesta ini. Kiranya tidak dapat diterima oleh akal bila alam ini menjadikan dirinya sendiri. Jika tadinya alam itu belum ada, kemudian menjadikan dirinya sendiri, maka akal sehat tidak dapat menerima bila sesuatu yang belum ada akan dapat membuat atau menjadikan sesuatu.
Kiranya tidak dapat diterima oleh akal, apabila benda tersebut terjadi sendirinya tanpa ada yang mengadakan atau menjadikan sebagaimana tidak mungkin bahwa sesuatu itu tidak ada yang membuatnya. Demikian juga dengan keteraturan alam, adanya pergeseran siang dan malam secara teratur, keteraturan peredaran matahari pada sumbunya, keteraturan peredaran planet-planet, adanya hukum-hukum alam, semuanya menunjukan adanya dan yang mengatur itu adalah Allah SWT.
Firman Allah SWT:

ذلِكُمْ اللهُ رَبُّكُمْ لاَإِلهَ إِلاَّ هُوَ خُالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ (الأنعام: 102)
Artinya: (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan adalah pemeliharan segala sesuatu (Al An’am: 102)

2. Allah Bersifat Qidam (Dahulu), Mustahil Khudus (Didahului)
Allah SWT bersifat Qidam atau dahulu. Lawannya bersifat baru atau ada yang mendahului. Hal ini dapat dilihat dengan contoh yang sederhana, yaitu rumah, rumah dibuat oleh manusia. Adanya rumah itu setelah adanya manusia (tukang). Dengan kata lain tukang lebih dahulu ada dari rumah yang dibuatnya.
Oleh karena itu Allah SWT yang menciptakan alam dengan segala isinya ini telah lebih dahulu ada dari alam yang diciptakan-Nya, adanya Allah SWT tidak berpermulaan dan tidak berpengakhiran.
Allah SWT adalah Maha Azali, yaitu sudah ada sebelum adanya sesuatu apapun selain dari Dia, dan akan terus ada.
Allah SWT berfirman:

هُوَاْلأَوَّلُ وَاْلأَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَاْلبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ (الحديد: 3)
Artinya: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Al Hadid: 3)

3. Allah Bersifat Baqo (Kekal) Mustahil Fana (Binasa)
Allah SWT adalah khaliq (Pencipta) dan alam adalah makhluk (yang diciptakan). Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu mempunyai sifat Baqo, yaitu kekal selama-lamanya. Semua yang ada di dalam ini dapat rusak, binasa, mati, dan musnah, akan tetapi firman Allah SWT tetap, tanpa mengalami perubahan.
Firman Allah SWT:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَافَانٍ (26) وَّيَبْقى وَجَْهُ رَبِّكَ ذُواْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ (27) (الرحمن: 26-27)
Artinya: (26) Semua yang ada di bumi itu akan binasa (27) dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-rahman: 26-27)


4. Allah Bersifat Mukhalawatul Lil Hawaditsi (Berbeda Dari Semua Makhluk), Mustahil Mumasalatsu Lil Hawaditsi (Ada Yang Menyamai-Nya)
Allah SWT berbeda sifat-Nya dengan makhluk. Hal ini mudah dipahami karena Allah adalah Pencipta semesta alam, sehingga mustahil Pencipta sama dengan yang diciptakan.
Firman Allah SWT:

لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلبَصِيْرُ (السورى: 11)
Artinya: …… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan dia dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (Asy Syura: 11)

5. Allah Bersifat Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), Mustahil Qiyamuhu Lighairih (Bergantung Pada Sesuatu)
Allah bersifat berdiri sendiri, lawannya berdiri dengan bantuan atau tergantung pada yang lain.
Telah diketahui bahwa Allah adalah pencipta alam dengan segala isinya. Ini berarti bahwa dalam penciptaan alam tersebut tidak ada yang membantunya. Allah lah yang menjadikan sesuatu. Memang tidak ada sesuatupun yang dapat membantu Allah, tidak ada sesuatu makhluk yang dapat menolong Allah sebab Allah Maha Kuasa dan Maha Perkasa, sedang segala sesuatu selain Allah, adalah makhluk yang lemah dan mustahil menolong pencipta Nya.
Firman Allah SWT:

....وَلاَيَئُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ اْلعَلِيُّ اْلعَظِيْمُ (البقرة: 255)
Artinya: Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar (Al Baqarah: 255)

6. Allah Bersifat Wahdaniat (Esa), Mustahil ‘Adadun (Berbilang)
Agama Islam mengajarkan bahwa Allah SWT itu Esa, lawannya terbilang yaitu lebih dari satu, baik Dzat-Nya, sifat-Nya maupun perbuatan-Nya.
Esa dalam Dzat-Nya ialah bahwa Dzat atau substansi Allah itu tidak tersusun dari beberapa bagian, tidak terdiri atas beberapa unsur atau elemen dan tidak dapat dibagi atau diukur.
Allah SWT adalah Dzat yang Mutlak, tidak dapat disamakan dengan apapun, tidak mungkin di lihat dengan mata, tidak dapat diraba dengan tangan, tidak dapat diketahui dengan pancaindera manusia, juga tidak dapat diukur dengan alat apapun juga, karena Dia lain sekali dengan apapun yang ada.
Firman Allah SWT:

قُلْ هُوَاللهُ أَحَدٌ (1) اَللهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًأَحَدٌ (4)
(الاخلاص: 1-4)
Artinya
1. Katakanlah; Dialah Allah, Yang Maha Esa
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.
(Al-Ikhlas: 1-4)

7. Allah Bersifat Qudrat (Maha Kuasa), Mustahil ‘Ajzun (Lemah Atau Tidak Berkuasa)
Allah SWT, bersifat maha kuasa, lawannya lemah, terbatas tidak berkuasa. Qudrat artinya kekuasaan yang penuh dan mutlak. Allah Maha Kuasa artinya hanya Allah saja yang berkuasa. Sedang selain Allah, sebenarnya tidak mempunyai kekuasaan apa-apa.
Kekuasaan Allah tidak hanya dalam hal membuat dan menghidupkan saja, melainkan juga berkuasa meniadakan atau menghilangkan (mematikan). Dalam melaksanakan kekuasaan-Nya itu tidak ada satupun yang dapat memaksa melarang atau menghalangi. Allah Maha Kuasa, tidak lemah sedikitpun dalam melaksanakan sesuatu.
Firman Allah SWT:

.... إِنَّكَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (ال عمران: 26)
Artinya: .. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu (Ali Imran: 26)

8. Allah Bersifat Irradiate (Bekehendak), Mustahil Karahah (Terpaksa)
Sifat berkehendak, lawannya adalah terpaksa. Artinya bahwa Allah dalam menjadikan sesuatu adalah menurut rencana dan kehendak-Nya.
Sifat Qudrat sangat erat hubungannya dengan sifat Iradat. Segala yang telah dan akan dijadikan oleh Allah adalah karena kehendak (Iradat) Allah sendiri. Tidak ada yang mencampuri atau yang mempengaruhi-Nya.
Sesuatu yang dikehendaki cukup hanya berfirman maka terjadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya itu
Allah SWT berfirman:

إِنَّمَاأَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْأً أَنْ يَّقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ (يس: 86)
Artinya: Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “Jadilah!” maka terjadilah ia (Yasin: 82)

9. Allah Bersifat Ilmu (Maha Mengetahui), Mustahil Jahlun (Tidak Tahu Atau Bodoh)
Allah bersifat Maha Mengetahui, lawannya tidak tahu. Ilmu Allah tidak ada batasnya, karena Allah yang menjadikan alam semesta ini, sehingga Allah mengetahui segala sesuatu, baik nyata maupun yang tidak nyata.
Allah Maha berilmu dan sumber ilmu. Sedangkan manusia hanya diberi sedikit ilmu oleh Allah sebagaimana Firman-Nya dalam Al-Qur'an:

وَمَآأُوْتِيْتُمْ مِّنَ اْلعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً (الاسراء: 85)
Artinya: ….Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (Al Isra: 85).

10. Allah Bersifat Hayyun (Hidup), Mustahil Mautun (Mati)
Allah SWT bersifat hayat atau hidup, lawannya mati atau maut. Kehidupan Allah adalah sempurna dalam arti Dia hidup untuk selama-lamanya (hidup yang sempurna), tidak seperti hidupnya manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, serta benda lain yang mengalami kebinasaan. Hidup yang menjadi sifat Allah tidak sama dengan semua makhluk. Allah Maha Hidup dalam hidup yang sempurna. Dia tidak mati dan tak akan mati selamanya. Dia kekal, kalau Ia mati atau hidup, tentu tidak akan ada makhluk hidup.
Firman Allah SWT:

وَتَوَكَّلْ عَلَى اْلحَيِّ الَّذِيْ لاَيَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفى بِه بِذُنُوْبِ عِبَادِه خَبِيْرًا (الفرقان: 58)
Artinya: Dan bertakwalah kepada Allah, Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya can cukuplah dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (Al Furqon: 58)

11. Allah Bersifat Sama’ (Mendengar), Mustahil Asham (Tuli)
Allah SWT bersifat Mendengar (Sama’), lawannya tuli. Mendengar Allah tidak sama dengan mendengar manusia. Pendengaran manusia dapat mengalami gangguan, seperti menjadi tuli dan tidak dapat mendengar. Ketajaman pendengaran manusia terbatas dan tidak sama dengan satu dengan yang lainnya.
Allah Mendengar dan Maha Mendengar, tidak ada suara yang tidak didengar oleh Allah. Walaupun manusia ratusan jumlahnya dan semua bersuara dalam waktu yang bersamaan, namun semuanya dapat didengar oleh Allah. Tidak ada kesulitan bagi Allah mendengar semua suara walaupun suara itu sangat lemah. Bahkan suara hati manusia akan didengar oleh Allah. Orang yang beriman kepada Allah niscaya akan merasa senang dan tenang, karena tidak khawatir bahwa do’a atau permohonannya tidak didengar oleh Allah. Allah SWT itu sangat dekat dan Maha Mendengar.
Firman Allah SWT:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرهمُ اْلقَوَاعِدَ مِنَ اْلبَيْتِ وَإِسْمعِيْلُ‘ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ (البقرة :127(
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah berserta Ismail (seraya berdo’a) “Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui” (Al – Baqarah: 127)

12. Allah Bersifat Bashar (Melihat), Mustahil A’ma (Buta)
Allah SWT bersifat Maha Melihat, lawannya buta. Melihat-Nya Allah adalah sempurna terhadap apa yang ada di alam ini.
Firman Allah SWT:

إِنَ الله َ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّموتِ وَاْلأَرْضِ وَاللهُ بَصِيْرٌ بِمَّا تَعْمَلُوْنَ (الحجرات:18)
Artinya: Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Hujurat: 18)

13. Allah Bersifat Kalam (Berfirman), Mustahil Abkam (Bisu)
Allah SWT bersifat kalam, lawannya bisu. Kalam Allah adalah sempurna. Terbukti dalam firman-Nya yang termaktub dalam Al-Qur'an yang sempurna.
Firman Allah atau wahyu Allah adalah sumber ilmu. Perlu diketahui bahwa Kalam Allah tidak sama dengan perkataan manusia. Oleh karena itu tidak ada bahasa manusia yang dapat menggantikan bahasa (Kalam) Allah, karena Kalam Allah itu bersih dari segala kata manusia.
Firman Allah SWT:

.... وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسى تَكْلِيْمًا (النساء: 164)
Artinya: ..Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An-Nisa:164)

B. Asmaul Husna
Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik dan merupakan sifat-sifat Allah SWT. Nama-nama yang baik dan merupakan sifat Allah SWT banyak kita jumpai dalam Al-Qur'an.
Di antara nama – nama Allah SWT yang sekaligus juga merupakan sifat-sifat Allah SWT ialah:

1. Al Adlu (Adil)
Allah SWT adalah Maha Adil terhadap makhluk-Nya, terbukti dalam segala hal, baik yang menyangkut urusan keduniaan maupun urusan akherat.
Sebagai contoh: Dalam segi ibadah, Allah tidak membedakan si kaya dan si miskin, antara pejabat dengan staf dan sebagainya, akan tetapi yang berbeda di sisi Allah SWT, ialah kadar ketaqwaannya.
Allah SWT Berfirman:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآئِ ذِى اْلقُرْبى وَيَنْهى عَنِ اْلفَحْسَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَ كَّرُوْنَ (النحل: 90)
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (An Nahl: 90)

2. Al Ghaffaru (Pengampun)
Al Ghaffaru merupakan sifat Allah SWT yang artinya pengampun. Maghfirah (ampunan) Allah selalu dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang berbuat, serta mengakui salah, baik kecil maupun besar, serta mau bertobat.
Allah Maha pengampun kepada makhluk-Nya, pintu maghfirah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang memohon.
Allah SWT berfirman :

رَبُّ السَّموتِ وَاْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَااْلعَزِيْزُ اْلغَفَّارُ (ص:66)
Artinya: Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya yang Maha perkasa lagi Maha Pengampun (Shad: 66)

3. Al Hakim (Bijaksana)
Di antara sifat Allah SWT adalah Al Hakim yang artinya bijaksana. Kebijaksanaan Allah SWT kepada makhluk-Nya tidak terbatas kepada bentuk ciptaan-Nya saja, akan tetapi mencakup dalam segala hal, selalu bijaksana. Sebagi contoh : Segala yang diperintahkan oleh Allah SWTAllah SWT baik yang menyangkut ibadah maupun muamalah dan sebagainya, tentu mengandung hikmah dan bila dikerjakanakan akan mendapat pahala. Sebaliknya apa-apa yang dilarang tentu ada hikmahnya, dan bila ditinggalkan akan mendapat pahala.
Allah SWTAllah SWT berfirman :

هُوَ الّّذِيْ يُصَوِّرُ كُمْ فِى اْلأَرْحَامِ كَيْفَ يَشّآءُ لآَإِلَهَ إلاَّ هُوَ اْلعَزِيْزُ اْلحَكِيْمُ (ال عمران: 6)
Artinya: Dialah yang memebentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ( Ali Imran: 6)

4. Al Malik (Raja)
Al Malik adalah sifat Allah SWT yang berarti raja. Allah merajai segala apa yang adadi alam ini. Sebagai Raja Dia memiliki sifat kekuasaan dan kesempurnaan, tidak seperti raja di dunia ini yang banyak kekurangannya dan kelemahannya. Kalau Allah sudah memutuskan sesuatu, tak ada satupun yang dapat menolaknya, dan kalau Allah melarang sesuatu, tak ada satupun yang dapat mencegahnya.
Allah SWT berfirman :

فَتَعلىَاللهُ اْلمَلِكُ اْلحَقُّ‘ لآَإِلهَ إِلاَّ هُوَ رِبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ (المؤمنون:116)
Artinya : Maka Maha Tinggi Allah, raja Yang Sebenarnya, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia. (Al Mu’minun: 116)

5. Al Hasiib (Pembuat Perhitungan)
Al Hasiib adalah sifat Allah SWT yang maksudnya Pembuat Perhitungan. Segala sesuatu yang diciptakan Allah tentunya sudah diperhitungkan dengan cermat dan tepat. Balasan yang berlipat ganda akan diberikan Allah kepada orang yang bersyukur dan berbuat baik. Perhitungan Allah selalu tepat baik dalam memberi pahala kepada orang yang berbuat kebajikan maupun memberi siksa kepada orang yang ingkar kepada-Nya. Oleh karena itu sebelum melakukan suatu tindakan, kita harus memperhitungkan baik buruknya secara cermat. Sebab Allah SWT akan menghitung semua amal perbuatan kita di dunia ini.
Allah SWT berfirman :

إِنَ اللهَ كَانَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبَا (النساء: 86)
Artinya : Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu (AnNisa: 86)

Juga Firman Allah SWTAllah SWT :

