Minggu, 16 Oktober 2011

Dibalik Daun-daun yang Berserakan

Dahulu, di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai berjualan, Ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudu, masuk masjid, dan shalat Dhuhur.

Setelah membaca wirid dan doa sekadarnya, nenek tersebut keluar masjid, lalu membungkuk-bungkuk di halaman. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceraan. Selembar demi selembar dikaisnya, tidak satu lembar pun ia lewatkan.

Tentu saja perlu waktu lama untuk membersihkan halaman masjid dari dedaunan yang jatuh dari pohon dengan cara seperti itu. Padahal, jika tengah hari, sengatan matahari di Madura sungguh menyengat. Keringat pun mengucur dari tubuh yang kurus dan mulai rapuh itu.

Banyak pengunjung masjid yang merasa iba kepadanya. Hingga suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum si nenek datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai menunaikan shalat, ketika hendak melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut.

Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan lalu menangis. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang pun menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "berikan aku kesempatan untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan daun-daun yang berserakan seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan tua itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun di halaman masjid.

Ia pun mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat; pertama, hanya Pak Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang, ia sudah meninggal, dan kita bisa mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, Pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat tanpa syafaat Kanjeng Rasulullah.

Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya telah membacakan shalawat kepadanya."

Begitulah, ketika seseorang mencintai Nabinya, ia akan mencari seribu satu cara agar bisa menyalurkan rasa cinta itu. Nenek renta ini bukanlah seorang ulama terkenal, ia hanyalah seorang penjual bunga cempaka.

Tidak banyak kata dalam kamus kehidupannya untuk mengungkapkan kerinduannya kepada Rasulullah. Namun, dengan kesederhanaan yang begitu jernih dan berbalut keikhlasan, ia telah mampu menginspirasi banyak orang untuk mempertanyakan sejauh mana kecintaannya kepada Al Musthafa, Rasulullah saw.

Merindukan Mati Syahid

Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Al Khathab berkeliling kota membangunkan kaum muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat tiba, beliau sendiri yang mengatur saf (barisan) dan mengimami para jamaah.

Pada shubuh itu, tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur.

Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Padahal, waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.

Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah.

Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!"

Lalu, yang hadir serentak berkata, "Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."

Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Lalu, beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. Taklama kemudian, sahabat terbaik Rasulullah saw. ini pun wafat.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada Umar Al Faruq ini adalah buah dari doa yang beliau panjatkan kepada Allah Swt. Alkisah, suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, beliau membaca doa, "Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah)." (HR Malik)

Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, Umar pun menceritakan soal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, "Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya."

Dengan ringan, Umar menjawab, "Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah."

Keesokan harinya, saat Umar mengimami shalat shubuh di masjid, seorang pengkhianat Majusi bernama Abu Lu'luah itu menghunuskan pisaunya ke tubuh Umar yang menyebabkan beliau mendapat tiga tusukan dalam dan tubuhnya pun roboh di samping mihrab.

Seperti itulah, Allah telah mengabulkan doa Umar bin Al Khathab untuk bisa syahid di Madinah dan dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

Jumat, 07 Oktober 2011

Mandirikah Kita Dalam Berkeyakinan ?

Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.


Berpuasa adalah suatu kewajiban bagi satu umat yang mengimani atau meyakini agama. Berpuasa secara lahir dan batin, tampaknya merupakan bagian dari kehidupan umat beragama dalam menjalankan keyakinannya. Yang jadi pertanyaan, apakah situasi ini memiliki implikasi "pentertiban" serta "pembersihan" segala sesuatu yang dianggap mengancam kelancaran menjalani keyakinan tersebut? Apa yang termasuk kategori "pengganggu"? Apakah suksesnya menjalankan keyakinan tersebut, tergantung dari faktor eksternal atau internal?



Dalam kerangka psikologi, maka locus of control apa yang bekerja pada diri atau umat yang menjalani suatu keyakinan? Internal atau eksternal? Setiap diri berada dalam kontinum yang bergerak dinamis antara internal dan eksternal. Tidak ada rumus baku dalam kategori insani, yang berlaku adalah kecenderungan yang relatif stabil hingga membentuk suatu atribusi. Ketika kita cenderung menyalahkan banyaknya jajanan yang berentet di tengah hari, maka locus of control eksternal lah yang mewujud.



Kita, di negeri yang beragam yang mengembar-gemborkan indahnya perbedaan tapi di waktu yang sama berusaha keras menggerus perbedaan itu. Iklan keindahan keberagaman masih dimanfaatkan sebagai mantra bius untuk melengahkan mereka yang berbeda dengan diri untuk kemudian diluluh-lantakan dengan mudah. Cara yang tidak ksatria tetapi ampuh dan efektif.



Berbicara keyakinan, seringkali bahkan "wajib" membawa serta kata toleransi. Bagaimana dengan keyakinan akan suatu keyakinan? Banyak sekali peristiwa yang berwarna anarkis demi menegakkan sebuah keyakinan diri yang jelas berbeda dengan keyakinan yang menjadi korban anarkis itu.



Coba kita renungkan:

Bulan puasa, maka restoran, cafe, warung makan, warung kopi, bar, diskotek, harus ditutup, dirazia. Bahkan ada satu tayangan di televisi ketika bulan puasa tahun lalu, razia di satu warung sangat sederhana oleh orang-orang berseragam di tengah hari, mereka merazia gelas-gelas yang telah siap dengan kopi untuk segera diseduh jika ada pembeli datang.



Pertanyaannya:

Siapa yang berpuasa? Berpuasa untuk siapa? Siapa yang menjadi Tuhan?



Gambaran itu tidak jauh berbeda dengan memori sebagian besar orang dewasa ketika baru belajar berpuasa. Pada suatu siang yang terik, kala seorang anak berusia 10 tahun berjuang menahan lapar, tiba-tiba sang adik yang berumur 5 tahun menjilati es krim tepat di depan mata. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mengusir atau merazia es krim sang adik!



