Peran Keluarga Dalam Pembentukan Harga Diri
Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan harga diri adalah hubungannya dengan orang lain, terutama significant others seperti orang tua, saudara kandung dan teman-teman dekat. Di antara struktur sosial yang ada, keluarga merupakan hal yang paling penting, karena keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat, baik secara fisik maupun dukungan sosial. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama ditemui oleh individu dan menjadi tempat yang penting dalam perkembangan hidup seorang manusia.
Keluarga menjadi struktur sosial yang penting karena interaksi antar anggota keluarga terjadi di sini. Perilaku seseorang di dalam keluarga dapat mempengaruhi perilaku anggota keluarga yang lainnya. Di dalam keluarga seseorang dapat merasakan dirinya dicintai, diinginkan, diterima dan dihargai, yang pada akhirnya membantu dirinya untuk lebih dapat menghargai dirinya sendiri. Situasi keluarga yang tidak bahagia kurang dapat menghasilkan pribadi yang memiliki harga diri yang positif. Kebahagiaan suatu keluarga sangat dipengaruhi oleh adanya hubungan antar anggota keluarga yang harmonis, baik hubungan antara orang tua dan anak maupun hubungan antara anak dengan saudaranya.
Masalah yang sering terjadi pada remaja di dalam hubungannya dengan keluarga adalah kebutuhan remaja yang tidak dipahami oleh anggota keluarga yang lain, yaitu pentingnya kehadiran teman-teman. Pada masa ini ketergantungan anak dengan keluarga mulai berkurang, dan seorang remaja akan lebih sering untuk menghabiskan waktunya dengan teman-temannya. Pada masa remaja, teman-teman (peer) menjadi figur contoh yang penting dan merupakan hal yang menjadi penekanan sosial bagi remaja, lebih dari orang tua.
Selasa, 05 Juli 2011
You Know The Answer
Melalui tulisan, saya mendapatkan banyak pengalaman menarik termasuk kawan baru. Beberapa menghubungi untuk 'berkonsultasi', yang sebenarnya lebih tepat disebut sharing tentang penelitian. Salah satu pertanyaan sederhana namun menjadi dialog menarik yang pernah terlontar melalui sarana chat online ialah 'Bagaimana caranya menyusun teori pada bab 2?'
Jawaban yang saya berikan, tentu sangat standar bahkan saya berani jamin kurang lebih sama dengan dosen pembimbingnya atau kuliah metodologi di kelas. "Bab literatur ditentukan pada bab awal sebagai peta utama penelitian, penyusunan berdasarkan kebutuhan, bukan copy-paste buku teori, telusuri jurnal penelitian dan buku-buku, pelajari pola penulisan di kampus melalui tulisan ilmiah senior di perpustaan karena setiap kampus punya ciri khas sendiri" dan lain sebagainya yang bisa Anda tambahkan sendiri. Kawan baru di seberang sana menjawab dengan derai tawa, "Hehe.....iya sih...teknisnya saya sudah tahu, tapi kok susaaah ya.."
Kalimat terakhirlah yang sesungguhnya merupakan isu utama. Jemari saya pun menari di keyboard menyusun kalimat di layar monitor untuknya, "Kalau begitu, baca, baca dan baca sampai 'muntah' denger musik, baca komik, minum susu dan tidur"
Alur pertanyaan di atas telah masuk dalam prediksi, bukan karena saya cenayang. Saya, begitu juga ia yang bertanya sesungguhnya sudah mengetahui jawabannya secara objektif. Bukan 'menelusuri literatur', 'berdiskusi materi dengan dosen/ kawan' atau jawaban objektif lainnya. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah 'Bagaimana melepaskan/ mengendurkan ketegangan untuk dapat bertindak?'
Pertanyaan 'baru' itu pun sesungguhnya tidak terlampau mengejutkan. Lalu mengapa seringkali kita menjadi terpaku seakan membatu, tidak tahu apa yang semestinya dilakukan? Kejadian ini tidak hanya terjadi pada Anda yang sedang dikejar deadline pekerjaan, atau akademik, percayalah, episode ini akan selalu terjadi pada kita as long as we live.
Client-Centered Therapy
Tokoh psikologi humanis, Carl R. Rogers (Feist & Feist, 2002) meyakini adanya kekuatan dalam diri setiap orang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Asumsi dasar dari terapi Rogerian adalah formative tendency dan actualizing tendency.
Rogers memandang semua organisme (tidak hanya manusia) memiliki kecenderungan untuk bergerak dari yang sederhana menuju kompleksitas (kecenderungan formatif). Organisme kompleks yang tersusun dari sel soliter, kesadaran manusia yang berkembang dari ketidaksadaran primitif menjadi kesadaran terorganisasi tingkat tinggi.
Sementara itu, manusia juga memiliki kecenderungan dalam dirinya untuk bergerak guna memenuhi potensinya (kecenderungan aktualisasi). Dalam diri tiap individu terdapat kekuatan kreatif untuk menyelesaikan masalah, membenahi konsep diri, dan meningkatkan kemampuan dalam mengarahkan diri sendiri. Kecenderungan ini yang kemudian menjadi landasan terpenting dalam terapi Rogerian.
Terkait dengan konsep dasar di atas, Rogers juga membahas Diri dan Aktualisasi Diri. Dalam pandangannya, aktualisasi diri merupakan kecenderungan untuk beraktualisasi seperti yang ia bayangkan tentang dirinya. Ketika seorang individu memiliki hubungan harmoni antara diri dan bayangan dirinya, maka kedua aktualisasi itu menjadi sama/ identik. Namun jika ia melihat dirinya tidak seperti yang ia bayangkan, berarti terdapat perbedaan antara diri dan bayangan dirinya.
Bayangan diri ini disebut dengan ideal self, sebuah subsistem tentang pandangan tentang diri yang diinginkan. Sementara, self-concept merupakan segala hal yang dialami secara sadar (meski tidak selalu akurat) oleh individu.
Pada saat saya memiliki diri ideal sebagai orang yang memiliki popularitas di kalangan rekan kantor, sementara (pada kenyataannya) konsep diri saya ternyata tertutup, tidak berani tampil di muka umum. Dalam pandangan Rogerian, saya tidaklah harmoni dengan diri saya sendiri. Perbedaan ini, dalam variasinya bisa menjadi sumber ketidakpuasan, kecemasan, rendahnya self-esteem, dan lainnya.
Untuk Apa Terapis?
Lalu apa gunanya terapis? Jangan lupa, bahwa yang dikemukakan di atas adalah kecenderungan, potensi. Artinya hal itu ada di dalam tiap diri seperti yang dikemukakan Rogers, tetapi belum tentu teraktualisasikan.
Pembahasan terapis, di kalangan Rogerian sering dianalogikan dengan cermin. Terapis berperan sebagai cermin untuk membantu memantulkan bayangan individu. Cara ini yang akan 'memancing' potensi individu untuk mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, setelah melihat masalah dengan lebih terang. Maka dalam Rogerian, salah satu mantra utamanya adalah klien menjadi terapis untuk dirinya sendiri.
Kita tidak akan membahas dengan sangat detil bagaimana metode yang digunakan. Namun kurang lebih ada beberapa prinsip yang sebetulnya sering kita kenakan ketika berinteraksi dengan sahabat. Dalam istilah Roger adalah; congruence dan unconditional positive regard.
Kondisi kongruen hanya akan terjadi jika pihak yang terlibat (klien-terapis) di dalamnya saling menyadari keberadaan masing-masing dan disertai kemampuan dan kemauan (kesungguhan) untuk mengekspresikan perasaan secara terbuka. Kondisi kongruen berarti 'sesungguhnya', tidak ada kepura-puraan (faking) di sini. Baik terapis maupun klien tidak menyimpan ekspresi (termasuk respon) dengan beragam emosi. Rogers menyatakan;
"A congruence conselor, then, is not simply a kind and friendly person but rather a complete human being with feelings of joy, anger, frustration, confusion, and so on."
Selanjutnya, penghargaan positif bermakna disukai, dihargai atau diterima oleh orang lain. Ketika kondisi ini bisa terjadi tanpa syarat, itulah yang disebut dengan penghargaan positif tak bersyarat. Sikap terapis hendaknya tanpa mendominasi, tanpa evaluasi, tanpa syarat, untuk ini Rogers menyatakan;
"Therapists have unconditional positive regard when they are ‘experiencing a warm, positive and accepting attitude toward what is the client"
Satu poin lagi yang tidak kalah penting disebutkan oleh Rogers yakni; emphatic listening. Bagi Rogers, empati bermakna; "temporarily living in the other's life, moving about in it delicately without making judgment"
Seperti sering dituliskan dalam beberapa kesempatan, bahwa empati bukanlah simpati. Rogers menegaskan perbedaan ini dengan menyatakan bahwa empati merupakan perasaan terapis dengan klien, sementara simpati merupakan perasaan terapis untuk klien. Simpati sama sekali bukan terapi, karena merupakan evaluasi eksternal dan biasanya mengarah ke perasaan mengasihani diri sendiri pada klien. Lebih jelas, Rogers menyatakan sebagai berikut;
"A therapist has an emotional as well as a cognition reaction to a client's feelings, but the feelings belong to client, not the therapist. A therapist does not take ownership of a client’s experiences but is able to convey to the client an understanding of what it means to be the client at that particularly moment."
Sahabat sebagai Cermin
Jika Jacques Lacan, tokoh psikoanalisis Perancis (new-Freudian-Struktualis) terkenal dengan cermin-nya sebagai media kastrasi antara individu dan diri (yang lain). Suatu proses di mana seorang anak manusia pertama kalinya melihat 'orang lain' yang sama dengan dirinya di sebuah cermin. Peristiwa penting dalam kehidupan yang menyadarkan individu akan keberadaannya, eksistensinya. Bukan lagi 'menyatu' dengan individu lain yakni ibu.
Dalam pembahasan ini, rumor bahwa sahabat atau pasangan adakalanya sebagai 'tempat sampah' akan lebih tepat sebagai cermin. Yang diperlukan ketika seseorang mencurahkan isi hatinya (curhat) adalah; self-acceptance dan self-support, sehingga potensi yang dinyatakan oleh Rogers akan keluar. Kondisi kongruen, penghargaan positif tak bersyarat, dan mendengarkan dengan empati lah yang berperan aktif di dalamnya.