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَه (7) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرَّايَّرَه (الزلزله: 7-8)
Artinya : (7) Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (8) dan Barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji dzarrah pun, niscaya diaa akan melihat (balasan)nya. (Al Zalzalah: 7-8)

C. Fungsi Iman Kepada Allah SWT
Apabila seseorang telah meyakini adanya Allah SWT dan memfungsikan imannya dalam amal perbuatannya serta menempatkan Allah dan segala perintah-Nya di atas segala-galanya, maka kehidupan manusia itu di dunia ini akan memperoleh pegangan hidup yang kokoh. Ia tidak mudah terjerumus ke dalam kesesatan. Ia juga tidak mudah putus asa. Selanjutnya ia akan memiliki akhlak yang mulia, karena ia selalu berpegang kepada petunjuk Allah yang senantiasa menyuruh berbuat baik.
Orang yang memfungsikan iman kepada Allah SWT dalam hidupnya, akan memiliki sikap dan kepribadian sebagai berikut :
1. Menyadari kelemahan dirinya di hadapan Allah Yang Maha Besar, sehingga ia tidak mau berbuat dab bersikap sombong atau takanur serta menghina orang lain.
2. Menyadari bahwa segala yang ia nikmati dalam kehidupan ini berasal dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hal ini menyebabkan ia akan menjadi orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah. Ia memanfaatkan segala nikmat Allah sesuai dengan kehendak-Nya.
3. Menyadari bahwa dirnya pasti akan mati dan dimintai pertanggung jawaban tentang segala amal perbuatan yang dilakukan. Hal ini menyebabkan ia senantiasa berhati-hati dalam menempuh liku-liku kehidupan di dunia yang fana ini.
4. Merasa bahwa dirinya selalu dilihat oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Ia merasa bahwa pada waktu ia melakukan perbuatan yang buruk, Allah mengetahuinya. Kemudian ia berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk, karena dalam dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari bahwa sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya namun Allah Maha Melihatnya.
Dalam suatu riwayat pernah diterangkan, bahwa pada suatu hari khalifah Umar Ibnu Khattab menjumpai seorang anak penggembala kambing. Lalu Khalifah menggodanya. Umar meminta kepada anak gembala itu agar mau menjual seekor kambing kepadanya, berapa saja yang diminta oleh anak itu. Namun anak itu berkata : “kambing itu bukan milikku melainkan milik majikanku”. Lalu Khalifah Umar berkata lagi : “Bukankah majikanmu tidak ada di sini “. Jawab anak gembala tersebut, “ Memang benar majikanku tidak ada di sini dan ia tidak mengetahuinya, namun Allah Maha Mengetahui. Mendengar jawaban anak itu Umar tertegun, karena merasa kagum, atas kualitas keimanan anak itu. Yakni Allah SWT Maha Hadir dan selalu memperhatikan dirinya, sehingga ia tidak berani berbuat keburukan, walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya.
5. Sadar dan segera bertaubat apabila pada suatu ketika karena kekhilafan ia berbuat dosa. Ia segera akan memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahat yang dilakukannya itu, sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an.
Allah SWT berfirman :

وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوْآأَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْالِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوْاعَلى مَافَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ (ال عمران: 135)
Artinya : Dan (Juga) orang0orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui. (Ali Imran: 135)

Akhirnya dapatlah disimpulkan bahwa fungsi iman kepada Allah SWT akan menumbuhkan sikap akhlak mulia pada diri seseorang. Ia akan selalu berkata benar, jujur tidak sombong, dan merasa dirinya lemah di hadapan Allah serta tidak berani melanggar larangan Allah, karena ia mempunyai iman yang kokoh.
Dengan demikian maka iman memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, yakni sebagai alat yang paling ampuh buat membentengi diri dari segala pengaruh dan bujukan yang menyesatkan. Selanjutnya iman juga sebagai pendorong seseorang untuk melakukan segala perbuatan yang shaleh. Perbuatan yang shaleh tidak akan timbul tanpa ada dasar iman. Kalau iman dan amal shaleh ini talah menjadi satu, tertanam dalam dirinya bahagialah hidupnya baik di dunia maupun di akherat. Allah SWT berfirman :

إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ (2) إِلاَّ الَّذِيْنَ أمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّلِحَتِ (العصر: 2-3)
Artinya: (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ……… (Al Ashr: 2-3)

Dalam ayat lain diterangkan bahwa Allah SWT, akan memberi pahala berupa syurga kepada orang-orang yang beriman.

إِنُّ اللهَ اَشْتَرَى مِنَ اْلمُؤْ مِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَمنَّةَ .... (التوبة: 111)
Artinya : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang muknim, diri dan harta mereka dengan memberi syurga untuk mereka …. (At-Taubah: 111)

Rangkuman
1. Beriman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama, karena iman kepada Allah adalah yang paling pokok dan mendasari seluruh ajaran Islam yang lainnya.
2. Iman kepada Allah berarti percaya dengan yakin bahwa Allah itu Ada, Kuasa, tidak menyerupai sesuatu, Qidam (adanya tidak didahului oleh sesuatu), Kekal, berdiri Sendiri, Esa, dan seterusnya bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan tidak bersifat dengan segala sifat kekurangan.
3. Untuk mengimani dan mengenal Allah secara benar, telah dijelaskan oleh Allah sendiri dalam firman-Nya yang tercantum dalam Al Qur’an. Demikian pula telah diperkuat dengan bukti-bukti nyata tentang adanya Allah itu melalui jalan memperhatikan ciptaan-Nya yakni alam jagat raya beserta segala isinya.
4. Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik dan merupakan sifat Allah yang banyak kita jumpai dalam Al Qur’an. Karena Allah tidak nampak oleh manusia, maka untuk sekedar mendapat pengertian tentang Allah diberitahukanlah sifat-sifat Allah SWT kepada manusia melalui Al Qur’an.
5. Apabila seseorang telah memfungsikan imannya dalam amal perbuatan serta menempatkan Allah dan semua perintah-Nya di atas segala-galanya, maka kehidupan manusia di dunia akan memperoleh pegangan yang kokoh.
6. Mengesakan Allah pada hakekatnya merupakan kebutuhan manusia di dalam menjalani hidupnya di dunia ini, baik secara pribadi maupun dalam hubungannya dengan manusia yang lain dan lingkungannya.

IMAN KEPADA MALAIKAT

A. FUNGSI IMAN KEPADA MALAIKAT
Iman kepada malaikat adalah percaya dan yakin bahwa Allah SWT telah menciptakan malaikat yang diberi tugas melakukan perintah-Nya mengurus alam semesta seperti mengatur hujan, mencabut nyawa, mencatat segala perbuatan manusia. Malaikat sangat patuh dan taat dalam melaksanakan tugasnya. Firman Allah SWT:

لاَيَعْصُوْنَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُؤْمَرُوْنَ.

Artinya : (Malaikat-malaikat) yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang telah diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkannya (At Tahrim: 6)

Beriman kepada malaikat adalah salah satu iman kepada yang ghaib dan menjadi satu ciri orang yang bertaqwa.
Firman Allah SWT:

ذلِكَ اْلكِتبُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلمُتَّقِيْنَ (2) الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ وَمِمَارَزَقْنَهُمْ يُنْفِقُوْنَ (3).

Artinya: Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertawqa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagaian rizkinya yang kami anugrahkan kepada mereka. (Al-Baqarah: 2-3)

Dalam ayat tersebut terdapat kata-kata “ghaib” yaitu segala sesuatu yang diyakini adanya, tidak kelihatan oleh mata kepala dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindera lainnya. Malaikat tersebut salah satu dari perkara gaib.
Beriman kepada malaikat dapat meningkatkan nilai manusia yakni meningkatnya pengetahuan indrawinya kepada pengetahuan yang berada di belakang benda atau materi yang disebut dengan pengetahuan metafisika. Dengan pengetahuan metafisika, manusia dapat menampakan kemanusiaanya dengan segala kelebihannya. Manusia dapat memenuhi ketentuan nalurinya yang selalu ingin mengetahui hal-hal yang tidak terjangkau oleh pancainderanya. Jika keinginan itu tidak terpenuhi maka akan terjerumus ke dalam cerita-cerita khurafat dan tahayul, yang pada akhirnya akan diliputi oleh rasa takut yang tidak beralasan, dan untuk menghilangkannya mereka menyediakan sesajian, antara lain melalui upacara “menanam kepala kerbau” yang diyakini dapat menyelamatkan manusia. Oleh karena itu dengan mengimani adanya malaikat dan hal-hal gaib lainnya yang diterangkan dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi akan dibebaskan jiwa manusia dari rasa takut yang tak beralasan, khurafat dan tahayul.
Di samping itu beriman kepada malaikat dan sifat-sifatnya akan memberi manfaat yang besar dalam hidup dan kehidupan manusia yang penuh dengan berbagai macam persoalan. Orang Islam akan selalu optimis dan tidak akan ragu-ragu dan gentar dalam mengahadapi setiap masalah, baik ketika seorang diri maupun dalam keadaan bersam-sama, karena beriman kepada Allah dan pembantu-pembantu-Nya (malaikat) yang selalu memberikan pertolongan dan bantuan atas izin Allah SWT.
Firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوَاتَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَنْ لاَّتَخَافُوْاوَلاَتَحْزَنُوْاوَأَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ.(فصّلت:3).

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menyatakan: Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendidiran mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan begembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushilat, 30)

Firman Allah SWT:
لَهُ مُعَقِّبتٌ مِّنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ ...

Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar Ra’d, 11)

Selain itu dengan iman kepada malaikat akan menjadikan manusia lebih berhati-hati dalam tindak tanduknya selama di dunia karena mereka yakin ada malaikat yang mencatat dan memeriksa amal perbuatannya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di alam kubur. Allah SWT berfirman:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحفِظِيْنَ (10) كِرَامًا كَاتِبِيْنَ (11) يَعْلَمُوْنَ مَاتَفْعَلُوْنَ (12) إِنَّ اْلأَبْرَارَ لَفِى نَعِيْمٍ (13) وَإِنَّ اْلفُجَّارَ لَفِى جَحِيْمٍ (14).

Artinya: Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaan itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (Al Infithar 10-14)


Sabda Nabi SAW:

قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اْلعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ وَأَنَّهُ يَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ, أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ لَهُ: مَاكُنْتَ تَقُوْلُ فِىهذَاارلرَّجُلِ لِمُحَمَّدِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ, فَيُقَلُ لَهُ: اُنْظُرْإِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ. قَدْ أَبْدَ لَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ اْلجَنَّةِ فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا. (متفقو عليه عن أنس)

Artinya: Nabi bersabda sesungguhnya seorang hamba (yang meninggal) apabila telah diletakan di dalam kubur dan para pengantarnya telah pulang, sesungguhnya ia mendengar bunyi sandal mereka, kemudian datanglah kepadanya dua orang malaikat dan mendudukannya kemudian keduanya bertanya kepadanya (yang meninggal) “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini (Muhammad)”? Sesungguhnya orang mukmin akan menjawab “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasulNya” kemudian dikatakan kepadanya lihat tempatmu di neraka, sesungguhnya Allah telah menggantikan buat kamu tempat di surga. Maka ia melihat keduanya (surga dan neraka). (Muttafaq alaihi dari Anas)



Dalam Hadits lain disebutkan:

يَدْخُلُ مُنْكَرٌ وَنَكِيْرٌ عَلَى الْمَيِّتِ فِى قَبْرِهِ فَيُقْعِدَانِهِ ... (رواه الد يلمى عن انس).

Artinya: Munkar dan Nakir masuk menemui orang mati di dalam kuburnya, keduanya mendudukannya (H.R Dailami dari Anas)

Dari uraian di atas dapat dipastikan bahwa iman kepada malaikat mempunyai pengaruh positif dan manfaat besar bagi kehidupan seseorang antara lain:
1. Dapat mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan –perbuatan baik dan mencegah perbuatan-perbuatan buruk.
2. Bersikap hati-hati dalam tingkah lakunya, karena merasa ada yang selalu mengawasinya dan mencatat segala perbuatannya
3. Merasa aman dan tentram hatinya serta optimis dalam hidupnya, karena ia yakin ada malaikat yang mau menolong dan membantunya.

B. KEDUDUKAN MANUSIA DAN MALAIKAT
1. Kedudukan manusia dan malaikat di sisi Allah
Manusia adalah mahluk yang paling mulia di muka bumi ini. alam raya beserta isinya diserahkan kepada manusia untuk diolah dan dimanfaatkan bagi kehidupannya.
Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِى جَعَلَكُمْ خَلئِفَ اْلأَرْضِ قلى فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ...

Artinya: Dialah yang telah menjadikan kamu menjadi khalifah-khalifah di muka bumi, barang siapa yang kafir maka akibatnya akan menimpa dirinya … (Fathir, 39)

Untuk melaksanakan tugas tersebut, manusia telah dilengkapi hawa nafsu dan akal. Tanpa hawa nafsu tidak akan memiliki gairah dalam dinamika hidup. Tanpa akal tidak akan terkendali. Akan tetapi semata-mata akal manusia tidak akan mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan baik. Akal kemampuannya terbatas. Sering terjadi hasil temuan pancaindera yang telah dipertimbangkan oleh akal dikalahkan oleh hawa nafsu sehingga yang terjadi adalah perbuatan buruk. Oleh karena itu dengan kasih sayang-Nya Allah SWT mengutus para Rasul kepada seluruh manusia. Tugas para Rasul adalah memberikan bimbingan, tuntunan kepada perbuatan yang baik dan telah digariskan oleh Allah, dan memberi peringatan kepada manusia agar menjauhi perbuatan buruk.
Dalam memberikan bimbingan dan tuntunannya, Rasulullah SAW antara lain menginformasikan bahwa ada makhluk Allah yang sifatnya ghaib bertugas mengawasi semua tindak tanduk perbuatan manusia, yaitu malaikat;
Firman Allah SWT:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَفِظِيْنَ .

Artinya: Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat( yang mengawasi (pekerjaanmu) (Al Infithar 10).

Dalam uraian di atas nampak jelas keterkaitan antara manusia dan malaikat dalam kedudukan dan tugasnya, yaitu manusia sebagai hamba Allah yang bertugas antara lain mengawasi semua perbuatan manusia. Jadi kedudukan manusia di sisi Allah adalah hamba Allah yang bertugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi, yang memakmurkan bumi dengan sebaik-baiknya berdasarkan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Sedangkan malaikat adalah hamba Allah yang bertugas antara lain sebagai pengawas terhadap tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

2. Perbedaan manusia dengan malaikat
Perbedaan manusia dengan malaikat antara lain sebagai berikut:
a. Berbeda dalam asal kejadiannya
Di dalam Al-Qur'an diterangkan dengan jelas asal terjadi manusia yaitu dari tanah liat, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Hijr ayat 26.

وَلَقَدْ خَلَقْنَاالإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُوْنٍ.

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Mengenai malaikat. Al-Qur'an tidak menjelaskan asal terjadinya, tetapi menerangkan bahwa malaikat itu dijadikan dari cahaya sebagaimana sabdanya:

خُلِقَتِ اْلمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْ رٍ وَ خَلَقَ اْلجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّاوُصِفَ لَكُمْ.

Artinya: Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin dari nyala api, dan Adam dari apa yang telah diterangkan padamu semua (dari tanah). (H.R Muslim dari Aisyah)

b. Berbeda dalam sifat-sifatnya, antara lain malaikat itu makhluk gaib, bukan laki-laki, dan bukan perempuan, bukan banci. Mereka tidak makan, tidak minum, dan tidak menikah atau dinikahi, serta tidak beranak, tidak tidur dan tidak pula ditulis amal perbuatannya, karena mereka bertugas mencatat amal perbuatan manusia, mereka tidak dihisab, bahkan mereka petugas hisab. Mereka tidak ditimbang amal perbuatannya, bahkan tidak pernah berbuat salah atau dosa dan tidak pernah durhaka menentang perintah Allah, sedangkan manusia pada umumnya mempunyai sifat kebalikan dari sifat-sifat malaikat tersebut di atas.