Apakah internalisasi seperti ini yang banyak membentuk fondasi sebagian dari diri kita dalam menjalani keyakinan hingga usia lanjut. Hal ini pula yang merasuki sikap dan perilaku dalam bab lain kehidupan, politik salah satunya. Memberangus semua yang berbeda menjadi jalan utama untuk menghidupkan api politik.



Melirik eksistensialis

Bukan agama, melainkan eksistensi menjalani agama, itu yang penting, demikian diungkapkan filsuf eksistensialis dari Denmark, Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855). Eksistensi menjadi suatu kewajiban dan tanggung jawab tiap diri. Dalam kehidupan, manusia mengalami tiga tingkatan yakni estetika, etis dan religiusitas sebagai eksistensi tertinggi.



Eksistensi estetika, menurut Kierkegaard ada pada tataran terendah di mana kenikmatan menjadi kuncinya. Ia menggambarkan Don Juan yang selalu menuntut terpenuhinya kepuasan dan kenikmatan. Prinsip ini pula yang Freud kemukakan sebagai Id yang berorientasi pada insting-insting dengan ciri pemenuhan kenikmatan. Tingkat berikutnya, eksistensi etis, saya melihatnya juga kurang lebih sebagai superego dalam bahasa Freud. Tataran etis ini telah melibatkan Other (Yang Lain/Liyan) sebagai tolak ukur.



Penulis sendiri sangat tertarik dengan eksistensi religius yang dikemukakan Kierkegaard sebagai eksistensi sebenarnya seorang anak manusia. Eksistensi itu hanya ada di hadapan Tuhan. Manusia menemukan eksistensinya dalam hubungan dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan, individu menjadi diri itu sendiri. Bukan sebagai Direktur PT. A, bukan sebagai Profesor di Universitas Hebat, bukan, tetapi sebagai diri itu seutuhnya. Agaknya di sini pernyataan Jean-Paul Sartre (1905-1980) menemukan titiknya, ...other is hell.



Orang lain adalah neraka bagi eksistensi diri. Pertemuan dengan liyan berpotensi mematikan eksistensi diri individu. Tapi saya tidak setuju, karena liyan adalah pintu kemungkinan untuk diri keluar dari keterbatasan sebagai individu.



Kierkegaard meyakinkan bahwa dalam eksistensinya, manusia mendapatkan kebebasan. Manusia bebas memilih, menciptakan, menemukan, sekaligus bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Bertolak dari itu, maka pencarian dan pembentukan eksistensi menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan dalam kehidupan.



Self-disclosure

Berbagi informasi tentang diri sendiri merupakan salah satu bentuk komunikasi langsung. Bagi kultur masyarakat individualis, pengungkapan diri merupakan satu nilai terbesar yang dihayati, karena membuka kesempatan untuk menentukan pilihan sekaligus juga sarana untuk lebih mengenal orang lain. Namun bagi kultur masyarakat kolektif, adalah lebih penting untuk mengetahui afiliasi dan status seseorang ketimbang latar belakang atau perasaannya.



Dalam studinya, Derlega & Stepien (1977 dalam Smith & Bond,1993) membandingkan self-disclosure antara negara kolektif (Hong Kong, Taiwan & Jepang) dan individualis (Amerika Serikat), terdapat perbedaan signifikan dalam self-disclosure di dalam in-group dan out-group bagi masyarakat kolektif. Sementara di masyarakat individualis, tidak terdapat perbedaan signifikan.



Studi tersebut memang dilakukan kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu. Namun penulis masih melihat sebagai penjelasan yang signifikan di era sekarang, terutama untuk Indonesia. Merujuk studi tersebut, status seseorang lah yang lebih diperhatikan dalam relasi di masyarakat, bukan sejarah atau perasaan yang sedang ada. Penjelasan ini menambah pemahaman, mengapa mudah sekali terjadi konflik dan prasangka antar umat agama. Yang langsung ditangkap bagi kita adalah "perbedaannya" tidak terlalu penting cerita di balik itu apalagi perasaan mereka yang di luar kelompok meski sebagai sesama manusia.



Pertanyaannya, mengapa terlihat ironis, terjadi di negara atau masyarakat kolektif? Jika ditelusuri lebih dalam, sebenarnya juga tidak terlalu kontradiksi. Masyarakat yang mengutamakan kelompok atau harmonisasi kelompok, lebih peka dan membutuhkan kelompok lain yang mampu membedakan antara kelompoknya dan kelompok lain. Maka status, nama atau penanda lain menjadi begitu mudah tertangkap oleh diri, yang sayangnya seringkali mengaburkan nilai-nilai universal kemanusiaan.



Pada masyarakat individualis, bukan berarti tidak terdapat in-group - out-group, namun penekanan individu lebih menonjol. Maka, yang hubungan interpersonal menjadi tema yang coba dimaksimalkan. Self-disclosure menjadi salah satu pintu komunikasi langsung untuk menyatakan diri dan mengenal diri orang lain. Perahu kelompok tidak terlalu mendominasi, tiap individu membawa dirinya masing-masing dalam relasi kehidupan.



Apa itu toleransi?

Walzer (1997), menuliskan bahwa toleransi dipahami sebagai suatu sikap atau pemikiran, yang tergambar dalam sejumlah kemungkinan, yakni; (1) toleransi beragama: menerima perbedaan demi terciptanya perdamaian; (2) pasif, rileks, ramah terhadap perbedaan meski tidak menyukai atau tertarik, "It takes all kinds to make a world"; (3) moral yang tenang: suatu prinsip yang bahwa pihak atau orang lain pun tetap mempunyai hak sekalipun mereka melakukan haknya dengan cara kurang yang menyenangkan; (4) terbuka pada orang lain: adanya rasa ingin tahu atau lebih pada sikap menghargai, adanya kemauan untuk mendengar dan mempelajari; (5) antusias dalam mendukung perbedaan.



