Kamis, 16 Juni 2011

KONSEP ISLAM TENTANG FITRAH, LINGKUNGAN DAN PENDIDIKAN

1. Dasar-Dasar Kebutuhan Anak Untuk Memperoleh Pendidikan
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati dapat dimengerti dari kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini.
Rasulullah SAW bersabda:
مَامِنْ مَوْلُوْدٍإِلاَّيُوْلَدُعَلَىاْلفِطْرَةِفَأَبَوَاهُ يُهُوِّدَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ كَمَاتَنْتَحُ البَهِيْمَةُ جَمْعَاءُهَلْ تُحِسُّوْنَ مِنْ جَدْعَاءَ ,ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُوْهُرَيْرَةَ, وَاقْرَءُوْاإِنْ شِئْتُمْ فِطْرَةَاللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَالاَتَبْدِيْلَ لَخَلْقِ اللهِ ذلِكَ الدِّيْنُ اْلقَيِّمُ (رواه مسلم )
Artinya:

“Tiadalah seorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka akibat kedua orang tuanyalah yang me-Yahudikan atau men-Nasranikannya atau me-Majusikannya. Sebagaimana halnya binatang yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu lihat binatang itu tiada berhidung dan bertelinga? Kemudian Abi Hurairah berkata, apabila kau mau bacalah lazimilah fitrah Allah yang telah Allah ciptakan kepada manusia di atas fitrahNya. Tiada penggantian terhadap ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus (Islam).”
(H.R Muslim)
Allah berfirman:
وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْأً (النحل:78)
Artinya:
“Tuhan itu melahirkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun.”
(QS. An Nahl:78)

Dari Hadits dan ayat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa manusia itu untuk dapat menentukan status manusia sebagaimana mestinya adalah harus mendapatkan pendidikan. Dalam hal ini keharusan mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut.
a. Aspek Paedagogis
Dalam aspek ini para ahli didik memandang manusia sebagai animal educandum: makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataanya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik. Sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dressur, artinya latihan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya statis, tidak berubah.
Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya mereka dapat dididik dan dikembangkan ke arah yang diciptakan, setaraf dengan kemampuan yang dimilikinya.
Rasulullah SAW bersabda:
حَقُّ الوَالَدِ عَلَى اْلوَلَدِ أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَهُ اْلكِتَابَهَ وَالسِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَأَنْ لاَيَرْزُقَهُ إِلاَّطَيِّبًا وَأَنْ يُزَوِّجَهُ إِذَاأَدْرَكَ (رواه الحاكم)
Artinya:
”Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberi nama yang baik, mendidik sopan santun dan mengajari tulis menulis, renang, memanah, membri makan dengan makanan yang baik serta mengawinkannya apabila iia telah mencapai dewasa.”
(HR. Hakim)
Islam mengajarkan bahwa anak itu membawa berbagai potensi yang selanjutnya apabila potensi tersebut dididik dan dikembangkan ia akan menjadi manusia yang secara fisik-fisik dan mental memadai.
b. Aspek Sosiologis dan Kultural
Menurut ahli sosiologi pada prinsipnya, manusia adalah homosocius, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau memiliki gazirah (instink) untuk hidup bermasyarakat. Sebagai makluk sosial manusia harus memiliki rasa tanggung jawab sosial (social responsibility) yang diperlukan dalam mengembangkan hubungan timbal balik (inter relasi) dan saling pengaruh mempengaruhi antara sesama anggota masyarakat dalam kesatuan hidup mereka.
Allah berfirman:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمْ الذِّلَّةُ أَيْنَمَاثُقِفُوْآإِلاَّبِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ ...(ال عمران:112)
Artinya:
“Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…”
(QS. Ali Imran: 112)
Apabila manusia sebagai makluk sosial itu berkembang, maka berarti pula manusia itu adalah makhluk yng berkebudayaan, baik moral maupun material. Diantara instink manusia adalah adanya kecenderungan mempertahankan segala apa yang dimilikinya termasuk kebudayaannya. Oleh karena itu maka manusia perlu melakukan transformasi dan transmisi (pemindahan dan penyaluran serta pengoperan) kebudayaannya kepada generasi yang akan menggantiikan dikemudian hari.
Allah berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُمَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْامَابِأَنْفُسِهِمْ (الرعد: 11)
Artinya:
“…..sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka megubah keadaan yang ada pada mereka sendiri….”
(QS. Ar-Ra’d: 111)
c. Aspek Tauhid
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia itu adalah makhluk yang berketuhanan yang menurut istilah ahli disebut homo divinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut dengan homo religious artinya makhluk yang beragama. Adapun kemampuan dasar yang meyebabkan manusia menjadi makhluk yang berketuhanan atau beragama adalah karena di dalam jiwa manusia terdapat instink yang disebut instink religious atau gazirah diniyah (instink percaya kepada agama). Itu sebabnya, tanpa melalui proses pendidikan instink religious dan gazirah diniyah tersebut tidak akan mungkin dapat berkembang secara wajar. Dengan demikian pendidikan keagamaan mutlak diperlukan untuk mengembangkan instink religious atau gazirah Diniyah tersbut.
Allah berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ للدِّيْنِ حَنِيْفًاطَ فِطْرَتَ اللهِ الَّتِىْ فَطَرَالنَّاسَ عَلَيْهَاطَ لاَتَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ طَ ذلِكَ الدِّيْنُ اْلقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَالنّاسِ لاَيَعْلَمُوْنَ. (الروم: 30)
Artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agam yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengeyahui.”
(QS. Ar-Rum: 30)
Selanjutnya apabila diperhatikan dan diperbandingkan secara teliti orang-orang dewasa dilingkungan kita ternyata kita saksikan adanya orang pandai yang bodoh, ada yang terampil dan ada yang malas, ada yang berbudi pekerti luhur dan yang rendah budi pekertinya, ada yang mengakui adanya Tuhan serta mengagungkan-Nya dan menyembah-Nya; ada yang tidak mengakui adanya Tuhan membangkan bahkan mengkhianati-Nya. Di samping adanya dua kutub yang berbeda teresebut tentunya ada pula yang sedang, yang kurang dari sedang atau yang lebih daripada sedang. Tetapi yang jelas anak wajib dibawa kepada pihak yang baik dan luhur, dijauhkan dari hal-hal yang buruk dan hina. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa mendidik anak adalah merupakan suatu hal yang mutlak dilaksanakan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab
Allah berfirman:
قُوْآأَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا (التحريم: 6)
Artinya:
“Peliharalah dirimu dan keluargamau dar api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Apabila pendidikan tidak ada, maka kemungkinan besar anak-anak akan berkembang ke arah yang tidak baik/buruk, seperti tidak mengakui Tuhan, budi pekertinya rendah, bodoh dan malas bekerja.
Keharusan adanya pendidikan bagi anak tersebut akan lebih nyata apabila mengamati kemampuan /perkembangan anak sesudah dialahirkan oleh ibunya sampai mencapai kedewasaannya dan kita bandingkan pula dengan anak hewan, anak manusia atau bayi lahir, badannya lemah sekali. Keaktifan perbuatan instink lemah sedikit sekali, ia hanya ia dapat menggerakan kaki dan tangannya, menangis dan sebentar lagi menetek. Keaktifan lain yang sudah siap sedia sebagai bekal hidupnya tidak tampak pada waktu ia lahir. Apabila sejak dilahirkan itu dibiarkan saja, tidak dirawat oleh ibunya atau orang lain, maka ia tidak dapat hidup. Selanjutnya sesudah ia dapat hidup perkembangan jasmaninya terlihat lambat sekali terutama bila dibandingkan dengan perkembangan badan anak hewan. Baru sesudah ia berumur + 1 tahun, anak itu dapat berjaan, sekalipun demikian bentuk badannya belum sama dengan badan orang dewasa.
Perbedaan dalam bidang kerohanian termasuk di dalam moral dan etika antara anak dengan orang dewasa lebih lanjut, begitupula kepandaian pengetahuan, aktifan dan kemampuan yang lainnya. Bahwa setiap orang dewasa dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara sendiri-sendiri seperti bercocok tanam, berdagang, menukang, mengabdikan tenaga jasmani serta rohaninya kepada orang lain baik secara resmi/Pemerintah atau melalui badan swasta dan lain-lain. Untuk kesemuanya itu sangat dibutuhkan adanya kemampuan, kecakapan dan keaktifan serta pengetahuan yang beraneka ragam sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masa atau lingkungannya
Untuk mendapatkan pengetahuan, kecakapan, keprigelan dan kemampuan tersebut anak perlu mendapatkan pendidikan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atau pendidik. Berbeda dengan anak hewan, begitu ia lahir, induk dapat membiarkan anaknya tumbuh dan berkembang untuk memenuhi tugasnya sebagai hewan dewasa, karena hewan umumnya sudah diberi kelengkapan yang sudah memungkinkan untuk mencapai kedewasaan, yaitu instink yang dimilikinya.
Anak adalah makhluk yang masih membawa kemungkinan untuk berkembang, baik jasmani maupun rohani. Ia memiliki jasmani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, kekuatan maupun perimbangan bagian-bagiannya. Dalam segi rohaniah anak mempunyai bakat-bakat yang harus dikembangakan. Ia juga mempunyai kehendak, perasaan dan pikiran yang belum matang. Dismping itu ia mempunyai berbagai kebutuhan seperti kebutuhan akan pemeliharaan jasmani; makan, minum, dan pakain; kebutuhan akan kesempatan berkembang bermain-main, berolah raga dan sebagainya. Selain dari pada itu anak juga mempunyai kebutuhan rohaniah seperti kebutuhan akan ilmu pengetahuan duniawi dan keagamaan, kebutuhan akan pengertian nilai-nilai kemasyarakatan, kesusilaan, kebutuhan akan kasih sayang dan lain-lain. Pendidikan Islam harus membimbing, menuntun, serta memenuhi kebutuhan – kebutuhan anak didik dalam berbagai bidang tersebut di atas.
Menurut Al-Ghazali, bahwa anak adalah amanah Allah dan harus dijaga dan dididik untuk mencapai keutamaan dalam hidup dan mendekatkan diri kepada Allah. Semuanya yang dilahirkan ke dunia ini, bagaikan sebuah mutiara yang belum diukur dan belum berbentuk tapi amat bernilai tinggi. Maka kedua orang tuanyalah yang akan mengukir dan membentuknya menjadi mutiara yang berkualitas tinggi dan disenangi semua orang. Maka ketergantungan anak kepada pendidiknya termasuk kepada kedua orang tuanya, tampak sekali. Maka ketergantungan ini hendaknya dikurangi serta bertahap sampai akil bali

ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

a. Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir itulah yang menentukan perkembangannya dalam kehidupan. Nativisme berkeyakinan bahwa pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaaan. Dengan demikian menurut mereka pendidikan tidak membawa manfaat bagi manusia. Karena keyakinannya yang demikian itulah maka mereka di dalam ilmu pendidikan disebut juga aliran Pesimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini adalah Schopenhaeur seorang filosof bangsa jerman. Nativisme berasal dari kata dasar natus = lahir, nativius = kelahiran, pembawaaan


b. Aliran Emprisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh faktor lingkungan atau pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil
Manusia dapat dididik menjadi apa saja (kearah yang baik atau kearah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dengan demikian pendidikan diyakini sebagai sebagai maha kuasa bagi pembentukan anak didik. Karena pendapatnya yang demikian, maka dalam ilmu pendidikan disebut juga Aliran Optimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini yaitu John Locke.
Empirisme. Berasal dari kata dasar empiri yang berarti pengalaman.

c. Aliran Konvergensi
Yang berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Kedua-duanya (pembawaan dan lingkungan) mempunyai pengaruh yang sama besar bagi perkembangan anak. Pendapat ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh William Stern. Pendapat ini semua bermaksud menghilangkan pendapat berat sebelah dari aliran nativisme dan empirisme dengan mengkombinasikannya. Pada mulanya pendapat ini diterima oleh banyak orang karena mampu menerangkan kejadian-kejadian dalam kehidupan masyarakat. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya banyak orang yang berkeberatan dengan pendapat tersebut dan mengatakan kalau perkembangan manusia itu hanya ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan, maka hal ini tak ubahnya kehidupan hewan. Sebab hewan itu pertumbuhannya hasil dari pembawaan dan lingkungan. Hewan hanya terserah kepada pembawaan keturunannya dan pengaruh-pengaruh lingkungannya. Perkembangan pada hewan seluruhnya ditentukan oleh kodrat, oleh hukum alam.
Sedangkan manusia berbeda dengan hewan disamping dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan, manusia aktif dan kreatif dalam mewujudkan perkembangan itu. Drs. M Ngalim Purwanto mengatakan dalam hal ini sebagai berikut:
“Manusia bukan hasil belaka dari pembawaan dan lingkungannya; manusia hanya diperkembangkan tetapi memperkembangkan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk yang dapat dan sanggup memilih dan menentukan sesuatu yang mengenai dirinya secara bebas. Karena itulah ia bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya: ia dapat juga mengambil keputusan yang berlainan daripada yang pernah diambilnya. Proses perkembangan manusia tidak hanya ditentukan oleh faktor pembawaan yang telah ada pada orang itu dan faktor lingkungan yang mempengaruhi orang itu. Aktivitas manusia itu sendiri dalam perkembangan sendiri turut menentukan atau memainkan peran juga. Hasil perkembangan seseorang tidak mungkin dapat dibaca dari pembawaannya dan lingkungannya saja.

d. Pandangan Islam Tentang Keberhasilan Pendidikan
Islam menyatakan bahwa manusia lair di dunia membawa pembawaan yang fitrah. Fitrah ini berisi potensi untuk berkembang, profesi ini dapat berupa keyakinan beragama, prilaku untuk menjadi baik ataupun menjadi buruk dan lain sebagainya yang kesemuanya harus dikembangkan agar ia bertumbuh secara wajar sebagi hamba Allah.
Rasulullah SAW. Bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (الحديث)
Artinya:
“Semua anak dilahirkan membawa fitrah (bakat keagamaan), maka terserah kepada kedua orang tuanya untuk menjadikan beragama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.”
Demikian pula Rasulullah SAW yang menasihati agar memilih wanita yang baik agar keturunan itu baik.
Rasulullah SAW bersabda:
تَخَيَّرُوْالِنُطَفِّكُمْ فَاءِنَّالعَرَقَ سَاسٌ (الحد يث)
Artinya
“Pilihlah untukmu benihmu karena keturunan itu dapat mencelupkan”
(Al Hadits)
Disamping keturunan juga menekankan kepada pendidikan dan usaha diri manusia untuk berusaha agar mencapai pertumbuhan yang optimal.
Allah berfirman:
قُوْآأَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا... (التحريم : 6)
Artinya:
“Jagalah dirmu dan keluargamu dari api neraka”

Allah berfirman pula:
وَأَنْ لَيْسَ لِلاْءِ نْسَانِ إِلاَمَاسَعَى (النجم:39)
Artinya:
“Bahwa bagi manusia itu apa yang mereka usahakan.”
Dengan demikian menurut Islam perkembangan kehidupan manusia bahkan bahagia atau celakanya itu ditentukan oleh pembawaan. Lingkungan dan usaha (aktivitas) manusia itu sendiri dalam mengusahakan perkembangannya.
Sehubungan dengan hal tersebut maka Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مَثَلَ جَلِيْسِ الصَّالِحِ وَاْلجَلِيْسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ اْلمِسْكِ وَنَافِحِ اْلكِيْرِ.فَحَا مِلُ اْلمِسْكِ إِمَّاأَنْ يُهْدِيُكَ وَإِمَّاأَنْ تَتَّبِعَ مِنْهُ وَإِمَّاأَنْ تَجِدَمِنْهُ رِيْحًاطَيِّبَةً وَنَفِحُ اْلكِيْرِإِمَّاأَنْ يُحَرِّكَ ثِيَابَكَ وَإِمَّاأَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًامُذْتَنَهْ (متفق عليه)
Artinya:
“Sesungguhnya perumpamaan teman sepergaulan yang baik dan teman spergaulan yang jahat seperti pembawaan minyak wangi kasturi dan peniup dapur pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi ksturi bisa jadi menghadihkannya kepadamu atau kamu membelinya atau (paling tidak) kamu mendapatkan wangi. Sedangkan peniup dapur tukang besi, bisa jadi ia menyebabkan bajumu terbakar atau (paling tidak) kamu mendapatkan bau busuknya.”