C. Rangkuman
Iman kepada malaikat adalah mengimani bahwa Allah SWT telah menciptakan malaikat dari cahaya, sebagai makhluk gaib, yang tidak pernah mendurhakai Allah dan selalu patuh mengerjakan apa yang diperintahkannya.
Malaikat-malaikat itu diberi tugas oleh Allah SWT antara lain mengawasi perbuatan manusia, mencatat amal perbuatan manusia, mencabut nyawa manusia, menanya manusia di alam kubur, menyampaikan wahyu, menjaga neraka, surga dan lain-lain.
Kedudukan manusia dan malaikat di sisi Allah yakin manusia makhluk Allah yang diciptakan dari tanah, dalam sebaik-baik bentuk dan kejadian, sebagai khalifah di muka bumi, ada yang taat dan ada yang ingkar kepada Allah.
Malaikat makhluk Allah yang selalu taat kepada Allah yang diberi tugas antara lain mengawasi perbuatan manusia.


IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

A. Kedudukan Kitab-Kitab Allah SWT
Seseorang yang berjalan dijalan raya dan ingin selamat sampai di tujuan’ harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku dijalan raya. Adanya rambu-rambu lalu lintas dijalan raya merupakan petunjuk bagi orang yang akan menggunakan jalan raya tersebut. Jika orang mengikuti petunjuk itu, lnsya Allah dia akan selamat dalam perjalanan dan selamat sampai ke tujuan. Sebaliknya jika tidak menuruti aturan yang terdapat di jalan raya itu, maka dia akan mengalami kesulitan bahkan mungkin akan celaka.
Demikian jika ingin selamat dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka manusia wajib mengikuti dan mematuhi aturan dan petunjuk Allah SWT yang telah dituangkan dalam kitab suci-Nya.
Dengan demikian jelas bagi kita bahwa kedudukan kitab-kitab Allah itu adalah sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia sebagaimana dinyatakan dalam Firman Allah pada Surat Al Baqarah sebagai berikut:

ذلِكَ اْلكِتَبُ لاَرَيْبَ فَيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ (البقرة:2)

Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Al Baqarah: 2)

Sebagai petunjuk dan pedoman hidup maka dalam kitab Allah tersebut dijelaskan tetang tata cara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan alam lingkungannnya.

1. Hubungan manusia dengan Allah SWT
Hubungan manusia dengan Allah SWT dalam ajaran Islam adalah dalam rangka pengabdian atau penyembahan itu disebut ibadah dan tugas manusia di dunia ini adalah beribadah. Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat adz dzariyat sebagai berikut:

وَمَاخَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ (الذاريت: 56)

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56)

Sedangkan inti hubungan Allah dan manusia adalah aturan, perintah dan larangan. Manusia diperintahkan untuk berbuat menurut aturan itu. Jika manusia menyimpang dari aturan itu maka ia akan celaka, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Aturan itupun ada dua macam: pertama, adalah aturan yang dituangkan dalam kitab Al Qur’an dan Hadits Nabi.
Aturan yang dituangkan dalam kitab Al Qur’an dan sunnah Rasul itu misalnya tentang perintah shalat, perintah zakat, perintah puasa, perintah haji, larangan berzina, larangan meminum minuman keras, larangan memakan daging babi, dan lain-lain.
Dalam hal ini manusia disuruh mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan itu. Adapun aturan yang dituangkan dalam bentuk hukum alam (Sunnatullah) itu misalnya api mempunyai sifat membakar, karena itu kalau orang mau selamat janganlah mendekatkan dirinya kepada api; benda yang berat jenisnya lebih tinggi dari berat jenis air dan akan tenggelam dalam air, karena itu manusia yang berat jenisnya lebih berat dari air janganlah masuk ke dalam air laut tanpa alat penampung sebab ia akan celaka (tenggelam). Demikianlah aturan yang dituangkan baik dalam kitab suci (ayat qauliyah) maupun yang dituangkan dalam hukum alam (ayat kauniyah) harus dipatuhi agar orang hidup selamat dan sejahtera di dunia dan di akhirat.
Demikian prinsip ajaran Islam mengenai hubungan manusia dengan Allah yang intinya adalah pengabdian atau penyembahan (ibadah), baik dengan cara yang telah ditentukan Allah maupun yang tidak ditentukan. Dan hubungan Allah dengan manusia yang intinya berisi perintah yang harus dilaksanakan, berupa aturan qauliyah dan kauniyah.

2. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat kelak. Untuk mencapai keinginan tersebut tentu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari yang bersangkutan. Salah satu caranya adalah membekali diri dengan ilmu pengetahuan sebagaimana dinyatakan dalam Hadits yang artinya: “Mencari dunia dengan ilmu, mencari akhirat dengan ilmu, mencari keduanya juga dengan ilmu”.
Di samping membekali diri dengan ilmu, setiap muslim juga harus mengikuti dan mentaati ketentuan Allah SWT antara lain menjaga diri dari api neraka sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat At Tahrim:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا قُوْآأَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا (التحريم:6)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (At Tahrim: 6)

Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa menjaga diri dari sentuhan api neraka mengandung pengertian yang sangat luas, antara lain dengan cara menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah dan melakukan segala perbuatan yang diperintahkan Allah.

3. Hubungan manusia dengan manusia
Prinsip dasar ajaran Islam tentang hubungan manusia dengan sesamanya adalah bekerja sama dalam kebaikan, bukan bekerja sama dalam kejahatan. Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al Maidah sebagai berikut:

.... وَتَعَاوَنُوْاعَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْاعَلَى اْلإِثْمِ وَاْلعُدْوَانِ ... (المائدة:2)

Artinya: …Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran …. (Al Maidah: 2).

Perbuatan saling menolong itu dapat terjadi antara sesama individu, antara sesama masyarakat atau antar individu dengan masyarakat. Seseorang yang membantu kesulitan tentangganya adalah contoh tolong menolong menolong antara individu. Bantuan masyarakat kelas menengah kepada golongan masyarakat ekonomi lemah adalah contoh perbuatan tolong menolong antar masyarakat. Sedangkan bantuan beasiswa dari suatu lembaga masyarakat atau dari perorangan kepada seseorang adalah contoh perbuatan menolong antara individu dan masyarakat.
Demikianlah pentingnya ajaran tentang kewajiban saling tolong menolong terutama menolong anak-anak yatim dan fakir miskin. Firman Allah dalam Surat Al-Maun sebagai berikut:

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنَ (1) فَذَلِكَ الَّذِى يَدُعُّ الْيَتِيْمَ (2) وَلاَيَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ (3) فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ (4) الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ (5) الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ (6) وَيَمْنَعُوْ نَ الْمَاعُوْنَ (7) (الماعون:1-7)

Artinya: (1) tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (2) itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (4) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (5) yaitu orang-orang yang berbuat riya, (7) dan enggan (menolong dengan0 barang berguna. (Al Maun: 1-7)

Jika seseorang telah memiliki sifat tolong menolong antara sesama manusia, maka dengan sendirinya orang itu akan menjauhi segala bentuk pemerasan, baik secara langsung dan terang-terangan separate penjajahan dan perbudakan, maupun secara tidak langsung seperti mengkesploitasi kebodohan atau kemiskinan orang lain.
Dengan prinsip dasar saling menolong ini, seseorang muslim akan selalu merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Sesuai dengan ajaran agama, ia selalu ingin agar dirinya bermanfaat untuk orang lain dan bukan sebaliknya memeras orang lain untuk kepentingan dirinya. Motivasi luhur ini akan melahirkan harmoni sosial yang amat tinggi.

4. Hubungan manusia dengan alam
Prinsip dasar hubungan manusia dengan alam dan makhluk lain pada dasarnya ada dua macam: pertama adalah kewajiban menggali dan mengelola segala kekayaannya, dan kedua tidak sampai merusak kehidupan umat manusia itu sendiri.
Mengenai prinsip yang pertama, firman Allah dalam Surat Luqman sebagai berikut:

اَلَمْ تَرَوْاأَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّافِى السَّمَوَتِ وَمَافِى اْلاَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً .. (لقمان:20)

Artinya: Tidaklah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin …. (Luqman: 20)

Kemudian dalam surat Hud Allah berfirman:

هُوَ اَنْشَأَكُمْ مِّنَ اْلاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا ... (هود:61)

Artinya: …Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya….(Hud:61)

Kedua ayat tersebut memberitahukan kepada kita agar manusia muslim mengelola alam dan memanfaatkannya untuk kehidupan manusia di dunia. Oleh karena itu perlu memperdalam ilmu pengetahuan tentang alam itu dengan segala hukum-hukumnya.
Adapun prinsip dasar yang kedua, yakni agar manusia jangan merusak alam, dinyatakan oleh Allah dalam berbagai ayat dalam Al-Qur'an. Di dalamnya dalam surat Al A’raf dinyatakan sebagai berikut:

... وَلاَتُفْسِدُوْا فِى اْلاَرْضِ بَعْدَإِصْلاَحِهَا... (الاعراف: 56)

Artinya: … Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya …. (Al-A’raf: 56)

Kemudian dalam surat Al Qashas dikatakan:

.... وَأَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ اْلفَسَادَ فِى اْلاَرْضِ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ اْلمُفْسِدِيْنَ (القصاص: 77)

Artinya: Dan baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Al-Qashas: 77)
Dalam surat Ar Rum dikatakan lebih jelas lagi sebagai berikut:

ظَهَرَ اْلفَسَادُ فِى اْلبَرِّ وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْالَعَلَّهُمْ يَرْ جِعُوْنَ (الروم:41)

Artinya: Telah nampak kerusakan di daratan dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum: 41)

Dengan demikian jelaslah bahwa kesadaran untuk melestarikan lingkungan sebagaimana yang dikampanyekan oleh orang modern sekarang ini, sebenarnya telah digariskan oleh Islam sejak lima belas abad yang lalu. Hanya sering kali kita kurang memahami arti dan jiwa dari ayat-ayat Al-Qur'an itu, antara lain karena keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan umat Islam itu sendiri. Kita sering Bersikap apologetik atau membela diri. Setelah orang ramai berbicara Mengenai pentingnya pelestarian alam, barulah kita mengatakan bahwa hal itupun telah ada pada Al-Qur'an, seharusnya kita menggali dan mengembangkan apa yang dalam Al-Qur'an itu atas inisiatif sendiri, bukan sekedar sebagai reaksi atas kemajuan orang lain.
Demikianlah prinsip dasar hubungan manusia dengan alam sekitarnya, yaitu mewujudkan prinsip pemanfaatan dan sekaligus pelestarian lingkungan alam. Agama memberikan motivasi kepada manusia untuk mewujudkan kedua hubungan itu dengan sebaik-baiknya.

B. Fungsi Iman kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Setiap Muslim harus meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Rasul sebagai pedoman hidup bagi umatnya masing-masing. Dan Al-Qur'an sebagai kitab umat Allah yang terakhir yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW merupakan pedoman hidup bagi manusia sampai akhir zaman.
Adapun fungsi iman kepada kitab Allah tersebut dapat dilihat antara lain dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai berikut:

1. Dalam Kehidupan Pribadi
Setiap orang hidupnya pasti mengalami dua hal yaitu: senang dan susah, sehat dan sakit, tenang dan gelisah dan seterusnya. Bagi orang yang tidak mempunyai pedoman hidup, kedua hal tersebut akan dihadapi dengan caranya sendiri. Misalnya pada waktu mendapat nikmat atau kesenangan dia berlebihan dan tidak mau bersyukur. Sebaliknya bila ditimpa musibah dia berkeluh kesah, putus asa bahkan ada sampai yang bunuh diri.
Sedangkan bagi orang yang memiliki pedoman hidup berupa Al-Qur'an akan selalu menyadari dan meyakini bahwa kesenangan dan kesusahan hidup pada dasarnya datang dari Allah SWT. Karena itu bila ia mendapat nikmat ia bersyukur kepada Allah dan bila mendapat kesusahan atau musibah ia tabah dan sabar serta memohon pertolongan Allah. Hal ini membuktikan bahwa meyakini kebenaran kitab Allah sebagai pedoman hidup dapat berfungsi sebagai stabilisator dalam hidup dan kehidupan seseorang.
Dalam kaitan ini Allah SWT berfirman:

ذلِكَ اْلكِتَبُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ (البقرة: 2)

Artinya: Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (Al Baqarah: 2)

Dalam ayat berikutnya juga dinyatakan:

أُولئِكَ عَلَى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ وَأُولئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ (البقرة:25)

Artinya: Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah: 5)

2. Dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara
Manusia di samping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Untuk dapat menempatkan diri secara tepat dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara tentu harus memahami tata cara dan ketentuan- ketentuan yang ada dan berlaku dalam masyarakat tersebut.
Bagi orang yang hidupnya senantiasa berpengang teguh pada petunjuk Allah, maka beradaptasi dengan kehidupan masyarakat tidaklah sulit. Karena di dalam petunjuk-petunjuk Allah telah dituangkan dalam Al-Qur'an tersebut telah ada perintah yang mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang baik terhadap masyarakat. Misalnya dorongan untuk saling menghormati dan berbuat baik terhadap tetangga, dorongan untuk mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh penguasa atau ulil amri, dorongan untuk Bersikap toleransi terhadap sesama manusia dan sebagainya.
Dengan kata lain iman kepada kitab Allah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dapat berfungsi sebagai motivator, dinamisator, dan stabilisator sehingga hubungan dengan sesama manusia baik perorangan maupun kelompok akan terjalin secara selaras, serasi dan seimbang.
Dalam kaitan ini Allah SWT berfirman:

يَأَيُّهَاالنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْشَى وَجَعَلْنَكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْاإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَا اللهِ اَتْقَكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ (الحجرات:13)

Artinya: Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Al Hujurat: 13)

Rangkuman
Manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat memerlukan pedoman. Pedoman yang dapat mengantar ke arah itu adalah petunjuk Allah SWT yang tertuang dalam Firman-Nya berupa kitab Allah. Oleh karena itu kitab Allah merupakan pedoman hidup manusia baik dalam hubungan dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan sesama manusia maupun dengan alam sekitar.
Sifat hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dalam bentuk pengabdian atau ibadah. Sifat hubungan manusia dengan dirinya sendiri ialah memelihara dan meningkatkan nilai iman dan takwa serta amal saleh. Sifat hubungan dengan sesama manusia ialah saling menyayangi, tolong menolong dalam kebaikan dan saling menghormati. Sifat hubungan dengan alam sekitar yaitu memelihara dan memanfaatkannya untuk kemajuan dan kebahagiaan di dunia dan di akherat.
Fungsi iman kepada kitab Allah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai pedoman baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.



IMAN KEPADA RASUL ALLAH

1. Imana kepada Rasul
Iman kepada Rasul berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa para Rasul itu adalah orang yang telah menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat manusia agar beriman. Para Rasul adalah orang-orang uang dipilih oleh Allah, maka sudah barang tentu mereka adalah orang-orang yang cerdas pikirannya, benar ucapannya, dan terpercaya segala yang disampaikannya. Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan setiap muslim agar beriman kepada semua rasul yang pernah diutus-Nya yakni mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah mengutus para Rasul dengan membawa kebenaran yang berupa kalamullah meskipun mereka tidak pernah melihat dan tidak pernah hidup bersama mereka. Itu berarti bahwa sebagai orang yang beriman kita harus mampu meladeni kehidupan para Rasul dan membenarkan ajaran-ajaran-Nya
Dalam surat al Baqarah ayat 258 Allah SWT berfirman:

أمَنَ الرَّ سُوْلُ بِمَآاُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَاْلمُؤْ مِنُوْنَ كُلٌّ أمَنَ بِاللهِ وَمَلئِكَتِهِ وِكُتُبِه وَرُسُلِه .. (البقرة: 285)
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya…”

Dalam Surat An Nisaa ayat 136 Allah SWT juga berfirman.