Pada nomor berapa tepatnya toleransi yang kita jalani? Apakah kita menghayati pula pemahaman toleransi no 4 dan 5 ? Melihat tingkat "ketersinggungan" dan sensitivitas fanatis, saya rasa kita baru pada toleransi "asal tidak mengganggu". Bukan cerita di balik perbedaan yang menarik, tetapi "anda silahkan berbeda, tapi jangan tanya-tanya apalagi mengkritisi saya". Akhirnya, yang terjadi adalah tarik menarik tiap kelompok meminta untuk dihargai, dimengerti, ditoleransikan. Sikap menuntut, perilaku memaksa sadar atau tidak sadar.



Kita dalam eksistensi?

Wajarkah mengamuk pada pihak yang dianggap bertanggung jawab "menghalangi" bahkan "berpotensi mematikan" eksistensi kita? Ketika kita menuntut pihak lain untuk menghormati diri kita, sadarkah bahwa kita juga menyatakan ketidaksanggupan diri untuk menjalankan keyakinan diri? Ingatkah kita di balik baju mereka yang berbeda warna, mereka adalah liyan yang mampu menjadi kemungkinan bagi ketidakmungkinan diri kita? Pernahkah terbayang bahwa kita yang ketika itu memposisikan diri sebagai "orang suci" dan "penghakim" berpeluang sama besar untuk menjadi mereka yang saat itu kita stempel sebagai setan?



Seiring dengan usia bangsa yang telah menggaungkan kebinekaan, akan sampai kapan kita menunda nilai itu meresap dalam diri kita?



Kembali pertanyaan siapa yang menjalani keyakinan, menjadi krusial. Kemandirian menjalaninya menjadi sesuatu yang kabur. Kelucuan tidak terasa, ketika diri harus menahan godaan untuk tidak makan atau minum, tidak melakukan kegiatan yang "dipuasakan", maka cara yang diambil adalah dengan menghilangkan seluruh objek godaan itu. Lalu, apa yang ditahan?



Evaluasi & merombak pembelajaran

Kita perlu mencari model pembelajaran lain yang lebih bisa menanamkan pemahaman - right / correct reasoning dalam diri sejak dini, tentang mengapa manusia perlu melatih kekuatan internalnya, hingga hampir di setiap agama memiliki aturan menahan diri. Apakah bisa menjadi evaluasi diri, bahwa "pemaksaan" meski dengan iming-iming reward ketika masa kecil, menjadi pola belajar yang efektif untuk meningkatkan internal locus of control?



Penanaman pemahaman lah yang bisa membentuk "kemandirian diri" sejak dini; diri yang tidak melihat liyan sebagai "musuh" yang perlu dihancurkan. Cobalah kita belajar mengamati, merenungkan dari rekaman pengalaman serta kejadian masa kecil yang terus berlangsung dalam kehidupan ini, dalam wujud yang berbeda. Memang kelihatannya sepele, namun berpeluang besar untuk menumbuhkan toleransi dalam makna yang sesungguhnya. Toleransi yang bermodal pemahaman, bukan toleransi yang bernada "tak acuh" atau "asal tidak mengganggu".



Maka, kapan lagi, jika tidak mulai sekarang kita membuka diri untuk bisa memahami keyakinan orang lain yang berbeda dari keyakinan kita?



Percayakah kita bahwa interaksi itu berlangsung timbal balik, bukan satu arah panah? Maukah kita mewujudkannya?



Selamat Berpuasa & Merayakan Idul Fitri dalam kesucian yang berhasil dimenangkan dalam perjuangan diri yang mandiri. Bukan dalam kemanjaan yang membesar menjadi keangkuhan dan arogansi diri.



***

Literatur

Walzer, Michael (1997) On toleration. New Haven; Yale University Press

Smith, Peter B. & Bond, Michael H. (1993) Social psychology across cultures; analysis & perspectives. New York; Harvester Wheatsheaf

Perselingkuhan Bagi Wanita yang Belum Menikah

Oleh : Jacinta F. Rini


Realistis atau pun tidak, mau diterima atau pun disanggah, kenyataan bahwa affair yang dilakukan seorang wanita dengan pria yang sudah berkeluarga, sebenarnya menjadi masalah yang sangat serius dan akan menyita tidak hanya waktu dan energi, tetapi juga seluruh kehidupan dan vitalitasnya; dan kondisi ini sering menyebabkan seorang wanita kehilangan harga diri.