Sabtu, 11 Juni 2011

Global Warning

Oleh : Raymond Mulyarahardja
Jakarta, 23 Maret 2011
Bahaya Riil Di Sekitar Kita
Ancaman global warming adalah nyata. Penceramahan seperti ini tak arang sering nampak menjadi contoh histrionik atau hiperbola yang disamarkan. Seperti siaran di radio kerapkali kita dengar: peace on earth of earth in pieces. Apakah ancaman karbon sebegitu berbahayanya? Kita sedang berada di persimpangan di mana proses ramifikasi dari apa yang kita lakukan menjadi penentu kehidupan generasi selanjutnya. Perhelatan masyarakat dalam mengantisipasi hal ini tidaklah diragukan lagi. Yang menjadi pertanyaan utama adalah apakah penduduk Indonesia telah siap untuk mengikuti trend "green life".

Karbondioksida (CO2)
Besarnya jumlah emisi yang dapat ditolerir oleh ibu pertiwi telah dikalkulasi. Jurnal Nature memperhitungkan sebanyak 1 trilyun ton CO2 dapat kita biarkan terlepas ke udara selama periode tahun 2000 - 2050 supaya didapatkan 75% kemungkinan temperatur global rata-rata dapat dipertahankan dalam 2 derajat C level pre-industrial. Ini adalah batas keselamatan, di mana melebihinya dapat menyebabkan pergantian iklim (climate change) yang irreversibel.

Sampai tahun 2006, dunia telah menggunakan sekitar 234 bilyun ton dari anggaran yang telah dikalkulasi. Hal ini meninggalkan kita dengan sisa sekitar 760 bilyun ton. Apabila emisi per tahun meningkat sebesar 3,5% maka kita akan telah mengeluarkan sebanyak 1 trilyun ton CO2 sampai dengan akhir tahun 2020. Pertumbuhan ini tidaklah sesuai dengan perhitungan dan kita akan melepaskan surplus CO2 ke atmosfir. Apabila hal ini terjadi, temperatur rata-rata global akan meningkat setidaknya 6-7 derajat C dalam abad ini, apalagi di kutub.

CO2 adalah gas tidak berbau, tidak berwarna yang bersifat sedikit asam dan tidak dapat terbakar. Akumulasi CO2 di atmosfir, seperti yang telah kita ketahui, akan menyebabkan munculnya efek greenhouse. Hal ini akan berakibat panas yang ada di dalam bumi tidaklah bisa keluar tapi panas dari luar bumi akan tetap bisa mempenetrasi lapisan bumi. Panas yang terkumpul akan menyebabkan perubahan iklim dan bahaya laten yang mengancam adalah lelehnya es di kutub.

Spekulasi mengenai efek CO2 terhadap lingkungan sudah dimulai sejak abad ke 19. Ilmuwan kenamaan seperti Arrhenius dan Chamberlain telah memprediksikan pergeseran gradual dari temperatur iklim setelah jutaan tahun dikarenakan timbunan gas-gas greenhouse di dalam bumi. CO2 memiliki andil kontribusi relatif sebesar 60% dari efek greenhouse saat ini, sedangkan sisanya adalah CFC (Chlorofluorocarbon), ozone, nitrous oxide dan methane.

Black Carbon
Selain CO2, karbon hitam atau black carbon yang adalah hasil pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar fosil, biofuel dan biomass dalam bentuk karbon murni terikat senyawa yang dapat meningkatkan panas bumi dengan penyerapan panas di atmosfir. Karbon hitam dapat mengurangi kemampuan reflektifitas es dan meningkatkan absorpsi sinar matahari. Hal ini akan mengkontribusi kepada meningkatnya suhu udara di dalam bumi. Karbon hitam menduduki posisi nomor dua setelah CO2 dalam meningkatkan global warming. Namun usia karbon hitam di atmosfir hanya beberapa hari sampai minggu, di mana usia CO2 di atmosfir bisa mencapai 100 tahun.

Kendala dalam menangkal Global Warming
Global Dimming
Suatu fenomena yang diperkirakan dapat menangkal global warming dinamakan global dimming. Global dimming adalah peristiwa meningkatnya konsentrasi atmosferik aerosol-aerosol buatan manusia seperti aerosol sulfat yang dapat mempengaruhi sifat-sifat awan dan menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi. Fenomena ini muncul sebagai produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil. Sulfur dioksida dan nitrogen oxida yang dilepaskan ke udara bereaksi dengan awan dan merefleksikan pancaran sinar matahari yang hendak masuk ke bumi. Efek ini secara ironis menangkal efek global warming. Contoh kegunaan global dimming antara lain di musim panas, di mana banyak orang tua meninggal karena angin musim panas dan penurunan suhu udara sangat diharapkan. Di lain pihak, global dimming telah menyebabkan banyak kematian di Ethiopia pada tahun 1970 disebabkan oleh kekeringan. Kekeringan ini muncul dikarenakan laut di bagian hemisfer utara bumi tak cukup panas untuk formasi hujan.

Semenjak tahun 1970, telah diamati adanya reversal dari efek global dimming karena negara-negara dengan aktif menyikapi polutan-polutan yang ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
Fenomena global dimming adalah suatu pertanyaan bagi para ilmuwan. Awan yang mengandung sulfur dioksida yang ditimbulkan global dimming dapat menangkal sebesar 50% dari global warming yang disebabkan gas-gas greenhouse. Namun, perlu diingat, selain penurunan suhu, global dimming juga mempunyai dampak samping yaitu hujan asam yang dapat menimbulkan efek yang berbahaya bagi tumbuhan dan binatang laut, yaitu kematian karena keadaan fisiologis yang tidak sesuai.

"Perseteruan" antara gas-gas greenhouse yang menyebabkan global warming dan debu-debu vulkanik serta aerosol troposferik yang menyebabkan global dimming adalah salah satu perdebatan yang tak kunjung berakhir. Namun para ilmuwan juga mengatakan bahwa global dimming hanya menutupi sementara bahaya sesungguhnya dari global warming.

Efek Rumah Kaca
Tidak hanya gas-gas greenhouse yang mengkontribusi kepada global warming, namun elemen pemanas itu sendiri, yaitu matahari, juga tentunya memegang peranan penting dalam hal ini. Variabilitas sinar matahari yang dipengaruhi berbagai faktor, yaitu variabilitas TSI (Total Solar Irradiance) menentukan keadaan iklim. Salah satu faktor penentunya adalah siklus-solar-11-tahun ato sunspot cycle yang merupakan fluktuasi periodis dari emisi sinar matahari yang sampai ke bumi. Terdapat juga faktor-faktor aperiodik. Namun penelitian yang dilakukan mulai dari akhir abad lalu menunjukkan bahwa peranan matahari sendiri dapat dibilang kecil apabila diperbandingkan dengan aktifitas manusia yang berkaitan dengan emisi gas-gas greenhouse. Simulasi yang pernah dilakukan antara lain menyebutkan peranan debu vulkanik dan aerosol troposferik dalam membalikkan efek yang ditimbulkan oleh gas-gas greenhouse, global dimming, hanya menyelubungkan efek yang sebenernya dari gas-gas greenhouse. Efek rumah kaca dapat menghancurkan keseimbangan ekosistem apabila tidak ditangani.

Sudah mulai banyak organisasi yang berkecimpung di dalam penanganan global warming. Pemerintah-pemerintah dari berbagai negara di bawah UN juga aktif dalam menangani global warming. Hal ini tercermin dari perjanjian Cancun yang disepakati pada tanggal 11 Desember 2010. Signifikansi perjanjian ini terletak pada fakta bahwa perjanjian Cancun adalah usaha kolektif terbesar yang dilakukan untuk mengurangi emisi dalam konteks pencegahan pergantian iklim. Di dalamnya diatur usaha pemerintah 193 negara dalam menangani pergantian iklim bagi negara berkembang dalam aspek finansial, teknologi dan dukungan pembangunan kapasitas. Objektif dari perjanjian ini adalah supaya kenaikan suhu global dapat ditekan di bawah dua derajat celcius.