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أمَنُوْا امِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِه وَاْلكِتبِ الَّذِيْ اَنْزَلَ مِنْ قُبْلُ قلى وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلئِكَتِه وَكُتُبِه وَرُسُلِه وَاْليَوْمِ اْلأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَللاً بَعِيْدًا (النساء: 136)
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

2. Nabi dan Rasul
Nabi adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri tanpa berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain. Sedangkan Rasul adalah laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah dan wajib menyampaikannya kepada orang lain. Wahyu adalah kalamullah yang diberikan kepada para Nabi atau Rasul, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Jumlah Nabi dan rasul itu sangat banyak, tetapi dalam Al-Qur'an hanya dua puluh lima orang yang diceritakan
Dalam Surat Al-Mum’minun ayat 78 Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَاعَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقَصُصْ عَلَيْكَ وَمَالِرِسُوْلٍ اَنْ يَأيَةٍ اِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ فَإِذَاجَاءَ اَمْرُ اللهِ قُضِىَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ اْلمُبْطِلُوْنَ (المؤمن: 78)
“Dan sesungguhnya telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu. Tiada dapat bagi Rasul membawa mukjizat melainkan dengan seizin Allah, maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpengang kepada yang batil.”

3. Sikap mengimani Rasul Allah
Beriman kepada Rasul Allah harus dibuktikan dalam sikap hidup sehari-hari. Adapun sikap yang menunjukan iman kepada Rasul Allah antara lain:
a. Meyakininya sebagai teladan hidup. Keyakinan terhadap Rasul sebagai teladan hidup dibuktikan dengan berusaha meneladani sifat-sifatnya sesuai kemampuan yang dimiliki
Allah SWT berfirman

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوااللهً وَاْليَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا (الأحزاب: 21)
“Sesungguhnya telah ada pada )diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak mengingat Allah” (QS. Al Ahzab: 21)

b. Meyakini kebenaran ajaran yang dibawa Rasul. Keyakinan terhadap kebenaran ajaran yang dibawa Rasul harus dibuktikan dalam sikap hidup sehari-hari. Bukti yang dimaksud ialah berusaha dengan Sungguh-sungguh untuk dapat melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang.
Allah SWT berfirman

وَمَا يَنْظِقُ عَنِ اْلهَوى (3) اِنْ هُوَ اِلاَّ وَحْيٌ يُوْحى (4) عَلَّمَه شَدِيْدُ اْلقُوى (5) (النجم: 3-5)
“Dan tiadalah yang diucapkan itu (Al-Qur'an) menurut kemajuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan oleh Jibril yang sangat kuat.” (QS. An-Najm: 3-5)

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيْلِ (44) َلأَ خُذْنَامِنْهُ بِالْيَمِيْنِ (45) ثًمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ اْلوَتِيْنَ (46) (الحاقة: 44-47)
"Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagai perkataan atas (nama) kami, niscaya benar-benar kami akan dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya." (QS. Al Haaqqah: 44-46)

4. Para Rasul sebagai utusan Allah
Pada bagian awal telah dijelaskan bahwa Rasulullah adalah manusia pilihan Allah. Rasul diberi amanat untuk menyampaikan wahyu Allah kepada manusia sebagai petunjuk hidup. Dalam melaksanakan tugas sucinya, Rasul senantiasa menghadapi berbagai rintangan dari umatnya yang belum beriman. Rintangan yang dihadapi para Rasul sering mengancam jiwanya. Dengan demikian tugas Rasul Sungguh berat. Untuk dapat mengatasi umatnya, Rasul diberi mukzijat oleh Allah SWT menjadi bukti kebenaran bahwa dirinya adalah Rasul Allah, dan juga sebagai senjata dalam mengalahkan musuh-musuhnya.
Mukjizat yang diberikan Allah kepada Rasul-nya berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan Rasul. Di antara 25 Rasul yang namanya disebutkan di dalam kitab suci Al-Qur'an, ada 5 Rasul yang mempunyai kelebihan dibanding dengan Rasul-Rasul lain. Kelima Rasul tersebut adalah Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as, dan Muhammad SAW. Kelima Rasul tersebut terkenal dengan sebutan Ulul’Azmi (yang memiliki kesabaran dan keteguhan hati).

5. Nabi Isa a.s menurut Al-Qur'an
Nabi Isa as adalah putar Maryam binti Imran. Maryam adalah seorang yang shalihah. Pada suatu hari didatangi malaikat Jibril yang memberitahukan kepada Maryam bahwa Allah SWT. Akan menganugerahkan kepadanya seorang putar. Mendengar berita itu, karena ia merasa belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki. Kemudian Jibril menjelaskan seperti firman Allah SWT. Dalam Surat Maryam ayat 19-21:

قَالَ اِنَّمَااَنَارَسُوْلُ رَبِّكِ ِلأَهَتَ لَكَ غُلمًا زَكِيًّا (19) قَالَتْ اَنَّى يَكُوْنُ لِيْ غُلمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ وَلَمْ اَكُ بَغِيًّا (20) قَالَ كَذلِكَ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلُه ايَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ اَمْرً امَّقْضِيًّا (21) (مريم: 19-21)
“Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki suci.” Maryam berkata, “bagaimana akan ada bagi-Ku seorang anak laki-laki sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina.” Jibril berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman. “Hal itu adalah mudah bagiku, dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan rahmat dari kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”

Kelahiran Isa bin Maryam berbeda dengan manusia yang lain. Ketika baru saja lahir, dia sudah dapat berbicara dan menjelaskan kepada manusia bahwa ibunya bukan pezina dan ia (Isa) adalah seorang hamba Allah yang kelak akan menerima sebuah kitab dan menjadi seorang Nabi. Dengan demikian, jelaslah bahwa Nabi Isa as adalah seorang Rasul Allah. Kelahirannya yang tanpa bapak, sudah bisa bicara sejak lahir merupakan tanda kekuasaan Allah dan menunjukan kemahakuasaan Allah SWT. Jika Isa bin Maryam yang lahir tanpa bapak merupakan hal yang luar biasa, maka akan lebih luar biasa lagi akan jika kita menyimak kelahiran Nabi Adam as. Yang tanpa bapak dan tanpa ibu. Sesungguhnya semua itu menjadi bukti kemahakuasaan Allah SWT. Bagi orang-orang yang beriman.

6. Fungsi iman kepada Rasul
Di depan telah dijelaskan bahwa Rasul bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia sebagai petunjuk hidup. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada Rasul berarti telah memperoleh petunjuk hidup yang benar sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakan dirinya. Apabila manusia telah memperoleh petunjuk hidup yang benar, berarti telah sesuai dengan fitrah sebagai hamba yang ber-Tuhan kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, dikatakan pula bahwa beriman kepada Rasul berarti mengembalikan dirinya kepada fitrahnya sendiri sebagai hamba yang ber-Tuhan kepada Allah.
Allah SWT berfirman:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنَ حَنِيْفًا قلى فِطْرَةُ اللهِ الَّتِى فَطَرَالنَّاسَ عَلَيْهَا (30) (الروم: 30)
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)




IMAN KEPADA HARI AKHIR

Hari kiamat diistilahkan dalam Al-Qur'an:
1. Yaumul Qiyamah artinya hari kebangkitan disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 70 kali tersebutkan dalam berbagai surat dan ayat
2. Disebut pula dengan As-Sa’ah artinya waktu disebutkan 40 kali
3. Yaumul Akhir artinya hari akhir disebutkan 20 kali
4. Yaumul Qiyamah artinya hari kehancuran total seluruh alam
5. Yaumul Hisab artinya hari perhitungan semua amal perbuatan manusia
6. Yaumul Diin artinya hari pembalasan semua alam perbuatan manusia

Dari sitilah-istilah tersebut hari kiamat artinya peristiwa besar hancurnya makhluk Allah SWT dan dimulainya babak kehidupan baru sesudahnya
Beberapa pendorong beriman kepada hari akhir adalah:
1. Berdasarkan naluri/fitrah manusia ialah manusia takut mati, karena takut menghadapi pengadilan Tuhan
2. Manusia adalah perpaduan benda dan nyawa atau jasmani dan rohani. Apabila manusia meninggal jasmaninya hancur jadi tanah sedangan rohaninya akan tetap hidup menuju kehidupan abadi
3. menurut akal sehat manusia adalah makluk yang tinggi, mempunyai akal dan budi, apabila manusia meninggal tak mungkin mengalami nasib yang sama dengan hewan atau benda mati. Manusia mempunyai tujuan yang luhur yaitu mempertanggungjawabkan amal perbuatan masing-masing dan selanjutnya akan mendapat ganjaran yang setimpal
4. menurut etika hidup, belum sempurna keadilan dan kebenaran illahi di dunia, tidak sedikit piutang yang belum diterima banyak orang jujur atau berbuat kebajikan yang belum menerima hasil kebijaksanaan dan banyak bajingan dan orang durjana yang lolos dari jaringan hukum.

1. Hari kiamat menurut Al-Qur'an
a. Kiamat Sugra
Yaitu berakhirnya kehidupan masing-masing makhluk atau makhluk menemui kematian atau kepunahan.
Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Imran 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ط وَاِنَّمَاتُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيمَةِ ط فَمَنْ زُحْزِ حَ عَنِ النَّارِ وَاُمْ خِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَط وَمَا اْلحَيَوَةُ الدُّنْيَااِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ (185)
"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat saja lah disempurnakan pahalanya. Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, sesungguhnya ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tiadalah hanyalah kesenangan yang memperdayakan".

b. Kiamat Kubra
Yaitu berakhirnya seluruh kehidupan makhluk secara serempak. Allah tidak memberitahukan kapan datangnya, Al-Qur'an hanya memberi tanda-tandanya atau gambarannya saja.
Di antara gambaran kiamat Kubra difirmankan Allah dalam QS. Al Haqoh 13-15

فَاِذَانُفِخَ فِى الصُّوْرِ نَفْخَةٌ وَّاحِدَ ةٌ (13) وَّحُمِلَتِ اْلاَرْضُ وَاْلجِبَالُ فَدُكَّتَادَكَّةً وَّاحِدَةً (14) فَيَوْمَئِذٍ وَّقَعَتِ الْوَقِعَةُ (15)
“Maka apabila sangsakala ditiup sekali tiupan. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dalam satu kali benturan, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah."


2. Qiyamat menurut teori ilmu alam
Setiap orang mukmin yakin datangnya kiamat, akan tetapi datangnya kiamat itu adalah rahasia Allah. walaupun demikian akal Pikiran manusia dapat mengingat atau memikirkan tanda-tanda datangnya kiamat kemudian dijelaskan melalui fenomena alam sehingga menjadi teori alam.
a. Pendapat ahli astronomi, bumi dan planet-planet lain beredar mengelilingin matahari. Peredarannya berjalan rapi, karena diatur oleh Allah SWT. Menjadi sunatullah adanya daya tarik menarik antara bumi dan planet-planet lain dengan pertimbangan yang serasi.
Menurut para ahli ilmu alam daya tarik menarik tersebut tidak selamanya utuh, akan tetapi akan mengalami kendur dan akhirnya habis. Dapat dibayangkan jika daya tarik menarik tidak ada lagi, bumi bertubrukan dengan planet-planet lain atau meluncur dengan kecepatan yang amat tinggi kemudian menubruk matahari, akibatnya segala yang ada akan hancur lebur. Hal ini sesuai firman Allah dalam QS. Al-Qori’ah 1-4
b. Pendapat ahli geologi, bumi berasal dan gas panas yang disebut dengan nebula, jutaan tahun gas panas tersebut mendingin dan akhirnya membeku menjadi zat padat, seperti terdapat pada kulit bumi
Diperut bumi masih menyimpang gas panas yang menurut keadaanya berkembang dan terus mendesak keluar. Kulit bumi tidak akan meletus karena ada tekanan (atmosfer) dari luar. tekanan dari dalam dan tekanan dari luar seimbang, seperti keadaan sekarang ini.
Suatu saat terjadi tekanan gas panas dari dalam bumi, sehingga terjadi letusan gunung-gunung berapi dan gempa bumi.
Setiap benda panas suatu saat akan mendingin, demikian pula gas. Diperut bumi akan mencari dan membeku akibatnya tekanan menjadi berkurang, bahkan akan lenyap sama sekali. Hal ini akan menyebabkan bumi menjadi pecah dikarenakan tekanan atmosfer dari luar, bumipun mengeluarkan isinya. Keadaan demikian sesuai dengan yang diterangkan Allah SWT dalam QS. Al Zalzalah ayat 1-2
c. Pendapat ahli fisika seperti Prof. Ahmad Baiquni mengatakan bahwa letak matahari 150 x 106 km dari bumi, sinar matahari sampai ke bumi dalam waktu 8 menit 20 second.
Garis tengah matahari adalah 1,4 juta km, dan luas permukaannya 4 phi x jari-jari kuadrat yaitu 4 x22 pertujuh x 700.000 x 700.600 km sama dengan 616 x 1010 km
Menurut fisikawan energi matahari yang dipancarkan adalah 5,7 x 1027 kalori permenit yang mampu menyala selama lima puluh milyar tahun dan membawa manfaat besar untuk kehidupan manusia atau makhluk lainnya
Timbul pertanyaan bagaimana jika matahari meredup sehingga kurang cahayanya atau sama sekali tidak bersinar lagi sehingga energi cahaya dan panasnya habis? Hal ini berakibat malam tak berganti siang, tidak ada angin atau tidak ada awan, hujan juga tidak turun, gunung-gunung aktif meletus Ombak akan menggulung daratan, gempapun dimana akibatnya terjadilah kehancuran secara total di bumi. Keadaan demikian difirmankan Allah SWT dalam QS. At Takwir 1-5
Beriman kepada hari akhir, akan memperjelas keyakinan adanya hisab, mizan, surga dan neraka sikap dan perbuatan orang yang beriman kepada hari akhir akan lebih bertanggung jawab dan lebih Berhati-hati serta penuh Perhitungan karena ia berbuat sesuatu itu benar-benar didasarkan atas panggilan iman kepada Allah SWT.
Orang yang beriman kepada hari akhir memiliki sikap optimis dan tawakal kepada Allah SWT. Harapan lebih luas dan lebih panjang, ia yakin bahwa perbuatan manusia di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak.
Orang yang beriman kepada hari akhir, akan bersikap soleh dan semua perbuatannya akan bermanfaat bagi manusia lain, karena yang diperbuatnya bukan harinya untuk kepentingan diri sendiri akan tetapi untuk kepentingan masyarakat dan untuk mencari keridhoan Allah SWT.







IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR


1. Qadha dan qadar sering disebut taqdir, beriman kepada taqdir adalah Pokok kepercayaan yang terakhir dalam Islam
Sejak jaman dahulu sampai sekarang manusia masih juga berselisih dalam memahami takdir ini. perbedaan pendapat dalam memahami masalah ini bukanlah hal yang aneh, karena memang masalah takdir adalah masalah gaib di luar jangkauan manusia.
Membicarakan masalah takdir berarti membicarakan “Apakah manusia bebas berbuat ataukah sudah diatur segalanya oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap rukun iman yang keenam ini harus hati-hati agar tidak terjerumus ke dalam aqidah yang keliru.