Setiap affair yang dibuat pasti dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan itu sebenarnya sudah menjadi beban bagi pihak wanitanya. Alasannya mudah saja :
Semua kegiatan harus dilakukan dan dijaga ketat kerahasiaannya, seperti kapan bertemu dan dimana tempatnya; mereka juga harus menjaga agar tidak terlihat bersama-sama di depan umum agar mengundang kecurigaan apalagi di Indonesia yang kultur adat istiadat dan keagamaannya masih kuat.
Seorang wanita yang menjadi WIL (wanita intim lain) bagi seorang pria yang sudah berkeluarga, harus menerima kenyataan bahwa dirinya harus mampu dan mau menjadi prioritas kedua setelah keluarga sang pria. Dengan demikian, ia harus mengikuti segala jadwal, kegiatan dan rencana dari pihak pria. Akibatnya, pihak wanita tersebut harus rela kehilangan kebebasan dalam mengatur waktunya sendiri karena harus menyesuaikan dengan waktu sang pria. Sang wanita harus menerima kenyataan, bahwa dirinya harus menduduki urutan ke sekian dalam kehidupan sang pria setelah anak-anaknya, istrinya dan pekerjaannya. Padahal, pekerjaan menunggu itu saja sudah menyita tidak hanya waktu namun juga energi sehingga dirinya sudah tidak mampu lagi melakukan aktivitas-aktivitas yang positif atau pun terarah untuk sesuatu yang lebih baik bagi kehidupannya sendiri.
Sekali seorang wanita mau menjadi WIL pria yang sudah berkeluarga, secara tidak disadarinya ia sudah mengorbankan pengendaliannya terhadap kehidupannya. Secara tidak disadari ia mengorbankan kebebasan diri sendiri sehingga akhirnya tidak mampu lagi mempertahankan citra bahwa dirinya dahulu wanita yang sangat penuh kendali. Kondisi ini lama kelamaan menurunkan harga dirinya. Apalagi jika sang pria tidak menepati janji misalnya untuk menceraikan istri sahnya, maka ia akan lebih merasa sakit hati dan kecewa; kecuali jika sejak awal ia sudah membatasi keterlibatan emosional secara mendalam terhadap sang pria sebagai antisipasi terhadap kekecewaan (namun seringkali bagi pihak wanita hal tersebut tidak mungkin terjadi, karena justru wanita lah yang sering melibatkan faktor emosional pada si pria).
Banyak kenyataan menunjukkan, wanita yang terlibat affair dengan pria yang sudah berkeluarga, pada akhirnya mengalami kepahitan, kekecewaan, sakit hati, perasaan dikhianati karena dirinya sudah sangat tergantung baik secara emosional maupun secara materi dengan si pria yang sudah berkeluarga tersebut. Di lain pihak, mungkin ia sendiri juga merasa bersalah dan cemas jika ternyata berhasil memaksa si pria untuk meninggalkan keluarganya. Akhirnya, setiap saat si wanita merasakan pergumulan batin terus-menerus dan konflik yang menguras energi sehingga lama kelamaan energi negatif tersebut dapat menghancurkan kehidupan, karir, dan dirinya sendiri.

Jadi, jika ada di antara Anda yang mempunyai teman yang berselingkuh atau mungkin Anda sendiri yang sudah melangkah pada kehidupan semacam itu, coba lah untuk lebih realistis dan obyektif dalam memandang persoalan yang sedang dihadapi agar pada akhirnya apa yang dilakukan tidak merusak kehidupan kita sendiri dan kehidupan orang lain. Sebab, bagaimana pun juga bagi kaum wanita, akan lebih sulit untuk tidak melibatkan emosi secara mendalam terhadap sang pria karena memang wanita lebih sensitif dan emosional dibandingkan pria yang sering dikatakan rasional. Sebaliknya, akan lebih mudah bagi pria untuk memutuskan hubungan perselingkuhan jika pada saatnya nanti berhadapan dengan pilihan sulit atau pun sadar dengan sendirinya, karena pria seringkali tidak sampai melibatkan emosinya yang paling dalam. Namun jika ternyata dalam hubungan perselingkuhan tersebut keduanya sudah terlalu jauh baik dalam hal emosional maupun seksual, maka kondisi tersebut sudah dapat dikatakan ancaman serius bagi rumah tangga pihak yang sudah berkeluarga.

Tips : Memberi Stimulasi Anak di Masa Golden Age

The Golden Age, adalah masa-masa dimana kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi si anak di kemuadian hari. Walaupun beberapa pakar menyebutkan sedikit perbedaan tentang rentang waktu masa Golden Age, yaitu 0-2 th, 0-3 th, 0-5 th atau 0-8 th, namun semuanya sepakat bahwa awal-awal tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas mereka.

Oleh karena itu masa Golden Age sering pula dikenal dengan “masa-masa penting anak yang tidak bisa diulang”. Di masa-masa inilah, peran orang tua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptimalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional dan spriritual.



Berikut ini adalah tips dalam memberikan stimulasi/rangsangan anak pada masa golden age guna mengoptimalkan kecerdasan mereka:



Stimulasi yang Anda berikan bisa berupa pengalaman di alam terbuka.

Untuk anak-anak pengamatan mereka akan alam sangat detil. Anak-anak biasanya akan belajar banyak dengan hanya mengamati. Orang tua bisa bercerita tetang alam dan binatang. Jawablah pertanyaan anak dengan bahasa mereka yang sederhana. Dan lebih banyak ajukan pertanyaan untuk menggugah rasa ingin tahu anak.



Anak juga belajar dengan mengamati dan meniru Anda.

Maka sebagai orang tua Anda bisa menstimulasi mereka dengan menjadi teladan anak. Kalau Anda senang membaca, kemungkinan besar anak pun akan demikian.



Jangan berikan target, tetapi hargailah anak atas usahanya.

Kalau anak diberi standar-standar harus bisa membaca pada usia sekian, anak harus pandai membaca, maka anak akan mati-matian menyenangkan orang tuanya walaupun hati mereka tidak bahagia.



Pujilah mereka atas usahanya.

Berikan mereka reward atas usaha yang telah mereka berikan dengan hal yang bermanfaat, misalnya dengan mengajak mereka jalan-jalan ke toko buku, taman pintar, water boom dan lain-lain.



Berikan mainan yang bermanfaat bagi perkembangan keterampilan anak seusia mereka.

Berilah mereka kasih sayang dan rasa aman sehingga mereka pun akan sanggup memberi kasih sayang pada sesamanya. Di masa golden age, jika peran orang tua membahagiakan dalam kehidupan mereka, memori ini akan terkenang selamanya dan membawa pengaruh positif di kehidupan dewasa mereka kelak.

Rabu, 27 Juli 2011

Tradisi Membaca

Oleh : Ubaydillah, AN


Membaca Bagi Manusia

Kalau mau jujur, dalam keadaan apapun kita, pasti ada tindakan yang baik, yang benar, atau yang bermanfaat, yang bisa kita lakukan untuk anak-anak kita. Salah satunya adalah perpustakaan di rumah. Perpustakaan di sini tak harus kita pahami seperti layaknya perpustakaan yang sudah kita ketahui.