Gaya Hidup
"Green life" atau skema hidup hijau telah menjadi suatu trend yang niscaya akan memberikan dampak positif bagi lingkungan. Orang-orang meningkatkan keperdulian mereka terhadap hal-hal kecil yang mereka lakukan sehingga apapun yang mereka lakukan sebisa mungkin mempunyai dampak yang positif terhadap lingkungan. Contoh yang paling jelas adalah penggunaan barang-barang biodegradable seperti cangkir yang bisa terdaur ulang dan kertas daur ulang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan kesadaran emisi.

Dalam memperhatikan hal-hal yang menunjang skema hidup hijau, kita senantiasa terbentur dengan masalah biaya. Penggunaan barang-barang biodegradable tak ayal memakan ongkos yang terkadang bisa jauh lebih mahal daripada penggunaan barang normal. Kenyataaan ini membuat pengejahwantahan hidup hijau di Indonesia menjadi lebih sulit karena besarnya gap dalam strata sosial yang ada sekarang ini. Bagi kalangan atas, menunjang hidup hijau tidaklah menjadi suatu masalah, namun bagi kalangan menengah ke bawah dapat menimbulkan pergolakan batin terhadap perlunya penerapan skema hidup hijau tersebut.

Penggunaan barang-barang biodegradable dapat mengkontribusi dalam aspek pelepasan CO2 ke udara yang ditimbulkan oleh pembakaran sisa sampah barang terkonsumsi. Apabila sampah atau barang sisa penggunaan tidak perlu dibakar, maka sampah cukup dibiarkan terurai pada tempat yang telah disediakan.

Keperdulian masyarakat terhadap hal ini pun seringkali tidak cukup untuk menciptakan adanya partisipasi aktif. Isu global warning terkadang dirasa sangat abstrak dan terlalu jauh untuk dapat diraba. Artis-artis dari negara-negara Skandinavia seperti Sweden, Denmark kerapkali mengadakan pameran-pameran visual untuk berusaha mendekatkan masyarakat dunia dengan isu global warming. Hal ini sudah mulai dicanangkan di Indonesia walaupun partisipasi aktif masyarakatnya maupun gaung kegiatan di antara besarnya populasi Indonesia belumlah terasa.

Siapkah kita ?
Dalam keseharian kita, acapkali kita mengabaikan pelbagai hal-hal kecil yang mengingatkan kita akan waktu sebelum globalisasi industri dimana belum banyak kendaraan bermotor dan lingkup industri yang menjadi sumber emisi karbondioksida. Dalam menggunakan benda-benda mekanik seperti rautan pensil berkaca ataupun kegiatan bersepeda kita diingatkan bahwa polusi lingkungan bermula dari hiperbolisasi kegiatan industri. Namun benda-benda yang kita gunakan sehari-hari adalah hasil industri. Suatu pertanyaan besar mengenai kemajuan suatu bangsa apabila diukur dari pesatnya laju industri adalah secara tak langsung deteriorasi yang perlahan. Kesadaran kita sebagai anggota dari masyarakat sangatlah dituntut. Seringkali kita menganggap sepele keadaan alam sekitar kita. Hutan ditebang untuk kemajuan industri, lahan bekas pertambangan dibiarkan begitu saja.

Apa yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan mental untuk pada saatnya mengkontribusi kepada inisiatif-inisiatif yang diambil oleh mayoritas. Hal-hal seperti bike to work dengan kesadaran mengurangi emisi demi udara yang sehat, pembuatan lubang biosfer untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk adalah contoh positif masyarakat menuju skema hidup hijau. Apakah kita secara mental telah siap untuk merubah sikap dan pola hidup dalam menghadapi global warming ?

Apa yang bisa kita lakukan untuk Ibu Pertiwi?
The way we think about her
Apakah ibu pertiwi itu bagi kita? Di suatu tempat di mana kita lahir hidup dan mati, adakah kita perduli?

The way we feel her
Adakah keterikatan batin antara kita dengan tempat tinggal kita?Apabila dibuat perombakan mendadak terhadap daerah rumah tinggal anda, apakah perasaan anda akan tersentuh?

The way we live on her
Sudahkah kita memperhatikan cara kita bersikap di atas ibu pertiwi? Apakah balasan yang setimpal yang dapat kita beri baginya?

Pertanyaan-pertanyaan kontemplatif di atas adalah cara kongkrit kita bersiap diri. Menyimak pikiran para petinggi dunia, kita dapat memahami adanya kekhawatiran para ahli terhadap masalah ini. Dengan meningkatnya pembelajaran kepada publik diharapkan kekhawatiran ini akan berkurang dan masyarakat akan dapat menerima bahwa bahaya global warming tidaklah dilebih-lebihkan. Mengikutsertakan pola pikir skema hidup hijau dalam keseharian kita semua baik generasi muda mau pun generasi tua akan secara tidak langsung memajukan modernisasi cara pikir karena ke arah situlah trend masa depan kita menuju.

Kapan Curhat Itu Diperlukan?

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 09 Mei 2007

Kebutuhan Sosial Insani

Dari praktek yang sering kita lakukan, curhat (dibaca: curahan hati) itu adalah pengungkapan kita tentang kita (personal) kepada orang lain. Curhat ini berbeda dengan pengaduan. Pengaduan lebih sering dipakai untuk hal-hal yang bersifat sosial. Curhat juga berbeda dengan konseling. Konseling lebih bersifat personal-formal. Di samping itu, konseling memiliki standar profesional dan terkadang juga harus bayar. Hal yang paling mendasar dari konseling adalah bimbingannya.



Seiring dengan kemajuan teknologi, praktek curhat ini sudah mengalami banyak perkembangan. Ada stasiun radio yang khusus menangani orang yang ingin curhat. Ada provider telepon seluler yang membuka nomor khusus untuk curhat. Ada mailing list khusus yang memang didesain untuk keperluan curhat. Bahkan tak sedikit website yang berubah fungsinya menjadi semacam tempat untuk curhat-curhatan antar membernya.



Kenapa banyak orang yang menempuh cara curhat? Adakah manfaat yang bisa dipetik dari cara demikian? Memang ada pendapat yang berbeda-beda soal hal ini. Dari sebagian orang yang saya tanya, ada yang menganggap curhat itu kurang kerjaan. Masalah itu tidak selesai dengan curhat. Curhat itu adalah lambang kecengengan. Tapi tidak sedikit yang menganggap itu sangat dibutuhkan. Curhat bisa menormalkan emosi, bisa menyumbangkan pandangan, dan bisa melegakan batin. Meski masalah tidak selesai dengan curhat, tetapi biasanya sehabis curhat kita merasa plong atau lebih ringan.



Kalau dilihat dari teorinya, memang ada banyak penjelasan yang bisa dipahami bahwa curhat itu termasuk kebutuhan sosial manusia. Di antara kebutuhan sosial itu misalnya: ingin ditemani, ingin ada orang yang merasa senasib, ingin dipedulikan, ingin dihargai, ingin dianggap, ingin didengarkan, dan seterusnya dan seterusnya. Kata sebuah bait puisi yang pernah saya baca, sumbangsih yang paling berharga untuk sesama kita adalah kesediaan untuk saling mendengarkan.



Menurut Horney (1945), setiap orang itu pada dasarnya memiliki tiga kebutuhan dasar. Kebutuhan pertama adalah kebutuhan untuk mendekati orang lain / orang banyak guna mendapatkan cinta / pengakuan. Curhat bisa masuk dalam kebutuhan ini. Kebutuhan kedua adalah kebutuhan untuk menjauhi orang banyak guna memperoleh kebebasan dan kemandirian. Sedangkan kebutuhan ketiga adalah kebutuhan untuk menentang orang banyak guna mendapatkan kekuasaan atau kekuatan (unjuk gigi).



Terlepas itu berguna atau tidak, tapi prakteknya ini kerap kita lakukan atau sulit dihindari untuk tidak melakukannya. Karena itu, mungkin di sini yang diperlukan adalah melihat kapan dan bagaimana curhat itu kita lakukan. Di bawah ini ada beberap hal yang mungkin perlu kita perhatikan:



Pertama, curhat-lah hanya pada orang yang menurut anda itu layak. Layak di sini pengertiannya mungkin layak dalam menjaga rahasia pribadi, layak dalam menangani masalah, layak secara kedekatan hubungan, dan seterusnya. Jangan curhat kepada semua orang atau sembarang orang. Lain soal kalau niat kita memang hanya untuk iseng.