2. Arti qadha menurut Al-Qur'an
a. Ketetapan hukum berdasarkan ayat

مَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَاقَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًااَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ اْلخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ (الأحزاب: 26)
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka …” (QS. Al Ahzab: 36)

b. Perintah bagaimana firman-Nya:

وَقَضى رَبُّكَ الاَّ تَعْبُدُوْاإِلاَّ إِيَّاهُ (الاسراء: 23)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia …” (QS. Al Israa: 23)

c. Arti qadar menurut Al-Qur'an
Kata qadar di dalam Al-Qur'an berarti peraturan (ukuran) yang telah diciptakan Allah untuk menjadi dasar alam ini.
Firman Allah:

اِنَّ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَنهُ بِقَدَرٍ (القمر: 49)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al Qamar: 49)

3. Beriman kepada qadha dan qadar berarti meyakini bahwa apa-apa yang terjadi di dunia ini menurut kuasa dan kehendak-Nya yang di dalamnya ada hubungan sebab akibat.
4. Fungsi iman kepada qadha dan qadar ialah mendidik manusia agar mampu memiliki sikap dan sifat positif antara lain.
a. Manusia rela menerima kenyataan hidup yang dialami, dengan tetap memiliki semangat usaha yang maksimal, karena yang terjadi di dunia ini ada hubungan sebab akibat
b. Kenyataan hidup yang kurang menyenangkan diyakini bahwa hal itu disebabkan oleh adanya kekurangan pada diri sendiri.
c. Manusia wajib berusaha, sedangkan hasilnya berada pada kuasa Allah dan kehendak-Nya
Firman Allah:

اِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْامَابِأَنْفُسِهِمْ (الرعد: 11)
“Sesungguhnya Allah tak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri”. (QS. Ar-Ra’d: 11)
pada ayat lain Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِْلإِنْسَانِ إِلاَّ مَاسَعى(النجم: 39)
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

d. Tawakal
Tawakal ialah berserah diri kepada Allah setelah berusaha secara maksimal. Berserah diri kepada Allah dalam hal ini ialah menunggu dengan hati yang ikhlas terhadap kebijakan Allah dalam menentukan keberhasilan usahanya.
Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجَعَلْ لَهُ مَخَرَجًا وَيَرْ زُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ قلى وَمَنْ يَتَوَ كَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسَبُهُ (الطلاق: 2-3)
“….. barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa yang Bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya …” (QS. Ath Thalaaq: 2-3)
by Abdul Qohar

KONSEP ISLAM TENTANG FITRAH, LINGKUNGAN DAN PENDIDIKAN

1. Dasar-Dasar Kebutuhan Anak Untuk Memperoleh Pendidikan
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati dapat dimengerti dari kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini.
Rasulullah SAW bersabda:
مَامِنْ مَوْلُوْدٍإِلاَّيُوْلَدُعَلَىاْلفِطْرَةِفَأَبَوَاهُ يُهُوِّدَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ كَمَاتَنْتَحُ البَهِيْمَةُ جَمْعَاءُهَلْ تُحِسُّوْنَ مِنْ جَدْعَاءَ ,ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُوْهُرَيْرَةَ, وَاقْرَءُوْاإِنْ شِئْتُمْ فِطْرَةَاللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَالاَتَبْدِيْلَ لَخَلْقِ اللهِ ذلِكَ الدِّيْنُ اْلقَيِّمُ (رواه مسلم )
Artinya:

“Tiadalah seorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka akibat kedua orang tuanyalah yang me-Yahudikan atau men-Nasranikannya atau me-Majusikannya. Sebagaimana halnya binatang yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu lihat binatang itu tiada berhidung dan bertelinga? Kemudian Abi Hurairah berkata, apabila kau mau bacalah lazimilah fitrah Allah yang telah Allah ciptakan kepada manusia di atas fitrahNya. Tiada penggantian terhadap ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus (Islam).”
(H.R Muslim)
Allah berfirman:
وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْأً (النحل:78)
Artinya:
“Tuhan itu melahirkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun.”
(QS. An Nahl:78)

Dari Hadits dan ayat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa manusia itu untuk dapat menentukan status manusia sebagaimana mestinya adalah harus mendapatkan pendidikan. Dalam hal ini keharusan mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut.
a. Aspek Paedagogis
Dalam aspek ini para ahli didik memandang manusia sebagai animal educandum: makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataanya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik. Sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dressur, artinya latihan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya statis, tidak berubah.
Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya mereka dapat dididik dan dikembangkan ke arah yang diciptakan, setaraf dengan kemampuan yang dimilikinya.
Rasulullah SAW bersabda:
حَقُّ الوَالَدِ عَلَى اْلوَلَدِ أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَهُ اْلكِتَابَهَ وَالسِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَأَنْ لاَيَرْزُقَهُ إِلاَّطَيِّبًا وَأَنْ يُزَوِّجَهُ إِذَاأَدْرَكَ (رواه الحاكم)
Artinya:
”Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberi nama yang baik, mendidik sopan santun dan mengajari tulis menulis, renang, memanah, membri makan dengan makanan yang baik serta mengawinkannya apabila iia telah mencapai dewasa.”
(HR. Hakim)
Islam mengajarkan bahwa anak itu membawa berbagai potensi yang selanjutnya apabila potensi tersebut dididik dan dikembangkan ia akan menjadi manusia yang secara fisik-fisik dan mental memadai.
b. Aspek Sosiologis dan Kultural
Menurut ahli sosiologi pada prinsipnya, manusia adalah homosocius, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau memiliki gazirah (instink) untuk hidup bermasyarakat. Sebagai makluk sosial manusia harus memiliki rasa tanggung jawab sosial (social responsibility) yang diperlukan dalam mengembangkan hubungan timbal balik (inter relasi) dan saling pengaruh mempengaruhi antara sesama anggota masyarakat dalam kesatuan hidup mereka.
Allah berfirman:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمْ الذِّلَّةُ أَيْنَمَاثُقِفُوْآإِلاَّبِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ ...(ال عمران:112)
Artinya:
“Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…”
(QS. Ali Imran: 112)
Apabila manusia sebagai makluk sosial itu berkembang, maka berarti pula manusia itu adalah makhluk yng berkebudayaan, baik moral maupun material. Diantara instink manusia adalah adanya kecenderungan mempertahankan segala apa yang dimilikinya termasuk kebudayaannya. Oleh karena itu maka manusia perlu melakukan transformasi dan transmisi (pemindahan dan penyaluran serta pengoperan) kebudayaannya kepada generasi yang akan menggantiikan dikemudian hari.
Allah berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُمَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْامَابِأَنْفُسِهِمْ (الرعد: 11)
Artinya:
“…..sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka megubah keadaan yang ada pada mereka sendiri….”
(QS. Ar-Ra’d: 111)
c. Aspek Tauhid
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia itu adalah makhluk yang berketuhanan yang menurut istilah ahli disebut homo divinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut dengan homo religious artinya makhluk yang beragama. Adapun kemampuan dasar yang meyebabkan manusia menjadi makhluk yang berketuhanan atau beragama adalah karena di dalam jiwa manusia terdapat instink yang disebut instink religious atau gazirah diniyah (instink percaya kepada agama). Itu sebabnya, tanpa melalui proses pendidikan instink religious dan gazirah diniyah tersebut tidak akan mungkin dapat berkembang secara wajar. Dengan demikian pendidikan keagamaan mutlak diperlukan untuk mengembangkan instink religious atau gazirah Diniyah tersbut.
Allah berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ للدِّيْنِ حَنِيْفًاطَ فِطْرَتَ اللهِ الَّتِىْ فَطَرَالنَّاسَ عَلَيْهَاطَ لاَتَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ طَ ذلِكَ الدِّيْنُ اْلقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَالنّاسِ لاَيَعْلَمُوْنَ. (الروم: 30)
Artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agam yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengeyahui.”
(QS. Ar-Rum: 30)
Selanjutnya apabila diperhatikan dan diperbandingkan secara teliti orang-orang dewasa dilingkungan kita ternyata kita saksikan adanya orang pandai yang bodoh, ada yang terampil dan ada yang malas, ada yang berbudi pekerti luhur dan yang rendah budi pekertinya, ada yang mengakui adanya Tuhan serta mengagungkan-Nya dan menyembah-Nya; ada yang tidak mengakui adanya Tuhan membangkan bahkan mengkhianati-Nya. Di samping adanya dua kutub yang berbeda teresebut tentunya ada pula yang sedang, yang kurang dari sedang atau yang lebih daripada sedang. Tetapi yang jelas anak wajib dibawa kepada pihak yang baik dan luhur, dijauhkan dari hal-hal yang buruk dan hina. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa mendidik anak adalah merupakan suatu hal yang mutlak dilaksanakan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab
Allah berfirman:
قُوْآأَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا (التحريم: 6)
Artinya:
“Peliharalah dirimu dan keluargamau dar api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Apabila pendidikan tidak ada, maka kemungkinan besar anak-anak akan berkembang ke arah yang tidak baik/buruk, seperti tidak mengakui Tuhan, budi pekertinya rendah, bodoh dan malas bekerja.
Keharusan adanya pendidikan bagi anak tersebut akan lebih nyata apabila mengamati kemampuan /perkembangan anak sesudah dialahirkan oleh ibunya sampai mencapai kedewasaannya dan kita bandingkan pula dengan anak hewan, anak manusia atau bayi lahir, badannya lemah sekali. Keaktifan perbuatan instink lemah sedikit sekali, ia hanya ia dapat menggerakan kaki dan tangannya, menangis dan sebentar lagi menetek. Keaktifan lain yang sudah siap sedia sebagai bekal hidupnya tidak tampak pada waktu ia lahir. Apabila sejak dilahirkan itu dibiarkan saja, tidak dirawat oleh ibunya atau orang lain, maka ia tidak dapat hidup. Selanjutnya sesudah ia dapat hidup perkembangan jasmaninya terlihat lambat sekali terutama bila dibandingkan dengan perkembangan badan anak hewan. Baru sesudah ia berumur + 1 tahun, anak itu dapat berjaan, sekalipun demikian bentuk badannya belum sama dengan badan orang dewasa.
Perbedaan dalam bidang kerohanian termasuk di dalam moral dan etika antara anak dengan orang dewasa lebih lanjut, begitupula kepandaian pengetahuan, aktifan dan kemampuan yang lainnya. Bahwa setiap orang dewasa dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara sendiri-sendiri seperti bercocok tanam, berdagang, menukang, mengabdikan tenaga jasmani serta rohaninya kepada orang lain baik secara resmi/Pemerintah atau melalui badan swasta dan lain-lain. Untuk kesemuanya itu sangat dibutuhkan adanya kemampuan, kecakapan dan keaktifan serta pengetahuan yang beraneka ragam sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masa atau lingkungannya
Untuk mendapatkan pengetahuan, kecakapan, keprigelan dan kemampuan tersebut anak perlu mendapatkan pendidikan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atau pendidik. Berbeda dengan anak hewan, begitu ia lahir, induk dapat membiarkan anaknya tumbuh dan berkembang untuk memenuhi tugasnya sebagai hewan dewasa, karena hewan umumnya sudah diberi kelengkapan yang sudah memungkinkan untuk mencapai kedewasaan, yaitu instink yang dimilikinya.
Anak adalah makhluk yang masih membawa kemungkinan untuk berkembang, baik jasmani maupun rohani. Ia memiliki jasmani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, kekuatan maupun perimbangan bagian-bagiannya. Dalam segi rohaniah anak mempunyai bakat-bakat yang harus dikembangakan. Ia juga mempunyai kehendak, perasaan dan pikiran yang belum matang. Dismping itu ia mempunyai berbagai kebutuhan seperti kebutuhan akan pemeliharaan jasmani; makan, minum, dan pakain; kebutuhan akan kesempatan berkembang bermain-main, berolah raga dan sebagainya. Selain dari pada itu anak juga mempunyai kebutuhan rohaniah seperti kebutuhan akan ilmu pengetahuan duniawi dan keagamaan, kebutuhan akan pengertian nilai-nilai kemasyarakatan, kesusilaan, kebutuhan akan kasih sayang dan lain-lain. Pendidikan Islam harus membimbing, menuntun, serta memenuhi kebutuhan – kebutuhan anak didik dalam berbagai bidang tersebut di atas.
Menurut Al-Ghazali, bahwa anak adalah amanah Allah dan harus dijaga dan dididik untuk mencapai keutamaan dalam hidup dan mendekatkan diri kepada Allah. Semuanya yang dilahirkan ke dunia ini, bagaikan sebuah mutiara yang belum diukur dan belum berbentuk tapi amat bernilai tinggi. Maka kedua orang tuanyalah yang akan mengukir dan membentuknya menjadi mutiara yang berkualitas tinggi dan disenangi semua orang. Maka ketergantungan anak kepada pendidiknya termasuk kepada kedua orang tuanya, tampak sekali. Maka ketergantungan ini hendaknya dikurangi serta bertahap sampai akil bali

ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

a. Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir itulah yang menentukan perkembangannya dalam kehidupan. Nativisme berkeyakinan bahwa pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaaan. Dengan demikian menurut mereka pendidikan tidak membawa manfaat bagi manusia. Karena keyakinannya yang demikian itulah maka mereka di dalam ilmu pendidikan disebut juga aliran Pesimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini adalah Schopenhaeur seorang filosof bangsa jerman. Nativisme berasal dari kata dasar natus = lahir, nativius = kelahiran, pembawaaan


b. Aliran Emprisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh faktor lingkungan atau pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil
Manusia dapat dididik menjadi apa saja (kearah yang baik atau kearah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dengan demikian pendidikan diyakini sebagai sebagai maha kuasa bagi pembentukan anak didik. Karena pendapatnya yang demikian, maka dalam ilmu pendidikan disebut juga Aliran Optimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini yaitu John Locke.
Empirisme. Berasal dari kata dasar empiri yang berarti pengalaman.

c. Aliran Konvergensi
Yang berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Kedua-duanya (pembawaan dan lingkungan) mempunyai pengaruh yang sama besar bagi perkembangan anak. Pendapat ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh William Stern. Pendapat ini semua bermaksud menghilangkan pendapat berat sebelah dari aliran nativisme dan empirisme dengan mengkombinasikannya. Pada mulanya pendapat ini diterima oleh banyak orang karena mampu menerangkan kejadian-kejadian dalam kehidupan masyarakat. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya banyak orang yang berkeberatan dengan pendapat tersebut dan mengatakan kalau perkembangan manusia itu hanya ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan, maka hal ini tak ubahnya kehidupan hewan. Sebab hewan itu pertumbuhannya hasil dari pembawaan dan lingkungan. Hewan hanya terserah kepada pembawaan keturunannya dan pengaruh-pengaruh lingkungannya. Perkembangan pada hewan seluruhnya ditentukan oleh kodrat, oleh hukum alam.
Sedangkan manusia berbeda dengan hewan disamping dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan, manusia aktif dan kreatif dalam mewujudkan perkembangan itu. Drs. M Ngalim Purwanto mengatakan dalam hal ini sebagai berikut:
“Manusia bukan hasil belaka dari pembawaan dan lingkungannya; manusia hanya diperkembangkan tetapi memperkembangkan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk yang dapat dan sanggup memilih dan menentukan sesuatu yang mengenai dirinya secara bebas. Karena itulah ia bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya: ia dapat juga mengambil keputusan yang berlainan daripada yang pernah diambilnya. Proses perkembangan manusia tidak hanya ditentukan oleh faktor pembawaan yang telah ada pada orang itu dan faktor lingkungan yang mempengaruhi orang itu. Aktivitas manusia itu sendiri dalam perkembangan sendiri turut menentukan atau memainkan peran juga. Hasil perkembangan seseorang tidak mungkin dapat dibaca dari pembawaannya dan lingkungannya saja.