Kembali pada dialog antara saya dan kawan saat itu, mungkin setelah offline, ia akan mengikuti saran saya; membaca, minum susu dan tidur. Mungkin dengan cara lain seperti berjalan-jalan, menonton film, atau justru membuka lembaran tugasnya kemudian menyusun bab 2 dengan lancar. Saya sendiri tidak jarang mengalami pola demikian dengan warna berbeda. Mendiskusikan masalah di pagi hari dengan sahabat, kemudian ia memberikan beberapa pandangan yang pada saat itu terlihat aneh meski tidak asing. Tetapi malam harinya saya mengiriminya pesan singkat, "Thanks, I got the insight!!" , ia pun membalas "You know the best for your self"
Semoga Bermanfaat!
Jawaban yang saya berikan, tentu sangat standar bahkan saya berani jamin kurang lebih sama dengan dosen pembimbingnya atau kuliah metodologi di kelas. "Bab literatur ditentukan pada bab awal sebagai peta utama penelitian, penyusunan berdasarkan kebutuhan, bukan copy-paste buku teori, telusuri jurnal penelitian dan buku-buku, pelajari pola penulisan di kampus melalui tulisan ilmiah senior di perpustaan karena setiap kampus punya ciri khas sendiri" dan lain sebagainya yang bisa Anda tambahkan sendiri. Kawan baru di seberang sana menjawab dengan derai tawa, "Hehe.....iya sih...teknisnya saya sudah tahu, tapi kok susaaah ya.."
Kalimat terakhirlah yang sesungguhnya merupakan isu utama. Jemari saya pun menari di keyboard menyusun kalimat di layar monitor untuknya, "Kalau begitu, baca, baca dan baca sampai 'muntah' denger musik, baca komik, minum susu dan tidur"
Alur pertanyaan di atas telah masuk dalam prediksi, bukan karena saya cenayang. Saya, begitu juga ia yang bertanya sesungguhnya sudah mengetahui jawabannya secara objektif. Bukan 'menelusuri literatur', 'berdiskusi materi dengan dosen/ kawan' atau jawaban objektif lainnya. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah 'Bagaimana melepaskan/ mengendurkan ketegangan untuk dapat bertindak?'
Pertanyaan 'baru' itu pun sesungguhnya tidak terlampau mengejutkan. Lalu mengapa seringkali kita menjadi terpaku seakan membatu, tidak tahu apa yang semestinya dilakukan? Kejadian ini tidak hanya terjadi pada Anda yang sedang dikejar deadline pekerjaan, atau akademik, percayalah, episode ini akan selalu terjadi pada kita as long as we live.
Client-Centered Therapy
Tokoh psikologi humanis, Carl R. Rogers (Feist & Feist, 2002) meyakini adanya kekuatan dalam diri setiap orang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Asumsi dasar dari terapi Rogerian adalah formative tendency dan actualizing tendency.
Rogers memandang semua organisme (tidak hanya manusia) memiliki kecenderungan untuk bergerak dari yang sederhana menuju kompleksitas (kecenderungan formatif). Organisme kompleks yang tersusun dari sel soliter, kesadaran manusia yang berkembang dari ketidaksadaran primitif menjadi kesadaran terorganisasi tingkat tinggi.
Sementara itu, manusia juga memiliki kecenderungan dalam dirinya untuk bergerak guna memenuhi potensinya (kecenderungan aktualisasi). Dalam diri tiap individu terdapat kekuatan kreatif untuk menyelesaikan masalah, membenahi konsep diri, dan meningkatkan kemampuan dalam mengarahkan diri sendiri. Kecenderungan ini yang kemudian menjadi landasan terpenting dalam terapi Rogerian.
Terkait dengan konsep dasar di atas, Rogers juga membahas Diri dan Aktualisasi Diri. Dalam pandangannya, aktualisasi diri merupakan kecenderungan untuk beraktualisasi seperti yang ia bayangkan tentang dirinya. Ketika seorang individu memiliki hubungan harmoni antara diri dan bayangan dirinya, maka kedua aktualisasi itu menjadi sama/ identik. Namun jika ia melihat dirinya tidak seperti yang ia bayangkan, berarti terdapat perbedaan antara diri dan bayangan dirinya.
Bayangan diri ini disebut dengan ideal self, sebuah subsistem tentang pandangan tentang diri yang diinginkan. Sementara, self-concept merupakan segala hal yang dialami secara sadar (meski tidak selalu akurat) oleh individu.
Pada saat saya memiliki diri ideal sebagai orang yang memiliki popularitas di kalangan rekan kantor, sementara (pada kenyataannya) konsep diri saya ternyata tertutup, tidak berani tampil di muka umum. Dalam pandangan Rogerian, saya tidaklah harmoni dengan diri saya sendiri. Perbedaan ini, dalam variasinya bisa menjadi sumber ketidakpuasan, kecemasan, rendahnya self-esteem, dan lainnya.
Untuk Apa Terapis?
Lalu apa gunanya terapis? Jangan lupa, bahwa yang dikemukakan di atas adalah kecenderungan, potensi. Artinya hal itu ada di dalam tiap diri seperti yang dikemukakan Rogers, tetapi belum tentu teraktualisasikan.
Pembahasan terapis, di kalangan Rogerian sering dianalogikan dengan cermin. Terapis berperan sebagai cermin untuk membantu memantulkan bayangan individu. Cara ini yang akan 'memancing' potensi individu untuk mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, setelah melihat masalah dengan lebih terang. Maka dalam Rogerian, salah satu mantra utamanya adalah klien menjadi terapis untuk dirinya sendiri.
Kita tidak akan membahas dengan sangat detil bagaimana metode yang digunakan. Namun kurang lebih ada beberapa prinsip yang sebetulnya sering kita kenakan ketika berinteraksi dengan sahabat. Dalam istilah Roger adalah; congruence dan unconditional positive regard.
Kondisi kongruen hanya akan terjadi jika pihak yang terlibat (klien-terapis) di dalamnya saling menyadari keberadaan masing-masing dan disertai kemampuan dan kemauan (kesungguhan) untuk mengekspresikan perasaan secara terbuka. Kondisi kongruen berarti 'sesungguhnya', tidak ada kepura-puraan (faking) di sini. Baik terapis maupun klien tidak menyimpan ekspresi (termasuk respon) dengan beragam emosi. Rogers menyatakan;
"A congruence conselor, then, is not simply a kind and friendly person but rather a complete human being with feelings of joy, anger, frustration, confusion, and so on."
Selanjutnya, penghargaan positif bermakna disukai, dihargai atau diterima oleh orang lain. Ketika kondisi ini bisa terjadi tanpa syarat, itulah yang disebut dengan penghargaan positif tak bersyarat. Sikap terapis hendaknya tanpa mendominasi, tanpa evaluasi, tanpa syarat, untuk ini Rogers menyatakan;
"Therapists have unconditional positive regard when they are ‘experiencing a warm, positive and accepting attitude toward what is the client"
Satu poin lagi yang tidak kalah penting disebutkan oleh Rogers yakni; emphatic listening. Bagi Rogers, empati bermakna; "temporarily living in the other's life, moving about in it delicately without making judgment"
Seperti sering dituliskan dalam beberapa kesempatan, bahwa empati bukanlah simpati. Rogers menegaskan perbedaan ini dengan menyatakan bahwa empati merupakan perasaan terapis dengan klien, sementara simpati merupakan perasaan terapis untuk klien. Simpati sama sekali bukan terapi, karena merupakan evaluasi eksternal dan biasanya mengarah ke perasaan mengasihani diri sendiri pada klien. Lebih jelas, Rogers menyatakan sebagai berikut;
"A therapist has an emotional as well as a cognition reaction to a client's feelings, but the feelings belong to client, not the therapist. A therapist does not take ownership of a client’s experiences but is able to convey to the client an understanding of what it means to be the client at that particularly moment."
Sahabat sebagai Cermin
Jika Jacques Lacan, tokoh psikoanalisis Perancis (new-Freudian-Struktualis) terkenal dengan cermin-nya sebagai media kastrasi antara individu dan diri (yang lain). Suatu proses di mana seorang anak manusia pertama kalinya melihat 'orang lain' yang sama dengan dirinya di sebuah cermin. Peristiwa penting dalam kehidupan yang menyadarkan individu akan keberadaannya, eksistensinya. Bukan lagi 'menyatu' dengan individu lain yakni ibu.
Dalam pembahasan ini, rumor bahwa sahabat atau pasangan adakalanya sebagai 'tempat sampah' akan lebih tepat sebagai cermin. Yang diperlukan ketika seseorang mencurahkan isi hatinya (curhat) adalah; self-acceptance dan self-support, sehingga potensi yang dinyatakan oleh Rogers akan keluar. Kondisi kongruen, penghargaan positif tak bersyarat, dan mendengarkan dengan empati lah yang berperan aktif di dalamnya.
Kembali pada dialog antara saya dan kawan saat itu, mungkin setelah offline, ia akan mengikuti saran saya; membaca, minum susu dan tidur. Mungkin dengan cara lain seperti berjalan-jalan, menonton film, atau justru membuka lembaran tugasnya kemudian menyusun bab 2 dengan lancar. Saya sendiri tidak jarang mengalami pola demikian dengan warna berbeda. Mendiskusikan masalah di pagi hari dengan sahabat, kemudian ia memberikan beberapa pandangan yang pada saat itu terlihat aneh meski tidak asing. Tetapi malam harinya saya mengiriminya pesan singkat, "Thanks, I got the insight!!" , ia pun membalas "You know the best for your self"
Semoga Bermanfaat!
Minggu, 19 Juni 2011
Indahnya Kesepian
Oleh : Jacinta F. Rini
Jakarta, 12 Mei 2011
Setiap orang dalam hidupnya pasti pernah merasa kesepian. Yang membuat perbedaan adalah kadarnya, lamanya, penyebabnya dan tentu saja penanganannya. Kebanyakan orang menghindari kesepian karena kesepian berkonotasi negatif, atau paling tidak menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.
Kini, banyak orang mempunyai account facebook dan twitter, untuk tetap terhubung satu sama lain, untuk bisa tahu apa yang tengah dilakukan temannya atau komunitasnya. BbM, YM, intant messenger menjadi sarana penghubung yang tak kenal cuaca, waktu (waktu kerja, waktu keluarga maupun waktu berdoa, bahkan - waktu tidur sekali pun). Memang tidak semua orang ber - account twitter dan facebook maupun melakukan online chat adalah orang-orang kesepian. Premisnya tidaklah demikian. Namun faktanya, hampir semua orang sepertinya ingin menyapa dan disapa, berkomentar dan dikomentari; ingin menjadi bagian dari komunitas. Mall, cafe dan resto makin ramai dikunjungi bukan sekedar untuk mengenyangkan perut, namun sebagai kesempatan untuk networking, reuni dan menyambung rasa. Keinginan untuk keep in touch menjadi kebutuhan yang tidak ada hentinya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, namun persoalannya, ternyata banyak orang yang tetap merasa kesepian di tengah kongkow-kongkow, di tengah keramaian maupun di tengah tingginya frekuensi lalu lintas komunikasi via chatting online. Kesepian tidak dialami orang yang tinggal di puncak gunung atau desa terpencil, karena mereka yang hidup di kota besar yang padat penduduk dan hingar bingar hiburan pun ternyata lebih banyak yang merasa kesepian.