Kedua, curhat-lah hanya ketika kita mendapati masalah-masalah yang memang perlu curhat. Misalnya saja kita menghadapi masalah yang rasa-rasanya belum terbayang bagaimana menanganinya. Saat itu kita butuh pembanding, butuh konfirmasi (penguat) dari orang lain, butuh informasi, dan seterusnya. Jangan curhat untuk semua masalah. Ini berpotensi menghilangkan power personal atau bisa dianggap kita ini cengeng atau selalu mengeluh. Bedanya terkadang sangat tipis dan tidak ketahuan.



Ketiga, curhat-lah pada waktu yang tepat atau yang kira-kira tidak mengganggu orang yang kita curhati. Jangan sedikit-sedikit curhat atau curhat terlalu lama. Perlu kita ingat bahwa ketika kita sadang sangat butuh untuk curhat, umumnya kondisi emosi kita tidak stabil. Mungkin stress, depresi atau mungkin sedang merasa terhimpit. Dalam kondisi semacam itu, biasanya kita cenderung "agak memaksa" orang lain. Kita ingin secepatnya dipahami oleh orang lain lebih dulu. Padahal kita juga perlu memahami orang lain. Karena itu, yang dibutuhkan di sini adalah kendali diri. Jangan sampai kita mengesampingkan kebutuhan untuk memahami orang lain meski keinginan kita adalah untuk dipahami secepatnya.



Keempat, curhat-lah untuk berbagi pengalaman, pengetahuan dan perasaan. Meski kita yang punya acara untuk curhat itu, tapi jangan lupa juga memberikan kesempatan bicara kepada orang yang kita curhati. Ajukan pertanyaan seputar pengalaman dan pengetahuannya tentang persoalan tertentu. Jangan sampai kita curhat hanya untuk curhat. Walaupun ini sah juga tapi alangkah baiknya kalau kita juga mendapatkan manfaat yang banyak. Selain itu, dapatkan juga dukungan. Agar ini tercapai, kita harus tahu orang yang tepat untuk dicurhati.



Kelima, curhat-lah untuk tujuan yang positif dan konstruktif. Ini maksudnya adalah demi kebaikan kita atau demi untuk memperbaiki situasi. Titik. Kenapa perlu dibatasi? Terkadang kita curhat dengan menjelek-jelekkan orang lain, entah itu atasan, teman, pasangan, keluarga, dan siapa saja yang intinya malah memperkeruh suasana. Masalah kita dengan orang lain dan apa saja yang dilakukan orang lain atas kita memang butuh penjelaskan. Tapi, penjelasan di situ sifatnya untuk membeberkan fakta atau memberikan perspektif yang lebih utuh. Ini agar diketahui apa saja yang sebaiknya kita lakukan. Yang jangan sampai adalah penjelasan itu kita bumbui dengan fitnah, adu domba, kedengkian, manipulasi fakta, dan seterusnya. Ini berbahaya buat kita sendiri dan orang lain tentunya.





Hindari Lima Hal

Meski tidak ada kaidah yang mengatur bagaimana kita seharusnya curhat, tapi sepertinya ada rambu-rambu tak tertulis yang perlu kita perhatikan. Sebagian dari sekian rambu-rambu itu adalah:



Pertama, jangan berharap terlalu banyak (over-expectation). Kita mengharapkan seluruh penyelesaian masalah kepada orang yang kita curhati. Ini berpotensi memunculkan mentalitas yang oleh Bandura disebut Avoiding personal responsibility, kebiasaan melemparkan tanggung jawab. Kita perlu sadar, karena kita yang terkena masalah, maka kitalah yang perlu bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Orang lain itu kita butuhkan sebagai bantuan, bukan sebagai tempat untuk melemparkan tanggung jawab. Kita memang harus butuh orang lain, tetapi tidak boleh mengandalkan orang lain.



Kedua, fokuskan pada perbaikan situasi, masalah, atau problem, bukan pada orang. Kenapa ini penting untuk diingat? Seperti yang sudah kita singgung, terkadang kita ingin curat ketika bermasalah dengan orang lain. Saat itu pikiran kita selalu mengarah pada kesimpulan bahwa orang lain-lah yang harus berubah. Padahal, dalam situasi semacam itu, bisanya ini sangat sulit terwujud.



Sebagai gantinya, fokuskan pada persoalan (problem, not people). Ini berarti arah yang kita capai adalah bagaimana mengubah diri sendiri dalam menghadapi masalah itu, bukan bagaimana mengubah orang lain yang keberadaannya di luar kontrol kita. Mengubah diri sendiri, mengubah pendekatan dan perlakuan kita terhadap orang lain, biasanya akan mengubah orang lain. Untuk mengubah diri sendiri ini, mintalah masukan kepada orang yang kita curhati.



Ketiga, jangan "menjual masalah" melalui curhat. Maksudnya adalah, jangan melakukan curhat untuk diberi semacam yang bisa disebut "belas kasihan", meskipun itu bukan niat kita. Kenapa? Prakteknya, posisi demikian terkadang kurang menarik minat orang lain untuk ber-empati (share of feeling atau peduli). Padahal empati itu mungkin tujuan kita. Tapi jangan juga menampilkan sikap atau prilaku yang bisa disimpulkan sebagai kesombongan atau tidak tahu diri, misalnya menolak bantuan yang kita butuhkan atau enggan berterima kasih atas nama kesombongan dan keangkuhan



Keempat, harus efektif dan efisien. Maksudnya pasti kita sudah tahu. Efektif artinya seimbang antara usaha yang kita lakukan dan hasil yang kita dapatkan (tepat sasaran). Sedangkan efisien adalah penggunaan waktu / biaya yang sebaik-baiknya untuk mencapi hasil yang kita inginkan. Dulu, sebelum tehnologi seluler ditemukan, banyak kantor yang kebobolan teleponnya. Menurut hasil survei yang pernah saya baca, ternyata hanya 20 % penggunaan telepon kantor itu yang untuk urusan kantor. Sisanya tidak jelas, mungkin untuk pacaran, curhat-curhatan, dan seterusnya. Kalau begini caranya, tentu kita rugi dan kantor pun rugi.



Kelima, jangan sampai membuka ruang untuk disalah-tafsirkan. Poin ini sangat penting untuk orang yang sudah berkeluarga. Kata seorang penasehat perkawinan yang saya kenal, amat sangat disarankan untuk tidak curhat kepada orang lain yang lawan jenis, terutama tentang masalah keluarga atau pribadi. Kenapa? Sebetulnya tidak apa-apa juga selama itu dilandasi oleh ke-sepaham-an dan masih dalam batas yang proporsional. Tapi bila dua hal ini tidak ada, ini berpotensi memunculkan salah tafsir dari orang yang kita curhati atau dari orang sekitar.





Untuk Orang yang Dicurhati

Di antara kita pasti ada yang selalu didatangi orang untuk curhat. Kalau anda termasuk, syukurilah itu. Kenapa? Dilihat dari perkembangan teori kecerdasan (Multiple Intelligence), ada yang mengatakan bahwa tanda-tanda orang yang punya kecerdasan Interpersonal itu adalah sering dimintai nasehat, pandangan, pendapat atau mungkin sering dicurhati orang. Kalau itu selalu dikembangkan, pasti akan membuahkan keuntungan, entah itu dalam kehidupan profesi, karir, keluarga atau masyarakat.



Berdasarkan kasus-kasus yang kerap muncul, baik di lapangan atau di dalam penjelasan literatur, nampaknya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Ini antara lain:



Pertama, setiap masalah itu adalah masalah bagi orang yang sedang terkena masalah. Tidak ada masalah yang ringan bagi orang yang sampai merasa perlu untuk men-curhat-kan masalahnya. Artinya, jangan sampai kita menyepelekan masalah orang lain dengan mengatakan, misalnya saja: gitu aja dipikirin, cengeng banget kamu, saya pernah punya masalah yang jauh lebih dahsyat tapi tidak secengeng kamu, dan seterusnya dan seterusnya. Mungkin intinya di sini adalah kita merendahkan orang lain.