d. Pandangan Islam Tentang Keberhasilan Pendidikan
Islam menyatakan bahwa manusia lair di dunia membawa pembawaan yang fitrah. Fitrah ini berisi potensi untuk berkembang, profesi ini dapat berupa keyakinan beragama, prilaku untuk menjadi baik ataupun menjadi buruk dan lain sebagainya yang kesemuanya harus dikembangkan agar ia bertumbuh secara wajar sebagi hamba Allah.
Rasulullah SAW. Bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (الحديث)
Artinya:
“Semua anak dilahirkan membawa fitrah (bakat keagamaan), maka terserah kepada kedua orang tuanya untuk menjadikan beragama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.”
Demikian pula Rasulullah SAW yang menasihati agar memilih wanita yang baik agar keturunan itu baik.
Rasulullah SAW bersabda:
تَخَيَّرُوْالِنُطَفِّكُمْ فَاءِنَّالعَرَقَ سَاسٌ (الحد يث)
Artinya
“Pilihlah untukmu benihmu karena keturunan itu dapat mencelupkan”
(Al Hadits)
Disamping keturunan juga menekankan kepada pendidikan dan usaha diri manusia untuk berusaha agar mencapai pertumbuhan yang optimal.
Allah berfirman:
قُوْآأَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا... (التحريم : 6)
Artinya:
“Jagalah dirmu dan keluargamu dari api neraka”

Allah berfirman pula:
وَأَنْ لَيْسَ لِلاْءِ نْسَانِ إِلاَمَاسَعَى (النجم:39)
Artinya:
“Bahwa bagi manusia itu apa yang mereka usahakan.”
Dengan demikian menurut Islam perkembangan kehidupan manusia bahkan bahagia atau celakanya itu ditentukan oleh pembawaan. Lingkungan dan usaha (aktivitas) manusia itu sendiri dalam mengusahakan perkembangannya.
Sehubungan dengan hal tersebut maka Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مَثَلَ جَلِيْسِ الصَّالِحِ وَاْلجَلِيْسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ اْلمِسْكِ وَنَافِحِ اْلكِيْرِ.فَحَا مِلُ اْلمِسْكِ إِمَّاأَنْ يُهْدِيُكَ وَإِمَّاأَنْ تَتَّبِعَ مِنْهُ وَإِمَّاأَنْ تَجِدَمِنْهُ رِيْحًاطَيِّبَةً وَنَفِحُ اْلكِيْرِإِمَّاأَنْ يُحَرِّكَ ثِيَابَكَ وَإِمَّاأَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًامُذْتَنَهْ (متفق عليه)
Artinya:
“Sesungguhnya perumpamaan teman sepergaulan yang baik dan teman spergaulan yang jahat seperti pembawaan minyak wangi kasturi dan peniup dapur pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi ksturi bisa jadi menghadihkannya kepadamu atau kamu membelinya atau (paling tidak) kamu mendapatkan wangi. Sedangkan peniup dapur tukang besi, bisa jadi ia menyebabkan bajumu terbakar atau (paling tidak) kamu mendapatkan bau busuknya.”

Sabtu, 11 Juni 2011

Global Warning

Oleh : Raymond Mulyarahardja
Jakarta, 23 Maret 2011
Bahaya Riil Di Sekitar Kita
Ancaman global warming adalah nyata. Penceramahan seperti ini tak arang sering nampak menjadi contoh histrionik atau hiperbola yang disamarkan. Seperti siaran di radio kerapkali kita dengar: peace on earth of earth in pieces. Apakah ancaman karbon sebegitu berbahayanya? Kita sedang berada di persimpangan di mana proses ramifikasi dari apa yang kita lakukan menjadi penentu kehidupan generasi selanjutnya. Perhelatan masyarakat dalam mengantisipasi hal ini tidaklah diragukan lagi. Yang menjadi pertanyaan utama adalah apakah penduduk Indonesia telah siap untuk mengikuti trend "green life".

Karbondioksida (CO2)
Besarnya jumlah emisi yang dapat ditolerir oleh ibu pertiwi telah dikalkulasi. Jurnal Nature memperhitungkan sebanyak 1 trilyun ton CO2 dapat kita biarkan terlepas ke udara selama periode tahun 2000 - 2050 supaya didapatkan 75% kemungkinan temperatur global rata-rata dapat dipertahankan dalam 2 derajat C level pre-industrial. Ini adalah batas keselamatan, di mana melebihinya dapat menyebabkan pergantian iklim (climate change) yang irreversibel.

Sampai tahun 2006, dunia telah menggunakan sekitar 234 bilyun ton dari anggaran yang telah dikalkulasi. Hal ini meninggalkan kita dengan sisa sekitar 760 bilyun ton. Apabila emisi per tahun meningkat sebesar 3,5% maka kita akan telah mengeluarkan sebanyak 1 trilyun ton CO2 sampai dengan akhir tahun 2020. Pertumbuhan ini tidaklah sesuai dengan perhitungan dan kita akan melepaskan surplus CO2 ke atmosfir. Apabila hal ini terjadi, temperatur rata-rata global akan meningkat setidaknya 6-7 derajat C dalam abad ini, apalagi di kutub.

CO2 adalah gas tidak berbau, tidak berwarna yang bersifat sedikit asam dan tidak dapat terbakar. Akumulasi CO2 di atmosfir, seperti yang telah kita ketahui, akan menyebabkan munculnya efek greenhouse. Hal ini akan berakibat panas yang ada di dalam bumi tidaklah bisa keluar tapi panas dari luar bumi akan tetap bisa mempenetrasi lapisan bumi. Panas yang terkumpul akan menyebabkan perubahan iklim dan bahaya laten yang mengancam adalah lelehnya es di kutub.

Spekulasi mengenai efek CO2 terhadap lingkungan sudah dimulai sejak abad ke 19. Ilmuwan kenamaan seperti Arrhenius dan Chamberlain telah memprediksikan pergeseran gradual dari temperatur iklim setelah jutaan tahun dikarenakan timbunan gas-gas greenhouse di dalam bumi. CO2 memiliki andil kontribusi relatif sebesar 60% dari efek greenhouse saat ini, sedangkan sisanya adalah CFC (Chlorofluorocarbon), ozone, nitrous oxide dan methane.

Black Carbon
Selain CO2, karbon hitam atau black carbon yang adalah hasil pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar fosil, biofuel dan biomass dalam bentuk karbon murni terikat senyawa yang dapat meningkatkan panas bumi dengan penyerapan panas di atmosfir. Karbon hitam dapat mengurangi kemampuan reflektifitas es dan meningkatkan absorpsi sinar matahari. Hal ini akan mengkontribusi kepada meningkatnya suhu udara di dalam bumi. Karbon hitam menduduki posisi nomor dua setelah CO2 dalam meningkatkan global warming. Namun usia karbon hitam di atmosfir hanya beberapa hari sampai minggu, di mana usia CO2 di atmosfir bisa mencapai 100 tahun.

Kendala dalam menangkal Global Warming
Global Dimming
Suatu fenomena yang diperkirakan dapat menangkal global warming dinamakan global dimming. Global dimming adalah peristiwa meningkatnya konsentrasi atmosferik aerosol-aerosol buatan manusia seperti aerosol sulfat yang dapat mempengaruhi sifat-sifat awan dan menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi. Fenomena ini muncul sebagai produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil. Sulfur dioksida dan nitrogen oxida yang dilepaskan ke udara bereaksi dengan awan dan merefleksikan pancaran sinar matahari yang hendak masuk ke bumi. Efek ini secara ironis menangkal efek global warming. Contoh kegunaan global dimming antara lain di musim panas, di mana banyak orang tua meninggal karena angin musim panas dan penurunan suhu udara sangat diharapkan. Di lain pihak, global dimming telah menyebabkan banyak kematian di Ethiopia pada tahun 1970 disebabkan oleh kekeringan. Kekeringan ini muncul dikarenakan laut di bagian hemisfer utara bumi tak cukup panas untuk formasi hujan.

Semenjak tahun 1970, telah diamati adanya reversal dari efek global dimming karena negara-negara dengan aktif menyikapi polutan-polutan yang ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
Fenomena global dimming adalah suatu pertanyaan bagi para ilmuwan. Awan yang mengandung sulfur dioksida yang ditimbulkan global dimming dapat menangkal sebesar 50% dari global warming yang disebabkan gas-gas greenhouse. Namun, perlu diingat, selain penurunan suhu, global dimming juga mempunyai dampak samping yaitu hujan asam yang dapat menimbulkan efek yang berbahaya bagi tumbuhan dan binatang laut, yaitu kematian karena keadaan fisiologis yang tidak sesuai.

"Perseteruan" antara gas-gas greenhouse yang menyebabkan global warming dan debu-debu vulkanik serta aerosol troposferik yang menyebabkan global dimming adalah salah satu perdebatan yang tak kunjung berakhir. Namun para ilmuwan juga mengatakan bahwa global dimming hanya menutupi sementara bahaya sesungguhnya dari global warming.

Efek Rumah Kaca
Tidak hanya gas-gas greenhouse yang mengkontribusi kepada global warming, namun elemen pemanas itu sendiri, yaitu matahari, juga tentunya memegang peranan penting dalam hal ini. Variabilitas sinar matahari yang dipengaruhi berbagai faktor, yaitu variabilitas TSI (Total Solar Irradiance) menentukan keadaan iklim. Salah satu faktor penentunya adalah siklus-solar-11-tahun ato sunspot cycle yang merupakan fluktuasi periodis dari emisi sinar matahari yang sampai ke bumi. Terdapat juga faktor-faktor aperiodik. Namun penelitian yang dilakukan mulai dari akhir abad lalu menunjukkan bahwa peranan matahari sendiri dapat dibilang kecil apabila diperbandingkan dengan aktifitas manusia yang berkaitan dengan emisi gas-gas greenhouse. Simulasi yang pernah dilakukan antara lain menyebutkan peranan debu vulkanik dan aerosol troposferik dalam membalikkan efek yang ditimbulkan oleh gas-gas greenhouse, global dimming, hanya menyelubungkan efek yang sebenernya dari gas-gas greenhouse. Efek rumah kaca dapat menghancurkan keseimbangan ekosistem apabila tidak ditangani.

Sudah mulai banyak organisasi yang berkecimpung di dalam penanganan global warming. Pemerintah-pemerintah dari berbagai negara di bawah UN juga aktif dalam menangani global warming. Hal ini tercermin dari perjanjian Cancun yang disepakati pada tanggal 11 Desember 2010. Signifikansi perjanjian ini terletak pada fakta bahwa perjanjian Cancun adalah usaha kolektif terbesar yang dilakukan untuk mengurangi emisi dalam konteks pencegahan pergantian iklim. Di dalamnya diatur usaha pemerintah 193 negara dalam menangani pergantian iklim bagi negara berkembang dalam aspek finansial, teknologi dan dukungan pembangunan kapasitas. Objektif dari perjanjian ini adalah supaya kenaikan suhu global dapat ditekan di bawah dua derajat celcius.

Gaya Hidup
"Green life" atau skema hidup hijau telah menjadi suatu trend yang niscaya akan memberikan dampak positif bagi lingkungan. Orang-orang meningkatkan keperdulian mereka terhadap hal-hal kecil yang mereka lakukan sehingga apapun yang mereka lakukan sebisa mungkin mempunyai dampak yang positif terhadap lingkungan. Contoh yang paling jelas adalah penggunaan barang-barang biodegradable seperti cangkir yang bisa terdaur ulang dan kertas daur ulang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan kesadaran emisi.

Dalam memperhatikan hal-hal yang menunjang skema hidup hijau, kita senantiasa terbentur dengan masalah biaya. Penggunaan barang-barang biodegradable tak ayal memakan ongkos yang terkadang bisa jauh lebih mahal daripada penggunaan barang normal. Kenyataaan ini membuat pengejahwantahan hidup hijau di Indonesia menjadi lebih sulit karena besarnya gap dalam strata sosial yang ada sekarang ini. Bagi kalangan atas, menunjang hidup hijau tidaklah menjadi suatu masalah, namun bagi kalangan menengah ke bawah dapat menimbulkan pergolakan batin terhadap perlunya penerapan skema hidup hijau tersebut.

Penggunaan barang-barang biodegradable dapat mengkontribusi dalam aspek pelepasan CO2 ke udara yang ditimbulkan oleh pembakaran sisa sampah barang terkonsumsi. Apabila sampah atau barang sisa penggunaan tidak perlu dibakar, maka sampah cukup dibiarkan terurai pada tempat yang telah disediakan.

Keperdulian masyarakat terhadap hal ini pun seringkali tidak cukup untuk menciptakan adanya partisipasi aktif. Isu global warning terkadang dirasa sangat abstrak dan terlalu jauh untuk dapat diraba. Artis-artis dari negara-negara Skandinavia seperti Sweden, Denmark kerapkali mengadakan pameran-pameran visual untuk berusaha mendekatkan masyarakat dunia dengan isu global warming. Hal ini sudah mulai dicanangkan di Indonesia walaupun partisipasi aktif masyarakatnya maupun gaung kegiatan di antara besarnya populasi Indonesia belumlah terasa.

Siapkah kita ?
Dalam keseharian kita, acapkali kita mengabaikan pelbagai hal-hal kecil yang mengingatkan kita akan waktu sebelum globalisasi industri dimana belum banyak kendaraan bermotor dan lingkup industri yang menjadi sumber emisi karbondioksida. Dalam menggunakan benda-benda mekanik seperti rautan pensil berkaca ataupun kegiatan bersepeda kita diingatkan bahwa polusi lingkungan bermula dari hiperbolisasi kegiatan industri. Namun benda-benda yang kita gunakan sehari-hari adalah hasil industri. Suatu pertanyaan besar mengenai kemajuan suatu bangsa apabila diukur dari pesatnya laju industri adalah secara tak langsung deteriorasi yang perlahan. Kesadaran kita sebagai anggota dari masyarakat sangatlah dituntut. Seringkali kita menganggap sepele keadaan alam sekitar kita. Hutan ditebang untuk kemajuan industri, lahan bekas pertambangan dibiarkan begitu saja.

Apa yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan mental untuk pada saatnya mengkontribusi kepada inisiatif-inisiatif yang diambil oleh mayoritas. Hal-hal seperti bike to work dengan kesadaran mengurangi emisi demi udara yang sehat, pembuatan lubang biosfer untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk adalah contoh positif masyarakat menuju skema hidup hijau. Apakah kita secara mental telah siap untuk merubah sikap dan pola hidup dalam menghadapi global warming ?

Apa yang bisa kita lakukan untuk Ibu Pertiwi?
The way we think about her
Apakah ibu pertiwi itu bagi kita? Di suatu tempat di mana kita lahir hidup dan mati, adakah kita perduli?

The way we feel her
Adakah keterikatan batin antara kita dengan tempat tinggal kita?Apabila dibuat perombakan mendadak terhadap daerah rumah tinggal anda, apakah perasaan anda akan tersentuh?

The way we live on her
Sudahkah kita memperhatikan cara kita bersikap di atas ibu pertiwi? Apakah balasan yang setimpal yang dapat kita beri baginya?

Pertanyaan-pertanyaan kontemplatif di atas adalah cara kongkrit kita bersiap diri. Menyimak pikiran para petinggi dunia, kita dapat memahami adanya kekhawatiran para ahli terhadap masalah ini. Dengan meningkatnya pembelajaran kepada publik diharapkan kekhawatiran ini akan berkurang dan masyarakat akan dapat menerima bahwa bahaya global warming tidaklah dilebih-lebihkan. Mengikutsertakan pola pikir skema hidup hijau dalam keseharian kita semua baik generasi muda mau pun generasi tua akan secara tidak langsung memajukan modernisasi cara pikir karena ke arah situlah trend masa depan kita menuju.

Kapan Curhat Itu Diperlukan?

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 09 Mei 2007

Kebutuhan Sosial Insani

Dari praktek yang sering kita lakukan, curhat (dibaca: curahan hati) itu adalah pengungkapan kita tentang kita (personal) kepada orang lain. Curhat ini berbeda dengan pengaduan. Pengaduan lebih sering dipakai untuk hal-hal yang bersifat sosial. Curhat juga berbeda dengan konseling. Konseling lebih bersifat personal-formal. Di samping itu, konseling memiliki standar profesional dan terkadang juga harus bayar. Hal yang paling mendasar dari konseling adalah bimbingannya.