Perasaan Kesepian
Menurut definisi wikipedia, "Loneliness is an unpleasant feeling in which a person experiences a strong sense of emptiness and solitude resulting from inadequate levels of social relationships. However, it is a subjective experience.[1] Loneliness has also been described as social pain - a psychological mechanism meant to alert an individual of undesired isolation and motivate her/him to seek social connections.[2]
Perasaan kesepian memang sering di korelasikan dengan tiadanya teman dan kurangnya kasih sayang. Menurut James Park, seorang filsuf beraliran eksistensialis mengatakan bahwa perasaan kesepian tidak selalu disebabkan oleh kurangnya cinta dan teman, namun karena sering disalahartikan dan tidak dipahami, maka segala jenis kesepian lantas diatasi dengan cara bersosialisasi, pacaran, menikah, dsb yang semua berkaitan dengan interpersonal relationship. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ada uraian singkat mengenai penyebab kesepian yang ternyata bukan melulu urusan cinta.
Penyebab Kesepian
Anak-anak, remaja, orang muda hingga manula, pernah mengalami rasa kesepian. Anak-anak merasa kesepian ketika ditinggal pergi orangtua mereka. Istri/suami yang kesepian karena kehilangan pasangan, akibat kematian atau perpisahan. Seorang gadis atau pemuda kesepian setelah putus dari pacar. Ibu yang kesepian karena anak-anaknya tinggal di luar kota. Atau seseorang yang karena sakit harus tinggal di rumah atau di rumah sakit, terisolasi dari teman-teman dan keluarga. Pindah rumah atau pindah sekolah bisa juga menyebabkan kesepian karena tercabut dari komunitasnya dan harus menghadapi komunitas baru.
Kesepian yang disebabkan perubahan sosial atau pun perubahan kondisi eksternal dikatakan bersifat temporer dan relatif lebih mudah diatasi. Sementara itu ada jenis kesepian lain yang disebutkan di atas, yakni merasa kesepian di tengah keramaian, berada di pesta, sedang berkumpul dengan teman, berada di tengah keluarga. Jadi dalam situasi dan lingkupan apapun, perasaan kesepian itu tetap ada. Inilah yang dikatakan existential loneliness. Seseorang yang mengalami eksistensial loneliness, tidak peduli sebanyak dan setinggi apapun frekuensi outing, dating dan chatting-nya, akan tetap merasa kesepian. Menurut artikel dari Associate Press, "quantity of contact does not translate into quality of contact".[3]
Existential Loneliness/kesepian eksistensial
Kesepian eksistensial kerap menjadi sesuatu yang bersifat kronis karena sudah terjadi dalam jangka waktu lama tanpa disadari atau memang sengaja diabaikan. Artinya, perasaan kesepian itu disadari namun tidak ditindaklanjuti karena berpikir perasaan itu disebabkan karena faktor lingkungan.
Kesepian yang bersifat kronis ini menimbulkan perasaan hampa yang menyedihkan, sehingga banyak yang tidak tahan dan mengalami depresi. Kehampaan yang bersumber dari dalam jiwa ini terjadi karena sebab yang bermacam-macam, bisa karena hidup tanpa arah dan tujuan, sehingga dari hari ke hari seperti robot, hanya mengikuti irama rutinitas. Ada yang belum menemukan makna, karena hidupnya sangat terbatas, bukan miskin - tapi terlalu steril, flat, datar karena terlalu takut mengambil resiko sehingga tidak berani mengarungi kesempatan dan kemungkinan. Ada pula yang merasa kosong, karena tidak menemukan hal baik dan positif dari dirinya, sehingga tidak tahu apa gunanya dia dilahirkan, apa gunanya kehidupan ini dan apa gunanya ia bagi orang lain.
Ada yang berusaha menghilangkan rasa sepi, hampa dan kosong dengan bergaul sebanyak dan sesering mungkin. Ada pula yang mencari cinta, karena dipikirnya, cinta seseorang akan melengkapi kekosongan jiwa. Seperti kata Tom Cruise dalam film Jerry McGuire, yang berkata "you complete me". Secara filosofis dan psikologis, kehampaan jiwa tidak mungkin diatasi dengan menanam cinta/import cinta dari luar, dan hal ini menurut para filsuf adalah tindakan ilusi yang "tidak nyambung". Maka, ganti pasangan, mencari cinta baru yang dianggap dan diharapkan bisa mengatasi kekosongan - adalah tindakan mustahil. Karena solusinya tidak bisa dengan menambal kehampaan dari luar. Pertumbuhan itu harus dari dalam.
Dampak dari kesepian
Perasaan kesepian jika berkepanjangan bisa menimbulkan berbagai persoalan lanjutan. Problem adaptasi sosial, sulit berteman, suka menyendiri bahkan hambatan akademik yang membuat prestasinya jauh dari optimal, merupakan dampak dari perasaan kesepian panjang yang dialami oleh anak-anak. Bahkan, menurut Marano, anak-anak kesepian karena social rejection, diabaikan dan disingkirkan dari lingkungan sosial (ataupun keluarga), merupakan salah satu penyebab putus sekolah; karena dalam kesehariannya, mereka cenderung menunjukkan perilaku agresif, dan apa yang diistilahkan sebagai kenakalan, serta bentuk perilaku antisosial lainnya. Di kalangan dewasa, kesepian dikatakan sebagai penyebab depresi serta adiksi, baik itu adiksi terhadap relationship (co-dependent), sex, belanja (shopaholic), kerja (workaholic), alkohol /minuman keras, maupun obat-obatan terlarang (substant abuse).
Secara medis juga memperlihatkan dampak kesepian terhadap kesehatan. John Cacioppo dari University of Chicago meneliti dampak kesepian ini dan secara mengejutkan menemukan bahwa:
Orang yang kesepian dilaporkan mempunyai tingkat stress yang lebih tinggi, bahkan di saat rileks dibandingkan dengan orang-orang yang tidak kesepian.
Kesepian meningkatkan sirkulasi hormon stress dan meningkatkan tekanan darah. Pengaruhnya kepada sistem sirkulasi jantung yang bekerja lebih keras dan menghadapi potensi kerusakan akibat tekanan yang tidak stabil.
Kesepian mengganggu kualitas dan efektivitas tidur sehingga menghambat proses restorasi fisik maupun psikologis yang diperlukan tubuh. Orang-orang yang mengalami kesepian lebih sering terbangun malam hari dan tidur lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak kesepian.
Indahnya kesepian
Kesepian tidak selalu berdampak buruk. Kesepian eksistensial, yakni kesepian yang tidak disebabkan persoalan interpersonal merupakan alarm dari situasi yang harus segera di hadapi atau diselesaikan.
A person enters the state of loneliness when some compelling, essential aspect of life is suddenly challenged, realized, threatened, altered, or denied; the individual is confronted with the awareness of choice and the possibility of meaning or its lack. When positively embraced and confronted, loneliness has a salutary role: the integration and deepening of self. Through loneliness, the individual "discovers life, who he is, what he really wants, the meaning of his existence, [and] the true nature of his relation with others. (Moustakas, 1961)
Dengan demikian, perasaan kesepian yang dialami perlu di pertanyakan. Tidak semua bisa di obati dengan cara bersosialisasi atau pun mencari cinta yang baru. Perasaan kesepian bisa jadi pertanda bahwa ada kebutuhan mendesak yang harus kita tanggapi dalam diri sendiri, entah itu untuk menyelesaikan persoalan yang tertunda, menanggapi tantangan hidup, harus mengembangkan potensi diri, membuat keputusan akan masa depan dan menjalaninya dengan berani, atau untuk menginggalkan pola hidup selama ini yang tidak produktif, dsb. Intinya, perasaan kesepian adalah awal dari pertumbuhan. Maka, adalah keliru jika orang berusaha menghindari kesepian karena dalam sepi lah kita bisa bertemu dengan diri sendiri dan berdialog secara jujur untuk menemukan apa yang terbaik dan harus kita lakukan saat ini dan di masa mendatang. Persoalan berikutnya adalah, bagaimana menjalankan apa yang sudah seharusnya dan sudah saatnya untuk kita laksanakan. Semakin ditunda, semakin jauh kita dari perjalanan menemukan diri dan menumbuhkan kepribadian yang sesuai dengan tujuan & panggilan hidup kita.
Bibiliography
1. Peplau, L.A. & Perlman, D. (1982). Perspectives on loneliness. In L. A. Peplau & D. Perlman (Eds.), Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy. (pp. 1-18). New York: John Wiley and Sons.
2. Cacioppo, John; Patrick, William, Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection, New York : W.W. Norton & Co., 2008. ISBN 978-0-393-06170-3. Science of Loneliness.com
3. Lonely Nation: Americans Try to Connect in a Country Where Isolation Is Common. Associated Press. 2006-08-06. Retrieved 2009-05-03
Jakarta, 12 Mei 2011
Setiap orang dalam hidupnya pasti pernah merasa kesepian. Yang membuat perbedaan adalah kadarnya, lamanya, penyebabnya dan tentu saja penanganannya. Kebanyakan orang menghindari kesepian karena kesepian berkonotasi negatif, atau paling tidak menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.
Kini, banyak orang mempunyai account facebook dan twitter, untuk tetap terhubung satu sama lain, untuk bisa tahu apa yang tengah dilakukan temannya atau komunitasnya. BbM, YM, intant messenger menjadi sarana penghubung yang tak kenal cuaca, waktu (waktu kerja, waktu keluarga maupun waktu berdoa, bahkan - waktu tidur sekali pun). Memang tidak semua orang ber - account twitter dan facebook maupun melakukan online chat adalah orang-orang kesepian. Premisnya tidaklah demikian. Namun faktanya, hampir semua orang sepertinya ingin menyapa dan disapa, berkomentar dan dikomentari; ingin menjadi bagian dari komunitas. Mall, cafe dan resto makin ramai dikunjungi bukan sekedar untuk mengenyangkan perut, namun sebagai kesempatan untuk networking, reuni dan menyambung rasa. Keinginan untuk keep in touch menjadi kebutuhan yang tidak ada hentinya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, namun persoalannya, ternyata banyak orang yang tetap merasa kesepian di tengah kongkow-kongkow, di tengah keramaian maupun di tengah tingginya frekuensi lalu lintas komunikasi via chatting online. Kesepian tidak dialami orang yang tinggal di puncak gunung atau desa terpencil, karena mereka yang hidup di kota besar yang padat penduduk dan hingar bingar hiburan pun ternyata lebih banyak yang merasa kesepian.