Akan lebih bagus kalau kita berusaha mendengarkan, memahami dan mengeksplorasi perspektif ke tingkat yang lebih luas. Kalau kita punya pengalaman pribadi, sampaikan itu ke dalam paket solusi-solusi alternatif. Kalau kita belum punya referensinya, kasihlan pendapat yang mengarah pada penemuan solusi atau perbaikan-perbaikan. Ini akan lebih positif dibanding dengan ketika kita mengangkat diri sendiri dan menjatuhkan orang lain.



Kedua, tunjukkan empati, bukan simpati. Empati itu pada dasarnya adalah peduli atau care (perhatian). Thomas F. Mader & Diane C. Mader, dalam Understanding One Another (1990), menjelaskan, empati itu adalah kapasitas seseorang untuk bisa berbagi atas dasar semangat kepedulian. Peduli ini, kalau mengacu pada teori kompetensi, ada tingkatannya atau ada skalanya. Bentuk peduli yang paling tinggi adalah bantuan nyata atau tindakan.



Lalu kenapa harus menghindari simpati? Simpati yang dimaksudkan di sini adalah menaruh belas kasihan tetapi dasarnya itu adalah (semacam) merendahkan atau menghina orang yang curhat ke kita seolah-olah nasibnya sangat lebih jelek dibanding kita. Simpati dalam pengertian seperti ini agaknya kurang dibutuhkan. Termasuk dalam pengertian simpati di sini adalah, kita ikut hanyut atau larut ke dalam perasaan orang yang curhat sampai-sampai membuat akal sehat kita tidak bekerja untuk melihat persoalan. Logikanya, kalau kita sendiri ikut hanyut, apa ya mungkin kita bisa memberi masukan yang menyehatkan?



Ketiga, faktual dan "problem centered". Menurut teori manajemen, keputusan yang kualitasnya bagus adalah keputusan yang dilandasi fakta, bukan berdasarkan perasaan pribadi. Ini terkadang tepat pula untuk memberi masukan kepada orang yang curhat. Agaknya kita perlu menghindari pemberian saran, masukan atau pendapat yang malah membuat orang malas berpikir, punya harapan atau keyakinan yang tidak realistis, atau malah menghancurkan spirit hidupnya.



Dekatkan orang pada masalah yang dihadapi (faktual) dan bangkitkan spiritnya. Jangan menghibur seseorang dengan kata-kata manis yang tidak mendorongnya untuk melakukan sesuatu (aksi atau antisipasi). Tapi jangan pula menggembosinya dengan opini-opini negatif yang merusak atau kata-kata yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan destruktif.



Keempat, hindari upaya untuk memojokkan, menyalahkan dan apalagi memarahi. Fokuskan pada apa yang bisa dilakukan oleh dia dan oleh kita terkait dengan masalah yang muncul. Bagaimana kalau demi "pendidikan"? Bisa-bisa saja. Cuma, memarahi orang yang sedang terkena masalah biasanya kurang efektif dan sangat mungkin memancing penolakan. Yang ia butuhkan adalah bantuan. Mungkin nanti kalau kita sudah bisa membantu barulah kita memarahinya, kalau memang itu diperlukan. Jangan sampai kita mengatakan sesuatu yang menyakitkan padahal kita tidak bisa membantu apa-apa.



Kelima, jaga "kehormatan" orang yang curhat. Kehormatan di sini termasuk misalnya saja: merahasiakan sesuatu yang memang harus dirahasiakan. Kalau pun itu harus dikatakan kepada orang lain / pihak ketiga, hendaknya itu perlu didesain dengan bahasa yang kira-kira bisa memunculkan solusi atau perbaikan, bukan untuk meremehkan, menjelek-jelekkan, atau membuka aib seseorang.



Itulah sebagian dari sekian hal yang mungkin penting untuk diingat ketika hendak curhat atau ketika dicurhati orang lain. Semoga bermanfaat.

Mendidik Anak

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 31 Oktober 2007

Kalau dilihat dari esensinya, mendidik adalah mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi, dst) orang lain untuk melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain (lingkungan). Dimana letak samanya? Tuhan memberikan tanggung jawab tugas ini kepada semua manusia, siapapun dia, dan apapun status sosialnya. Bahwa kemudian ada profesi yang kita kenal, misalnya saja: dai, pendeta, kyai, public speaker, penceramah, penulis motivasi, konselor, dan lain-lain, ya itu profesi. Lain profesi lain esensi.

Men-dakwah-kan hal-hal positif itu menjadi tugas semua orang karena, salah satu alasannya, di dalam praktek hidup itu ada kenyataan yang pas untuk disebut dengan istilah "konsekuensi dosa kolektif". Kalau dalam suatu daerah ada illegal logging besar-besaran dan membabi buta, lalu sebagian besar penduduk di situ berdiam atau malah mendukung praktek illegal itu, maka bencana banjir yang merupakan akibat logis dari praktek itu tidak dikenakan kepada hanya para penebang. Banjir itu akan melanda siapa saja. Ini contoh yang bisa dianalogikan secara umum.


Begitu juga dengan mengajar atau mendidik. Bahwa ada orang yang berprofesi sebagai guru, dosen, instruktur, dan seterusnya, ya itu profesi. Esensi pekerjaan mengajar sendiri ditugaskan kepada semua orang dan tidak pandang apa profesinya. Bukti riilnya adalah mengajarkan anak tentang hal-hal yang menurut kita itu baik, benar, dan bermanfaat kalau dijalankan.


Sah-sah saja kita punya alasan, misalnya saja, saya bukan berprofesi pendidik, bukan keturunan guru, saya tidak bakat mengajar, saya tidak sabaran mengajari anak kecil, dan lain-lain. Tetapi yang menjadi soal bukan itu. Persoalannya adalah, ketika kita tidak mengajarkan sesuatu maka anak-anak kita tidak mendapatkan pengajaran dari kita. Padahal keberadaan kita bagi mereka sangatlah penting. Ini tentu sudah mafhun bagi kita.

Saking pentingnya peranan kita itu bisa dilihat di berbagai temuan di bidang pendidikan. Ini misalnya dikatakan bahwa keluarga itu adalah sekolah yang pertama kali dilihat oleh anak. Banyak ahli mengatakan bahwa masa emas bagi perkembangan anak-anak itu pada masa lima tahun pertama. Ada yang mengatakan empat tahun. Ada yang mengatakan tiga sampai tujuh tahun. Ada yang mengatakan lagi sampai anak-anak itu menemukan dirinya sendiri dengan perkiraan usia minimalnya dua puluh tahun.


Mana yang paling benar sebetulnya? Mungkin masalahnya bukan pada usia berapa orangtua itu berperan emas bagi anak-anaknya. Kenapa? Prakteknya, peranan orangtua bagi anak-anak itu tidak terbatasi oleh usia. Menurut teori lain, otak manusia itu bisa diajari, bisa belajar, atau bisa menerima pelajaran sepanjang hidup. Ini berarti bahwa orangtua itu tetap punya peluang emas untuk mengajarkan sesuatu sepanjang peluang itu digunakan.


Nah, terlepas dari obrolan di atas, sebetulnya ada satu hal yang ingin kita angkat di sini. Ini terkait dengan bagaimana memilih metode pendidikan yang pas untuk kita yang memang bukan berprofesi sebagai pendidik. Seorang ibu bahkan sempat mengutarakan kebingungannya. "Katanya, kita ini tidak boleh keras sama anak. Tapi katanya lagi, kita tidak boleh memanjakan anak. Jadi mana dong metode mendidik anak yang perlu diikuti?"


Memang, dalam pendidikan dikenal sebuah sabda yang bunyinya begini: "Metode yang kita gunakan untuk mendidik itu lebih menentukan keberhasilan pendidikan ketimbang materi yang kita berikan." Dengan sabda ini, banyak orang, terutama yang bukan pendidik, tidak pede dengan cara-cara atau metode yang diciptakannya sendiri dalam mendidik anak-anaknya. "Apakah metode ini salah atau betul?", "Apakah saya terlalu keras atau terlalu memanjakan si anak?", dan seterusnya dan seterusnya.