Mungkin bisa kita sederhanakan menjadi semacam koleksi buku.Yang penting, dari sekian benda / perabot yang kita miliki, perlu ada benda yang namanya buku bacaan. Dari sekian space yang kita pakai di rumah, perlu ada space yang kita pakai untuk membaca. Dari sekian kegiatan di rumah, perlu ada kegiatan yang namanya membaca sebagai tradisi.



Kenapa ini menjadi penting? Kalau melihat perkembangan manusia dari sisi teori dan prakteknya, membaca punya peranan penting bagi manusia. Yang sangat bisa kita rasakan, membaca tidak saja akan menambah pengetahuan kita tentang dunia ini. Membaca juga akan menambah pengetahuan kita tentang diri kita.



Jika merujuk ke istilah dalam psikologi, membaca dapat memperbaiki konsep-diri bagi anak-anak dan orang dewasa. Baik langsung atau tidak, anak-anak yang otaknya sering kemasukan materi positif, misalnya cerita kepahlawanan atau apa saja, pasti materi itu akan ikut aktif membentuk kepribadian, karakter, dan opini si anak tentang dirinya.



Seperti yang sudah sering kita bahas di sini, konsep diri itu terkait dengan tingkat kepercayaan diri, motivasi diri, dan kebahagian diri. Anak yang kurang terinspirasi untuk mengetahui sisi-sisi positif dari dirinya, akan merasa minder atau punya mentalitas lemah, yang sedikit-dikit merasa tidak mampu atau tidak bisa. Konsep diri merupakan modal penting bagi anak-anak untuk meraih prestasi.



Selain itu, membaca juga sudah terbukti dapat memunculkan inspirasi atau refleksi yang merupakan modal penting juga untuk membuat hidup menjadi lebih baik. Detail materi yang dibaca anak kita atau yang kita baca, bisa jadi akan terlupakan. Tapi, pelajaran yang kita serap dari materi itu biasanya akan abadi.



Mungkin hal semacam itu yang bisa menjawab adanya fakta yang tidak berbanding lurus antara kematangan mental dan prestasi akademik. Kalau kita atau anak kita membaca hanya karena tuntutan ujian sekolah (bukan tradisi intelektual), mungkin otak kita tidak sempat berefleksi. Kita memaksa otak untuk menghafal jawaban yang akan ditanyakan.



Padahal, sekeras apapun kita menghafal materi akademik itu, dalam waktu tiga bulan saja sudah lebih dari 60% yang akan hilang (tertimbun). Dalam setahun, mungkin hanya 20-30% yang tersisa. Akhirnya, biar secara akademik kita bagus, tetapi kemajuan mental kita tidak mengalami perbaikan yang signifikan. Itulah kenapa perpustakaan itu sangat tepat untuk membentuk tradisi berpikir.



Yang terpenting lagi, membaca dapat menambah jumlah koneksi dalam otak anak, seperti yang terungkap dalam berbagai temuan ilmiah. Membaca di sini sebagai stimuli positif. Semakin banyak jaringan yang terbentuk, otak anak akan menjadi semakin responsif dan kreatif.



Dari catatan para ilmuan, seperti dikutip Prof. Quraish Shihab (1994), kemajuan suatu bangsa itu juga diawali dari budaya membaca. Duapuluh tahun sebelum bangsa itu mencapai kemajuan, tradisi membaca sudah mereka mulai. Kalau kita ingin melihat efek nyata dari tradisi membaca yang kita tanamkan pada anak-anak, jangan sekarang. Mari kita lihat duapuluh tahun lagi.





Tempat Jin Berpacaran

Terbukti, dari sejumlah negara yang kini menyalip kemajuan kita, mereka telah memiliki tradisi membaca yang jauh lebih bagus dari kita sejak beberapa tahun lalu. Tahun 1995, yang berarti 14 tahun lalu, buku yang terbit di Indonesia baru mencapai 5000 judul. Sementara, Thailand 8.000 judul, Malaysia 12.000 judul, dan Korea selatan 43.000.



Padahal, negara-negara ini jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibanding kita. Dari 5000 judul yang terbit itu, yang terjual hanya 30.000 eksemplar pertahun. Bandingkan dengan jumlah kaset yang terjual. Tahun 1995 saja, kaset yang terjual di kita sudah mencapai 95 juta keping, sudah melebihi jumlah penduduk usia kerja.



Ada semacam guyonan dari orang Malaysia tentang Indonesia. Dulu, mereka sempat mengirim beberapa pelajar dan guru ke Indonesia untuk belajar. Sekarang-sekarang ini, mereka tidak lagi mengirim, tapi lebih sering mendatangkan tenaga senior dari kita untuk mengajar di sana. Kata guyonan itu, "Dulu, kami belajar dari Indonesia supaya bisa berhasil. Sekarang ini, kami juga masih belajar dari Indonesia supaya tidak terpuruk seperti kalian."



Sampai tahun 2008 kemarin, bicara minat baca kita masih banyak catatan. Jumlah penerbitnya mengalami kenaikan yang cukup tajam, tapi jumlah pembacanya hanya naik secara berlahan. Minat baca masyarakat pun sepertinya lebih karena dorongan tren atau ikut-ikutan ketimbang kesadaran pengembangan-diri yang dilakukan secara kontinyu.



Selain itu, tanda-tanda adanya geliat minat baca juga baru terjadi di beberapa kota besar, 60-80%-nya di Jabodetabek. Kalau kita kunjung ke daerah, toko buku yang besar itu adanya di propinsi. Itu pun tidak besar-besar amat. Nasib perpustakaan pun tidak lebih baik. Beberapa perpustakaan mirip seperti gedung tua yang jarang dikunjungi manusia, laksana tempat jin pacaran.



Itulah kenapa kalau melihat laporan Human Development Index (HDI), ranking kita masih berada di level menengah-bawah. Tahun 2007-2008, kita berada di posisi 107 dari 177 negara. Posisi ini masih kalah dengan tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand, dan Philipina. Bahkan di beberapa sektor, kita lebih rendah dari Vietnam, Jamaica, dan Algeria.