Seiring dengan kemajuan teknologi, praktek curhat ini sudah mengalami banyak perkembangan. Ada stasiun radio yang khusus menangani orang yang ingin curhat. Ada provider telepon seluler yang membuka nomor khusus untuk curhat. Ada mailing list khusus yang memang didesain untuk keperluan curhat. Bahkan tak sedikit website yang berubah fungsinya menjadi semacam tempat untuk curhat-curhatan antar membernya.



Kenapa banyak orang yang menempuh cara curhat? Adakah manfaat yang bisa dipetik dari cara demikian? Memang ada pendapat yang berbeda-beda soal hal ini. Dari sebagian orang yang saya tanya, ada yang menganggap curhat itu kurang kerjaan. Masalah itu tidak selesai dengan curhat. Curhat itu adalah lambang kecengengan. Tapi tidak sedikit yang menganggap itu sangat dibutuhkan. Curhat bisa menormalkan emosi, bisa menyumbangkan pandangan, dan bisa melegakan batin. Meski masalah tidak selesai dengan curhat, tetapi biasanya sehabis curhat kita merasa plong atau lebih ringan.



Kalau dilihat dari teorinya, memang ada banyak penjelasan yang bisa dipahami bahwa curhat itu termasuk kebutuhan sosial manusia. Di antara kebutuhan sosial itu misalnya: ingin ditemani, ingin ada orang yang merasa senasib, ingin dipedulikan, ingin dihargai, ingin dianggap, ingin didengarkan, dan seterusnya dan seterusnya. Kata sebuah bait puisi yang pernah saya baca, sumbangsih yang paling berharga untuk sesama kita adalah kesediaan untuk saling mendengarkan.



Menurut Horney (1945), setiap orang itu pada dasarnya memiliki tiga kebutuhan dasar. Kebutuhan pertama adalah kebutuhan untuk mendekati orang lain / orang banyak guna mendapatkan cinta / pengakuan. Curhat bisa masuk dalam kebutuhan ini. Kebutuhan kedua adalah kebutuhan untuk menjauhi orang banyak guna memperoleh kebebasan dan kemandirian. Sedangkan kebutuhan ketiga adalah kebutuhan untuk menentang orang banyak guna mendapatkan kekuasaan atau kekuatan (unjuk gigi).



Terlepas itu berguna atau tidak, tapi prakteknya ini kerap kita lakukan atau sulit dihindari untuk tidak melakukannya. Karena itu, mungkin di sini yang diperlukan adalah melihat kapan dan bagaimana curhat itu kita lakukan. Di bawah ini ada beberap hal yang mungkin perlu kita perhatikan:



Pertama, curhat-lah hanya pada orang yang menurut anda itu layak. Layak di sini pengertiannya mungkin layak dalam menjaga rahasia pribadi, layak dalam menangani masalah, layak secara kedekatan hubungan, dan seterusnya. Jangan curhat kepada semua orang atau sembarang orang. Lain soal kalau niat kita memang hanya untuk iseng.



Kedua, curhat-lah hanya ketika kita mendapati masalah-masalah yang memang perlu curhat. Misalnya saja kita menghadapi masalah yang rasa-rasanya belum terbayang bagaimana menanganinya. Saat itu kita butuh pembanding, butuh konfirmasi (penguat) dari orang lain, butuh informasi, dan seterusnya. Jangan curhat untuk semua masalah. Ini berpotensi menghilangkan power personal atau bisa dianggap kita ini cengeng atau selalu mengeluh. Bedanya terkadang sangat tipis dan tidak ketahuan.



Ketiga, curhat-lah pada waktu yang tepat atau yang kira-kira tidak mengganggu orang yang kita curhati. Jangan sedikit-sedikit curhat atau curhat terlalu lama. Perlu kita ingat bahwa ketika kita sadang sangat butuh untuk curhat, umumnya kondisi emosi kita tidak stabil. Mungkin stress, depresi atau mungkin sedang merasa terhimpit. Dalam kondisi semacam itu, biasanya kita cenderung "agak memaksa" orang lain. Kita ingin secepatnya dipahami oleh orang lain lebih dulu. Padahal kita juga perlu memahami orang lain. Karena itu, yang dibutuhkan di sini adalah kendali diri. Jangan sampai kita mengesampingkan kebutuhan untuk memahami orang lain meski keinginan kita adalah untuk dipahami secepatnya.



Keempat, curhat-lah untuk berbagi pengalaman, pengetahuan dan perasaan. Meski kita yang punya acara untuk curhat itu, tapi jangan lupa juga memberikan kesempatan bicara kepada orang yang kita curhati. Ajukan pertanyaan seputar pengalaman dan pengetahuannya tentang persoalan tertentu. Jangan sampai kita curhat hanya untuk curhat. Walaupun ini sah juga tapi alangkah baiknya kalau kita juga mendapatkan manfaat yang banyak. Selain itu, dapatkan juga dukungan. Agar ini tercapai, kita harus tahu orang yang tepat untuk dicurhati.



Kelima, curhat-lah untuk tujuan yang positif dan konstruktif. Ini maksudnya adalah demi kebaikan kita atau demi untuk memperbaiki situasi. Titik. Kenapa perlu dibatasi? Terkadang kita curhat dengan menjelek-jelekkan orang lain, entah itu atasan, teman, pasangan, keluarga, dan siapa saja yang intinya malah memperkeruh suasana. Masalah kita dengan orang lain dan apa saja yang dilakukan orang lain atas kita memang butuh penjelaskan. Tapi, penjelasan di situ sifatnya untuk membeberkan fakta atau memberikan perspektif yang lebih utuh. Ini agar diketahui apa saja yang sebaiknya kita lakukan. Yang jangan sampai adalah penjelasan itu kita bumbui dengan fitnah, adu domba, kedengkian, manipulasi fakta, dan seterusnya. Ini berbahaya buat kita sendiri dan orang lain tentunya.





Hindari Lima Hal

Meski tidak ada kaidah yang mengatur bagaimana kita seharusnya curhat, tapi sepertinya ada rambu-rambu tak tertulis yang perlu kita perhatikan. Sebagian dari sekian rambu-rambu itu adalah:



Pertama, jangan berharap terlalu banyak (over-expectation). Kita mengharapkan seluruh penyelesaian masalah kepada orang yang kita curhati. Ini berpotensi memunculkan mentalitas yang oleh Bandura disebut Avoiding personal responsibility, kebiasaan melemparkan tanggung jawab. Kita perlu sadar, karena kita yang terkena masalah, maka kitalah yang perlu bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Orang lain itu kita butuhkan sebagai bantuan, bukan sebagai tempat untuk melemparkan tanggung jawab. Kita memang harus butuh orang lain, tetapi tidak boleh mengandalkan orang lain.



Kedua, fokuskan pada perbaikan situasi, masalah, atau problem, bukan pada orang. Kenapa ini penting untuk diingat? Seperti yang sudah kita singgung, terkadang kita ingin curat ketika bermasalah dengan orang lain. Saat itu pikiran kita selalu mengarah pada kesimpulan bahwa orang lain-lah yang harus berubah. Padahal, dalam situasi semacam itu, bisanya ini sangat sulit terwujud.



Sebagai gantinya, fokuskan pada persoalan (problem, not people). Ini berarti arah yang kita capai adalah bagaimana mengubah diri sendiri dalam menghadapi masalah itu, bukan bagaimana mengubah orang lain yang keberadaannya di luar kontrol kita. Mengubah diri sendiri, mengubah pendekatan dan perlakuan kita terhadap orang lain, biasanya akan mengubah orang lain. Untuk mengubah diri sendiri ini, mintalah masukan kepada orang yang kita curhati.



Ketiga, jangan "menjual masalah" melalui curhat. Maksudnya adalah, jangan melakukan curhat untuk diberi semacam yang bisa disebut "belas kasihan", meskipun itu bukan niat kita. Kenapa? Prakteknya, posisi demikian terkadang kurang menarik minat orang lain untuk ber-empati (share of feeling atau peduli). Padahal empati itu mungkin tujuan kita. Tapi jangan juga menampilkan sikap atau prilaku yang bisa disimpulkan sebagai kesombongan atau tidak tahu diri, misalnya menolak bantuan yang kita butuhkan atau enggan berterima kasih atas nama kesombongan dan keangkuhan



Keempat, harus efektif dan efisien. Maksudnya pasti kita sudah tahu. Efektif artinya seimbang antara usaha yang kita lakukan dan hasil yang kita dapatkan (tepat sasaran). Sedangkan efisien adalah penggunaan waktu / biaya yang sebaik-baiknya untuk mencapi hasil yang kita inginkan. Dulu, sebelum tehnologi seluler ditemukan, banyak kantor yang kebobolan teleponnya. Menurut hasil survei yang pernah saya baca, ternyata hanya 20 % penggunaan telepon kantor itu yang untuk urusan kantor. Sisanya tidak jelas, mungkin untuk pacaran, curhat-curhatan, dan seterusnya. Kalau begini caranya, tentu kita rugi dan kantor pun rugi.



Kelima, jangan sampai membuka ruang untuk disalah-tafsirkan. Poin ini sangat penting untuk orang yang sudah berkeluarga. Kata seorang penasehat perkawinan yang saya kenal, amat sangat disarankan untuk tidak curhat kepada orang lain yang lawan jenis, terutama tentang masalah keluarga atau pribadi. Kenapa? Sebetulnya tidak apa-apa juga selama itu dilandasi oleh ke-sepaham-an dan masih dalam batas yang proporsional. Tapi bila dua hal ini tidak ada, ini berpotensi memunculkan salah tafsir dari orang yang kita curhati atau dari orang sekitar.





Untuk Orang yang Dicurhati

Di antara kita pasti ada yang selalu didatangi orang untuk curhat. Kalau anda termasuk, syukurilah itu. Kenapa? Dilihat dari perkembangan teori kecerdasan (Multiple Intelligence), ada yang mengatakan bahwa tanda-tanda orang yang punya kecerdasan Interpersonal itu adalah sering dimintai nasehat, pandangan, pendapat atau mungkin sering dicurhati orang. Kalau itu selalu dikembangkan, pasti akan membuahkan keuntungan, entah itu dalam kehidupan profesi, karir, keluarga atau masyarakat.



Berdasarkan kasus-kasus yang kerap muncul, baik di lapangan atau di dalam penjelasan literatur, nampaknya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Ini antara lain:



Pertama, setiap masalah itu adalah masalah bagi orang yang sedang terkena masalah. Tidak ada masalah yang ringan bagi orang yang sampai merasa perlu untuk men-curhat-kan masalahnya. Artinya, jangan sampai kita menyepelekan masalah orang lain dengan mengatakan, misalnya saja: gitu aja dipikirin, cengeng banget kamu, saya pernah punya masalah yang jauh lebih dahsyat tapi tidak secengeng kamu, dan seterusnya dan seterusnya. Mungkin intinya di sini adalah kita merendahkan orang lain.



Akan lebih bagus kalau kita berusaha mendengarkan, memahami dan mengeksplorasi perspektif ke tingkat yang lebih luas. Kalau kita punya pengalaman pribadi, sampaikan itu ke dalam paket solusi-solusi alternatif. Kalau kita belum punya referensinya, kasihlan pendapat yang mengarah pada penemuan solusi atau perbaikan-perbaikan. Ini akan lebih positif dibanding dengan ketika kita mengangkat diri sendiri dan menjatuhkan orang lain.



Kedua, tunjukkan empati, bukan simpati. Empati itu pada dasarnya adalah peduli atau care (perhatian). Thomas F. Mader & Diane C. Mader, dalam Understanding One Another (1990), menjelaskan, empati itu adalah kapasitas seseorang untuk bisa berbagi atas dasar semangat kepedulian. Peduli ini, kalau mengacu pada teori kompetensi, ada tingkatannya atau ada skalanya. Bentuk peduli yang paling tinggi adalah bantuan nyata atau tindakan.



Lalu kenapa harus menghindari simpati? Simpati yang dimaksudkan di sini adalah menaruh belas kasihan tetapi dasarnya itu adalah (semacam) merendahkan atau menghina orang yang curhat ke kita seolah-olah nasibnya sangat lebih jelek dibanding kita. Simpati dalam pengertian seperti ini agaknya kurang dibutuhkan. Termasuk dalam pengertian simpati di sini adalah, kita ikut hanyut atau larut ke dalam perasaan orang yang curhat sampai-sampai membuat akal sehat kita tidak bekerja untuk melihat persoalan. Logikanya, kalau kita sendiri ikut hanyut, apa ya mungkin kita bisa memberi masukan yang menyehatkan?



Ketiga, faktual dan "problem centered". Menurut teori manajemen, keputusan yang kualitasnya bagus adalah keputusan yang dilandasi fakta, bukan berdasarkan perasaan pribadi. Ini terkadang tepat pula untuk memberi masukan kepada orang yang curhat. Agaknya kita perlu menghindari pemberian saran, masukan atau pendapat yang malah membuat orang malas berpikir, punya harapan atau keyakinan yang tidak realistis, atau malah menghancurkan spirit hidupnya.



Dekatkan orang pada masalah yang dihadapi (faktual) dan bangkitkan spiritnya. Jangan menghibur seseorang dengan kata-kata manis yang tidak mendorongnya untuk melakukan sesuatu (aksi atau antisipasi). Tapi jangan pula menggembosinya dengan opini-opini negatif yang merusak atau kata-kata yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan destruktif.



Keempat, hindari upaya untuk memojokkan, menyalahkan dan apalagi memarahi. Fokuskan pada apa yang bisa dilakukan oleh dia dan oleh kita terkait dengan masalah yang muncul. Bagaimana kalau demi "pendidikan"? Bisa-bisa saja. Cuma, memarahi orang yang sedang terkena masalah biasanya kurang efektif dan sangat mungkin memancing penolakan. Yang ia butuhkan adalah bantuan. Mungkin nanti kalau kita sudah bisa membantu barulah kita memarahinya, kalau memang itu diperlukan. Jangan sampai kita mengatakan sesuatu yang menyakitkan padahal kita tidak bisa membantu apa-apa.



Kelima, jaga "kehormatan" orang yang curhat. Kehormatan di sini termasuk misalnya saja: merahasiakan sesuatu yang memang harus dirahasiakan. Kalau pun itu harus dikatakan kepada orang lain / pihak ketiga, hendaknya itu perlu didesain dengan bahasa yang kira-kira bisa memunculkan solusi atau perbaikan, bukan untuk meremehkan, menjelek-jelekkan, atau membuka aib seseorang.



Itulah sebagian dari sekian hal yang mungkin penting untuk diingat ketika hendak curhat atau ketika dicurhati orang lain. Semoga bermanfaat.

Mendidik Anak

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 31 Oktober 2007

Kalau dilihat dari esensinya, mendidik adalah mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi, dst) orang lain untuk melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain (lingkungan). Dimana letak samanya? Tuhan memberikan tanggung jawab tugas ini kepada semua manusia, siapapun dia, dan apapun status sosialnya. Bahwa kemudian ada profesi yang kita kenal, misalnya saja: dai, pendeta, kyai, public speaker, penceramah, penulis motivasi, konselor, dan lain-lain, ya itu profesi. Lain profesi lain esensi.

Men-dakwah-kan hal-hal positif itu menjadi tugas semua orang karena, salah satu alasannya, di dalam praktek hidup itu ada kenyataan yang pas untuk disebut dengan istilah "konsekuensi dosa kolektif". Kalau dalam suatu daerah ada illegal logging besar-besaran dan membabi buta, lalu sebagian besar penduduk di situ berdiam atau malah mendukung praktek illegal itu, maka bencana banjir yang merupakan akibat logis dari praktek itu tidak dikenakan kepada hanya para penebang. Banjir itu akan melanda siapa saja. Ini contoh yang bisa dianalogikan secara umum.