Kalau kita kembalikan ke esesi di atas, sebetulnya Tuhan sudah fair di sini. Fair nya adalah, semua orang sudah dibekali kapasitas tertentu untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, misalnya saja, kepada anaknya atau adiknya atau lingkungannya. Bahwa ada yang bergaya tegas, galak, sedikit cerewet, bahasanya halus, sabaran, dsb. Itu semua adalah gaya, sesuatu yang pada prinsipnya bisa diubah sesuai usaha kita. Bukan hanya itu saja. Selain kita sudah diberi kapasitas dasar untuk mengajarkan sesuatu, kita pun sudah diberi resources atau bekal untuk mengajar. Karena itu, apapun profesi kita, seperti apapun sifat-sifat dan kepribadian kita, ini semua tidak menjadi halangan untuk bisa menjadi pengajar atau pendidik di rumah.


Apa saja prinsip-prinsip dasar yang perlu kita jalankan (bukan sekedar untuk diketahui) dalam mengajar atau mendidik (meski profesi kita bukan pendidik atau pengajar)? Secara umum, prinsip-prinsip dasar itu bisa diuraikan sebagai berikut:

Pertama, menjauhi hal-hal yang ekstrim. Teori apapun di dunia ini pasti melarang yang satu ini. Contoh teori mendidik anak yang ekstrim itu misalnya kita dulu pernah mengalami perlakuan yang menurut kita keras dari orangtua. Sudah sedemikian keras orangtua itu mendidik kita, fasilitas hidup pun kurang, pas-pasan atau sangat dibatasi.


Sebagai reaksinya, kita menggunakan metode yang menjadi padanannya secara ekstrim. Misalnya saja kita terlalu memanjakan dan memberikan fasilitas yang berlebihan sebagai reaksi atau balasan atas masa lalu. Anak merasa punya kebebasan yang membuat dirinya tidak tahu apa yang boleh dan apa yang tidak, tidak tahu apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan, dan seterusnya. Atau misalnya saja anak merasa semua hidupnya diselesaikan dengan pembantu atau asisten orangtua.


Nah, kalau menelaah temuan-temuan ilmu pengetahuan, anak yang menerima perlakuan terlalu ekstrim enaknya atau terlalu ekstrim tidak enaknya, itu sama-sama kurang bagus. Teori stress mengatakan, orang yang terlalu sedikit stress itu sama jeleknya dengan orang yang terlalu banyak stress. Teori kreativitas juga mengatakan yang sama. Untuk perkembangan kreativitas, terlalu tertekan itu sama-sama jeleknya dengan terlalu nyantai. Terlalu banyak tersedia fasilitas itu juga mungkin sama jeleknya dengan terlalu krisis.


Konon, dengan semakin banyaknya tumbuh generasi keluarga kedua yang lebih makmur dari orangtuanya dulu, kini yang kerap dianggap menjadi persoalan adalah bagaimana me-militansi-kan mentalitas anak-anak. Militansi anak-anak terancam oleh berlimpahnya fasilitas dan kemanjaan yang tidak disentuh oleh nilai-nilai pendidikan. Seorang bapak yang dulu anaknya pernah saya ajar mengatakan anak-anak sekarang ini cenderung tidak mau susah, gampang menyerah, maunya fasilitas duluan.


Untuk bisa menghindari hal-hal yang ekstrim ini tentu tidak bisa kita capai dengan sekali-jadi. Ini adalah proses yang dinamis. Karena itu, idealnya adalah kita perlu me-record berbagai proses pendidikan yang pernah kita terima, entah dari orangtua, lingkungan, atau sekolah. Ini agar kita punya data atau landasan untuk bisa menemukan yang "proper" buat anak-anak yang hendak kita didik.


Kedua, mendidik atau mengajar itu adalah "the game" (permainan yang bukan sekedar main-main). Dikatakan permainan berarti kita dituntut untuk mengeluarkan jurus-jurus yang sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan atau fakta-fakta yang ada. Atau kalau dipendekkan, harus sesuai dengan tindakan si anak pada real time. Kalau kita membiarakan anak-anak hanya karena takut dikutuk teori pendidikan atau puisi pendidikan, padahal situasinya saat itu membutuhkan ketegasan sikap dari kita, ini juga tidak tepat.


Dengan kata lain, silahkan kita marah, lembut, diam, atau bersikap tegas, sejauh itu memang dibutuhkan oleh fakta-fakta di lapangan. Namanya juga bermain dan permainan. Yang terpenting dalam the game itu, menurut nasehat Sun Zhu, adalah menjaga emosi dan memperhatikan perilaku orang lain. Dalam konteksnya dengan pendidikan adalah, jurus apapun yang kita keluarkan, hendaknya itu perlu kita niati untuk mendidik (to educate). Artinya: menjaga emosi dan memperhatikan perilaku. Artinya lagi, teori apapun dalam pendidikan itu perlu kita tafsirkan dan jalankan dengan akal sehat dan jangan sampai "termakan" oleh teori.


Kekurangan yang kerapkali kita jalankan tanpa sadar adalah, kita men-judge anak bukan dari tindakannya atau kasusnya atau faktanya, melainkan menciptakan sebuah konsepsi-diri dalam bentuk sifat-sifat yang umum. Ini misalnya kita mengatakan si anak itu pemalas padahal yang kita maksudkan adalah anak menolak disuruh mengambil gelas di meja makan. Bahkan tak jarang anak menerima sebutan misalnya: anak yang bodoh, anak yang nakal, anak yang bla bla bla, dan seterusnya.


Kekurangan lainnya adalah kita menjadikan jurus-jurus itu tanpa tujuan. Artinya, ketika marah, yang membuat kita marah adalah hanya kejengkelan. Ketika kita baik, yang membuat kita baik adalah karena tidak tahan ditekan sama anak. Idealnya, baik kita sedang galak atau sedang lembut, semua itu kita niati untuk mendidik atau mengarahkan mereka pada yang baik berdasarkan keadaannya. Tradisi orangtua kita berpesan, mendidik itu terkadang harus di depan, di tengah atau di belakang. Ini tergantung situasi dan medan.


Ketiga, mempertimbangkan suasana batin dan lahir. Kalau mau jujur, metode pendidikan yang paling banyak kita gemari adalah metode ceramah, meskipun menurut rumus pendidikannya, anak-anak itu lebih banyak menyerap dari apa yang kita lakukan (imitasi).


Nah, metode ceramah pun sebetulnya oke-oke saja sejauh kita melihat ada pengaruh positif. Yang sangat penting untuk kita jalankan bersama adalah, hendaknya jangan sampai kita berceramah pada saat kita marah atau si anak dalam kondisi batin yang tidak mendukung. Kalau pun itu sudah terlanjur kita lakukan, akan lebih baik kita menciptakan atau menemukan suasana baru yang mendukung untuk menjelaskan ulang materi ceramah kita di kesempatan yang berbeda. Lebih-lebih jika itu kita lakukan secara dialogis dan berduaan.


Nasehat itu diibaratkan seperti salju. Semakin lembut salju itu, semakin kuat daya serapnya ke bawah. Tao berpesan, dimanapun di dunia ini, yang lembut pasti mengalahkan yang kasar. Sayangnya, semua orang berpikir untuk menggunakan kekasaran dan mengabaikan kelembutan. Kita lebih cenderung berkesimpulan secara cepat bahwa kekasaranlah yang akan menang padahal nyatanya seringkali itu tipuan. Justru kelembutan yang akhirnya menjadi the winner.


Keempat, kesabaran. Semua orang sudah tahu bahwa kesabaranlah yang akhirnya memenangkan proses pendidikan. Dalam beberapa kasus terkait dengan kenakalan anak yang sudah pada tahap luar biasa, misalnya mengkonsumsi narkoba, kebodohan akademik yang dibarengi dengan kenakalan, dan lain-lain, maka yang kita saksikan adalah kesabaran di sana menjadi pemenangnya.


Kesabaran di sini maksudnya bukan membiarkan penyimpangan atau memendam protes dan kejengkelan yang tidak sanggup kita nyatakan, melainkan kontinyuitas kesadaran dan tindakan. Jadi kalau kita tetap sadar untuk menempati posisi sebagai pendidik atau pengajar dan terus melakukan hal-hal yang dibutuhkan dalam proses pendidikan itu, berdasarkan fakta yang kita lihat, berarti kita telah menjalankan prinsip kesabaran. Contoh yang paling riil itu misalnya adalah kesabaran yang dilakukan ibundanya Edison. Anaknya dinyatakan tidak pantas mengikuti pendidikan sekolah formal tapi ibunya tetap tidak percaya itu dan sabar dalam mendidik anaknya.