Tujuan Membaca

Dengan berinisiatif untuk mengadakan perpustakaan / koleksi buku bacaan di rumah, apa berarti kita telah / ingin mencetak anak menjadi seorang kutu buku? Satu hal yang perlu kita sadari di sini bahwa membaca itu bukan tujuan. Membaca adalah salah satu bekal atau jalan untuk mencapai tujuan.



Tujuannya adalah agar anak-anak kita terbiasa dengan pola hidup yang mengedepankan kapasitas intelektual, nalar yang sehat, mandiri dalam mengambil keputusan, berwawasan luas, dan kaya referensi dalam mengatasi persoalan. Kalau meminjam istilahnya Sternberg dari Yale University, tujuannya adalah agar kita lebih cerdas menghadapi hidup.



Jadi, mau anak kita menjadi kutu buku atau tidak, sejauh praktek hidupnya nanti itu menjadi lebih baik, berarti dia sudah pada track yang tepat. Tapi kalau membaca hanya untuk membaca, ini sama seperti sindiran Kitab Suci yang mengatakan bagai keledai mengangkut buku di kepalanya. Buku itu tak mencerahkan dia, melainkan malah membebani hidupnya.



Supaya anak kita tercerahkan hidupnya dari bacaan, yang perlu kita perhatikan adalah memilih materi bacaan. Kata Jim Rohn, membaca itu sangat penting, tetapi yang lebih sangat penting lagi adalah memilih bacaan yang pas. Biasanya, bacaan yang tidak sesuai dengan keadaan kita hanya berguna dipakai untuk bercakap-cakap atau kurang ngefek pada perbaikan praktek hidup.



Karena itu, koleksi buku yang kita persiapkan di rumah pun perlu kita sesuaikan dengan kebutuhan perkembangan kita atau anak kita. Yang ideal, koleksi buku itu perlu ada bacaan umum (pengetahuan umum) dan bacaan khusus yang sesuai dengan minat, bakat, hobi, atau kebutuhannya, misalnya cerita pahlawan yang membangkitkan, dan lain-lain.





Beberapa Cara Memunculkan Tradisi Membaca

Dengan maraknya hiburan dan tontonan melalui program TV, CD, dll, anak-anak kita mungkin bisa memiliki tradisi yang lebih kurang kondusif lagi dibanding generasi kita bagi kemajuan bangsa ini. Kenapa? Di saat fasilitas hiburan dan tontonan masih belum menjamur seperti sekarang ini saja, tradisi kita bukan membaca, yang merupakan penggerak nalar, tapi nonton dan dengar.



Sebab itu, kita sebetulnya punya kesamaan kepentingan untuk mengimbangi tradisi nonton dan dengar dengan tradisi membaca. Kalau mau jujur, menonton satu tahun belum tentu punya efek yang lebih kondusif bagi perkembangan nalar dibanding dengan membaca satu buku yang pas.



Apa saja yang perlu kita lakukan untuk menumbuhkan tradisi membaca pada anak atau keluarga? Cara-cara di bawah ini mudah-mudahan bisa menambah bantuan:


Hadiah ulang tahun atau momen penting, seperti kenaikan kelas, jangan melulu berupa pesta atau pakaian. Sekali-kali buku bacaan atau ditambah dengan buku bacaan.
Oleh-oleh perjalanan jangan melulu makanan atau benda-benda antik. Perlu kita tambah juga dengan buku / bacaan lain
Tempat hiburan jangan melulu ke mall, restoran, atau semisalnya. Sekali-kali ke perpustakaan, musium bersejarah atau ke toko buku
Dukung minat anak / keluarga untuk berlangganan majalah atau bacaan sesuai kemampuan dan kebutuhan.Menerima kiriman majalah atas nama sendiri merupakan pengalaman yang menyenangkan
Sediakan waktu untuk mendengarkan bila anak / keluarga ingin menceritakan isi buku yang telah mereka baca. Anak-anak akan menyukai saat seperti ini.
Membaca bersama atau bergantian lalu saling menceritakan. Ini akan menantang anak untuk lebih suka membaca.
Sepakati waktu khusus / disiplin khusus untuk membaca, misalnya sebelum tidur, saat di kendaraan, atau lainnya.



Yang sama sekali tak bisa kita tinggalkan adalah memberi keteladanan. Biar pun fasilitas itu sudah kita sediakan, tapi kalau keteladanannya tidak ada, mungkin ini sulit. Supaya kita bisa memberi teladan, yang perlu kita ubah adalah paradigma. Selama ini, kebanyakan kita menganggap membaca itu sekedar hobi, yang mengandung kesan suka-suka atau sesuai selera, seperti makan bakso. Padahal, membaca itu adalah perintah dan sekaligus kebutuhan bagi jiwa.





Proses Membangun Peradaban

Secara umum, minat baca kita masih tergolong rendah. Bahkan ini tak hanya terjadi pada masyarakat umum. Kelompok masyarakat yang berstatus atau bekerja di bidang-bidang pengetahuan pun, seperti pelajar atau guru, dll, belum secara semarak memiliki tradisi membaca sebagai kebutuhan intelektual.



Padahal, kalau menyimak catatan sejarah, sokoguru membangun peradaban sebuah bangsa itu, katanya, ada tiga. Pertama, keberhasilan mutu pendidikan. Ukurannya bukan menjamurnya kampus yang menawarkan gelar S2 di ruko-ruko, tetapi tingkat keterpelajaran dan keterdidikan generasi.



Kedua, kemajuan ekonomi yang berbasiskan sinergisitas kekuatan SDM dan SDA. Bangunan ekonomi kita katanya sangat rentan terhadap berbagai ancaman. Alasannya, tak ada basis yang kuat dari kedua kekuatan itu. Kinerja SDM kita tak bisa mengimbangi tuntutan industri. Sementara, kita cenderung me-yatim-kan SDA. Akhinya, kita mengekspor TKI dan mengimpor beras.



Ketiga, kesadaran hukum. Ajakan untuk merenungi dosa-dosa di tempat ibadah atau di lapangan itu baik, tetapi tak bisa membangun peradaban apabila tidak ditopang oleh penegakan hukum yang bagus, ekonomi yang bagus dan mutu pendidikan yang bagus.



Tentu, tak mungkink kita menyerahkan ini pada pemerintah melulu. Toh kita sudah tahu pemerintah kita begini keadaannya. Sementara, masih ada kontribusi kita yang sangat vital peranannya yaitu menumbuhkan tradisi membaca di rumah-rumah. Semoga bisa kita jalankan.

Aku Anak Mbak

Oleh : Martina Rini S. Tasmin, SPsi

"Lolo ayo mandi"!
"Sebentar Mbak, Lolo masih nonton..."
"Iin ini makanannya sudah siap. Suster suapin ya..."
"Tapi Iin maunya makan sambil main..."
"Mbak, berapa sih 10 + 5 ?"
"10 + 5 = 15, Ela.."
"Nia, sekarang sudah waktunya tidur siang..."
"Iya Suster, Nia cuci kaki dulu ya..."


Dialog diatas merupakan gambaran situasi yang terjadi antara anak dengan pengasuhnya. Lolo, Iin, Ela dan Nia adalah tipikal anak-anak kota besar jaman sekarang, yang pengasuhan sehari-harinya diserahkan kepada pembantu atau pengasuh (nanny/baby sitter) di rumah. Bukan lagi diasuh oleh orangtua, karena ayah dan ibunya bekerja. Tapi kalau diamat-amati, anak-anak sekarang sebenarnya kebanyakan tetap diasuh dan memiliki pengasuh sekalipun ibunya tidak bekerja. Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuhnya daripada dengan orangtua. Tidak heran kalau banyak anak lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan orangtuanya. Ada anak-anak yang jika sedang sakit, tidak mau disuapi makanan atau obat oleh orangtua, tetapi hanya mau disuapi oleh pengasuh. Kalau pengasuh pulang kampung, jadi sedih dan tidak nafsu makan, begitu harus tidur malam hari jadi gelisah dan mencari-cari pengasuhnya. Bahkan ada anak yang terang-terangan mengatakan "Aku anaknya mbak", "Aku sayang sama suster banyak, sayang sama mama papa sedikit" (dengan gaya lucu menggemaskan, tapi cukup membuat hati orangtua nelangsa).

Menghadapi kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua agar kendali pendidikan dan pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga tidak terjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan datang.


Kerjasama Dengan Pengasuh
Pengasuh (nanny/baby sitter) tidak lagi sekedar orang upahan, tetapi sudah menjadi bagian dari suatu rumah tangga dan merupakan partner orangtua dalam mengasuh anak. Beberapa sekolah yang ada di Jakarta, bahkan sudah sangat menyadari fenomena ini, sehingga di sekolah-sekolah tersebut secara rutin diadakan workshop bagi pengasuh mengenai anak dan cara pengasuhannya. Sebagai partner, orangtua tidak bisa menyepelekan keberadaan pengasuh, dan berpikir ah kan cuman pengasuh; cuman orang luar; saya orangtua; saya majikan. Karena seperti kenyataan yang terlihat, banyak anak lebih dekat dengan pengasuhnya. Partner berarti orang yang bekerjasama, bukan bekerja sama-sama. Sebagai partner berarti harus kompak dan seiya sekata.

Mengapa orangtua dan pengasuh harus kompak? Tentu saja bukan semata untuk kepentingan orangtua dan pengasuh, tapi terutama demi anak yang diasuh. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten dan terprediksi untuk berkembang dengan benar. Bagi orangtua dan pengasuh pun ada keuntungannya jika mereka kompak, karena anak akan lebih mudah diasuh dan menurut. Paling tidak satu sama lain tidak saling memboikot, sehingga anak tidak bisa mengambil keuntungan dari situasi ini. Yang dimaksud dengan memboikot adalah misalnya hal-hal yang dilarang oleh orangtua, tetapi diam-diam diperbolehkan oleh pengasuh atau sebaliknya hal-hal yang dilarang pengasuh malah diperbolehkan oleh orangtua.

Mengapa anak lebih mudah diasuh dan menurut kalau orangtua dan pengasuh kompak? Hal tersebut terjadi karena, anak tahu apa yang tidak boleh berarti tidak boleh, dan tidak mencari persetujuan ke tempat lain. Anak juga akan melihat kedua belah pihak sebagai figur otoritas yang harus ditaati dan dihormati, dan tidak menunjukkan ketaatan palsu. Ketaatan palsu adalah ketika anak pura-pura menurut pada orangtua, tapi di belakang mencari persetujuan dari pengasuh ketika orangtua tidak ada. Atau pura-pura menurut pada pengasuh, tetapi ketika orangtua ada di rumah, langsung mencari persetujuan orangtua dan menyepelekan pengasuhnya. Kondisi seperti ini, sebenarnya menunjukkan bahwa anaklah yang memegang otoritas, sehingga akan banyak waktu dimana anak misbehave, dengan mencoba mengatur orang-orang disekitarnya, tidak peduli dihukum karena toh tetap bisa mendapatkan apa yang diinginkan.


Bagaimana menjembatani perbedaan
Dengan latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya yang seringkali sangat berbeda, menyebabkan orangtua dan pengasuh memiliki nilai-nilai, pemikiran dan tindakan yang berbeda. Dengan kondisi tersebut bekerjasama bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tapi mau tidak mau harus dilakukan demi kesejahteraan anak. Bagaimana caranya? Di bawah ini ada beberapa cara yang mungkin dapat dilakukan orangtua dalam bekerjasama dengan pengasuh:

1. Perlakukan sebagai teman
Jalin komunikasi yang baik dan keakraban dengan pengasuh. Berteman dengan pengasuh akan membuatnya lebih mau terbuka. Pengasuh juga akan segan bergosip tentang majikannya, lebih tulus ketika mengasuh anak dan semoga akan lebih menurut pada perintah majikan. Pengasuh yang diam-diam merasa sebel pada majikan, mungkin bisa memboikot majikannya.