Perasaan Kesepian
Menurut definisi wikipedia, "Loneliness is an unpleasant feeling in which a person experiences a strong sense of emptiness and solitude resulting from inadequate levels of social relationships. However, it is a subjective experience.[1] Loneliness has also been described as social pain - a psychological mechanism meant to alert an individual of undesired isolation and motivate her/him to seek social connections.[2]
Perasaan kesepian memang sering di korelasikan dengan tiadanya teman dan kurangnya kasih sayang. Menurut James Park, seorang filsuf beraliran eksistensialis mengatakan bahwa perasaan kesepian tidak selalu disebabkan oleh kurangnya cinta dan teman, namun karena sering disalahartikan dan tidak dipahami, maka segala jenis kesepian lantas diatasi dengan cara bersosialisasi, pacaran, menikah, dsb yang semua berkaitan dengan interpersonal relationship. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ada uraian singkat mengenai penyebab kesepian yang ternyata bukan melulu urusan cinta.
Penyebab Kesepian
Anak-anak, remaja, orang muda hingga manula, pernah mengalami rasa kesepian. Anak-anak merasa kesepian ketika ditinggal pergi orangtua mereka. Istri/suami yang kesepian karena kehilangan pasangan, akibat kematian atau perpisahan. Seorang gadis atau pemuda kesepian setelah putus dari pacar. Ibu yang kesepian karena anak-anaknya tinggal di luar kota. Atau seseorang yang karena sakit harus tinggal di rumah atau di rumah sakit, terisolasi dari teman-teman dan keluarga. Pindah rumah atau pindah sekolah bisa juga menyebabkan kesepian karena tercabut dari komunitasnya dan harus menghadapi komunitas baru.
Kesepian yang disebabkan perubahan sosial atau pun perubahan kondisi eksternal dikatakan bersifat temporer dan relatif lebih mudah diatasi. Sementara itu ada jenis kesepian lain yang disebutkan di atas, yakni merasa kesepian di tengah keramaian, berada di pesta, sedang berkumpul dengan teman, berada di tengah keluarga. Jadi dalam situasi dan lingkupan apapun, perasaan kesepian itu tetap ada. Inilah yang dikatakan existential loneliness. Seseorang yang mengalami eksistensial loneliness, tidak peduli sebanyak dan setinggi apapun frekuensi outing, dating dan chatting-nya, akan tetap merasa kesepian. Menurut artikel dari Associate Press, "quantity of contact does not translate into quality of contact".[3]
Existential Loneliness/kesepian eksistensial
Kesepian eksistensial kerap menjadi sesuatu yang bersifat kronis karena sudah terjadi dalam jangka waktu lama tanpa disadari atau memang sengaja diabaikan. Artinya, perasaan kesepian itu disadari namun tidak ditindaklanjuti karena berpikir perasaan itu disebabkan karena faktor lingkungan.
Kesepian yang bersifat kronis ini menimbulkan perasaan hampa yang menyedihkan, sehingga banyak yang tidak tahan dan mengalami depresi. Kehampaan yang bersumber dari dalam jiwa ini terjadi karena sebab yang bermacam-macam, bisa karena hidup tanpa arah dan tujuan, sehingga dari hari ke hari seperti robot, hanya mengikuti irama rutinitas. Ada yang belum menemukan makna, karena hidupnya sangat terbatas, bukan miskin - tapi terlalu steril, flat, datar karena terlalu takut mengambil resiko sehingga tidak berani mengarungi kesempatan dan kemungkinan. Ada pula yang merasa kosong, karena tidak menemukan hal baik dan positif dari dirinya, sehingga tidak tahu apa gunanya dia dilahirkan, apa gunanya kehidupan ini dan apa gunanya ia bagi orang lain.
Ada yang berusaha menghilangkan rasa sepi, hampa dan kosong dengan bergaul sebanyak dan sesering mungkin. Ada pula yang mencari cinta, karena dipikirnya, cinta seseorang akan melengkapi kekosongan jiwa. Seperti kata Tom Cruise dalam film Jerry McGuire, yang berkata "you complete me". Secara filosofis dan psikologis, kehampaan jiwa tidak mungkin diatasi dengan menanam cinta/import cinta dari luar, dan hal ini menurut para filsuf adalah tindakan ilusi yang "tidak nyambung". Maka, ganti pasangan, mencari cinta baru yang dianggap dan diharapkan bisa mengatasi kekosongan - adalah tindakan mustahil. Karena solusinya tidak bisa dengan menambal kehampaan dari luar. Pertumbuhan itu harus dari dalam.
Dampak dari kesepian
Perasaan kesepian jika berkepanjangan bisa menimbulkan berbagai persoalan lanjutan. Problem adaptasi sosial, sulit berteman, suka menyendiri bahkan hambatan akademik yang membuat prestasinya jauh dari optimal, merupakan dampak dari perasaan kesepian panjang yang dialami oleh anak-anak. Bahkan, menurut Marano, anak-anak kesepian karena social rejection, diabaikan dan disingkirkan dari lingkungan sosial (ataupun keluarga), merupakan salah satu penyebab putus sekolah; karena dalam kesehariannya, mereka cenderung menunjukkan perilaku agresif, dan apa yang diistilahkan sebagai kenakalan, serta bentuk perilaku antisosial lainnya. Di kalangan dewasa, kesepian dikatakan sebagai penyebab depresi serta adiksi, baik itu adiksi terhadap relationship (co-dependent), sex, belanja (shopaholic), kerja (workaholic), alkohol /minuman keras, maupun obat-obatan terlarang (substant abuse).
Secara medis juga memperlihatkan dampak kesepian terhadap kesehatan. John Cacioppo dari University of Chicago meneliti dampak kesepian ini dan secara mengejutkan menemukan bahwa:
Orang yang kesepian dilaporkan mempunyai tingkat stress yang lebih tinggi, bahkan di saat rileks dibandingkan dengan orang-orang yang tidak kesepian.
Kesepian meningkatkan sirkulasi hormon stress dan meningkatkan tekanan darah. Pengaruhnya kepada sistem sirkulasi jantung yang bekerja lebih keras dan menghadapi potensi kerusakan akibat tekanan yang tidak stabil.
Kesepian mengganggu kualitas dan efektivitas tidur sehingga menghambat proses restorasi fisik maupun psikologis yang diperlukan tubuh. Orang-orang yang mengalami kesepian lebih sering terbangun malam hari dan tidur lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak kesepian.
Indahnya kesepian
Kesepian tidak selalu berdampak buruk. Kesepian eksistensial, yakni kesepian yang tidak disebabkan persoalan interpersonal merupakan alarm dari situasi yang harus segera di hadapi atau diselesaikan.
A person enters the state of loneliness when some compelling, essential aspect of life is suddenly challenged, realized, threatened, altered, or denied; the individual is confronted with the awareness of choice and the possibility of meaning or its lack. When positively embraced and confronted, loneliness has a salutary role: the integration and deepening of self. Through loneliness, the individual "discovers life, who he is, what he really wants, the meaning of his existence, [and] the true nature of his relation with others. (Moustakas, 1961)
Dengan demikian, perasaan kesepian yang dialami perlu di pertanyakan. Tidak semua bisa di obati dengan cara bersosialisasi atau pun mencari cinta yang baru. Perasaan kesepian bisa jadi pertanda bahwa ada kebutuhan mendesak yang harus kita tanggapi dalam diri sendiri, entah itu untuk menyelesaikan persoalan yang tertunda, menanggapi tantangan hidup, harus mengembangkan potensi diri, membuat keputusan akan masa depan dan menjalaninya dengan berani, atau untuk menginggalkan pola hidup selama ini yang tidak produktif, dsb. Intinya, perasaan kesepian adalah awal dari pertumbuhan. Maka, adalah keliru jika orang berusaha menghindari kesepian karena dalam sepi lah kita bisa bertemu dengan diri sendiri dan berdialog secara jujur untuk menemukan apa yang terbaik dan harus kita lakukan saat ini dan di masa mendatang. Persoalan berikutnya adalah, bagaimana menjalankan apa yang sudah seharusnya dan sudah saatnya untuk kita laksanakan. Semakin ditunda, semakin jauh kita dari perjalanan menemukan diri dan menumbuhkan kepribadian yang sesuai dengan tujuan & panggilan hidup kita.
Bibiliography
1. Peplau, L.A. & Perlman, D. (1982). Perspectives on loneliness. In L. A. Peplau & D. Perlman (Eds.), Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy. (pp. 1-18). New York: John Wiley and Sons.
2. Cacioppo, John; Patrick, William, Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection, New York : W.W. Norton & Co., 2008. ISBN 978-0-393-06170-3. Science of Loneliness.com
3. Lonely Nation: Americans Try to Connect in a Country Where Isolation Is Common. Associated Press. 2006-08-06. Retrieved 2009-05-03
Mendengar atau Terdengar?
Oleh : Jacinta F. Rini
Jakarta, 05 November 2004
Anak: Mama...mama...adek nggak mau sekolah lagi...pokoknya nggak mau...sekolah itu nggak enak soalnya ada si dono yang badannya besar dan suka gangguin adek...adek takut, Ma...adek nggak mau ketemu dono....(sambil menangis)
Mama: (mamanya sambil matanya lekat ke sinetron yang sedang seru-serunya) Mmmm...Oooo...Aahh nggak apa-apa, kan...biasa itu...masa' begitu saja takut...pokoknya besok sekolah seperti biasa...ya! anggap saja tidak ada apa-apa....ya sudah, sana..! lagi seru niiih..wah, jadi kelewat deh ceritanya...! kamu sih...!
Problem Komunikasi Dalam Keluarga
Situasi di atas sepertinya tidak asing lagi di jaman ini, di mana setiap orang, termasuk orang tua, seolah membangun dunia sendiri yang terpisah dari orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri. Komunikasi keluarga menjadi "barang mahal dan barang langka" karena masing-masing sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaannya masing-masing. Akhirnya, komunikasi yang tercipta di dalam keluarga, adalah komunikasi yang sifatnya informatif dan superfisial (hanya sebatas permukaan). Misalnya, pemberitahuan agenda kerja ayah hari ini, rapat di kantor, janji bertemu orang, harus presentasi, atau mungkin membicarakan mengenai teman ayah punya pekerjaan baru, si Pak Tiar pergi ke luar negeri, tingkat bunga bank, kurs dollar, situasi politik, kerusuhan yang terjadi di luar daerah, dan lain sebagainya. Sementara ibu membicarakan tentang teman kerja di kantor, rencana bisnis ibu, rencana masak memasak, pertemuan arisan, acara televisi baru, atau membicarakan tentang anak teman ibu yang punya masalah. Anak-anak, punya dunianya sendiri yang sarat dengan keanekaragaman pengalaman dan cerita-cerita seru yang beredar di kalangan teman-teman mereka.
Dalam kepadatan arus informasi yang serba superfisial dan sempitnya "waktu bersama", membuat hubungan antara orang tua - anak semakin berjarak dan semu. Artinya, hal-hal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum selayaknya ngobrol dengan orang-orang lainnya. Akibatnya, masing-masing pihak makin sulit mencapai tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain. Dalam pola hubungan komunikasi seperti ini, tidak heran jika ada orang tua yang kaget melihat anaknya tiba-tiba menunjukkan sikap aneh, seperti tidak mau makan, sulit tidur (insomnia), murung atau prestasinya meluncur drastis. Orang tua merasa selama ini anaknya seperti "tidak ada apa-apa" dan biasa saja. Lebih parah lagi, mereka menyalahkan anak, menyalahkan pihak lain, entah pihak sekolah, guru, atau malah saling menyalahkan antara ayah dengan ibu. Seringkali orang tua lupa, bahwa setiap masalah adalah hasil dari sebuah interaksi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Setiap orang, punya kontribusi dalam mendorong munculnya masalah, termasuk masalah pada anak-anak mereka.
Seni Mendengarkan
Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks : bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Seni mendengarkan, membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang pendengar mampu memahami apa yang terjadi / yang dirasakan oleh lawan bicara meski dengan kata-kata yang sangat minimal.
Bagaimana Cara Mendengarkan Yang Baik?
Di awal artikel ini pembaca dapat menarik gambaran bagaimana suasana hati sang anak dan apa yang diharapkannya ketika ia mencoba "berkomunikasi" dengan sang ibu; dan bagaimana keadaan "hati" anak setelah itu? Kejadian tersebut tampaknya sangat umum terjadi di mana-mana, di hampir setiap keluarga. Memang, tidak ada orang tua sempurna, karena setiap orang tua memiliki masalahnya masing-masing hingga seringkali memblokir hubungan positif yang seharusnya terjalin antara mereka dengan anak-anak. Tapi, bukan berarti hal itu dapat selalu dimaklumi, bukan? Bagaimana pun, setiap kita para orang tua, perlu diingatkan kembali, bagaimana cara "mendengarkan" anak kita.
1. Fokuskan perhatian pada anak
Pada saat anak mencoba mengatakan sesuatu, berilah perhatian sepenuhnya pada ceritanya. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengalihkan perhatian sejenak dari film atau sinetron yang sedang ditonton, majalah, koran, atau dari pekerjaan yang sedang dihadapi. Tataplah langsung di matanya sambil memberi kesan bahwa kita benar-benar siap memperhatikan ceritanya, dan mendorongnya untuk bercerita.
2. Re-statement, mengulangi cerita anak untuk menyamakan pengertian
Tahanlah diri untuk tidak menginterupsi ceritanya sampai anak selesai bercerita. Ketika anak selesai bercerita, cobalah memberikan kesimpulan berdasarkan hasil tangkapan kita terhadap ceritanya. Pola ini, memberikan feedback bagi orang tua dan anak, apakah kita benar-benar telah memahami apa yang diceritakan atau apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh anak.
3. Menggali perasaan dan pendapat anak akan masalah yang sedang dihadapi
Kita boleh bertanya pada mereka: "bagaimana perasaan adek, waktu itu?", cara ini jauh lebih baik ketimbang menjatuhkan penilaian subyektif atas diri mereka: "ah, kamu pasti takut! Kamu kan penakut!" atau "ah, paling kamu menangis...kan kamu cengeng..." atau "kamu nggak menangis, kan? Anak mama papa pemberani, tentu tidak pernah menangis!" Penilaian tersebut malah membuat anak frustrasi karena mereka mengharap orang tua bisa mengerti perasaan mereka, bukan menilai sikap dan perasaan mereka. Selain itu, penilaian subyektif orang tua yang datang terlalu cepat, bisa membuat anak menarik diri untuk tidak lebih lanjut menceritakan perasaan yang sebenarnya, karena orang tua sudah punya anggapan tertentu. Misal, anak itu sebenarnya takut ketika berhadapan dengan teman sekolah yang lebih besar badannya dan suka mengganggunya - namun urung bercerita karena orang tua sudah memberi label pada sang anak sebagai "anak mama-papa pasti pemberani". Menceritakan perasaan dan kejadian yang sesungguhnya, hanya akan membuat dirinya dimarahi atau malu karena dianggap lemah.
4. Bantu anak mendefinisikan perasaan
Mendengarkan sepenuhnya cerita pengalaman anak, baik itu menyedihkan dan menyenangkan, membuat kita berdua (dengan anak) dapat berbagi rasa dan anak pun akan merasa orang tua menghargainya. Anak akan biasa bersikap terbuka karena yakin orang tua pasti bersedia mendengarkan mereka. Jika anak masih sulit mengidentifikasi perasaan mereka, bantulah dengan mendengarkan cerita mereka sungguh-sungguh, dan melontarkan kesan seperti "Wah..adek sepertinya sedih sekali..." atau "Kamu kelihatan sangat marah..." atau "adek sepertinya sedang bosan?" Anak akan sangat lega ketika orang tua bisa menangkap perasaan mereka. Interaksi demikian, melatih anak mengidentifikasikan perasaan mereka secara tepat.
5. Bertanya
Hindari sikap memaksakan pendapat, cara, penilaian orang tua; alangkah lebih baik jika orang tua membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka semakin memahami kejadian yang dialami, teman yang dihadapi, perasaan yang mereka rasakan serta sikap - tindakan yang harus mereka lakukan sebagai pemecahannya.
6. Mendorong semangat anak untuk bercerita
Hanya dengan memberi respon "Ooo....O ya?...Wow...!" sudah menjadi stimulasi bagi mereka untuk makin giat bercerita. Pola ini dapat membuat anak tenang dan nyaman karena merasa orang tua memahami apa yang mereka ungkapkan.
7. Mendorong anak mengambil keputusan yang tepat
Jika orang tua ingin membantu anak menghadapi masalahnya, sebaiknya kita tidak mengambil alih keputusan ("ya sudah, besok kamu tidak usah masuk sekolah") atau tindakan ("biar mama yang hadapi si boy teman mu yang nakal...biar mama si boy tahu apa yang anaknya lakukan!"). Sebaliknya, hadirkan beberapa alternatif yang membuat mereka berpikir dan memilih manakah solusi terbaik sambil membicarakan akibat-akibat yang bisa dirasakan baik oleh anak maupun oleh orang lain.
8. Menunggu redanya emosi anak dan mengajak berpikir positif
Jika anak masih diliputi emosi yang memuncak hingga membuatnya sulit berbicara, orang tua jangan memaksakan anak untuk segera bicara. Kita tidak akan berhasil membuatnya bercerita dan kita pun makin tidak sabar untuk tidak memberikan opini kita padanya. Konflik seringkali terjadi dan ini menyebabkan memburuknya hubungan orang tua anak. Berikan waktu untuk menyendiri sampai intensitas perasaannya mereda. Ketika emosinya mereda, anak akan lebih siap untuk diajak bicara. Sekali lagi, berusahalah untuk tidak memberikan opini kita pribadi, baik terhadap pilihan sikapnya, emosinya, dan tindakannya.Tanyakan pemikiran mereka terhadap masalah ini dan bagaimana kira-kira sikap yang sebaiknya mereka lakukan di kemudian hari. Sikap ini tidak saja menghindarkan anak dari perasaan dihakimi, namun juga membantu mereka lebih memahami kejadian / peristiwa itu secara obyektif serta menemukan nilai atau pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kejadian itu.
Apa manfaat dari mendengarkan?
Bagi seorang anak, komunikasi bukan hanya bertujuan untuk membuat orang dewasa atau orang lain mengetahui dan memenuhi kebutuhannya. Dari komunikasi itu lah, anak dapat menarik kesimpulan, bagaimana orang dewasa memandang dirinya; dan dari kesan ini lah seorang anak membangun rasa percaya diri dan sense of self. Anak akan merasa dihargai, merasa percaya diri dan mengembangkan penilaian positif terhadap dirinya, ketika orang tua menaruh perhatian tidak hanya pada ceritanya, tapi juga pada pendapat, keyakinan, kesimpulan, ide-ide, perasaan, bahkan ketika pendapat tersebut tidak sesuai dengan pendapat orang tua. Sikap orang tua yang "mendengarkan" anak, membuat anak berani membuat perbedaan dan menjadi berbeda, tanpa takut dihukum, dilecehkan atau ditertawakan. Hal itulah yang menjadi salah satu landasan keberanian dan keinginan anak, untuk menjadi diri sendiri apa adanya.
Dari tanggapan-tanggapan orang tua, anak akan belajar mengenal banyak informasi dan pengetahuan, mendengar sesuatu yang berbeda dari yang dipikirkannya selama ini, melihat alternatif yang lain, menilai pendapat dan tindakannya sendiri, menilai posisi dirinya di mata orang lain, dan menarik kesimpulan apa yang harus dilakukan olehnya. Proses saling mendengarkan dan didengarkan, mengasah daya kritis dan kreativitas berpikir anak karena ketika antara anak dengan orang tua terdapat jalur 2 arah yang terbuka, maka terbuka pula akses informasi, pengetahuan, perasaan, pemikiran dan pengalaman dari kedua belah pihak. Satu sama lain, saling belajar dan saling memperkaya, saling mengenal dan semakin memahami.
Proses komunikasi antara orang tua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. Lama kelamaan, semakin anak terlatih dalam mengenali emosi, tumbuh keyakinan dan sense of control terhadap perasaannya sendiri (lebih mudah mengendalikan sesuatu yang telah diketahui). Misal, jika anak sudah tahu bagaimana rasanya marah, sedih, kecewa, takut, kesepian, dsb, maka akan lebih mudah bagi orang tua memberikan alternatif-alternatif cara menghadapi dan menyelesaikannya.
Mendengarkan anak secara sungguh-sungguh, membuat anak percaya pada orangtua. Hubungan mutual trust, ini membuat anak merasa lebih nyaman berada bersama orang tua, lebih memilih curhat dengan orang tua dan siap menjadi "partner" ketika orang tua yang giliran butuh didengarkan.
Evaluasi Diri
Mendengarkan dan didengarkan, adalah kunci hubungan orang tua-anak yang sangat bermanfaat, baik untuk pengembangkan kematangan emosional, kepandaian intelektual, kemampuan membina kehidupan sosial yang baik serta penanaman nilai prinsip moral yang baik pada anak. Dengan mendengar dan didengar, jalur komunikasi 2 arah terbuka lebar antara orang tua รข€“ anak, memungkinkan keduanya saling mengerti dan membuat orang tua dapat memberikan dukungan yang diperlukan oleh anak. Namun sebaliknya, jika kata-kata yang diucapkan anak hanya sekedar "terdengar" di telinga kita, akan hilang begitu saja terbawa angin dan tidak memberikan makna serta kontribusi apapun dalam proses pertumbuhan anak. Nah, apakah kita sebagai orang tua, tega mengorbankan kualitas perkembangan dan tingkat kematangan emosional, intelektual, moral, dan kemampuan sosial anak kita demi kesenangan sesaat (film yang menarik, obrolan gossip yang asik, berita yang sedang dibaca, dan lain sebagainya).....Inilah saatnya kita sebagai orang tua merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita sudah lebih sering mendengarkan anak....ataukah, cerita mereka hanya terdengar sayup-sayup oleh kita?...
Jakarta, 05 November 2004
Anak: Mama...mama...adek nggak mau sekolah lagi...pokoknya nggak mau...sekolah itu nggak enak soalnya ada si dono yang badannya besar dan suka gangguin adek...adek takut, Ma...adek nggak mau ketemu dono....(sambil menangis)
Mama: (mamanya sambil matanya lekat ke sinetron yang sedang seru-serunya) Mmmm...Oooo...Aahh nggak apa-apa, kan...biasa itu...masa' begitu saja takut...pokoknya besok sekolah seperti biasa...ya! anggap saja tidak ada apa-apa....ya sudah, sana..! lagi seru niiih..wah, jadi kelewat deh ceritanya...! kamu sih...!
Problem Komunikasi Dalam Keluarga
Situasi di atas sepertinya tidak asing lagi di jaman ini, di mana setiap orang, termasuk orang tua, seolah membangun dunia sendiri yang terpisah dari orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri. Komunikasi keluarga menjadi "barang mahal dan barang langka" karena masing-masing sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaannya masing-masing. Akhirnya, komunikasi yang tercipta di dalam keluarga, adalah komunikasi yang sifatnya informatif dan superfisial (hanya sebatas permukaan). Misalnya, pemberitahuan agenda kerja ayah hari ini, rapat di kantor, janji bertemu orang, harus presentasi, atau mungkin membicarakan mengenai teman ayah punya pekerjaan baru, si Pak Tiar pergi ke luar negeri, tingkat bunga bank, kurs dollar, situasi politik, kerusuhan yang terjadi di luar daerah, dan lain sebagainya. Sementara ibu membicarakan tentang teman kerja di kantor, rencana bisnis ibu, rencana masak memasak, pertemuan arisan, acara televisi baru, atau membicarakan tentang anak teman ibu yang punya masalah. Anak-anak, punya dunianya sendiri yang sarat dengan keanekaragaman pengalaman dan cerita-cerita seru yang beredar di kalangan teman-teman mereka.
Dalam kepadatan arus informasi yang serba superfisial dan sempitnya "waktu bersama", membuat hubungan antara orang tua - anak semakin berjarak dan semu. Artinya, hal-hal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum selayaknya ngobrol dengan orang-orang lainnya. Akibatnya, masing-masing pihak makin sulit mencapai tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain. Dalam pola hubungan komunikasi seperti ini, tidak heran jika ada orang tua yang kaget melihat anaknya tiba-tiba menunjukkan sikap aneh, seperti tidak mau makan, sulit tidur (insomnia), murung atau prestasinya meluncur drastis. Orang tua merasa selama ini anaknya seperti "tidak ada apa-apa" dan biasa saja. Lebih parah lagi, mereka menyalahkan anak, menyalahkan pihak lain, entah pihak sekolah, guru, atau malah saling menyalahkan antara ayah dengan ibu. Seringkali orang tua lupa, bahwa setiap masalah adalah hasil dari sebuah interaksi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Setiap orang, punya kontribusi dalam mendorong munculnya masalah, termasuk masalah pada anak-anak mereka.
Seni Mendengarkan
Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks : bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Seni mendengarkan, membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang pendengar mampu memahami apa yang terjadi / yang dirasakan oleh lawan bicara meski dengan kata-kata yang sangat minimal.
Bagaimana Cara Mendengarkan Yang Baik?
Di awal artikel ini pembaca dapat menarik gambaran bagaimana suasana hati sang anak dan apa yang diharapkannya ketika ia mencoba "berkomunikasi" dengan sang ibu; dan bagaimana keadaan "hati" anak setelah itu? Kejadian tersebut tampaknya sangat umum terjadi di mana-mana, di hampir setiap keluarga. Memang, tidak ada orang tua sempurna, karena setiap orang tua memiliki masalahnya masing-masing hingga seringkali memblokir hubungan positif yang seharusnya terjalin antara mereka dengan anak-anak. Tapi, bukan berarti hal itu dapat selalu dimaklumi, bukan? Bagaimana pun, setiap kita para orang tua, perlu diingatkan kembali, bagaimana cara "mendengarkan" anak kita.
1. Fokuskan perhatian pada anak
Pada saat anak mencoba mengatakan sesuatu, berilah perhatian sepenuhnya pada ceritanya. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengalihkan perhatian sejenak dari film atau sinetron yang sedang ditonton, majalah, koran, atau dari pekerjaan yang sedang dihadapi. Tataplah langsung di matanya sambil memberi kesan bahwa kita benar-benar siap memperhatikan ceritanya, dan mendorongnya untuk bercerita.
2. Re-statement, mengulangi cerita anak untuk menyamakan pengertian
Tahanlah diri untuk tidak menginterupsi ceritanya sampai anak selesai bercerita. Ketika anak selesai bercerita, cobalah memberikan kesimpulan berdasarkan hasil tangkapan kita terhadap ceritanya. Pola ini, memberikan feedback bagi orang tua dan anak, apakah kita benar-benar telah memahami apa yang diceritakan atau apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh anak.
3. Menggali perasaan dan pendapat anak akan masalah yang sedang dihadapi
Kita boleh bertanya pada mereka: "bagaimana perasaan adek, waktu itu?", cara ini jauh lebih baik ketimbang menjatuhkan penilaian subyektif atas diri mereka: "ah, kamu pasti takut! Kamu kan penakut!" atau "ah, paling kamu menangis...kan kamu cengeng..." atau "kamu nggak menangis, kan? Anak mama papa pemberani, tentu tidak pernah menangis!" Penilaian tersebut malah membuat anak frustrasi karena mereka mengharap orang tua bisa mengerti perasaan mereka, bukan menilai sikap dan perasaan mereka. Selain itu, penilaian subyektif orang tua yang datang terlalu cepat, bisa membuat anak menarik diri untuk tidak lebih lanjut menceritakan perasaan yang sebenarnya, karena orang tua sudah punya anggapan tertentu. Misal, anak itu sebenarnya takut ketika berhadapan dengan teman sekolah yang lebih besar badannya dan suka mengganggunya - namun urung bercerita karena orang tua sudah memberi label pada sang anak sebagai "anak mama-papa pasti pemberani". Menceritakan perasaan dan kejadian yang sesungguhnya, hanya akan membuat dirinya dimarahi atau malu karena dianggap lemah.
4. Bantu anak mendefinisikan perasaan
Mendengarkan sepenuhnya cerita pengalaman anak, baik itu menyedihkan dan menyenangkan, membuat kita berdua (dengan anak) dapat berbagi rasa dan anak pun akan merasa orang tua menghargainya. Anak akan biasa bersikap terbuka karena yakin orang tua pasti bersedia mendengarkan mereka. Jika anak masih sulit mengidentifikasi perasaan mereka, bantulah dengan mendengarkan cerita mereka sungguh-sungguh, dan melontarkan kesan seperti "Wah..adek sepertinya sedih sekali..." atau "Kamu kelihatan sangat marah..." atau "adek sepertinya sedang bosan?" Anak akan sangat lega ketika orang tua bisa menangkap perasaan mereka. Interaksi demikian, melatih anak mengidentifikasikan perasaan mereka secara tepat.
5. Bertanya
Hindari sikap memaksakan pendapat, cara, penilaian orang tua; alangkah lebih baik jika orang tua membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka semakin memahami kejadian yang dialami, teman yang dihadapi, perasaan yang mereka rasakan serta sikap - tindakan yang harus mereka lakukan sebagai pemecahannya.
6. Mendorong semangat anak untuk bercerita
Hanya dengan memberi respon "Ooo....O ya?...Wow...!" sudah menjadi stimulasi bagi mereka untuk makin giat bercerita. Pola ini dapat membuat anak tenang dan nyaman karena merasa orang tua memahami apa yang mereka ungkapkan.
7. Mendorong anak mengambil keputusan yang tepat
Jika orang tua ingin membantu anak menghadapi masalahnya, sebaiknya kita tidak mengambil alih keputusan ("ya sudah, besok kamu tidak usah masuk sekolah") atau tindakan ("biar mama yang hadapi si boy teman mu yang nakal...biar mama si boy tahu apa yang anaknya lakukan!"). Sebaliknya, hadirkan beberapa alternatif yang membuat mereka berpikir dan memilih manakah solusi terbaik sambil membicarakan akibat-akibat yang bisa dirasakan baik oleh anak maupun oleh orang lain.
8. Menunggu redanya emosi anak dan mengajak berpikir positif
Jika anak masih diliputi emosi yang memuncak hingga membuatnya sulit berbicara, orang tua jangan memaksakan anak untuk segera bicara. Kita tidak akan berhasil membuatnya bercerita dan kita pun makin tidak sabar untuk tidak memberikan opini kita padanya. Konflik seringkali terjadi dan ini menyebabkan memburuknya hubungan orang tua anak. Berikan waktu untuk menyendiri sampai intensitas perasaannya mereda. Ketika emosinya mereda, anak akan lebih siap untuk diajak bicara. Sekali lagi, berusahalah untuk tidak memberikan opini kita pribadi, baik terhadap pilihan sikapnya, emosinya, dan tindakannya.Tanyakan pemikiran mereka terhadap masalah ini dan bagaimana kira-kira sikap yang sebaiknya mereka lakukan di kemudian hari. Sikap ini tidak saja menghindarkan anak dari perasaan dihakimi, namun juga membantu mereka lebih memahami kejadian / peristiwa itu secara obyektif serta menemukan nilai atau pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kejadian itu.
Apa manfaat dari mendengarkan?
Bagi seorang anak, komunikasi bukan hanya bertujuan untuk membuat orang dewasa atau orang lain mengetahui dan memenuhi kebutuhannya. Dari komunikasi itu lah, anak dapat menarik kesimpulan, bagaimana orang dewasa memandang dirinya; dan dari kesan ini lah seorang anak membangun rasa percaya diri dan sense of self. Anak akan merasa dihargai, merasa percaya diri dan mengembangkan penilaian positif terhadap dirinya, ketika orang tua menaruh perhatian tidak hanya pada ceritanya, tapi juga pada pendapat, keyakinan, kesimpulan, ide-ide, perasaan, bahkan ketika pendapat tersebut tidak sesuai dengan pendapat orang tua. Sikap orang tua yang "mendengarkan" anak, membuat anak berani membuat perbedaan dan menjadi berbeda, tanpa takut dihukum, dilecehkan atau ditertawakan. Hal itulah yang menjadi salah satu landasan keberanian dan keinginan anak, untuk menjadi diri sendiri apa adanya.
Dari tanggapan-tanggapan orang tua, anak akan belajar mengenal banyak informasi dan pengetahuan, mendengar sesuatu yang berbeda dari yang dipikirkannya selama ini, melihat alternatif yang lain, menilai pendapat dan tindakannya sendiri, menilai posisi dirinya di mata orang lain, dan menarik kesimpulan apa yang harus dilakukan olehnya. Proses saling mendengarkan dan didengarkan, mengasah daya kritis dan kreativitas berpikir anak karena ketika antara anak dengan orang tua terdapat jalur 2 arah yang terbuka, maka terbuka pula akses informasi, pengetahuan, perasaan, pemikiran dan pengalaman dari kedua belah pihak. Satu sama lain, saling belajar dan saling memperkaya, saling mengenal dan semakin memahami.
Proses komunikasi antara orang tua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. Lama kelamaan, semakin anak terlatih dalam mengenali emosi, tumbuh keyakinan dan sense of control terhadap perasaannya sendiri (lebih mudah mengendalikan sesuatu yang telah diketahui). Misal, jika anak sudah tahu bagaimana rasanya marah, sedih, kecewa, takut, kesepian, dsb, maka akan lebih mudah bagi orang tua memberikan alternatif-alternatif cara menghadapi dan menyelesaikannya.
Mendengarkan anak secara sungguh-sungguh, membuat anak percaya pada orangtua. Hubungan mutual trust, ini membuat anak merasa lebih nyaman berada bersama orang tua, lebih memilih curhat dengan orang tua dan siap menjadi "partner" ketika orang tua yang giliran butuh didengarkan.
Evaluasi Diri
Mendengarkan dan didengarkan, adalah kunci hubungan orang tua-anak yang sangat bermanfaat, baik untuk pengembangkan kematangan emosional, kepandaian intelektual, kemampuan membina kehidupan sosial yang baik serta penanaman nilai prinsip moral yang baik pada anak. Dengan mendengar dan didengar, jalur komunikasi 2 arah terbuka lebar antara orang tua รข€“ anak, memungkinkan keduanya saling mengerti dan membuat orang tua dapat memberikan dukungan yang diperlukan oleh anak. Namun sebaliknya, jika kata-kata yang diucapkan anak hanya sekedar "terdengar" di telinga kita, akan hilang begitu saja terbawa angin dan tidak memberikan makna serta kontribusi apapun dalam proses pertumbuhan anak. Nah, apakah kita sebagai orang tua, tega mengorbankan kualitas perkembangan dan tingkat kematangan emosional, intelektual, moral, dan kemampuan sosial anak kita demi kesenangan sesaat (film yang menarik, obrolan gossip yang asik, berita yang sedang dibaca, dan lain sebagainya).....Inilah saatnya kita sebagai orang tua merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita sudah lebih sering mendengarkan anak....ataukah, cerita mereka hanya terdengar sayup-sayup oleh kita?...
Menghantar Anak Untuk Mencintai Buku
Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.
Jakarta, 08 Januari 2008
Bukan lagi menjadi rahasia jika minat membaca di Indonesia berada pada peringkat yang memprihatinkan di dunia. Pendidikan tidaklah dimulai saat anak menginjak bangku sekolah tetapi telah berlangsung sejak dini bahkan saat para orangtua mungkin tidak menyadarinya. Orangtua memiliki pengaruh luar biasa dan istimewa bagi buah hati. Bagaimana Anda dapat membantu anak-anak menjadi pembaca sejati?
Membaca
Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya setiap orangtua memikirkan apa yang diinginkan dari membaca. Yang paling utama adalah kesenangan, ya, kesenangan. Jadi, jangan pernah memaksa anak Anda membaca buku yang membosankan karena Anda pun pasti akan menguap dan sama sekali tidak menikmati atau mendapatkan kesenangan dari kegiatan ini. Katz dalam bukunya, "Memimbing Anak Belajar Membaca," menekankan bahwa Anda dan anak Anda dapat berbagi kesenangan bersama. Jadi membaca adalah suatu petualangan, penjelajahan pengetahuan yang mengasyikan.
Membaca, selain merupakan awal pendidikan bagi anak, juga suatu bagian dari bahasa. Bahasa adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena baik anak-anak atau orang dewasa menggunakan bahasa untuk berbicara, berpikir bahkan berkhayal. Pemakaian serta pemahaman bahasa berhubungan dengan apa yang dipelajari dan diketahui oleh anak.
Berbicara dan mendengarkan adalah satu rangkaian, begitu pula dengan membaca dan menulis, jangan dipisahkan. Jika Anda seorang kutu buku dan buku menghiasi dinding rumah, maka Anda telah menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, anak akan mempelajari kondisi ini.
Kapan anak siap?
Para orangtua sering dibingungkan dengan kesiapan anak dalam belajar, terutama belajar membaca. Masa anak adalah masa bermain, itu benar. Bagi anak, permainan adalah ajang bagi mereka untuk belajar. Tidakkah Anda sadari, anak Anda begitu antusias mendengar, melihat Anda berbicara dengan orang lain maupun dengannya, melihat Anda mendendangkan lagu, membacakan cerita sejak ia bayi, anak telah mempelajari itu dan sedikit demi sedikit ia pun belajar memberi respon dalam bahasanya untuk membuat Anda mengerti betapa besar keinginannya untuk terlibat.
Lalu kapan Anda dapat mulai mengajarinya membaca, jika Anda menemui beberapa tanda berikut Anda boleh memulainya:
Saat buah hati terlihat mulai membolak-balik halaman, melihat gambar dan sebagainya, kemungkinan ia telah mengerti tujuan membaca.
Bila ia meminta satu cerita tambahan untuk Anda bacakan, hal ini menunjukkan ia mulai keranjingan membaca dan menemukan kesenangan didalamnya.
Lima tahun pertama
Apa itu buku? Pengalaman pertama anak Anda menghadapi buku adalah dalam pelukan hangat Anda. Dengan duduk di pangkuan Anda, ia mulai mengenal bentuk dan bau buku, rasa buku itu bila disentuh dan bahkan rasanya! Ia akan belajar membalik halaman untuk melihat apa yang ada di balik itu dan ia akan mengerti bahwa untuk melanjutkan bacaan, ada halaman sebelah kanan, kiri, atau suatu buku ada awal juga akhirnya. Yang terpenting lagi, anak akan mengidentifikasikan buku dengan kehangatan, kegembiraan, cinta kasih dan perhatian.
Membacakan cerita pada anak berarti juga membantunya memahami simbol-simbol bahasa yang tercetak dan menanamkan ide akan tujuan dan kegembiraan membaca.
Untuk lebih membantu mereka, kenalkan beberapa konsep dengan permainan sederhana seperti halus-kasar, dengan mengusapkan jemari mungilnya pada permukaan halus, seperti lantai, kemudian permukaan kasar, seperti kulit pohon mangga. Ingat, dua aktivitas penting di masa ini adalah belajar bicara dan membedakan.
Menilai kemajuan
Kemajuan dalam membaca bukan sudah berapa jilid atau buku yang dibaca, melainkan pemahaman dalam membaca, seperti;
Dapatkah ia mengatakan pada Anda apa yang baru dibaca?
Akankah ia mengambil buku atas kemauan sendiri dan mencoba untuk membacanya?
Apakah ia memandang dirinya sebagai pembaca?
Apakah ia membaca kata demi kata atau sekelompok kata?
Apakah ia mengingat teks dari sebuah buku favorit dan membacakan kembali untuk Anda?
Dapatkah mengenali kembali teks tersebut bila melihatnya lagi di tempat lain?
Apakah ia melihat bacaan di tempat umum dan berkata,"Saya tahu isi buku itu," atau menanyakan untuk apa tulisan itu?
Dapatkah Anda membuat kesalahan?
Kecemasan orangtua apalagi mendengar banyaknya pendapat atau komentar para profesional, ahli dan sebagainya adalah satu hal yang wajar. Namun yang terpenting dan sebaiknya Anda yakini adalah;
Lakukan dengan cinta dan kasih sayang
Jangan terlalu gugup atau panik
Bayangkan seperti mengajari anak naik sepeda, membantunya menaiki dan mengayuh pedal kemudian perlahan Anda melepas pegangannya namun tetap berada disamping, menghujani dengan semangat dan pujian.
Membaca dengan makna adalah sangat penting, bila sang anak tidak dihentikan untuk mendengarkan arti-arti cerita yang dibacanya, itu sama saja dengan latihan membaca huruf. Saat membacakan cerita, berhentilah sejenak perhatikan raut muka buah hati Anda, tanyakan, diskusikan apa yang telah didengar dan pastikan ia memahami isinya sebelum melangkah ke halaman selanjutnya.
Kunjungilah perpustakaan sekitar atau toko buku, bantu anak dalam memilih buku yang menghibur namun juga bermanfaat.Jika perlu, mintalah bantuan petugas perpustakaan, toko buku atau guru di sekolah untuk memilihkan buku yang tepat bagi mereka.
Sedikit demi sedikit tunjukkan pada mereka arti menghargai dengan merawat buku, namun jangan sampai membuat mereka jadi takut untuk menikmati buku karena akan menjadi kotor dan sebagainya. Letakkan buku mereka bersama dengan deretan buku Anda, namun pisahkan yang penting diatas agar tidak tersentuh tangan mereka sehingga buku Anda tetap aman. Sediakan buku dengan tingkat kesulitan bervariasi.
Adakalanya sang anak berulang-ulang membaca cerita favoritnya yang Anda sendiri telah bosan, bersabarlah, biarkan mereka menempuh jalannya sendiri. Apabila mereka memilih buku yang hanya berisi gambar, dimana ia akan menggunakan bahasanya sendiri dan menceritakan pada Anda, dengarkan dan beri umpan balik.
Bila ia telah menunjukkan minatnya dalam membaca jangan lantas dilepas begitu saja, ada saatnya ia lebih senang bermain dengan temannya, biarkan saja karena mereka perlu juga bersosialisasi dan harus didukung. Namun bila ia terlihat sama sekali tidak lagi menyentuh buku, Anda dapat memancingnya dengan mengingatkan pada cerita favoritnya. Anak-anak adalah pembaca pemula, yang diperlukan pemula adalah dorongan dan pujian yang terus menerus.
Jika membaca telah menjadi bagian dari kehidupannya, Anda boleh sedikit lega dengan kekhawatiran orangtua lain akan kemajuan teknologi dalam dunia permainan seperti video game atau play station. Tidak perlu dilarang keras, karena semakin banyak minatnya semakin baik. Namun jangan lupa kaitkan selalu hal baru atau apa pun yang jadi minatnya dengan buku. Bila ia sedang menyukai tamiya, iringi dengan buku yang menyajikan informasi seputar permainan tersebut berikut pengetahuan otomotif sesuai dengan usianya. Bila ia suka play station, berikan buku yang melengkapi pengetahuannya misal tentang bagaimana play station itu dirancang dan siapa yang membuatnya. Dengan begitu akan tertanam dalam benak mereka bahwa buku merupakan sumber informasi dan jendela dunia yang dapat memberikan mereka kesenangan dalam berbagai hal, serta meyakinkan mereka menjadi kutu buku bukan berarti kuno atau tidak bisa melakukan hal lain seperti balap mobil-mobilan.
Sumber
Katz, Adrienne (1997), "Membimbing Anak Belajar Membaca"; Jakarta; Penerbit Arcan.
Jakarta, 08 Januari 2008
Bukan lagi menjadi rahasia jika minat membaca di Indonesia berada pada peringkat yang memprihatinkan di dunia. Pendidikan tidaklah dimulai saat anak menginjak bangku sekolah tetapi telah berlangsung sejak dini bahkan saat para orangtua mungkin tidak menyadarinya. Orangtua memiliki pengaruh luar biasa dan istimewa bagi buah hati. Bagaimana Anda dapat membantu anak-anak menjadi pembaca sejati?
Membaca
Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya setiap orangtua memikirkan apa yang diinginkan dari membaca. Yang paling utama adalah kesenangan, ya, kesenangan. Jadi, jangan pernah memaksa anak Anda membaca buku yang membosankan karena Anda pun pasti akan menguap dan sama sekali tidak menikmati atau mendapatkan kesenangan dari kegiatan ini. Katz dalam bukunya, "Memimbing Anak Belajar Membaca," menekankan bahwa Anda dan anak Anda dapat berbagi kesenangan bersama. Jadi membaca adalah suatu petualangan, penjelajahan pengetahuan yang mengasyikan.
Membaca, selain merupakan awal pendidikan bagi anak, juga suatu bagian dari bahasa. Bahasa adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena baik anak-anak atau orang dewasa menggunakan bahasa untuk berbicara, berpikir bahkan berkhayal. Pemakaian serta pemahaman bahasa berhubungan dengan apa yang dipelajari dan diketahui oleh anak.
Berbicara dan mendengarkan adalah satu rangkaian, begitu pula dengan membaca dan menulis, jangan dipisahkan. Jika Anda seorang kutu buku dan buku menghiasi dinding rumah, maka Anda telah menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, anak akan mempelajari kondisi ini.
Kapan anak siap?
Para orangtua sering dibingungkan dengan kesiapan anak dalam belajar, terutama belajar membaca. Masa anak adalah masa bermain, itu benar. Bagi anak, permainan adalah ajang bagi mereka untuk belajar. Tidakkah Anda sadari, anak Anda begitu antusias mendengar, melihat Anda berbicara dengan orang lain maupun dengannya, melihat Anda mendendangkan lagu, membacakan cerita sejak ia bayi, anak telah mempelajari itu dan sedikit demi sedikit ia pun belajar memberi respon dalam bahasanya untuk membuat Anda mengerti betapa besar keinginannya untuk terlibat.
Lalu kapan Anda dapat mulai mengajarinya membaca, jika Anda menemui beberapa tanda berikut Anda boleh memulainya:
Saat buah hati terlihat mulai membolak-balik halaman, melihat gambar dan sebagainya, kemungkinan ia telah mengerti tujuan membaca.
Bila ia meminta satu cerita tambahan untuk Anda bacakan, hal ini menunjukkan ia mulai keranjingan membaca dan menemukan kesenangan didalamnya.
Lima tahun pertama
Apa itu buku? Pengalaman pertama anak Anda menghadapi buku adalah dalam pelukan hangat Anda. Dengan duduk di pangkuan Anda, ia mulai mengenal bentuk dan bau buku, rasa buku itu bila disentuh dan bahkan rasanya! Ia akan belajar membalik halaman untuk melihat apa yang ada di balik itu dan ia akan mengerti bahwa untuk melanjutkan bacaan, ada halaman sebelah kanan, kiri, atau suatu buku ada awal juga akhirnya. Yang terpenting lagi, anak akan mengidentifikasikan buku dengan kehangatan, kegembiraan, cinta kasih dan perhatian.
Membacakan cerita pada anak berarti juga membantunya memahami simbol-simbol bahasa yang tercetak dan menanamkan ide akan tujuan dan kegembiraan membaca.
Untuk lebih membantu mereka, kenalkan beberapa konsep dengan permainan sederhana seperti halus-kasar, dengan mengusapkan jemari mungilnya pada permukaan halus, seperti lantai, kemudian permukaan kasar, seperti kulit pohon mangga. Ingat, dua aktivitas penting di masa ini adalah belajar bicara dan membedakan.
Menilai kemajuan
Kemajuan dalam membaca bukan sudah berapa jilid atau buku yang dibaca, melainkan pemahaman dalam membaca, seperti;
Dapatkah ia mengatakan pada Anda apa yang baru dibaca?
Akankah ia mengambil buku atas kemauan sendiri dan mencoba untuk membacanya?
Apakah ia memandang dirinya sebagai pembaca?
Apakah ia membaca kata demi kata atau sekelompok kata?
Apakah ia mengingat teks dari sebuah buku favorit dan membacakan kembali untuk Anda?
Dapatkah mengenali kembali teks tersebut bila melihatnya lagi di tempat lain?
Apakah ia melihat bacaan di tempat umum dan berkata,"Saya tahu isi buku itu," atau menanyakan untuk apa tulisan itu?
Dapatkah Anda membuat kesalahan?
Kecemasan orangtua apalagi mendengar banyaknya pendapat atau komentar para profesional, ahli dan sebagainya adalah satu hal yang wajar. Namun yang terpenting dan sebaiknya Anda yakini adalah;
Lakukan dengan cinta dan kasih sayang
Jangan terlalu gugup atau panik
Bayangkan seperti mengajari anak naik sepeda, membantunya menaiki dan mengayuh pedal kemudian perlahan Anda melepas pegangannya namun tetap berada disamping, menghujani dengan semangat dan pujian.
Membaca dengan makna adalah sangat penting, bila sang anak tidak dihentikan untuk mendengarkan arti-arti cerita yang dibacanya, itu sama saja dengan latihan membaca huruf. Saat membacakan cerita, berhentilah sejenak perhatikan raut muka buah hati Anda, tanyakan, diskusikan apa yang telah didengar dan pastikan ia memahami isinya sebelum melangkah ke halaman selanjutnya.
Kunjungilah perpustakaan sekitar atau toko buku, bantu anak dalam memilih buku yang menghibur namun juga bermanfaat.Jika perlu, mintalah bantuan petugas perpustakaan, toko buku atau guru di sekolah untuk memilihkan buku yang tepat bagi mereka.
Sedikit demi sedikit tunjukkan pada mereka arti menghargai dengan merawat buku, namun jangan sampai membuat mereka jadi takut untuk menikmati buku karena akan menjadi kotor dan sebagainya. Letakkan buku mereka bersama dengan deretan buku Anda, namun pisahkan yang penting diatas agar tidak tersentuh tangan mereka sehingga buku Anda tetap aman. Sediakan buku dengan tingkat kesulitan bervariasi.
Adakalanya sang anak berulang-ulang membaca cerita favoritnya yang Anda sendiri telah bosan, bersabarlah, biarkan mereka menempuh jalannya sendiri. Apabila mereka memilih buku yang hanya berisi gambar, dimana ia akan menggunakan bahasanya sendiri dan menceritakan pada Anda, dengarkan dan beri umpan balik.
Bila ia telah menunjukkan minatnya dalam membaca jangan lantas dilepas begitu saja, ada saatnya ia lebih senang bermain dengan temannya, biarkan saja karena mereka perlu juga bersosialisasi dan harus didukung. Namun bila ia terlihat sama sekali tidak lagi menyentuh buku, Anda dapat memancingnya dengan mengingatkan pada cerita favoritnya. Anak-anak adalah pembaca pemula, yang diperlukan pemula adalah dorongan dan pujian yang terus menerus.
Jika membaca telah menjadi bagian dari kehidupannya, Anda boleh sedikit lega dengan kekhawatiran orangtua lain akan kemajuan teknologi dalam dunia permainan seperti video game atau play station. Tidak perlu dilarang keras, karena semakin banyak minatnya semakin baik. Namun jangan lupa kaitkan selalu hal baru atau apa pun yang jadi minatnya dengan buku. Bila ia sedang menyukai tamiya, iringi dengan buku yang menyajikan informasi seputar permainan tersebut berikut pengetahuan otomotif sesuai dengan usianya. Bila ia suka play station, berikan buku yang melengkapi pengetahuannya misal tentang bagaimana play station itu dirancang dan siapa yang membuatnya. Dengan begitu akan tertanam dalam benak mereka bahwa buku merupakan sumber informasi dan jendela dunia yang dapat memberikan mereka kesenangan dalam berbagai hal, serta meyakinkan mereka menjadi kutu buku bukan berarti kuno atau tidak bisa melakukan hal lain seperti balap mobil-mobilan.
Sumber
Katz, Adrienne (1997), "Membimbing Anak Belajar Membaca"; Jakarta; Penerbit Arcan.
Langganan:
Postingan (Atom)