Karena kesabaran itu letaknya pada kontinyuitas kesadaran dan tindakan, makanya kerap kita dengar bahwa kesabaran ada tiga, yaitu: a) kesabaran dalam melakukan hal-hal yang berdampak baik, b) kesabaran dalam melawan / meluruskan penyimpangan, c) kesabaran dalam menghindari hal-hal yang berdampak buruk. Bahkan kalau melihat literatur tentang perjuangan manusia, kesabaran ini diakui sebagai prinsip usaha yang tidak ada penggantinya. Kesabaran yang benar adalah kesabaran yang menjadi kekuatan kita.


Kelima, keteladanan. Ini juga prinsip dalam pendidikan dan pengajaran. Mau kita paham teori pendidikan atau tidak, keteladanan adalah prinsip yang harus ada dalam proses pendidikan. Karena itu, dikatakan bahwa keteladanan itu bukan salah satu teori pendidikan, melainkan satu-satunya. Artinya, metode apapun yang kita gunakan, tetap harus ada keteladanan ini.


Dengan menggunakan kalkulasi yang tidak ideal, kita kerap menyaksikan fakta-fakta dimana ada orang yang mungkin secara teori-tekstual tidak banyak tahu tentang perkembangan konsep-konsep pendidikan tetapi prakteknya berhasil mendidik orang, mau itu muridnya atau anaknya. Apa rahasia mereka? Dari yang kita lihat, rahasianya adalah ketaatan terhadap prinsip-prinsip utama yang jumlahnya sedikit, yang sudah kita ketahui, dan yang sudah dijalankan oleh mereka dengan sepenuh hati. Ini misalnya adalah kesabaran, ketegasan atau keteladanan.


Menurut Kahlil Ghibran, anak-anak itu memang bukan milik kita. Mau kita miliki atau tidak kita miliki, anak-anak akan tetap memiliki dirinya sendiri dan menjadi milik kekasihnya. Meskipun bukan milik kita, tetapi anak-anak itu menjadi tanggung jawab kita. Tanggung jawab inilah yang pas untuk menerjemahkan status anak sebagai amanat dan ujian. Semoga bermanfaat.

Mengenal Cara Belajar Individu

Oleh : Zainun Mutadin, SPsi. MSi.
Jakarta, 26 September 2002

Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.

Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi "pintar". Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.

Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.

Otak Sebagai Pusat Belajar

Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.

Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain (dalam DePorter & Hernacki, 2001). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan yang ketiga adalah neokorteks.

Batang otak memiliki kesamaan struktur dengan otak reptil, bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motorik-sensorik-pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Perilaku yang dikembangkan bagian ini adalah perilaku untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies.

Disekeliling batang otak terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistem ini berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Sistem limbik adalah panel kontrol dalam penggunaan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan ke pemikir dalam otak yaitu neokorteks.

Neokorteks terbungkus di sekitar sisi sistem limbik, yang merupkan 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia. Bagian inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir intelektual, pembuatan keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasan non verbal. Dalam neokorteks ini pula kecerdasan yang lebih tinggi berada, diantaranya adalah : kecerdasan linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal dan intuisi.

Karakteristik Cara Belajar

Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual

Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
rapi dan teratur
*
berbicara dengan cepat
*
mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik
*
teliti dan rinci
*
mementingkan penampilan
*
lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar
*
mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual
*
memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik
*
biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar
*
sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)
*
merupakan pembaca yang cepat dan tekun
*
lebih suka membaca daripada dibacakan
*
dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.
*
jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara
*
lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
*
sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak'
*
lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah
*
lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik
*
seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata

2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial

Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja
*
mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik
*
lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca
*
jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras
*
dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara
*
mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita
*
berbicara dalam irama yang terpola dengan baik
*
berbicara dengan sangat fasih
*
lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya
*
belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat
*
senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar
*
mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi
*
lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya
*
lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik

3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik

Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

*
berbicara dengan perlahan
*
menanggapi perhatian fisik
*
menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka
*
berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain
*
banyak gerak fisik
*
memiliki perkembangan otot yang baik
*
belajar melalui praktek langsung atau manipulasi
*
menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung
*
menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca
*
banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)
*
tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama
*
sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut
*
menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
*
pada umumnya tulisannya jelek
*
menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)
*
ingin melakukan segala sesuatu

Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat

Jumat, 27 Mei 2011

Wudhu Batin

Isam bin Yusuf adalah seorang ahli ibadah yang terkenal wara' (hati-hati), tawadhu' (rendah hati), taat beribadah, dan senantiasa khusyuk dalam shalatnya. Karena kehati-hatiannya, ia selalu khawatir bila ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Karenanya, Isam senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal yang menyebabkan ibadahnya tertolak. Sebab, akan sia-sialah apa yang dikerjakannya, bila ibadahnya tidak diterima Allah SWT.

Suatu hari, Isam menghadiri pengajian yang diajarkan sufi ternama, Hatim al-Asham. Kesempatan ini digunakannya untuk menggali ilmu dari Hatim. "Wahai Abu Abdurrahman, bagaimanakah cara Anda shalat?"

Hatim menjawab, "Apabila waktu shalat telah tiba, maka aku berwudhu secara lahir dan batin." Isam bertanya lagi. "Bagaimanakah wudhu batin itu?"
"Wudhu lahir adalah membersihkan anggota wudhu sebagaimana yang diajarkan Alquran dan hadis Nabi SAW."

Sedangkan wudhu batin itu, kata Hatim, membasuh anggota badan dengan tujuh cara, yakni
(1) senantiasa bertobat kepada Allah atas segala dosa;
(2) kemudian menyesali segala dosa-dosa yang dikerjakan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
(3) Membersihkan diri dari cinta dunia (hubbuddunya);
(4) menghindarkan diri dari segala pujian manusia;
(5) meninggalkan sifat bermegah-megahan;
(6) tidak berkhianat dan menipu;
(7) serta menjauhi perbuatan iri dengki.

"Kemudian, aku pergi ke masjid, lalu kuhadapkan wajahku ke arah kiblat dan hatiku kepada Allah. Selanjutnya, aku berdiri dengan penuh rasa malu di hadapan Allah. Aku bayangkan bahwa Allah ada di hadapanku dan sedang mengawasiku. Sementara surga ada di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut di belakangku. Dan aku membayangkan pula, seolah-olah aku berada di atas jembatan Shirat al-Mustaqim. Dan aku anggap shalat yang akan aku kerjakan adalah shalat terakhir bagiku."

"Kemudian aku bertakbir, dan setiap bacaan dalam shalat, senantiasa aku pahami maknanya. Aku juga rukuk dan sujud dengan menganggap diriku sebagai makhluk yang paling kecil dan tak punya kemampuan apa pun di hadapan Allah. Selanjutnya aku akhiri dengan tasyahud (tahiyat) dengan penuh penghambaan dan pengharapan kepada Allah, lalu aku memberi salam. Demikianlah shalatku selama 30 tahun terakhir ini," ujar Hatim.

Mendengar penjelasan Hatim ini, Isam bin Yusuf pun tertunduk lesu dan menangis. Ia membayangkan bahwa ibadahnya selama ini masih belum seberapa dibandingkan dengan ibadah yang dikerjakan Hatim al-Asham. Segala sesuatunya dilaksanakan dengan penuh pengharapan dan ridha Allah, serta selalu diawali dengan kesucian lahir batin.

Wudhu merupakan pintu masuk menuju ibadah yang terbaik, yakni shalat dan berdialog dengan Allah SWT. Sebab, wudhu merupakan bentuk kesucian lahir. Tanpa kesucian lahir, mustahil pula akan tercapai kesucian batin. "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS al-Kahfi [18]: 110). Wallahu a'lam.

Oleh Syahruddin El-Fikri
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/03/lklrsl-wudhu-batin