2. Membagi pengetahuan tentang perkembangan anak
Orangtua memiliki pendidikan lebih dari pengasuh, untuk beberapa hal juga akan memiliki pengetahuan yang lebih tentang perkembangan anak. Pengasuh yang berpengalaman juga dalam beberapa hal akan lebih tahu dari orangtua. Cobalah untuk saling membagi pengetahuan ini, supaya jika ada perbedaan, dari awal sudah bisa diketahui dan dicari jalan tengahnya. Dengan saling berbagi, pengetahuan masing-masing akan bertambah dan tidak saling mempertanyakan dan saling menuduh sok tahu dalam hati masing-masing.

3. Mengutarakan dengan jelas aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada
Utarakan dengan rinci cara-cara mengasuh anak yang diharapkan orangtua, apa yang boleh apa yang tidak boleh (bagi anak dan bagi pengasuh, misalnya pengasuh tidak boleh memukul anak apapun alasannya, anak sama sekali tidak boleh makan permen) dan hal-hal harian apa saja yang harus dilaporkan kepada orangtua. Utarakan secara jelas dan mendetail, untuk menghindari kesalahpahaman. Hal ini penting, karena dengan demikian berarti orangtua sebagai pemegang kendali kebijaksanaan pengasuhan anak.

4. Jika terjadi pemboikotan segera dibicarakan dan diatasi
Jika secara tidak sengaja (karena masing-masing pihak belum tahu atau tidak mengerti kebiasaan pihak lain, dan ada yang tertinggal dari diskusi awal) terjadi pemboikotan, maka sebaiknya dibicarakan baik-baik, mencari kata sepakat dan tidak memboikot kembali di depan anak.

Idealnya memang akan lebih baik bagi orangtua jika bisa mendapatkan pengasuh yang berpengalaman, penurut, dan memiliki nilai-nilai yang sama. Tapi tentunya tidak semua orangtua bisa seberuntung ini. Oleh karena itu ketika orangtua memutuskan untuk menerima seseorang sebagai pengasuh, orangtua hendaknya sudah memiliki persyaratan tertentu, minimal orang tersebut bersih dan rapi (kuku kaki dan tangan terpotong rapi, pendek, dan bersih, tidak bau badan dan mulut, pakaiannya bersih) dan tentunya harus bisa membaca menulis (jadi ketika mengasuh anak, bisa sambil membacakan cerita dan bisa juga sedikit-sedikit mengajarkan anak membaca dan menulis). Persyaratan yang terpenting dan terutama adalah karakter kepribadian serta nilai-nilai diri calon suster; dan hal ini bisa dilakukan, dicari dan digali lewat wawancara tatap muka secara intensif. Saat orangtua memilih calon suster, tanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pandangan hidupnya, kebiasaan dia di kampung, motivasi kerjanya, pengalaman sebelumnya, alasan keluar masuk kerja-nya, data tentang keluarganya, keberadaan dan pekerjaan kakak adik serta orang tuanya, dsb.


Tetap Lekat Dengan Anak
Sekalipun orangtua bekerja dari pagi hingga malam, dan meninggalkan anak dalam asuhan orang lain, pastilah orangtua ingin anaknya tetap lekat dengannya. Anak ada di hati orangtua dan orangtua ada di hati anak. Orangtua pasti tidak berharap mendengar perkataan dari mulut anak "Aku anaknya Mbak Yem".

Beberapa ahli mengatakan yang penting bukanlah kuantitas waktu yang dihabiskan bersama anak, tapi kualitas waktu ketika sedang bersama anak. Apa yang dimaksud dengan waktu yang berkualitas? Dalam buku When Others care For Your Child (1987), waktu berkualitas adalah saat-saat dimana orangtua menghabiskan waktu bersama anak dengan fokus dan perhatian penuh pada anak dan masalah-masalah yang dialami anak. Waktu tersebut bisa sambil mengobrol saja ataupun melakukan suatu kegiatan bersama (nonton televisi, main games, makan malam). Saat-saat tersebut benar-benar tidak terbagi, hanya untuk anak dan orangtua. Orangtua tidak sambil menerima telpon bisnis dari rekan kerja, sambil membicarakan masalah di kantor, ataupun membicarakan deadline yang harus dipenuhi.

Hal pertama yang sebaiknya dilakukan ketika orangtua sampai di rumah tentunya adalah menghampiri, memeluk dan mencium anak, bukannya menyalakan televisi atau langsung masuk kamar untuk istirahat sebentar. Ketika orangtua sudah berada di rumah, pengasuhan anak sebaiknya dikembalikan ke orangtua dan tidak lagi dipegang oleh pengasuh. Kalau anak makan masih disuapi, maka orangtua lah yang seharusnya menyuapi, yang memandikan (kalau belum mandi), mengganti baju dan sikat gigi sebelum tidur, mengantar ke tempat tidur (sambil menyanyikan lagu nina bobo maupun membacakan dongeng).

Dengan demikian anak akan mengerti bahwa pengasuh hanya membantu ketika orangtua sedang bekerja, tetapi pengasuh bukanlah orangtua. Anak pun akan tahu bahwa orangtua menganggap anak-anaknya penting dan menyayangi mereka. Ketika ada yang menanyakan anak siapa dia, anak bisa mengatakan "Aku anak Mama Dina dan Papa Dani", dan kalau ditanya Mbak Yem itu siapa, anak akan menjawab "Mbak Yem itu suster aku".