Begitu juga dengan mengajar atau mendidik. Bahwa ada orang yang berprofesi sebagai guru, dosen, instruktur, dan seterusnya, ya itu profesi. Esensi pekerjaan mengajar sendiri ditugaskan kepada semua orang dan tidak pandang apa profesinya. Bukti riilnya adalah mengajarkan anak tentang hal-hal yang menurut kita itu baik, benar, dan bermanfaat kalau dijalankan.


Sah-sah saja kita punya alasan, misalnya saja, saya bukan berprofesi pendidik, bukan keturunan guru, saya tidak bakat mengajar, saya tidak sabaran mengajari anak kecil, dan lain-lain. Tetapi yang menjadi soal bukan itu. Persoalannya adalah, ketika kita tidak mengajarkan sesuatu maka anak-anak kita tidak mendapatkan pengajaran dari kita. Padahal keberadaan kita bagi mereka sangatlah penting. Ini tentu sudah mafhun bagi kita.

Saking pentingnya peranan kita itu bisa dilihat di berbagai temuan di bidang pendidikan. Ini misalnya dikatakan bahwa keluarga itu adalah sekolah yang pertama kali dilihat oleh anak. Banyak ahli mengatakan bahwa masa emas bagi perkembangan anak-anak itu pada masa lima tahun pertama. Ada yang mengatakan empat tahun. Ada yang mengatakan tiga sampai tujuh tahun. Ada yang mengatakan lagi sampai anak-anak itu menemukan dirinya sendiri dengan perkiraan usia minimalnya dua puluh tahun.


Mana yang paling benar sebetulnya? Mungkin masalahnya bukan pada usia berapa orangtua itu berperan emas bagi anak-anaknya. Kenapa? Prakteknya, peranan orangtua bagi anak-anak itu tidak terbatasi oleh usia. Menurut teori lain, otak manusia itu bisa diajari, bisa belajar, atau bisa menerima pelajaran sepanjang hidup. Ini berarti bahwa orangtua itu tetap punya peluang emas untuk mengajarkan sesuatu sepanjang peluang itu digunakan.


Nah, terlepas dari obrolan di atas, sebetulnya ada satu hal yang ingin kita angkat di sini. Ini terkait dengan bagaimana memilih metode pendidikan yang pas untuk kita yang memang bukan berprofesi sebagai pendidik. Seorang ibu bahkan sempat mengutarakan kebingungannya. "Katanya, kita ini tidak boleh keras sama anak. Tapi katanya lagi, kita tidak boleh memanjakan anak. Jadi mana dong metode mendidik anak yang perlu diikuti?"


Memang, dalam pendidikan dikenal sebuah sabda yang bunyinya begini: "Metode yang kita gunakan untuk mendidik itu lebih menentukan keberhasilan pendidikan ketimbang materi yang kita berikan." Dengan sabda ini, banyak orang, terutama yang bukan pendidik, tidak pede dengan cara-cara atau metode yang diciptakannya sendiri dalam mendidik anak-anaknya. "Apakah metode ini salah atau betul?", "Apakah saya terlalu keras atau terlalu memanjakan si anak?", dan seterusnya dan seterusnya.


Kalau kita kembalikan ke esesi di atas, sebetulnya Tuhan sudah fair di sini. Fair nya adalah, semua orang sudah dibekali kapasitas tertentu untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, misalnya saja, kepada anaknya atau adiknya atau lingkungannya. Bahwa ada yang bergaya tegas, galak, sedikit cerewet, bahasanya halus, sabaran, dsb. Itu semua adalah gaya, sesuatu yang pada prinsipnya bisa diubah sesuai usaha kita. Bukan hanya itu saja. Selain kita sudah diberi kapasitas dasar untuk mengajarkan sesuatu, kita pun sudah diberi resources atau bekal untuk mengajar. Karena itu, apapun profesi kita, seperti apapun sifat-sifat dan kepribadian kita, ini semua tidak menjadi halangan untuk bisa menjadi pengajar atau pendidik di rumah.


Apa saja prinsip-prinsip dasar yang perlu kita jalankan (bukan sekedar untuk diketahui) dalam mengajar atau mendidik (meski profesi kita bukan pendidik atau pengajar)? Secara umum, prinsip-prinsip dasar itu bisa diuraikan sebagai berikut:

Pertama, menjauhi hal-hal yang ekstrim. Teori apapun di dunia ini pasti melarang yang satu ini. Contoh teori mendidik anak yang ekstrim itu misalnya kita dulu pernah mengalami perlakuan yang menurut kita keras dari orangtua. Sudah sedemikian keras orangtua itu mendidik kita, fasilitas hidup pun kurang, pas-pasan atau sangat dibatasi.


Sebagai reaksinya, kita menggunakan metode yang menjadi padanannya secara ekstrim. Misalnya saja kita terlalu memanjakan dan memberikan fasilitas yang berlebihan sebagai reaksi atau balasan atas masa lalu. Anak merasa punya kebebasan yang membuat dirinya tidak tahu apa yang boleh dan apa yang tidak, tidak tahu apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan, dan seterusnya. Atau misalnya saja anak merasa semua hidupnya diselesaikan dengan pembantu atau asisten orangtua.


Nah, kalau menelaah temuan-temuan ilmu pengetahuan, anak yang menerima perlakuan terlalu ekstrim enaknya atau terlalu ekstrim tidak enaknya, itu sama-sama kurang bagus. Teori stress mengatakan, orang yang terlalu sedikit stress itu sama jeleknya dengan orang yang terlalu banyak stress. Teori kreativitas juga mengatakan yang sama. Untuk perkembangan kreativitas, terlalu tertekan itu sama-sama jeleknya dengan terlalu nyantai. Terlalu banyak tersedia fasilitas itu juga mungkin sama jeleknya dengan terlalu krisis.


Konon, dengan semakin banyaknya tumbuh generasi keluarga kedua yang lebih makmur dari orangtuanya dulu, kini yang kerap dianggap menjadi persoalan adalah bagaimana me-militansi-kan mentalitas anak-anak. Militansi anak-anak terancam oleh berlimpahnya fasilitas dan kemanjaan yang tidak disentuh oleh nilai-nilai pendidikan. Seorang bapak yang dulu anaknya pernah saya ajar mengatakan anak-anak sekarang ini cenderung tidak mau susah, gampang menyerah, maunya fasilitas duluan.


Untuk bisa menghindari hal-hal yang ekstrim ini tentu tidak bisa kita capai dengan sekali-jadi. Ini adalah proses yang dinamis. Karena itu, idealnya adalah kita perlu me-record berbagai proses pendidikan yang pernah kita terima, entah dari orangtua, lingkungan, atau sekolah. Ini agar kita punya data atau landasan untuk bisa menemukan yang "proper" buat anak-anak yang hendak kita didik.


Kedua, mendidik atau mengajar itu adalah "the game" (permainan yang bukan sekedar main-main). Dikatakan permainan berarti kita dituntut untuk mengeluarkan jurus-jurus yang sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan atau fakta-fakta yang ada. Atau kalau dipendekkan, harus sesuai dengan tindakan si anak pada real time. Kalau kita membiarakan anak-anak hanya karena takut dikutuk teori pendidikan atau puisi pendidikan, padahal situasinya saat itu membutuhkan ketegasan sikap dari kita, ini juga tidak tepat.


Dengan kata lain, silahkan kita marah, lembut, diam, atau bersikap tegas, sejauh itu memang dibutuhkan oleh fakta-fakta di lapangan. Namanya juga bermain dan permainan. Yang terpenting dalam the game itu, menurut nasehat Sun Zhu, adalah menjaga emosi dan memperhatikan perilaku orang lain. Dalam konteksnya dengan pendidikan adalah, jurus apapun yang kita keluarkan, hendaknya itu perlu kita niati untuk mendidik (to educate). Artinya: menjaga emosi dan memperhatikan perilaku. Artinya lagi, teori apapun dalam pendidikan itu perlu kita tafsirkan dan jalankan dengan akal sehat dan jangan sampai "termakan" oleh teori.


Kekurangan yang kerapkali kita jalankan tanpa sadar adalah, kita men-judge anak bukan dari tindakannya atau kasusnya atau faktanya, melainkan menciptakan sebuah konsepsi-diri dalam bentuk sifat-sifat yang umum. Ini misalnya kita mengatakan si anak itu pemalas padahal yang kita maksudkan adalah anak menolak disuruh mengambil gelas di meja makan. Bahkan tak jarang anak menerima sebutan misalnya: anak yang bodoh, anak yang nakal, anak yang bla bla bla, dan seterusnya.


Kekurangan lainnya adalah kita menjadikan jurus-jurus itu tanpa tujuan. Artinya, ketika marah, yang membuat kita marah adalah hanya kejengkelan. Ketika kita baik, yang membuat kita baik adalah karena tidak tahan ditekan sama anak. Idealnya, baik kita sedang galak atau sedang lembut, semua itu kita niati untuk mendidik atau mengarahkan mereka pada yang baik berdasarkan keadaannya. Tradisi orangtua kita berpesan, mendidik itu terkadang harus di depan, di tengah atau di belakang. Ini tergantung situasi dan medan.


Ketiga, mempertimbangkan suasana batin dan lahir. Kalau mau jujur, metode pendidikan yang paling banyak kita gemari adalah metode ceramah, meskipun menurut rumus pendidikannya, anak-anak itu lebih banyak menyerap dari apa yang kita lakukan (imitasi).


Nah, metode ceramah pun sebetulnya oke-oke saja sejauh kita melihat ada pengaruh positif. Yang sangat penting untuk kita jalankan bersama adalah, hendaknya jangan sampai kita berceramah pada saat kita marah atau si anak dalam kondisi batin yang tidak mendukung. Kalau pun itu sudah terlanjur kita lakukan, akan lebih baik kita menciptakan atau menemukan suasana baru yang mendukung untuk menjelaskan ulang materi ceramah kita di kesempatan yang berbeda. Lebih-lebih jika itu kita lakukan secara dialogis dan berduaan.


Nasehat itu diibaratkan seperti salju. Semakin lembut salju itu, semakin kuat daya serapnya ke bawah. Tao berpesan, dimanapun di dunia ini, yang lembut pasti mengalahkan yang kasar. Sayangnya, semua orang berpikir untuk menggunakan kekasaran dan mengabaikan kelembutan. Kita lebih cenderung berkesimpulan secara cepat bahwa kekasaranlah yang akan menang padahal nyatanya seringkali itu tipuan. Justru kelembutan yang akhirnya menjadi the winner.


Keempat, kesabaran. Semua orang sudah tahu bahwa kesabaranlah yang akhirnya memenangkan proses pendidikan. Dalam beberapa kasus terkait dengan kenakalan anak yang sudah pada tahap luar biasa, misalnya mengkonsumsi narkoba, kebodohan akademik yang dibarengi dengan kenakalan, dan lain-lain, maka yang kita saksikan adalah kesabaran di sana menjadi pemenangnya.


Kesabaran di sini maksudnya bukan membiarkan penyimpangan atau memendam protes dan kejengkelan yang tidak sanggup kita nyatakan, melainkan kontinyuitas kesadaran dan tindakan. Jadi kalau kita tetap sadar untuk menempati posisi sebagai pendidik atau pengajar dan terus melakukan hal-hal yang dibutuhkan dalam proses pendidikan itu, berdasarkan fakta yang kita lihat, berarti kita telah menjalankan prinsip kesabaran. Contoh yang paling riil itu misalnya adalah kesabaran yang dilakukan ibundanya Edison. Anaknya dinyatakan tidak pantas mengikuti pendidikan sekolah formal tapi ibunya tetap tidak percaya itu dan sabar dalam mendidik anaknya.


Karena kesabaran itu letaknya pada kontinyuitas kesadaran dan tindakan, makanya kerap kita dengar bahwa kesabaran ada tiga, yaitu: a) kesabaran dalam melakukan hal-hal yang berdampak baik, b) kesabaran dalam melawan / meluruskan penyimpangan, c) kesabaran dalam menghindari hal-hal yang berdampak buruk. Bahkan kalau melihat literatur tentang perjuangan manusia, kesabaran ini diakui sebagai prinsip usaha yang tidak ada penggantinya. Kesabaran yang benar adalah kesabaran yang menjadi kekuatan kita.


Kelima, keteladanan. Ini juga prinsip dalam pendidikan dan pengajaran. Mau kita paham teori pendidikan atau tidak, keteladanan adalah prinsip yang harus ada dalam proses pendidikan. Karena itu, dikatakan bahwa keteladanan itu bukan salah satu teori pendidikan, melainkan satu-satunya. Artinya, metode apapun yang kita gunakan, tetap harus ada keteladanan ini.


Dengan menggunakan kalkulasi yang tidak ideal, kita kerap menyaksikan fakta-fakta dimana ada orang yang mungkin secara teori-tekstual tidak banyak tahu tentang perkembangan konsep-konsep pendidikan tetapi prakteknya berhasil mendidik orang, mau itu muridnya atau anaknya. Apa rahasia mereka? Dari yang kita lihat, rahasianya adalah ketaatan terhadap prinsip-prinsip utama yang jumlahnya sedikit, yang sudah kita ketahui, dan yang sudah dijalankan oleh mereka dengan sepenuh hati. Ini misalnya adalah kesabaran, ketegasan atau keteladanan.


Menurut Kahlil Ghibran, anak-anak itu memang bukan milik kita. Mau kita miliki atau tidak kita miliki, anak-anak akan tetap memiliki dirinya sendiri dan menjadi milik kekasihnya. Meskipun bukan milik kita, tetapi anak-anak itu menjadi tanggung jawab kita. Tanggung jawab inilah yang pas untuk menerjemahkan status anak sebagai amanat dan ujian. Semoga bermanfaat.

Mengenal Cara Belajar Individu

Oleh : Zainun Mutadin, SPsi. MSi.
Jakarta, 26 September 2002

Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.

Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi "pintar". Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.

Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.

Otak Sebagai Pusat Belajar

Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.

Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain (dalam DePorter & Hernacki, 2001). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan yang ketiga adalah neokorteks.

Batang otak memiliki kesamaan struktur dengan otak reptil, bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motorik-sensorik-pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Perilaku yang dikembangkan bagian ini adalah perilaku untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies.

Disekeliling batang otak terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistem ini berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Sistem limbik adalah panel kontrol dalam penggunaan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan ke pemikir dalam otak yaitu neokorteks.

Neokorteks terbungkus di sekitar sisi sistem limbik, yang merupkan 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia. Bagian inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir intelektual, pembuatan keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasan non verbal. Dalam neokorteks ini pula kecerdasan yang lebih tinggi berada, diantaranya adalah : kecerdasan linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal dan intuisi.

Karakteristik Cara Belajar

Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual

Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
rapi dan teratur
*
berbicara dengan cepat
*
mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik
*
teliti dan rinci
*
mementingkan penampilan
*
lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar
*
mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual
*
memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik
*
biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar
*
sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)
*
merupakan pembaca yang cepat dan tekun
*
lebih suka membaca daripada dibacakan
*
dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.
*
jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara
*
lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
*
sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak'
*
lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah
*
lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik
*
seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata

2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial

Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja
*
mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik
*
lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca
*
jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras
*
dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara
*
mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita
*
berbicara dalam irama yang terpola dengan baik
*
berbicara dengan sangat fasih
*
lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya
*
belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat
*
senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar
*
mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi
*
lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya
*
lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik

3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik

Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
berbicara dengan perlahan
*
menanggapi perhatian fisik
*
menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka
*
berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain
*
banyak gerak fisik
*
memiliki perkembangan otot yang baik
*
belajar melalui praktek langsung atau manipulasi
*
menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung
*
menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca
*
banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)
*
tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama
*
sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut
*
menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
*
pada umumnya tulisannya jelek
*
menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)
*
ingin melakukan segala sesuatu

Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat